NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28.

Bayangan Kembar

Udara di kantin terasa makin berat. Naysilla masih menatap tajam jam di tangan Dewi, sedangkan di hatinya terus berbisik "Ini asli… ini pasti milikku. Tapi kenapa bisa ada di Dewi?"

Belum sempat dia menarik kesimpulan, suara seseorang yang ia kenal menyusup masuk ke telinga.

"Iiiuuuwwwhhh...! Ini pertama kali gue masuk kantin rakyat jelata" kata Angela, memasang ekspresi jijik sambil menutup hidungnya.

"Naysilla... Kamu di sini? Jadi selama ini kamu kalo makan di kantin ini yah, pantesan udah nggak pernah keliatan lagi" ucap Olivia ramah memasang wajah polosnya.

"Ya iya lah, rakyat jelata makannya di kantin rakyat jelata. Kan biar sesuai" sarkas Jessy, tapi cukup menyentil hati kecil Olivia. Ia menatap sekilas ke arah Olivia, lantas beralih ke Naysilla.

Naysilla sendiri hanya diam, pandangannya mengamati area kantin yang menurutnya cukup bersih dan rapih. Sesekali ia menyendok bubur hangat yang rasanya sudah tidak nikmat.

Dalam diam, kedua gadis saling bertatapan. Jessy memberi isyarat pada Angela, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum licik yang tak terlihat orang lain.

Tanpa aba‑aba, Angela melangkah sedikit memutar, lalu dengan gerakan yang terlihat begitu natural, lengannya menyenggol Naysilla yang tengah memegang gelas minuman yang masih mengepulkan asap.

“Ya ampun...!”

Bruk!

Cairan itu memercik deras, sebagian besar jatuh tepat membasahi pakaian Dewi, dan tak luput mengenai pergelangan tangannya yang menyembunyikan jam tangan itu.

"Parah banget lo, nyiram temen sendiri" ucap Jessy memprovokasi.

"Sorry, Wi. Gue nggak sengaja"

Naysilla berusaha berputar arah, menepis pelan tangan Jessy yang dengan sengaja menghalangi jalannya, namun saat jari‑jarinya hampir menyentuh lengan gadis itu, pandangannya tiba‑tiba terpaku.

Naysilla mengangkat wajah, dan detik itu juga jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Di tangan kanan Jessy, melingkar sebuah jam tangan yang sama persis.

“Lho kok ada lagi?” bisik Naysilla nyaris tak terdengar, matanya melayang bolak‑balik, bingung menentukan mana yang sebenarnya.

Jessy menyeringai puas, lalu mengangkat lengannya tinggi‑tinggi, sengaja memamerkan barang itu.

"Jam tangan gue..." bisiknya lirih, tapi masih mampu di dengar gadis di sampingnya.

"Ngapain lo liat-liah gue? Ini bukan punya lo"

Jessy sengaja memamerkan jam tangan mewah yang melingkar di tangan kanannya.

"Terus punya gue mana? Kemarin lo ambil jam gue yang sama persis kaya yang lo pake" Naysilla maju satu langkah, semakin berani mendesak gadis pirang di depannya.

"Mana gue tau, udah gue buang juga. Punya lo kan tiruan, punya gue asli dong"

Hatinya mencelos mendengar kalimat itu. Emosi kian memuncak tak terbendung lagi. Dengan berani Naysilla merebut paksa jam tangan itu, mengamati nya dengan mata kepalanya sendiri, melihat semua detailnya, ukuran kecil di belakangnya, tapi ia tak menemukan apa yang di cari.

Jessy kembali merebut jam tangan miliknya, memasang wajah angkuh dengan senyuman mencemooh. Lantas tersenyum miring ke Dewi yang terlihat begitu panik mengusap jam tangannya yang basah.

Lengannya menyenggol Angela di sampingnya, mengoneksi isyarat tersembunyi.

"Ya ampun... mentang-mentang pake barang yang sama, sampe segitunya di tuduh nyuri, padahal temen sendiri. Emangnya dipikir barang kayak gitu cuma ada satu di dunia gitu? Dasar norak" ucap Angela memprovokasi.

Dewi mengangkat wajahnya, kembali memasang jam tangan dengan santai. "Nay, gue nggak apa-apa kok kalo lo tuduh nyuri. Tapi ini bukan milik lo, nggak semuanya yang pake barang sama kaya punya lo, harus lo curigai" ucap Dewi lantang.

Para siswa yang mulai berdatangan memusatkan pandangan mereka ke arahnya.

"Tapi kalo lo mau ini, nggak apa-apa kok. Gue bisa kasihin barang ini ke lo, gue ikhlas" terangnya, yang semakin memicu omongan buruk dari para siswa.

