NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Suara langkah kaki tergesa-gesa beradu nyaring dengan lantai semen koridor. Alya menggenggam erat tali ranselnya yang terasa kian memberat. Sial. Jarum jam tangan bergambar polos di pergelangan tangannya sudah menunjuk angka *07.20 WIB*. Bel masuk telah lama berbunyi, dan gerbang utama SMA Nusa Bangsa sudah terkunci rapat.

Napas Alya terengah-engah, dadanya naik turun saat melangkah menuju area lapangan utama. Garis takdir yang biasanya selalu berpihak pada kedisiplinannya hari ini mendadak meleset hanya karena ia harus membantu ibunya menyiapkan barang dagangan lebih lama dari biasanya.

"Alya Saraswati!"

suara berat dan tegas memotong langkahnya.

Di ambang batas lapangan, Pak Jaka,guru piket yang terkenal tanpa kompromi berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap tajam catatannya, lalu beralih ke Alya.

"Jam berapa ini, Alya? Siswa teladan kok bisa terlambat?" tegurnya dingin. "Kamu tahu aturan sekolah. Siapa pun yang lewat dari jam 07.00, tidak ada toleransi. Langsung berdiri di tengah lapangan!"

Alya hanya bisa menunduk pasrah. Tanpa membantah sepatah kata pun, ia berjalan menuju area tengah lapangan basket yang mulai terasa menyengat disiram terik matahari pagi.

Baru saja Alya berdiri dan bersiap memposisikan tangannya, deru suara mesin motor berkapasitas besar menggema dari arah parkiran belakang. Tak lama kemudian, langkah kaki santai berirama menyeret terdengar mendekat.

Seorang laki-laki berpostur tinggi berjalan santai menghampiri Pak Jaka. Kancing teratas seragamnya terbuka, dasinya dipasang asal-asalan, dan rambutnya sedikit berantakan namun justru menegaskan parasnya yang tampan. *Devan Narendra*. Sosok pewaris tunggal yang namanya selalu bergema di seluruh sudut sekolah, entah karena kekayaan organisasinya, gengnya, atau sekadar pesonanya.

"Terlambat lagi, Devan?" desus Pak Jaka sembari memijit pelipisnya, tampak lelah menghadapi murid langganan piket itu.

Devan hanya menyunggingkan senyum tipis tanpa rasa dosa. "Macet, Pak. Biasa," jawabnya santai.

Pak Jaka menghela napas panjang, lalu menunjuk ke arah lapangan. Devan melangkah santai menuju titik yang ditunjuk. Tanpa canggung, ia mengambil posisi berdiri *tepat di samping Alya*. Aroma parfum mahal yang elegan langsung menyengat indra penciuman Alya, sangat kontras dengan bau matahari yang mulai menguar dari seragam mereka.

Pak Jaka menyusul dari belakang, berdiri beberapa meter di depan mereka berdua dengan pandangan menelisik.

"Kalian berdua," suara Pak Jaka menggelegar di tengah sepinya area lapangan. "Sebagai konsekuensi karena sudah mengabaikan tata tertib jam masuk sekolah, *ambil posisi hormat ke tiang bendera! Berdiri di sini selama satu jam pelajaran penuh!* Jangan ada yang menurunkan tangan sebelum bel berbunyi!"

"Satu jam, Pak? Wah, kulit saya bisa matang ini," seloroh Devan santai, membuat Pak Jaka makin menatapnya tajam.

"Tambah sepuluh menit kalau kamu makin banyak bicara, Devan!" ancam Pak Jaka tegas sebelum akhirnya berbalik arah menuju ruang piket.

Alya menarik napas dalam-dalam. Ia langsung mengangkat tangan kanannya, membentuk sikap hormat yang sempurna ke arah sang saka Merah Putih di ujung tiang. Pandangannya lurus ke depan, matanya menatap tajam bendera yang berkibar pelan. Dalam hatinya, ia hanya memikirkan satu hal,pelajaran matematika jam pertama yang terlewat, dan catatan materi yang harus ia pinjam nanti.

Di sebelahnya, Devan perlahan mengangkat tangannya. Namun alih-alih menatap tiang bendera, sudut matanya justru melirik pelan ke arah gadis di sampingnya. Gadis yang tampak begitu tenang di bawah terik matahari, seolah hukuman ini hanyalah kerikil kecil yang sama sekali tak mampu mengusik fokusnya.

Matahari kian merambat naik, menyengat tengkuk dan membuat pelipis Alya mulai dibasahi bulir-bulir keringat. Tangan kanannya yang masih terangkat tegap menghadap tiang bendera terasa semakin berat dan pegal. Namun, Alya tetap berdiri gemetaran tanpa suara, mempertahankan pandangan lurusnya. Bagi Alya, rasa pegal ini tak ada apa-apanya dibanding taruhan masa depannya.

Di sebelahnya, Devan tampak jauh lebih santai, meski seragam putihnya mulai agak menempel di punggung. Baru sekitar dua puluh menit berlalu, gelak tawa riuh tiba-tiba memecah kesunyian area lapangan basket.

“Anjay! Lihat siapa yang jadi patung berdiri pagi-pagi begini!”

