Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Masa Lalu
Layar ponsel retak di tangan Rama akhirnya selesai memuat halaman pencarian. Di sana, terpampang foto seorang pria paruh baya berjas rapi dengan senyum tegas. Di bawah foto itu tertulis nama jelas Ir. Surya Danendra, Pemilik Utama Danendra Group.
Rama memejamkan mata erat-erat. Dadanya bergemuruh hebat. Malam itu, Rama nyaris tidak bisa tidur karena perang batin yang luar biasa antara rasa kagumnya pada Naira dan kenyataan pahit tentang ayahnya.
Besok paginya, atmosfer di rumah kecil Rama berjalan seperti biasa. Rama keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang rapi, mencoba bersikap biasa saja di depan kedua orang tuanya.
"Ram, sarapan dulu. Itu Ibu buatin nasi goreng," puji Ayah Rama yang sedang duduk di teras kecil depan rumah sambil menikmati kopi hitamnya sebelum bersiap pergi kerja serabutan.
Melihat wajah lelah Ayahnya yang harus memulai semuanya dari nol lagi sejak penggusuran itu, hati Rama kembali mencelos.
TOK! TOK! TOK!
Pagar besi tua di depan rumah mereka tiba-tiba diketuk dengan keras. Bukan ketukan santai, melainkan ketukan yang menuntut.
"Permisi!" seru sebuah suara asing dari luar.
Ayah Rama bangkit dari duduknya. "Siapa ya pagi-pagi begini?" Ayah berjalan menuju pagar, diikuti oleh Rama yang mendadak punya firasat buruk.
Begitu pintu pagar dibuka, jantung Rama rasanya berhenti berdetak.
Bukan tetangga atau kurir yang berdiri di sana, melainkan dua orang pria berbadan tegap mengenakan pakaian safari hitam dengan walkie-talkie di pinggang mereka.
Dan di belakang kedua pria itu, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap terparkir mati di depan gang sempit mereka.
Kaca penumpang mobil mewah itu perlahan turun, menampilkan wajah pria paruh baya dengan kacamata hitam yang persis sama dengan foto yang dilihat Rama semalam.
Itu Surya Danendra . Ayah Naira.
Tuan Danendra turun dari mobil dibantu oleh ajudannya. Tatapan matanya menyapu rumah kecil Rama dengan pandangan meremehkan, lalu pandangannya mengunci langsung ke arah Rama.
Ayah Rama mematung. Wajahnya seketika berubah pucat pasi. Trauma masa lalu membuat tubuhnya menegang hebat hanya dengan melihat logo Danendra Group yang tersemat di pin jas pria di depannya. Itu adalah logo yang sama dengan surat penggusuran yang menghancurkan toko kelontongnya dulu.
"A-Ada keperluan apa ya, Pak?" tanya Ayah Rama, suaranya agak bergetar namun berusaha tetap tegas melindungi anaknya.
Tuan Danendra tidak menjawab Ayah Rama. Dia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Rama dengan jarak hanya satu meter. Atmosfer di depan rumah itu mendadak mencekam, sedingin es.
"Kamu yang namanya Rama?" tanya Tuan Danendra, mengintimidasi. "Anak ruko yang kemarin sore berani membuat putri saya, Naira, pasang badan di depan preman?"
Rama mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat di samping seragamnya. Amarahnya memuncak melihat pria yang sudah memiskinkan keluarganya kini berdiri sombong di teras rumahnya sendiri.
"Iya, saya Rama," jawab Rama lempeng, menatap lurus ke mata Tuan Danendra tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Tuan Danendra tersenyum sinis, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari balik jasnya dan melemparnya ke atas meja teras rumah Rama hingga kedengaran bunyi PLAK! yang nyaring.
"Di dalam itu ada uang lima puluh juta. Ambil, dan obati luka di wajah kamu itu," ucap Tuan Danendra tanpa beban, seolah harga diri keluarga Rama bisa dibeli.
"Tapi ada satu syarat," lanjut Tuan Danendra, wajahnya berubah menjadi sangat dingin. "Mulai hari ini, menjauh dari putri saya. Jangan pernah menampakkan muka kamu lagi di depan Naira Alisha Danendra. Sadar posisi kamu. Anak ruko dari keluarga korban gusuran kayak kalian... sama sekali gak pantas berada di sirkel kehidupan anak saya. Paham?"
GONG!
Rahasia besar itu langsung dibongkar sendiri oleh Tuan Danendra di depan Ayah Rama yang syok setengah mati, dan di depan Rama yang kini harus mengepalkan tangan menahan diri agar tidak melayangkan pukulan ke wajah pria tua sombong itu.