Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Pengasingan dan Sumpah diujung Senja
Roda koper hitam besar itu berderit nyaring, bergeser di atas lantai keramik Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang dingin. Jam digital di area keberangkatan menunjukkan pukul lima sore. Cahaya senja yang temaram menerobos masuk melalui dinding kaca besar, memantulkan bayangan samar seorang gadis delapan belas tahun yang tampak begitu rapuh di tengah hiruk-pikuk calon penumpang lainnya.
Anya berdiri mematung di dekat konter check-in. Dia mengenakan jaket denim longgar yang menyembunyikan tubuh kurusnya, celana jins hitam, dan sepasang sepatu kanvas usang. Tidak ada lagi gaun sutra pastel, tidak ada lagi perhiasan berkilau, dan tidak ada lagi aroma manis stroberi yang biasa melekat pada dirinya. Hari ini, Anya melepaskan semua atribut kemewahan yang pernah mendefinisikan hidupnya sebagai putri bungsu keluarga Bramantyo.
Di sampingnya, Mama terus menggenggam saputangan yang sudah basah oleh air mata. Wajah wanita paruh baya itu tampak sembap dan penuh penyesalan. Sementara Papa berdiri agak jauh di belakang, bersedekap dengan wajah datar yang masih menyiratkan sisa-sisa keangkuhan. Papa datang bukan untuk mengantar karena rindu atau sedih, melainkan untuk memastikan bahwa putri bungsunya benar-benar naik ke atas pesawat menuju tempat pengasingannya.
"Anya... kalau sudah sampai di Surabaya, langsung telepon Mama, ya?" bisik Mama dengan suara bergetar, mencoba meraih jemari Anya. "Apartemennya sudah Papa siapkan di dekat kampus. Segala keperluan kuliahmu juga sudah diurus. Tolong jaga dirimu baik-baik di sana, Sayang."
Anya tidak menarik tangannya, namun dia juga tidak membalas genggaman Mamanya. Pandangan matanya kosong, menatap lurus ke arah papan petunjuk jadwal penerbangan. "Anya bisa jaga diri sendiri, Ma. Mama tidak perlu khawatir."
Suara Anya terdengar begitu datar dan dingin, sangat berbeda dengan suara ceria nan manja yang biasanya memenuhi rumah mereka setiap pagi. Perubahan drastis ini justru membuat hati Mama semakin teriris.
"Anya..." Joana melangkah maju dari balik punggung Papa. Matanya berkaca-kaca. Dia membawa sebuah tas jinjing kecil berisi makanan ringan kesukaan Anya untuk di perjalanan. "Ini untukmu di pesawat. Kakak mohon, jangan membenci Kakak. Kakak benar-benar tidak berdaya melawan keputusan Papa."
Anya menoleh, menatap Joana lurus-lurus. Tidak ada lagi kilat amarah atau cemburu di mata Anya, yang tersisa hanyalah ruang hampa yang teramat luas. Anya tidak menerima tas jinjing itu. Dia hanya menatap kakaknya dengan senyum tipis yang sarat akan kepasrahan yang menyakitkan.
"Anya enggak membenci Kak Joana," ucap Anya lirih namun tegas. "Kak Joana pantas mendapatkan apa yang menurut Papa terbaik. Anya cuma mau pergi dari sini. Jadi, tolong jalani saja hidup Kakak dengan baik bersama... bersama dia."
Mendengar kata 'dia', dada Anya kembali berdenyut perih. Bayangan wajah Edgard yang sedingin es saat mengusirnya dari kantor tempo hari kembali melintas di benaknya. Pria itu bahkan tidak datang hari ini. Tentu saja tidak. Mengapa seorang Edgard Baskoro harus peduli pada keberangkatan seorang gadis remaja yang dia anggap sebagai pengganggu egois? Bagi Edgard, kepergian Anya mungkin adalah sebuah berkah yang membawa ketenangan dalam hidupnya.
"Panggilan terakhir untuk penumpang pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID-6582 tujuan Surabaya..."
Suara pengumuman dari pengeras suara bandara memecah keheningan di antara mereka. Anya menghela napas panjang. Ini adalah waktunya. Waktu untuk melangkah masuk ke dalam gerbang yang akan memisahkannya dari seluruh masa lalunya.