Langkah kaki bergerombol yang ramai beradu dengan lantai semen membuat Alya menggerakkan sudut matanya tipis. Siswa dengan seragam berantakan kancing terbuka, tanpa dasi, dan gaya berjalan yang pongah melangkah mendekat. Mereka adalah geng Devan, anak-anak kaya yang kekuasaannya di sekolah tak perlu dipertanyakan lagi.

"Sumpah, Dev! Seorang Devan Narendra bisa kena jemur juga?" gelak Raka, salah satu anggotanya, sambil menepuk bahu Devan kasar. "Bukannya tadi lu bilang mau alibi ban bocor ke Pak Jaka?"

"Bocor matamu. Pak Jaka lagi kumat galaknya hari ini," sungut Devan pelan, tetap mempertahankan sikap hormatnya walau sudut bibirnya terangkat tipis melihat kedatangan teman-temannya.

"Lagian lu ngapain sih, Bos? Biasanya kalau telat kan lu nongkrong dulu di warung belakang, bukannya malah masuk lewat depan," celetuk Bima sambil mengipas-ngipaskan topi sekolahnya ke wajah Devan untuk mengejek.

"Apes aja," jawab Devan singkat.

Tawa mereka kembali pecah, hingga perhatian salah satu dari mereka Reno teralih pada sosok perempuan yang berdiri tepat di sebelah kiri Devan. Reno menyipitkan mata, memperhatikan badge nama yang terpatri di dada seragam Alya.

"Eh, sebentar..." Reno memajukan tubuhnya sedikit, membuat Alya merasa risih walau ia enggan menoleh. "Ini bukannya Alya? Anak IPA 1 yang selalu dapet peringkat satu umum itu, kan?"

"Lah, iya! Si cewek pinter yang dingin kayak es batu!" seru Bima kaget. Ia melirik Alya dari atas sampai bawah, lalu menatap Devan dengan cengiran jahil. "Wah, Dev... takdir lu keren juga. Sekalinya dihukum, langsung disandingkan sama *bintang kelas*."

"Gimana rasanya berdiri di samping cewek paling cuek se-SMA Nusa Bangsa, Dev? Berasa berdiri di sebelah AC atau berasa di kutub?" goda Raka sambil menyenggol lengan Devan.

Devan melirik Alya. Gadis di sampingnya itu sama sekali tidak bergeming. Tidak ada riak emosi di wajah Alya, tidak ada tolakan, bahkan tidak ada lirikan mata marah. Alya hanya terus menatap lurus ke arah bendera Merah Putih, seolah-olah empat cowok berisik di depannya ini hanyalah semilir angin lalu.

Sikap cuek Alya yang mutlak itu justru memancing keisengan geng Devan semakin menjadi-jadi.

"Woi, Alya! Santai aja kali, jangan kaku-kaku banget!" seloroh Reno, mencoba berdiri di depan Alya sambil melambaikan tangan di depan wajah gadis itu. "Sapa dong calon pewaris Narendra Corp di sebelah lu! Siapa tahu lu dikasih beasiswa seumur hidup sama bokapnya, haha!"

Alya menarik napas panjang. Tenggorokannya terasa kering. Ia benci menjadi pusat perhatian, apalagi dikelilingi oleh tipe-tipe murid yang menurutnya hanya membuang-buang waktu di sekolah. Namun, Alya memilih tetap bungkam. Baginya, meladeni mereka hanya akan membuang energi yang sedang ia simpan untuk bertahan di bawah terik matahari.

melihat Alya yang sama sekali tak terusik, Devan tiba-tiba berdeham pelan. Entah mengapa, ada rasa tidak nyaman yang menyelusup di dadanya melihat teman-temannya memojokkan gadis itu.

"Udah, cabut sana lu pada," usir Devan dengan suara beratnya, memotong tawa gengnya. "Berisik banget. Nanti Pak Jaka balik lagi, lu semua ikut di jejerin di sini."

"Elah, Devan... sensitif amat! Baru juga mau PDKT-in lu sama si cewek pinter," goda Bima sembari tertawa.

"Gua bilang cabut, ya cabut," ulang Devan, kali ini dengan nada yang lebih tegas dan tatapan mata yang tak bisa dibantah.

Melihat reaksi Devan yang mulai serius, gelak tawa teman-temannya perlahan mereda. Mereka saling melempar pandang bermakna, lalu mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

"Oke, oke, Bos! Kita balik ke kelas dulu. Selamat menikmati kencan panasnya, ya!" teriak Raka sambil berlari kecil menjauh, diikuti tawa renyah dari temannya yang mulai menghilang di balik lorong kelas.

Suasana lapangan kembali hening. Hanya tersisa deru angin hangat dan sengatan matahari yang semakin membakar.

Di tengah keheningan itu, Devan melirik gadis di sebelahnya. Wajah Alya tampak semakin pucat, dan ada bulir keringat yang menetes dari dagunya. Namun posisi hormatnya tidak bergeser sedikit pun.

"Teman-teman gua emang agak gila. Enggak usah dimasukin ke hati," ucap Devan tiba-tiba, memecah kecangkokannya sendiri.

Alya tidak menoleh. Ia hanya menghembuskan napas pelan dari hidungnya, lalu menjawab pendek dengan suara yang sangat halus namun dingin, "Saya enggak peduli."

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!