"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Getaran yang Tak Terduga
Sedan mewah berwarna hitam itu melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh kendaraan siang hari. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, hawa dingin dari penyejuk udara menyelimuti atmosfer yang mendadak terasa begitu hangat, bahkan cenderung mendebarkan. Setelah insiden menegangkan dengan sekelompok preman di selasar gedung GBC tadi, suasana di antara Kirana dan Martin tidak lagi sama. Ada sebuah benang tak kasat mata yang tiba-tiba terentang di antara mereka, memercikkan getaran romantis khas cerita chiclit yang manis.
Kirana duduk di kursi penumpang bagian depan, tepat di sebelah Martin yang sedang fokus mengendalikan kemudi. Alih-alih menatap jalanan di depan atau memeriksa dokumen penting di dalam tasnya yang baru saja diselamatkan, sepasang mata indah Kirana justru tertuju pada pria di sampingnya.
Ia memperhatikan profil samping wajah Martin. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan ada seulas ketenangan yang mutlak terpancar dari ekspresinya. Potongan rambutnya yang rapi serta setelan jas yang pas di tubuh tegap itu membuat Martin terlihat lebih mirip seorang eksekutif muda daripada seorang pengawal pribadi. Kirana menatap pria itu cukup lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa menyadari bahwa tatapannya begitu intens.
Martin, yang memiliki insting tajam sebagai seorang profesional, tentu saja menyadari hal itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat samar sebelum akhirnya ia berdeham pelan.
"Maaf, Nona... Tatapan Anda mulai mengganggu konsentrasi saya dalam menyetir," kata Martin tanpa menoleh, suaranya terdengar berat namun dipenuhi nada kejenakaan yang kentara.
Deg.
Kirana tersentak, seolah tertangkap basah sedang melakukan tindak kejahatan. Wajahnya seketika terasa panas. Dengan gerakan kilat, ia langsung berpaling ke arah sebelah kiri, menatap kaca jendela luar dengan dahi yang berkerut, berusaha menyembunyikan rasa malunya yang luar biasa.
"Kamu itu terlalu kepedean! Siapa juga yang suka melihatmu? Aku ini baru saja bercerai!" seru Kirana dengan nada ketus yang dibuat-buat, berusaha membangun benteng pertahanan dirinya yang mulai runtuh.
Martin terkekeh pelan, suara tawa rendahnya terdengar sangat seksi di dalam kabin mobil yang sunyi. "Saya tidak mengatakan Anda suka pada saya, Nona. Saya hanya bilang tatapan Anda mengganggu konsentrasi," sahut Martin santai, sengaja memojokkan majikannya dengan logika yang tak bisa dibantah.
Kirana menggigit bibir bawahnya dengan gemas. Pria ini benar-benar menyebalkan, tapi juga sangat lucu! rutuk Kirana di dalam hati. Namun, sedetik kemudian, ia menggelengkan kepalanya kecil. Tidak, tidak boleh. Aku tidak boleh menyukainya atau terbawa perasaan secepat ini. Aku baru saja bercerai kemarin siang dari Adrian. Luka itu, meskipun sudah mati rasa, belum sepenuhnya hilang dari ingatan. Aku harus fokus pada balas dendam, bukan jatuh cinta lagi.
Salah Tingkah yang Berulang
Keheningan kembali tercipta selama beberapa menit, namun pikiran Kirana terus berputar-putar. Kenangan tentang lima tahun penderitaannya bersama Adrian mendadak melintas, digantikan oleh bayangan bagaimana Martin menerjang lima preman bersenjata hanya demi melindunginya tadi. Kontras antara kedua pria itu begitu ekstrem. Adrian selalu menuntutnya menjadi budak penurut, sementara Martin memperlakukannya seperti sesuatu yang berharga untuk dilindungi.
Tanpa sadar, Kirana kembali melamun dengan tatapan kosong ke arah depan.
"Kenapa Anda melamun, Nona?" tanya Martin memecah keheningan, kali ini suaranya terdengar lebih lembut, menunjukkan perhatian yang tulus.
Kirana yang belum sepenuhnya kembali dari alam lamunannya langsung menjawab dengan spontan yang kacau. "Nggak... Aku nggak sedang memikirkan kamu!"
Begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, Kirana langsung membelalakkan mata. Ia ingin sekali menjahit mulutnya sendiri saat itu juga.
Martin menoleh sekilas, alisnya bertaut dengan binar jenaka yang makin kuat di matanya. "Siapa juga yang bilang Anda sedang memikirkan aku, Nona Kirana?"
"Aduh..." Kirana menepuk dahinya pelan, meratapi kebodohannya. Lagi-lagi aku salah bicara! Kenapa di depan pria ini aku selalu kehilangan kendali atas lidahku sendiri? Kirana membuang muka lagi, meratapi nasibnya yang terus-menerus kalah telak dalam adu argumen dengan pengawalnya sendiri. Namun di balik kekesalannya, sebersit rasa syukur menyeruak di lubuk hatinya.