Anya menarik tuas kopernya. Dia berbalik menghadap kedua orang tua dan kakaknya untuk terakhir kali. Dia menatap Papanya yang sejak tadi hanya diam membisu tanpa menunjukkan niat untuk memeluk atau memberikan kata-kata perpisahan yang hangat.
"Anya pergi, Pa, Ma," kata Anya.
"Anya, tunggu!" Mama terisak, mencoba memeluk tubuh Anya, namun Anya dengan halus memundurkan langkahnya, menghindari kontak fisik yang bisa meruntuhkan sisa-sisa ketegaran yang dia bangun dengan susah payah semalaman.
Anya membalikkan badannya seutuhnya. Dengan langkah yang mantap dan kepala yang ditegakkan, dia berjalan menuju pintu pemeriksaan keamanan. Dia menyerahkan tiket dan kartu identitasnya kepada petugas tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Dia tahu, jika dia menoleh, dia mungkin akan goyah. Dia mungkin akan berlutut dan mengemis kepada Papanya untuk membatalkan hukuman ini. Dan Anya menolak untuk menjadi selemah itu lagi.
Di balik dinding kaca ruang tunggu keberangkatan, Anya duduk sendirian, menatap pemandangan landasan pacu yang mulai diguyur hujan gerimis. Lampu-lampu pesawat yang mendarat dan lepas landas memantulkan cahaya gemerlap di atas aspal yang basah. Di ujung senja yang berawan kelabu itu, Anya mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas pangkuan.
Air matanya luruh dalam diam, mengalir melewati pipinya yang pucat. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari sore itu, Anya membisikkan sebuah janji pada dirinya sendiri. Sebuah sumpah yang lahir dari dasar hatinya yang telah hancur lebur.
"Mulai hari ini, di tempat yang baru, aku bukan lagi Anya yang dulu," bisik Anya dengan nada yang sarat akan tekad yang membeku. "Aku akan memutus semua hubungan dengan rumah ini. Aku tidak akan pernah menelepon, aku tidak akan pernah membalas pesan, dan aku tidak akan pernah sudi untuk pulang ke Jakarta lagi. Aku akan membuktikan pada Papa, pada Kak Joana, dan terutama pada Edgard... bahwa aku bisa hidup tanpa mereka. Aku akan menghapus mereka semua dari hidupku."
Satu jam kemudian, pesawat yang membawa Anya lepas landas, menembus awan hitam malam hari menuju Surabaya. Di Jakarta, di saat yang sama, sebuah mobil sedan hitam mewah tampak berhenti di area parkir bandara yang mulai sepi.
Edgard Baskoro duduk di balik kemudi dengan mesin mobil yang masih menyala. Pandangannya tertuju pada langit malam melalui kaca depan, menatap sebuah pesawat yang baru saja terbang meninggi, meninggalkan seberkas cahaya kemerahan di antara kegelapan malam.
Edgard meletakkan kedua tangannya di atas kemudi, meremasnya dengan perlahan. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi, seolah-olah dia hanya sedang menikmati pemandangan malam biasa. Namun, di dalam keheningan mobil yang kedap suara itu, ada sebersit rasa sunyi yang asing yang tiba-tiba menyergap hatinya—sebuah rasa kehilangan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, rasa kehilangan akan aroma manis stroberi yang biasanya selalu mengganggu hari-harinya.
Edgard mengembuskan napas pendek, lalu mematikan lampu mobilnya. Dia memutar kemudi dan menjalankan mobilnya perlahan, kembali membelakangi bandara, kembali menuju dunianya yang penuh dengan angka, logika, dan komitmen bisnis yang kaku. Pria itu percaya bahwa keputusan ini adalah yang terbaik untuk semua orang, terutama untuk Anya agar gadis itu bisa tumbuh dewasa di tempat yang baru. Edgard tidak pernah tahu bahwa keputusannya untuk tetap diam dan bersikap biasa saja malam ini telah menorehkan luka yang teramat dalam, luka yang akan mengubah gadis ceria yang dulu memujanya menjadi sosok wanita asing yang dingin yang tidak akan pernah mau mengenalnya lagi di masa depan.
semangat nulisnya 💪