"Parah banget, sama temen sendiri kok gitu" bisik seseorang yang membicarakan Naysilla. Ia meliarkan pandangan, menatap setiap mata yang juga menatapnya penuh penghakiman.

Naysilla menelan ludah. Misteri itu justru makin kusut, bukan terurai. Dua jam tangan yang sama, dua gadis dengan rahasia masing‑masing, dan dia sendiri yang harus mencari tahu, mana yang palsu, mana yang asli, dan siapa yang sebenarnya menyembunyikan dosa?.

Ia tak mengerti, kenapa situsnya jadi seperti ini? Matanya menatap kosong pada Dewi yang meringkuk di bawah. Baju lusuhnya semakin lusuh karena terkena tumpahan dan basah.

"Ada apa ini?" ucap Arka lantang penuh ketegasan.

Ketua OSIS itu melangkah membawa wibawanya, diikuti Firmansyah serta Mohan di belakangnya.

Seketika Dewi mengubah raut mukanya. Tatapannya redup, matanya berkaca-kaca, ekspresinya terlihat begitu tersakiti, seolah baru saja mendapat perlakuan paling kejam.

Naysilla menatap Mohan yang juga menatapnya, mulutnya terbuka ingin mengucapkan suatu kata, tapi urung ketika cowok itu berjalan melewatinya.

Ia berhenti tepat di sisi Dewi yang tampak menyedihkan sekali. Ia membantunya berdiri, menguatkannya, melindunginya, bahkan membawanya pergi menjauh tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Kejadian ini, tragedi ini mengingatkan dirinya pada masa itu. Masa pertemuannya dengan Mohan, saat dialah yang dipeluk, dibela, dan diletakkan di posisi paling istimewa.

Kini, ia hanya diam terpaku di tempat. Kakinya terasa tertancap ke lantai, tak sanggup melangkah maju, apalagi mengikuti mereka pergi. Hanya hening yang menyelimuti, dan rasa sakit yang perlahan merayap masuk ke dalam rongga dadanya.

Dan soal jam tangan itu, seketika ia lupa.

...****************...

Tanah tandus terbentang luas, tertutup rumput kering yang berdesir ditiup embusan angin yang kering dan sunyi.

Suara tapak kaki terdengar nyata, ketika sepatu menginjak ranting kering, menghancurkannya nya sampai berkeping-keping.

Naysilla berlari bersama Satria, menembus dinding tebal penghalang sekolah, lalu mendarat dengan lembut di atas hamparan gersang, tepat di depan sebuah warung sederhana.

"Kita mau kemana lagi kak?"

"Ke tempat yang lo suka"

"Emangnya kak Satria tau tempat apa yang gue suka?"

"Yang banyak jajannya"

Satria menggenggam lembut tangan si gadis, menariknya pelan menuju sebuah warung sederhana yang tampak ramai dikunjungi anak-anak sekolah yang berbeda seragam dengannya.

"Ayo Nay! Nggak usah takut, ada gue"

Naysilla menatap ragu, namun kakinya tak mampu berhenti melangkah mengikuti Satria. Perasaan tak nyaman menyelimuti, apalagi ketika ia dipaksa duduk di antara puluhan cowok asing itu.

Tatapan mereka terasa begitu intens, seolah menelanjangi setiap inci dirinya, membuat bulu kuduknya meremang.

Sebuah gelas minuman dihidangkan di depannya, namun ia membiarkannya tak tersentuh, hingga notifikasi singkat muncul di layar ponselnya.

Jemarinya bergerak cepat membaca isi pesan dari Mohan “Iya bunda, ini Mohan lagi anterin Naysilla belanja.” Pesan itu seolah salah kirim kepadanya, hanya sepersekian detik lenyap seketika, saat Mohan menyadarinya.

Terlambat, ia sudah membacanya, hati Naysilla terasa diremas-remas kuat. Kenyataan pahit itu menusuk tepat di ulu hatinya. Yang bersama Mohan saat ini bukan dirinya, melainkan Dewi.

Tanpa berpikir panjang, dalam kepedihan yang membutakan akal, ia mengangkat gelas itu dan meminum isinya hingga tandas. Tanpa ia sadari, jika tindakannya mengancam dirinya sendiri.

Beberapa orang saling tatap dengan maksud penuh arti.

1
kelinci kecil
gemes banget sama kisah cinta mereka. suka banget sama ceritanya, ada manisnya, gregetnya, kecewanya, sakit hatinya semuanya jadi satu.
arina_ar: terimakasih sudah mampir, semoga suka.
total 1 replies
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
arina_ar: terimakasih sudah setia menunggu, terimakasih sudah mampir di novel pertama aku, semoga suka.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
arina_ar: terimakasih sudah mampir di novel pertama aku, semoga suka.
total 1 replies
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🔵🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!