“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 35.
Pagi itu, ruang keluarga mansion tampak jauh lebih ramai dibanding biasanya. Beberapa pelayan mondar-mandir membawa kotak berisi permainan edukatif, puzzle kayu, buku gambar, hingga balok warna-warni yang ditata rapi di atas meja.
Liora yang baru turun dari lantai dua langsung menghentikan langkahnya. Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum beralih kepada salah seorang pelayan.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa ruang keluarga berubah seperti taman bermain?"
Pelayan itu segera menundukkan kepala. "Maaf, Nyonya. Ini perintah Nyonya Agatha. Beliau meminta kami menyiapkan ruangan untuk terapi Tuan Dewangga."
"Terapi menyebalkan..." Liora mengembuskan napas pelan.
Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu utama. Samantha masuk dengan penampilan yang jauh berbeda dari kemarin. Kemeja putih berlengan panjang dipadukan dengan rok pensil berwarna krem membuatnya tampak rapi dan profesional. Di tangannya terdapat sebuah map tipis serta beberapa buku catatan.
"Selamat pagi, Liora."
Liora membalas sapaan itu dengan anggukan singkat.
Samantha tetap mempertahankan senyum ramahnya. "Aku harap aku tidak datang terlalu pagi."
"Kalau memang tujuannya untuk membantu Dewangga, datang jam berapa pun bukan masalah." Nada suara Liora terdengar datar. "Tapi aku harap kamu juga mengerti satu hal, aku tidak suka jika ada orang yang terlalu ikut campur dalam urusan rumah tanggaku."
Samantha sempat terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. "Aku paham. Tenang saja, aku datang bukan untuk mengatur rumah tanggamu. Aku hanya ingin menjalankan apa yang diminta Nyonya Agatha."
Liora membalas tatapan adik satu ayahnya itu tanpa berkedip. "Kalau begitu, lakukan saja sebatas yang diminta. Jangan berlebihan, bahkan melewati batasan."
"Aku mengerti." Samantha menganggukkan kepala pelan.
Tepat saat itu, suara riang terdengar dari arah tangga. "Lioraaaa..."
Bruk!
Seperti biasanya, Dewangga langsung memeluk lengan Liora dari samping.
"Liora... Dewangga lapar."
Liora menoleh sambil mengusap pelan rambut pria itu. "Baru bangun sudah lapar?"
"Iya."
"Sudah cuci muka?"
Dewangga langsung menggeleng. "Belum."
"Sudah sikat gigi?"
"Belum juga."
"Lalu mau langsung makan?"
"Iya."
Liora mengangkat sebelah alis. "Kalau begitu, hari ini tidak boleh sarapan."
Dewangga langsung mendongak dengan wajah syok. "Kenapa?"
"Karena anak baik harus cuci muka dan sikat gigi dulu."
"Tapi Dewangga lapar..."
"Lapar boleh, tapi kalau malas bersih-bersih... tidak boleh makan."
Pria itu langsung mengembuskan napas panjang seperti anak kecil yang baru dimarahi ibunya. "Oke... Dewangga cuci muka."
"Nah, begitu dong." Liora tersenyum tipis. "Kalau sudah selesai, baru kita sarapan."
Liora lantas memanggil Codet untuk membantu Dewangga mandi, berganti pakaian, dan bersiap. Pagi itu ia bangun lebih awal, sehingga memilih menyerahkan urusan suaminya kepada Codet sementara ia menyelesaikan kegiatannya sendiri
Dewangga berjalan kembali menuju tangga dengan langkah pelan sambil sesekali menoleh ke arah Liora.
Melihat semua itu, Samantha diam-diam memperhatikan dengan penuh minat. "Menarik sekali."
"Bagian mana yang menurutmu menarik?" Liora mengangkat sebelah alisnya.
"Tuan Dewangga masih mampu memahami instruksi sederhana. Tadi kamu memberi dua pilihan secara tidak langsung, kalau dia ingin makan, dia harus membersihkan diri lebih dulu. Dan dia mampu memahami hubungan sebab-akibat itu."
Samantha membuka mapnya lalu menulis beberapa kalimat. "Itu berarti fungsi kognitifnya tidak serendah yang dibayangkan."
"Dari awal aku juga tidak pernah menganggapnya bodoh."
Jawaban Liora membuat Samantha mengangkat kepala. "Hah?"
Liora menatap ke arah tangga tempat Dewangga menghilang. "Dia hanya sedang sakit, dan orang sakit tetap harus diperlakukan dengan hormat."
"Pendapatmu bagus, tapi kita lihat saja nanti." Jawab Samantha dengan ekspresi tak terbaca.
Tak lama kemudian, Dewangga kembali turun. Begitu melihat Samantha masih duduk di ruang keluarga, langkahnya langsung melambat. Ia menatap Samantha beberapa detik sebelum perlahan bersembunyi di belakang tubuh Liora.
"Liora... itu siapa?"
"Namanya Samantha, dia mau menemanimu bermain hari ini."
"Nggak mau." Dewangga langsung menggeleng keras.
"Kenapa?"
"Aku maunya sama Liora."
Samantha tersenyum lembut. "Halo, Dewangga, aku Samantha. Boleh kita berteman?"
Dewangga semakin bersembunyi di balik tubuh istrinya. "Nggak boleh."
"Kenapa memangnya?"
"Soalnya..." Pria itu menunjuk wajah Samantha. "Kamu senyum terus."
Samantha tertawa kecil. "Kalau tersenyum, memang salah?"
Dewangga mengangguk mantap.
"Kei pernah bilang, kalau orang senyum terus... biasanya lagi nyembunyiin sesuatu."
Baru saja kalimat itu selesai, suara Keivan terdengar dari belakang. "Papa, aku nggak pernah ngomong begitu."
Dewangga menoleh ke arah putranya tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Pernah."
"Nggak."
"Pernah."
"Nggak pernah."
"Pernah."
Keivan memijat pelipisnya sambil menghela napas panjang. "Sekarang Papa mulai mengarang."
Liora spontan menundukkan wajah karena nyaris tertawa. Dalam hatinya ia benar-benar kagum, pada akting suaminya yang semakin bagus saja.
sabar yx ,, harap di maklumi ,, ibu hamil ini 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semua penghuni rumah bisa kena sasaran🤣🤣
hidup , mati , Susah , senang bukan si Rafael yg atur ,, tp Tuhan ,, 😁😁😁😁😁😁