NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Buktikan jika itu kesalahan.

"Di mana istrimu, Ren?!"

Suara Anna-ibunya menghantam telinga Rendra tanpa salam pembuka. Membuat pria itu praktis menjauhkan ponsel dari telinga, menggosok telinganya sejenak sebelum menempelkan ponsel ke telinga kembali

“Thalia tidak di rumah?” Rendra balas bertanya.

“Kalau dia ada di rumah, untuk apa Mama menghubungimu berulang kali?” sahut Anna tajam. “Bu Ratmi bilang dia pergi mengurus pekerjaan. Pekerjaan apa? Sejak kapan istrimu sibuk di luar rumah sampai membiarkan Mama datang seperti tamu biasa?”

Rendra menghela napas panjang, menatap layar komputer di depannya, tetapi pikirannya tidak lagi berada pada pekerjaan.

“Ma, Thalia memang sedang mencoba kembali bekerja,” ucap Rendra akhirnya.

Hening...

“Kamu membiarkannya?” tanya Anna tajam setelah beberapa saat terdiam.

Rendra melepaskan kacamatanya, lalu memijat pangkal hidungnya pelan. Ia sudah menduga, ibunya tidak akan menyukainya. “Aku memiliki alasannya, Ma.”

“Alasan apa yang membuatmu membiarkan istrimu berkeliaran di luar rumah di saat Mama datang?” tanya Anna.

Rendra terdiam. Ibunya memang belum tahu apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, tetapi sang ibu tahu tentang dirinya yang memanfaatkan nama Thalia.

"Aku hanya memberinya sedikit ruang, Ma. Akan jelaskan itu nanti," jawab Rendra. “Aku akan menghubunginya.”

“Suruh dia pulang. Mama tidak mau tahu,” ucap Anna tidak menerima bantahan.

“Tidak sekarang,” jawab Rendra cepat.

“Rendra-!"

“Ma,” potong Rendra cepat. “Untuk sementara ini, jangan menekan Thalia dulu.”

“Kamu terdengar seperti sedang takut pada istrimu sendiri.” Anna mencibir.

“Aku bukan takut, Ma," sahut Rendra.

“Kalau begitu buktikan.”

"Ma-"

Dahi Rendra berkerut, lalu menurunkan ponselnya hanya untuk menyadari panggilan sudah diputus sepihak oleh ibunya.

Hembusan napas panjang Rendra terdengar sekali lagi. Ia mengusap wajahnya kasar, kembali memakai kacamatanya dan menatap layar ponsel selama beberapa saat sebelum menggulir layar mencari nomor istrinya untuk ia hubungi.

Nada sambung segera masuk ke pendengaran Rendra, tetapi kali ini panggilannya tak kunjung di angkat seperti biasanya.

.

.

.

Di ruang kerja Arkana, jarak antara wajah Arkana dan Thalia hanya tersisa beberapa senti saja.

Thalia masih duduk di kursi, terkurung oleh kedua tangan Arkana di sisi tubuhnya. Seharusnya ia mendorong pria itu menjauh, namun tatapan Arkana membuat tubuhnya seakan lumpuh.

'Terutama jika itu menyangkut dirimu.'

Thalia menelan ludahnya susah payah, kalimat itu menjadi teror di otaknya yang menolak untuk pergi. “Kalimatmu terdengar seperti ancaman.”

“Bukan.”

“Lalu apa?” tanya Thalia berusaha senormal mungkin.

“Pengakuan.”

Arkana menunduk lebih dekat, membiarkan jarak tipis itu hidup di antara mereka cukup dekat untuk membuat Thalia mengingat ciuman malam itu terlalu jelas.

“Jangan lakukan ini di kantormu,” ucap Thalia pelan.

Arkana tersenyum penuh kemenangan. “Aku belum melakukan apa pun.”

“Tapi kau ingin.”

“Oh... Aku memang tidak pandai berpura-pura soal itu,” sahut Arkana santai. "Dan aku tidak akan menyangkalnya."

Thalia menatap Arkana tajam, berusaha mempertahankan dingin di wajahnya. "Malam itu kesalahan."

"Kesalahan?" ulang Arkana.

"Ya."

Senyum di bibir Arkana memudar, tatapannya menggelap begitu jawaban itu menggema di udara. Ia menunduk lebih dekat, menyisakan jarak satu jengkal dari wajah Thalia hingga ia bisa melihat bulu mata Thalia bergetar lembut seiring hembusan napasnya.

"Kalau kamu memang menganggap itu kesalahan... buktikan." ujar Arkana kian mengikis jarak.

"Apa?"

"Dorong aku menjauh," bisik Arkana di telinga Thalia. "Katakan kau tidak menginginkannya, dan aku akan berhenti."

Thalia mencengkram tepi kursi yang ia duduki. Pikirannya memintanya untuk mendorong Arkana, tetapi tubuhnya tidak.

"Sudah kukatakan," Arkana kembali bersuara dengan nada lebih rendah. "Setelah malam itu, aku tidak akan melepaskanmu."

Tanpa peringatan, Arkana menempelkan bibirnya di bibir Thalia. Hanya menempelkan bibir tanpa nafsu, singkat, dan sebagai penegasan bahwa ia serius dengan apa yang ia katakan pada Thalia.

Namun, saat Arkana hendak menjauh, tangan Thalia tanpa sadar terangkat, menggenggam dasi Arkana disertai tarikan ringan yang membuat ciuman itu berlanjut lebih dalam, dan... lama.

Ciuman Arkana tidak tergesa, tetapi menuntut. Tangannya menahan tengkuk Thalia saat ia memperdalam ciumannya.

Thalia memejamkan mata, semua yang ia sebut kesalahan hancur dalam satu tarikan napas.

"Arka..." bisik Thalia tanpa sadar ketika Arkana melepaskan ciuman. Sedetik kemudian, ia membuka mata, baru tersadar dengan apa yang ia ucapkan.

"Aku-"

"Ulangi," ucap Arkana dengan suara lebih rendah.

Thalia menelan salivanya kasar. "M-maaf, aku tidak bermaksud-"

"Aku memintamu mengulanginya, bukan menjelaskan." potong Arkana sembari menyapukan ibu jarinya di bibir Thalia.

"Arkana."

"Bukan itu," ucap Arkana. "Panggil aku sekali lagi."

Thalia menatap manik Arkana lama. "Arka."

Arkana tersenyum. "Alia."

Nama itu jatuh di antara mereka seperti rahasia yang baru saja terbuka. Arkana kembali mendekatkan wajahnya, namun saat jarak itu semakin tipis, getar ponsel Thalia menyela.

Thalia meraih tas dengan gerakan kaku, mengeluarkan ponsel, lalu melihat nama di layar yang membuat senyum di bibir Arkana lenyap: Rendra.

Keduanya terdiam, getar ponsel itu terus berlanjut, dan saat Thalia akan menjawab panggilan suaminya, tangan Arkana bergerak lebih cepat menghentikan tangan Thalia.

"Tinggalkan suamimu dan jadilah milikku, aku akan memberikan semua yang kamu mau."

. .. .

. . ..

To be continued...

1
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!