Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Ruangan itu terasa sunyi. Dokter Malcom duduk dengan wajah pucat di hadapan Killian. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas paha. Sesekali matanya bergerak ke arah pintu, seolah berharap seseorang datang menyelamatkannya.
Killian justru terlihat tenang. Ia tidak perlu terburu-buru. Rahasia yang selama ini disimpan Malcom sudah diketahui olehnya. Ia hanya membutuhkan satu hal. Kepastian.
Killian membuka sebuah map dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
"Dokter Malcom," ujar Killian sambil meletakkan dokumen itu di atas meja, "saya tidak akan bertanya apakah sel telur Vivienne digunakan atau tidak."
Malcom mengangkat wajah.
Killian menatapnya tajam. "Saya sudah tahu jawabannya."
Mulut Malcom terbuka, tetapi tidak bersuara. Pria paruh baya itu terkejut.
"Saya juga sudah tahu siapa pemilik sel telur yang digunakan dalam proses tersebut," lanjut Killian dengan tenang.
Wajah Malcom semakin pucat.
Killian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Saya hanya ingin mendengar pengakuannya dari mulut Anda sendiri."
Malcom mengusap wajahnya. "Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud."
Alex yang berdiri di samping Killian langsung mendengus.
"Masih mau berpura-pura?" ujar Alex sambil menyilangkan tangan di dada. "Padahal wajahmu sudah menjawab semuanya."
Malcom menundukkan kepala.
Killian mengambil ponselnya. "Apakah Dominic yang meminta Anda mengubah proses bayi tabung Vivienne dan menggunakan sel telur Giselle Moreau?"
Malcom tidak menjawab.
Killian mengetuk meja dengan jarinya. Tatapannya semakin tajam. "Saya tidak membutuhkan penjelasan panjang. Cukup jawab iya atau tidak."
Malcom memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, bahunya turun. "Iya," jawabnya lirih.
Alex langsung menatap Killian.
Killian sendiri hanya mengembuskan napas panjang. Akhirnya ia mendapatkan jawaban yang dibutuhkannya.
"Jadi benar Dominic yang meminta Anda melakukan itu?" tanya Killian.
Malcom mengangguk. "Iya."
"Apakah Vivienne mengetahui perubahan tersebut?"
Malcom menggeleng. "Tidak."
"Apakah dia pernah diberi tahu bahwa sel telur yang digunakan bukan miliknya?"
"Tidak."
Killian kembali bersandar.
Malcom menelan ludah.
"Dan bayi yang sekarang berada di dalam kandungan Nyonya Vivienne, bayi itu berasal dari embrio yang menggunakan sel telur Giselle."
Killian mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Bukan karena tidak ingin tahu. Melainkan karena semuanya sudah cukup jelas.
Di tempat lain, Vivienne sedang duduk bersama Estelle di sebuah kafe yang cukup tenang. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang semakin membesar, sementara secangkir teh hangat berada di atas meja.
Estelle yang sejak tadi memegang ponsel tiba-tiba melihat sebuah pesan masuk. Matanya langsung bergerak membaca nama pengirimnya.
Pesan itu berasal dari Killian.
Tanpa berkata apa-apa, Estelle menyerahkan ponselnya kepada Vivienne.
Vivienne menerima ponsel tersebut. Matanya bergerak perlahan membaca isi pesan itu.
Killian: [Malcom mengaku. Dominic memang meminta pergantian sel telur. Dia juga mengakui bahwa Vivienne tidak pernah diberi tahu.]
Vivienne terdiam. Ia membaca pesan tersebut sekali lagi. Tidak ada perubahan berarti pada wajahnya. Tidak ada kepanikan. Tidak ada tangisan. Hanya jemarinya yang perlahan menggenggam ponsel itu lebih erat.
Setelah selesai membaca, Vivienne mengembalikan ponsel tersebut kepada Estelle.
"Sudah pasti," ujar Vivienne tenang.
Estelle menatap wajah sahabatnya dengan saksama. Ia sudah menduga Vivienne akan terluka setelah mendapatkan kepastian itu, tetapi reaksi perempuan tersebut justru jauh lebih tenang dari perkiraannya.
"Kamu tidak sedih?" tanya Estelle pelan.
Vivienne menunduk. Tangannya kembali mengusap perutnya. "Sedih karena apa?" tanya Vivienne balik.
Estelle terdiam. Jelas semua wanita jika berada di posisi Vivienne akan merasakan kesedihan.
Vivienne mengelus perutnya dengan gerakan lembut. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum tipis. "Siapa pun pemilik sel telur bayi ini, aku tidak peduli," ujar Vivienne dengan suara pelan.
Jarinya berhenti di satu sisi perutnya ketika ia merasakan gerakan kecil dari dalam. "Aku yang mengandungnya."
Suara Vivienne terdengar semakin lembut. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tidak membiarkan air mata itu jatuh.
"Aku yang merasakan dia bergerak untuk pertama kalinya." Senyum kecil muncul di bibirnya. "Aku yang setiap hari berbicara dengannya."
Tangan Vivienne kembali mengusap perutnya dengan penuh kasih. Vivienne mengangkat wajah dan menatap Estelle dengan sorot mata yang mantap.
"Dan aku yang akan melahirkannya. Jadi, bagiku, dia anakku."
Estelle tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak melihat keteguhan sahabatnya.
Perempuan itu kemudian meraih tangan Vivienne dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Estelle.
Senyum Vivienne perlahan muncul. Namun, kali ini bukan senyum lembut yang biasa ia tunjukkan kepada Dominic. Ada sesuatu yang berbeda. Senyum itu tenang, tetapi menyimpan keteguhan.
"Menunggu," jawab Vivienne singkat.
Estelle mengangkat alis. "Menunggu?"
Vivienne mengangguk pelan. "Aku belum mau menghancurkannya sekarang," ujar Vivienne.
Vivienne mengambil ponselnya lalu meletakkannya di atas meja.
Estelle perlahan memahami maksud sahabatnya. "Kamu mau membuatnya menderita lebih lama?" tanya Estelle dengan suara rendah.
Vivienne mengangguk. Tatapan ia berubah dingin. "Dia sudah menyiapkan kebohongan ini selama bertahun-tahun. Jadi, aku juga ingin menggunakan waktu yang ada untuk membongkar semuanya."
Estelle terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. Ia menahan tawanya. Ia tahu sahabatnya sedang terluka, tetapi cara Vivienne menghadapi pengkhianatan itu justru membuatnya semakin kagum.
"Jadi, setelah pengakuan dari dokter itu kita dapat, apa langkahmu?" tanya Estelle.
Vivienne mengambil napas panjang. "Pertama, aku akan memastikan semua bukti tentang Dominic tersimpan dengan aman," jawabnya.
Estelle mengangguk. "Setelah itu?"
Vivienne menatap sahabatnya. "Aku akan membuatnya membusuk di penjara setelah kehilangan satu per satu hal yang paling dia banggakan."
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