PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Berdar AH
Langit di atas distrik tua mulai memar, berubah warna menjadi jingga kemerahan yang pekat saat Primus melangkah keluar dari toko buku itu. Udara pengap yang membawa aroma kertas tua dan debu masih melekat di ujung jubahnya.
Di trotoar, denyut kehidupan distrik lama masih berdetak normal. Pedagang kaki lima menjajakan barang dengan suara parau, anak-anak berlarian di antara celah trotoar yang retak, dan kerumunan orang berlalu-lalang dengan urusan yang terasa begitu remeh. Mereka tidak tahu bahwa beberapa menit lalu, di balik rak-rak buku yang nyaris runtuh itu, Primus baru saja membedah konspirasi besar.
Sebuah daftar panjang tentang kematian para pewaris keluarga Aristokrat. Dan yang membuat rahangnya mengeras adalah fakta bahwa namanya kini bertengger manis di baris berikutnya.
Primus memasuki mobil hitamnya yang terparkir di sudut jalan. Begitu pintu tertutup dengan dentuman pelan yang kedap suara, atmosfer sunyi langsung menyergap. Paman Robert, yang duduk tegap di kursi kemudi, hanya melirik sekilas melalui spion tengah. Ia adalah pria yang sudah terlalu lama mencium bau bahaya untuk tidak menyadari perubahan aura tuannya.
"Ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan uang, Tuan Muda?" tanya Robert tenang, suaranya sedingin es.
Primus menatap keluar jendela, pada bayangan gedung-gedung tua yang mulai kehilangan cahaya. "Sepertinya daftar musuh saya baru saja mendapatkan pembaruan, Robert."
Robert tertawa kecil—sebuah suara serak yang lebih mirip geraman rendah. "Kalau begitu, hari ini berjalan sebagaimana mestinya bagi seorang Aristokrat."
Primus menyunggingkan senyum tipis yang getir. Benar. Sejak kompetisi berdarah antar pewaris ini dimulai, kata 'tenang' sudah dihapus dari kamus hidupnya.
"Ke Cabang Timur. Sekarang," perintah Primus dingin.
"Baik, Tuan Muda. "Mobil meluncur membelah kemacetan, dangan Meninggalkan distrik tua yang menyimpan rahasia kematian itu di belakang.
# KEKACAUAN DI CABANG TIMUR
Satu jam kemudian, Gedung Cabang Timur terlihat seperti sarang lebah yang diganggu. Garis polisi kuning melintang di area parkir, dan beberapa unit patroli masih menyalakan lampu rotator yang memantul di kaca gedung. Karyawan berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil; wajah mereka pucat, dibasahi keringat dingin meski udara malam mulai turun.
Begitu Primus turun, Marcus—kepala operasional wilayah itu—langsung menyambutnya dengan langkah tergesa. Lingkar hitam di bawah matanya menceritakan betapa hancurnya hari ini bagi pria paruh baya itu.
"Tuan Muda, syukurlah Anda sampai tepat waktu," bisik Marcus, suaranya bergetar.
"Jangan buang napas untuk basa-basi, Marcus. Berikan saya fakta," sahut Primus tanpa menghentikan langkah menuju ruang rapat utama.
Begitu pintu jati itu tertutup rapat, Marcus segera menyerahkan sebuah map cokelat yang sedikit lembap. "Korbannya adalah Daniel Cross. Usia tiga puluh dua tahun, tim audit internal terbaik yang kita miliki."
Primus membuka berkas itu. Foto seorang pria muda dengan senyum lugu menyambutnya. Wajah Daniel adalah tipe wajah yang mudah terlupakan di tengah keramaian. Seseorang yang tampak biasa saja, namun memiliki ketajaman luar biasa dalam mengendus jejak digital yang kotor. Daniel adalah orang yang menemukan kebocoran dana perusahaan, dan kini, ia membayar penemuannya itu dengan nyawa.
"Laporan resminya?" tanya Primus sambil meneliti foto TKP.
"Kecelakaan tunggal," jawab Marcus berat. "Kendaraannya kehilangan kendali di jalan tol lintas provinsi pada pukul tiga sore tadi."
Primus membaca detail teknisnya dengan mata menyipit. "Mobil baru berumur enam bulan, cuaca cerah tanpa kabut, tidak ada kendaraan lain di sekitar, dan rem dinyatakan berfungsi normal lima detik sebelum benturan. Terlalu rapi, Marcus. Kecelakaan ini tidak dibuat oleh Tuhan, tapi oleh tangan manusia."
Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Keheningan yang tercipta seolah mengonfirmasi bahwa mereka sedang melawan hantu profesional.
# JEJAK YANG TERPOTONG
"Ada sesuatu yang lebih mengganggu, Tuan Muda," Marcus melanjutkan dengan nada ragu. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah *flashdisk* hitam metalik. "Ini ditemukan tersembunyi di dalam mekanisme laci meja kerja Daniel."
