NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 — MALAM YANG PENUH KETEGANGAN

Langit di atas Kerajaan Aveloria seolah-olah runtuh malam itu. Awan hitam pekat menggantung rendah di atas menara-menara batu Istana Valerian, membawa petir yang menyambar-nyambar dan guruh yang menggelegar hebat. Hujan deras turun bagai dicurahkan dari langit, menghantam kaca-kaca jendela Paviliun Barat dengan dentuman kencang yang tak henti-henti.

Di dalam kamar utama kediamannya, Alena berlutut di atas tempat tidur kayu mahoni. Lampu minyak di samping ranjang bergoyang redup, membiaskan bayangan kecemasan yang mendalam pada dinding kamar.

"Ibu..." jerit Elian kecil dalam tangisnya, menutupi kedua telinganya dengan bantal. Setiap kali suara petir menggelegar di luar, tubuh mungil anak berusia tujuh tahun itu gemetar hebat.

"Ibu di sini, Sayang. Ibu di sini," bisik Alena lembut. Ia merengkuh Elian ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah anak itu di ceruk lehernya sembari mengusap-usap punggungnya yang gemetar.

Namun kecemasan Alena malam itu bukan hanya karena suara petir.

Sejak petang tadi, suhu tubuh Elian mendadak melonjak tinggi. Kulit anak kecil itu terasa begitu panas membakar saat disentuh, pipinya merona merah parah, dan napasnya terdengar memburu kaku. Demam tinggi yang datang secara tiba-tiba akibat perubahan cuaca drastis dan tekanan stres beberapa hari terakhir telah melumpuhkan tubuh mungil Elian.

"Mira! Mana kain kompresnya?" panggil Alena, suaranya parau dan panik.

Mira melangkah terburu-buru masuk dari kamar mandi membawa baskom tembikar berisi air hangat dan sehelai kain kain putih. "Ini, Alena. Pelayan di depan bilang tabib istana sedang dipanggil, tapi jalanan antara Menara Tabib dan Paviliun Barat tergenang air deras."

Alena memeras kain kompres dengan tangan yang gemetar hebat, menyapukannya ke dahi Elian yang membakar. Anak itu merintih pelan, matanya terpejam kencang, bibirnya yang kering bergumam tak jelas dalam igauan demamnya.

Ketakutan luar biasa mencengkeram dada Alena. Sebagai seorang ibu yang selama tujuh tahun membesarkan anaknya di desa terpencil, melihat Elian sakit dalam kondisi terkunci di dalam sarang musuh seperti Istana Valerian terasa sepuluh kali lebih menakutkan.

Tiba-tiba, suara derap langkah sepatu boot berkulit tebal bergema cepat di koridor luar paviliun, mengabaikan ketukan kaku pelayan. Daun pintu kayu mahoni kamar utama terdorong terbuka lebar.

Pangeran Adrian melangkah masuk.

Pria itu mengenakan kemeja katun hitam berlengan panjang yang basah kuyup di bagian bahu dan jubah hitam yang terlepas di tangannya. Tetesan air hujan berkilau di helai rambut gelapnya yang berantakan. Wajah tampannya dipenuhi kecemasan yang begitu nyata saat matanya menyapu ruangan dan mengunci sosok Elian di atas ranjang.

Di belakang Adrian, seorang tabib senior berambut putih berdiri terengah-engah membawa tas obat-obatannya—pria tua itu jelas-jelas baru saja diseret berlari menembus hujan deras oleh sang Putra Mahkota sendiri.

"Adrian?" bisik Alena terkejut, matanya membelalak kaget.

Adrian tidak memedulikan protokoler atau tatapan Alena. Ia melangkah cepat mendekati ranjang, mengisyaratkan tabib tua itu untuk segera memeriksa Elian.

"Periksa dia sekarang, Tabib Master," perintah Adrian, suaranya berat, dalam, dan bergetar oleh kecemasan yang tak tersembunyikan.

Tabib senior itu dengan terburu-buru berlutut di samping ranjang, meraba nadi di pergelangan tangan kecil Elian dan memeriksa suhu dadanya. Sementara itu, Adrian berdiri kaku di sisi lain ranjang, matanya yang berwarna abu-abu pekat tidak pernah lepas dari wajah pucat anak laki-laki itu.

Alena berdiri terpaku di tepi ranjang. Hatinya yang serba salah bertabrakan keras di dalam dada. Ia ingin membentak Adrian, meminta pria itu pergi agar tidak memicu desas-desus baru. Namun melihat bagaimana Adrian datang menembus hujan deras, menyeret tabib istana sendiri demi Elian, membuat kata-kata keras itu tercekat di tenggorokannya.

"Anak ini terkena demam angin dingin yang parah, Yang Mulia," ulas Tabib Master setelah beberapa menit memeriksa. "Suhu tubuhnya sangat tinggi dan napasnya agak tersumbat. Saya akan meracik ramuan penurun panas dan daun herbal peningkat daya tahan sekarang."

