Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Mereka bertiga berbalik arah bersiap untuk melarikan diri.
"Tidak ada yang boleh pergi sebelum aku mengizinkannya," ucap Sony datar.
Sony menendang tiga butir kerikil yang ada di dekat kakinya dengan ujung sepatunya.
Wush. Wush. Wush.
Ketiga kerikil kecil itu melesat membelah udara dengan kecepatan melebihi peluru sniper.
Jleb. Jleb. Jleb.
Kerikil-kerikil itu menembus tepat di belakang kepala ketiga pembunuh bayaran tersebut.
"Argh."
Mereka bertiga tumbang secara bersamaan ke tanah dengan lubang kecil di dahi depan mereka.
Darah segar mengalir membasahi tanah pelabuhan yang kotor.
Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh detik, empat elit Kelompok Bayangan mati tanpa sempat melawan.
Keheningan kembali menyelimuti area lorong kontainer itu.
Sony perlahan menoleh ke arah Nadhira yang masih terduduk lemas di tanah.
Wajah wanita cantik itu sangat pucat pasi dan seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Nadhira menatap Sony seolah sedang melihat malaikat pencabut nyawa yang turun ke bumi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sony dengan nada suara yang sedikit lebih lembut tapi tetap datar.
Nadhira mencoba membuka mulutnya tapi suaranya tersangkut di tenggorokan saking takutnya.
"A-aku... siapa kau sebenarnya?" tanya Nadhira dengan suara bergetar pelan.
"Aku kebetulan punya musuh yang sama dengan orang yang menyuruh mereka ini," jawab Sony sambil menunjuk mayat di dekatnya.
Sony berjalan mendekati Nadhira dengan langkah pelan.
Nadhira secara refleks memeluk lututnya sendiri karena masih merasa waspada.
Sony berhenti tepat di depannya dan mengulurkan tangan kanannya ke bawah.
"Berdirilah, tanah di situ kotor," ucap Sony.
Nadhira ragu-ragu sejenak menatap tangan besar yang baru saja membunuh empat orang itu.
Namun entah kenapa dia merasa ada rasa aman yang aneh dari pria di depannya ini.
Nadhira perlahan menyambut uluran tangan Sony dan membiarkan dirinya ditarik berdiri.
"Terima kasih, namaku Nadhira," ucap wanita itu sambil memegangi lengan kirinya yang terluka.
Sony melihat luka goresan yang cukup dalam di lengan wanita itu.
"Lukamu akan infeksi jika tidak segera diobati," kata Sony.
Tiba-tiba Sony menggerakkan jarinya dengan sangat cepat dan menotok dua titik saraf di bahu Nadhira.
Tap. Tap.
Nadhira tersentak kaget karena tidak sempat menghindar.
"Apa yang kau lakukan?" protes Nadhira panik.
Namun sedetik kemudian Nadhira menyadari sesuatu yang sangat mustahil.
Rasa sakit di lengannya langsung hilang sepenuhnya.
Darah yang tadi terus menetes dari lukanya kini berhenti mengalir secara instan.
Mata Nadhira membulat sempurna melihat kejadian ajaib pada tubuhnya sendiri.
"Itu hanya totokan dasar untuk menghentikan pendarahan sementara," jelas Sony dengan santai.
"Kau ini manusia atau penyihir?" gumam Nadhira tidak percaya sambil menyentuh lukanya.
"Aku hanya pria biasa yang sedang mencari informasi," balas Sony.
Sony menunjuk ke arah tangan kanan Nadhira yang masih menggenggam flashdisk erat-erat.
"Benda apa yang kau pegang sampai membuat Dimas mengirim anjing-anjingnya untuk memburumu?" tanya Sony.
Nadhira menatap flashdisk di tangannya dan kembali menatap wajah dingin Sony.
Dia tahu pria ini adalah musuh Dimas, dan musuh dari musuh adalah teman.
"Ini adalah bukti kuat tentang aliran dana haram Grup Dimas ke berbagai pejabat korup kota ini," jawab Nadhira jujur.
Bibir Sony langsung melengkung membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya.
"Bukti aliran dana ya? Ini adalah senjata yang sangat bagus untuk menghancurkan pilar bisnisnya," kata Sony pelan.
Sony menatap Nadhira dengan pandangan menilai yang cukup serius.
"Nadhira, apakah kau ingin melihat Grup Dimas hancur lebur di depan matamu sendiri?" tanya Sony.
"Tentu saja! Mereka sudah membungkam kebenaran dan menghancurkan banyak orang," jawab Nadhira penuh tekad.
"Bagus, kalau begitu mulai sekarang kau bekerja untukku," ucap Sony memutuskan sepihak.
"Tunggu dulu, apa maksudmu bekerja untukmu? Aku bahkan tidak tahu namamu!" protes Nadhira.
Sony membalikkan badannya dan berjalan perlahan meninggalkan area pembantaian itu.
"Namaku Sony."
Nadhira terdiam mendengar nama itu karena terasa tidak asing di telinganya.
"Sony? Bukankah itu nama mantan pewaris perusahaan yang dipenjara tiga tahun lalu?" batin Nadhira terkejut.
"Jika kau masih mau hidup dan membongkar kebenaran, ikuti aku dari belakang sekarang," panggil Sony tanpa menoleh.
Nadhira menelan ludahnya susah payah dan menatap mayat-mayat Kelompok Bayangan di tanah.
Tanpa pilihan lain yang lebih baik, Nadhira berlari kecil menyusul langkah kaki pemuda misterius itu.
Di bawah langit yang mulai mendung, aliansi pertama untuk menghancurkan Dimas akhirnya terbentuk.