Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1.
Bab 1: Kesalahan di Malam Kelam
Langkah kaki Raina terasa berat saat ia melangkah masuk ke dalam tempat hiburan malam yang penuh cahaya berkedip dan suara musik yang memekakkan telinga. Udara di dalamnya terasa hangat, bercampur dengan aroma parfum mahal, minuman, dan keringat orang-orang yang sedang bersenang-senang. Malam ini, ia tidak ingin berpikir tentang apa pun. Tidak tentang perceraiannya yang baru saja usai tiga bulan lalu, tidak tentang tatapan merendahkan tetangga, dan tidak tentang rasa sepi yang selalu menyelimuti setiap sudut apartemennya yang luas namun dingin.
Hari ini genap satu tahun perpisahan itu. Satu tahun ia berjuang berdiri sendiri, bekerja keras, membangun kembali hidupnya yang sempat hancur lebur. Namun malam ini, untuk sekali saja, ia ingin melupakan bahwa ia adalah Raina yang tegar, Raina yang mandiri, Raina yang tidak boleh lemah.
Ia duduk di sudut yang agak gelap, memesan minuman demi minuman. Awalnya ia hanya ingin menghangatkan perut, tapi lama-kelamaan rasa panas itu menjalar ke seluruh tubuh, membawa rasa pusing yang aneh namun juga membawa rasa lega seolah beban di pundaknya perlahan terangkat. Dunia di matanya mulai berputar pelan, suara musik terdengar makin jauh, dan wajah-wajah orang di sekelilingnya menjadi kabur.
"Maaf... saya mau ke kamar..." gumamnya tidak jelas, saat seseorang menahannya di lobi. Ia mengira dirinya masih berada di hotel tempat ia menginap sebelumnya. Dalam kebingungan dan pikiran yang sudah tidak jernih, ia berjalan terhuyung-huyung menuju lorong yang dianggapnya benar. Ia tidak sadar bahwa ia salah gedung, salah lantai, dan salah pintu.
Tangannya menyentuh gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorongnya masuk, lalu menutupnya kembali. Ruangan itu agak gelap, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang samar. Aroma yang tercium bukan aroma kamar hotel biasa, melainkan aroma sabun bersih bercampur wangi kayu yang lembut dan menenangkan.
Raina tidak peduli lagi. Kakinya terasa seperti kapas, matanya berat sekali. Ia melihat bentuk tempat tidur di sudut ruangan, lalu berjalan mendekat dan merebahkan tubuhnya di sana.
Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi.
Dika baru saja kembali dari kamar mandi asrama setelah selesai beraktivitas malam itu. Ia terkejut bukan kepalang saat melihat ada sosok wanita asing yang sudah terbaring di tempat tidurnya. Langkahnya terhenti di tengah ruangan, matanya terbelalak bingung.
"Siapa Anda?" suaranya terdengar rendah dan penuh keheranan.
Raina hanya mengerang pelan, membalikkan badan tanpa membuka mata. "Pusing... biarkan saya tidur sebentar saja..."
Dika mendekat perlahan. Di bawah cahaya lampu yang redup, ia bisa melihat wajah wanita itu. Wajah yang cantik, matanya tertutup rapat, namun ada kesan dewasa dan anggun yang memancar darinya. Rambutnya yang panjang terurai indah di atas bantal, dan meskipun dalam keadaan mabuk, ada kesan rapuh yang membuat hati Dika tersentuh.
Ia seharusnya segera membangunkannya, memintanya pergi, atau melapor ke petugas keamanan. Namun entah kenapa, melihat wajah wanita itu yang tampak begitu lelah dan sedih, rasa marah dan kagetnya perlahan hilang digantikan rasa iba. Ia mendekat lagi, mencoba menanyakan namanya, tapi Raina hanya bergumam hal-hal yang tidak dimengerti.
Malam itu berjalan begitu saja. Di tengah kebingungan, rasa sepi, dan dorongan hati yang tak terduga, dua orang yang hidupnya berbeda jauh terjalin dalam satu atap. Tidak ada kekerasan, tidak ada paksaan. Hanya dua jiwa yang masing-masing sedang mencari tempat untuk bersandar, yang tanpa sadar saling menemukan di saat yang paling tidak tepat.
Semuanya terjadi begitu cepat, begitu alami, dan begitu penuh rasa tak terduga. Saat pagi mulai menyingsing dan cahaya matahari mulai menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, keduanya terbangun secara bersamaan.
Raina membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan butuh waktu beberapa detik baginya untuk menyadari di mana ia berada. Matanya membelalak lebar saat melihat sosok pria muda yang tidur di sebelahnya. Wajah pria itu begitu tampan, kulitnya bersih, fitur wajahnya sempurna seperti patung pahatan. Namun yang membuat jantung Raina seakan berhenti berdetak bukan hanya karena ketampanannya, melainkan karena wajah itu terlihat sangat muda.
"Siapa... siapa kamu?" suaranya tercekat, ia segera menarik selimut menutupi tubuhnya.
Dika juga terbangun, menatapnya dengan mata yang sama-sama penuh kaget dan canggung. "Saya seharusnya yang bertanya begitu. Kenapa Anda ada di kamar saya?"
Raina menatap sekeliling ruangan. Bukan kamar hotelnya. Ruangan itu sederhana, rapi, dengan rak buku penuh dan meja belajar yang masih tertata. Itu terlihat persis seperti kamar mahasiswa.
"Kamarmu? Ini bukan kamar saya..." gumamnya dengan wajah pucat pasi. Perlahan kejadian semalam mulai kembali ke ingatannya, meski masih terpotong-potong dan kabur. Ia menginginkan minuman, kebingungan, berjalan ke arah kamar... dan masuk ke sini.
Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Rasa malu, takut, dan bingung bercampur menjadi satu. "Maafkan saya... saya tidak bermaksud... saya kira ini kamar saya..."
Dika menatap wanita di hadapannya itu. Ia bisa melihat keterkejutan dan ketulusan di wajah cantik itu. Ia juga bisa melihat bahwa wanita ini jauh lebih dewasa darinya, mungkin sekitar lima atau enam tahun lebih tua. Namun di balik keterkejutan itu, ada pesona yang begitu kuat membuatnya tidak bisa memalingkan wajah.
"Saya mengerti," jawab Dika pelan, mencoba menenangkan suaranya sendiri yang juga masih sedikit bergetar. "Tidak apa-apa. Yang penting Anda tidak terluka."
Mereka berdua hanya diam dalam waktu yang cukup lama, saling memandang tanpa kata-kata. Sebuah kesalahan semalam yang seharusnya menjadi aib, justru menjadi awal pertemuan yang tak terduga. Tak ada yang tahu, di balik rasa canggung pagi itu, takdir sedang menulis kisah cinta yang luar biasa indah untuk mereka berdua.
Raina segera merapikan pakaiannya dengan tergesa-gesa, berpamitan dengan wajah yang masih merah padam karena malu, lalu keluar dari kamar itu secepat mungkin. Namun saat ia melangkah menjauh, nama pemuda itu dan wajah tampannya sudah tertanam kuat di dalam ingatannya.
Dan di dalam kamar itu, Dika masih duduk diam di tepi tempat tidur, menatap pintu yang baru saja tertutup. Ada perasaan aneh yang tertinggal di hatinya, perasaan yang memberitahunya bahwa pertemuan ini belum berakhir. Bahwa kesalahan semalam itu, entah bagaimana caranya, akan membawa mereka pada takdir yang luar biasa besar.