Si Martin ini sebenarnya siapa sih? Kok bisa-bisanya Paman Aldo mengirim pria sepertinya untuk menjadi pengawal pribadiku? batin Kirana, kali ini dengan senyuman tersembunyi. Hebat kamu, Paman. Kamu tidak hanya memberiku senjata untuk menghancurkan Adrian, tapi perlahan-lahan, lewat Martin, kamu juga berhasil mengobati trauma dan hatiku yang hancur. Kehadiran pria ini membuatku lupa pada rasa sakit yang diberikan keluarga Adiwangsa.
Sentuhan yang Menggetarkan
Mobil perlahan melambat saat menghadapi perempatan jalan yang sedang padat. Martin mengulurkan tangan kirinya, bersiap untuk memindahkan tuas gigi mobil pada persneling.
Di saat yang bersamaan, Kirana yang berniat mengambil botol air minum di dekat konsol tengah, secara tanpa sadar melayangkan tangannya ke arah yang sama. Karena tidak saling melihat, gerakan mereka berada di titik temu yang sama.
Grep.
Telapak tangan Kirana yang halus dan dingin mendarat tepat di atas punggung tangan Martin yang hangat, kokoh, dan berurat tegas di atas tuas persneling.
Sentuhan kulit yang mendadak itu seketika mengirimkan sensasi seperti sengatan listrik bertegangan rendah langsung menembus ke jantung Kirana. Ia terpaku. Martin pun langsung menghentikan gerakannya, membiarkan tangan Kirana berada di atas tangannya selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.
"Maaf, Nona... Tangannya," kata Martin dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi lebih rendah dan serak, penuh penekanan psikologis yang membuat darah Kirana berdesir cepat.
Kirana terkejut namun keobsesian gengsi membuatnya bersikap angkuh, meskipun dirinya belum menarik tangan tersebut. "Maksud kamu apa?!"
"Tangan Nona..." Martin melirik ke arah tangan di atas persneling itu, lalu kembali menatap ke depan dengan senyuman nakal yang sangat memikat. "Apa Nona Kirana sangat terburu-buru dan mau segera ganti posisi Adrian di hati Nona dengan saya?"
Blush!
Wajah Kirana benar-benar terbakar sekarang. Pertanyaan Martin terlalu blak-blakan dan langsung menusuk ke pusat emosinya. Merasa harga tertinggi dirinya sebagai seorang Presdir GBC yang berwibawa sedang diuji oleh seorang pengawal, Kirana langsung menarik tangannya dengan kasar dan menegakkan punggungnya, bersikap sedingin es.
"Maksud kamu apa, Hah?! Jangan lancang yah?!" bentak Kirana, berusaha mengembalikan otoritas kekuasaannya. "Kamu itu cuma pengawal, tidak lebih! Tugasmu hanya melindungiku, bukan mengomentari kehidupan pribadiku!"
Mendengar bentakan keras dan penegasan kasta dari Kirana, senyuman jenaka di wajah Martin perlahan memudar. Ekspresinya berubah menjadi tenang dan datar kembali, layaknya seorang profesional sejati.
"Baik, saya cukup tahu diri, Nona Kirana. Maaf atas kelancangan saya tadi," kata Martin dengan nada suara yang sangat sopan, dingin, dan patuh. Ia kembali menggenggam kemudi dengan kedua tangan, tidak lagi mencoba mencairkan suasana.
"Bagus kalau kamu mengerti," sahut Kirana pendek, membuang muka ke arah jendela kiri lagi.
Dilema dan Senyuman Rahasia
Namun, begitu melihat perubahan sikap Martin yang mendadak kembali formal dan menjaga jarak, ada perasaan tidak nyaman yang aneh menyelinap di dada Kirana. Ada rasa bersalah yang sedikit menggelitiknya.
Ia melirik Martin dari pantulan kaca jendela. Pria itu kini kembali menjadi sosok pengawal yang kaku, fokus menatap jalanan tanpa ada lagi senyuman nakal atau gombalan manis yang menghibur. Kabin mobil kembali menjadi dingin dan sunyi.
Kirana menggigit bibirnya, merasa sedikit menyesal karena telah berbicara terlalu keras dan membawa-bawa masalah status "hanya pengawal". Padahal, di dalam hatinya, Kirana sama sekali tidak bermaksud merendahkan Martin. Ia hanya panik karena jantungnya berdebar terlalu kencang akibat kedekatan mereka.
Aduh, Martin... Kenapa sih kamu ini? Kenapa kamu bisa dengan mudah membuat perasaanku jungkir balik seperti ini? batin Kirana, dan tanpa bisa ditahan, seulas senyuman manis dan geli terukir di bibirnya.
Ia tersenyum-senyum sendiri menatap pemandangan luar jalanan, menertawakan betapa gengsinya dirinya sendiri dan betapa menggemaskannya reaksi Martin saat dituduh. Di balik topeng "Kirana yang dingin dan berkuasa" untuk membalas dendam pada Adrian, es di dalam hatinya kini telah dicairkan oleh kehangatan seorang pria bernama Martin.
Mobil terus melaju, membawa mereka kembali menuju kediaman Paman Aldo. Drama balas dendam yang kejam di dunia korporat sedang dipersiapkan, namun di dalam mobil itu, sebuah kisah cinta chiclit yang manis, penuh gengsi, dan getaran rahasia justru sedang tumbuh dengan subur di antara sang ratu baru dan pengawal setianya.