"Lakukan cepat," tegas Adrian. "Gareth di luar akan membantumu mengambil bahan obat dari ruang penyimpan."

Tabib tua itu membungkuk dalam-dalam dan melangkah keluar bersama Gareth, meninggalkan Adrian, Alena, dan Mira di dalam kamar yang sunyi, diiringi dentuman hujan di luar.

Mira yang mengerti situasi memberi isyarat pelan pada Alena sebelum melangkah mundur ke luar kamar untuk mengawasi dapur, menyisakan Alena dan Adrian di samping ranjang Elian.

Adrian perlahan mengikis jarak, menundukkan tubuhnya dan duduk di tepi tempat tidur kayu tersebut. Pria tegap yang biasanya menatap para menteri dewan dengan dingin itu kini mengulurkan tangannya yang besar dan berkapalan, menyentuh pipi Elian yang panas dengan kelembutan yang teramat sangat.

"Dia... dia sering demam seperti ini saat di desa?" bisik Adrian pelan, suaranya parau.

Alena membasuh kain kompres di baskom, memerasnya lagi. "Hanya saat musim berganti. Tapi suhu tubuhnya tidak pernah setinggi ini..."

Alena berlutut di sisi ranjang berseberangan dengan Adrian. Dalam keheningan malam yang diterpa kilatan petir, dua insan itu merawat Elian bersama. Alena menyapu air kompres di leher dan dada Elian, sementara Adrian memegangi mangkuk air hangat atau merapikan posisi selimut tebal anaknya.

Untuk beberapa saat, dinding kebohongan, status selir, dan ketakutan politik seolah-olah menguap dari ruangan itu. Yang tersisa hanyalah sepasang orang tua yang sedang bertarung melawan demam malam demi anak mereka.

Tiba-tiba, suara petir yang teramat dahsyat menyambar di luar jendela, membiaskan cahaya putih yang memantulkan bayangan kencang di dinding.

Elian terlonjak kaget di dalam tidurnya. Anak itu terbangun setengah sadar, matanya yang berkaca-kaca akibat demam membuka sedikit. Ia menangis pelan, jemari mungilnya yang gemetar bergerak liar di atas selimut, mencari pegangan.

"Ibu..." rintih Elian parau.

Alena hendak mengulurkan tangannya, namun jemari kecil Elian yang bergerak acak justru menyentuh tangan kanan Adrian yang sedang berada di atas selimut.

Secara refleks, jemari mungil Elian menggenggam erat telunjuk dan ibu jari Adrian. Anak itu meremas tangan tegap itu dengan seluruh sisa tenaganya, menyandarkan pipinya yang panas ke punggung tangan Adrian yang hangat.

Adrian membeku seketika.

Tubuh tegap sang Putra Mahkota menegang kaku. Pupil matanya melebar lebar menatap jemari kecil anaknya yang mencengkeram tangannya seolah-olah Adrian adalah benteng pelindung terkuat di dunia ini.

Adrian tidak menarik tangannya. Sama sekali tidak.

Sebaliknya, jemari besar Adrian perlahan membalas genggaman kecil itu, melingkupi telapak tangan Elian dengan kehangatan dan perlindungan murni. Adrian menundukkan kepalanya lebih rendah, membiarkan anak kandungnya menggenggam tangannya erat-erat saat rintihan demam anak itu perlahan mereda kembali menjadi napas yang teratur.

Alena yang duduk di sisi ranjang berseberangan menyaksikan momen itu dengan dada yang hancur berkeping-keping.

Air mata hangat yang sejak tadi ditahannya akhirnya meluncur deras melintasi pipinya, menetes diam-diam ke atas kain kompres di tangannya. Pemandangan seorang anak yang menggenggam tangan ayahnya di tengah malam yang dingin... adalah gambaran dari seluruh doa tersembunyi yang pernah ia panjatkan di masa-masa sepinya di Bellmare.

Adrian mendongak pelan, tatapan mata abu-abu pekatnya yang dibasahi lapisan emosi yang teramat dalam bertabrakan dengan mata hijau hazel milik Alena yang basah oleh air mata.

Tidak ada kebohongan yang bisa diucapkan saat ini. Tidak ada pembelaan formal yang bisa dirancang. Di tengah keheningan malam dan deru hujan yang membasahi jendela, kebenaran itu berdiri murni dan tak tersentuh di antara mereka berdua.

Adrian tidak mengucap sepatah kata pun. Ia tetap duduk di tepi ranjang, membiarkan tangannya terus digenggam oleh Elian hingga ramuan obat tiba dan napas anak itu benar-benar lelap kembali. Malam yang penuh ketegangan itu menyaksikan retaknya benteng kebohongan terakhir Alena, menyisakan sebuah janji tersirat bahwa badai di luar jendela hanyalah awal dari pertarungan besar yang akan mereka hadapi bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!