"Kalian belum membukanya?"
Marcus menarik napas panjang. "Kami tidak punya waktu. Dua puluh menit setelah berita kematian Daniel pecah, ruang arsip dibobol. Seseorang masuk melewati protokol keamanan berlapis kita hanya untuk mencari sesuatu."
"Dan mereka tidak mengambil apa pun?" tanya Primus tajam.
"Secara fisik, semua dokumen masih lengkap. Tapi jika pelakunya adalah bayangan, kita tidak akan pernah tahu informasi apa yang sudah mereka salin."
Primus menerima benda kecil itu. Senyum tipis merayapi wajahnya bukan senyum bahagia, melainkan senyum seorang pemburu yang mencium bau darah. "Justru ketiadaan itu adalah bukti bahwa mereka profesional."
Malam merayap semakin pekat. Gedung mulai kosong, meninggalkan Primus sendirian di ruang rapat yang hanya diterangi cahaya remang dari layar laptopnya. Klik. Folder pertama terbuka. Angka-angka audit yang rumit mulai menari di layar.
Hingga jarinya berhenti pada sebuah folder yang disembunyikan di balik tiga lapis enkripsi. Namanya sederhana namun mencekam: "Jika Saya Mati".
Primus menekan tombol putar pada satu-satunya file video di sana. Wajah Daniel muncul di layar. Pria itu terlihat sangat ketakutan; matanya gelisah, berkali-kali menoleh ke arah pintu seolah maut bisa mendobraknya kapan saja.
"Jika seseorang menemukan rekaman ini... kemungkinan besar saya sudah menjadi sejarah," suara Daniel terdengar parau. "Saya tahu ini terdengar seperti paranoid, tapi angka-angka di laporan keuangan tidak bisa berbohong. Seseorang telah menguras nadi perusahaan ini selama bertahun-tahun. Awalnya saya pikir ini hanya manajer serakah, tapi saya salah. Nama di balik ini... nama ini terlalu besar..."
Jantung Primus berdegup kencang. Ini dia. Kunci untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Namun, tepat saat Daniel hendak membuka mulut untuk menyebutkan nama tersebut
Zzzztt!"
Layar mendadak berubah menjadi statis hitam. Video itu terputus paksa. Seseorang telah menyusup ke dalam *file* tersebut dan menghapus bagian paling krusial dengan presisi bedah yang luar biasa.
"Brak!"
Pintu ruang rapat terbuka secara kasar. Marcus masuk dengan napas memburu, wajahnya yang tadi pucat kini benar-benar seputih kertas. "Tuan Muda! Seseorang baru saja meletakkannya di meja resepsionis. Tidak ada nama, tidak ada pengirim, hanya ditujukan untuk Anda."
Primus menerima amplop putih itu. Isinya hanya selembar foto. Foto Daniel Cross yang diambil dari sudut tersembunyi, hanya beberapa jam sebelum ia tewas. Namun, yang membuat atmosfer ruangan itu mendadak anjlok ke titik beku adalah tulisan di balik foto tersebut.
Ditulis dengan tinta merah kental yang tampak segar, pesannya pendek namun menusuk:
"BERIKUTNYA BUKAN DIA. BERIKUTNYA KAMU."
Marcus tampak seolah ingin pingsan, namun Primus justru tertawa kecil. Tawa itu terdengar kering dan berbahaya. Ia meletakkan foto itu di atas meja, lalu berdiri dan merapikan jasnya.
"Kenapa Anda tertawa, Tuan Muda? Itu ancaman mati!" seru Marcus panik.
"Tidak, Markus" sahut primus, matanya menatap tajam di balik kegelapan. "Ancaman ini adalah pengakuan. Mereka mulai panik, dan orang yang panik slalu membuat kesalahan. "Katakan pada Robert untuk memanaskan mesin".Permainan ini makin menarik. "
BERSAMBUNG...
!!Yo, readers kesayangan!!
Ada kabar seru nih, novel Primus Aristokrat lagi otw proses review kontrak! 🥳
Nah, berhubung lagi nungguin hilal kontraknya turun, ritme update babnya bakal agak aku perlambat dikit ya, gaes. Ini sengaja dilakukan demi keamanan masa depan novel kita juga, hehe. Tapi jangan sedih, aku tetep nulis terus kok buat disimpen di draf.
Bantu doa ya semoga review-nya lolos tanpa hambatan. Begitu udah sah tanda tangan kontrak, siap-siap kita bakal boom update! 🚀
Makasih banyak atas pengertian dan dukungannya ,jangan lupa kasih kritik&saran, biar Primus Aristokrat lebih baik lagi ya, Jangan bosen-bosen nungguin Primus ya! 🙌