*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25; Senja Yang Tertinggal
Lima tahun berlalu.
Kafe Senja sekarang punya lima cabang.
Sagan, Seturan, Kaliurang, Malioboro, dan satu yang baru buka di Bantul dengan konsep _kids-friendly_.
Tapi meja 7 tetap ada. Di cabang Sagan. Nggak pernah dipake buat pelanggan.
Di atasnya selalu ada vas bunga kering, satu buku kosong, dan foto Dara yang ketawa.
Alya udah nerbitin 4 novel.
Yang terakhir judulnya: _Senja yang Tinggal_.
Novel itu dedikasinya satu baris: _“Untuk Dara, yang ngajarin aku tinggal.”_
Laris. 3 kali cetak ulang dalam 6 bulan.
Tapi Alya bilang, royalti terbesarnya bukan uang.
Tapi chat dari pembaca yang bilang, “Makasih, aku jadi nggak ngerasa sendirian.”
Senja sekarang 7 tahun.
Gigi depannya copot dua, suka nyanyi lagu anak-anak sambil ngebantu Mama di dapur kafe.
Dia nggak mau dipanggil “anak bos”.
Dia mau dipanggil “barista cilik”.
Hari ini hari Minggu.
Tanggal 18 November 2031.
Peringatan 7 tahun kepergian Dara.
Pagi-pagi, Alya bangun lebih awal.
Nggak karena kerja. Tapi karena Senja udah ngetok pintu kamar.
“Mama, kita bikin kue buat Tante Dara nggak?”
Alya senyum. “Bikin dong. Tante Dara suka kue coklat.”
Mereka ke dapur jam 6 pagi.
Revan udah nyalain oven, pakai celemek bertuliskan _“Bapak Senja”_.
Keluarga kecil itu berantakan tepung di meja, ketawa-ketawa, nyanyi lagu nggak jelas.
Jam 8, mereka bawa kue coklat itu ke cabang Sagan.
Keluarga Dara udah nunggu.
Acara peringatan sekarang udah jadi tradisi tahunan.
Nggak sedih-sedih banget lagi. Lebih ke kumpul, cerita, ketawa sambil inget.
Senja naik ke panggung kecil, bawa kertas.
Dia mau baca surat buat Tante Dara.
Alya dan Revan duduk di barisan depan, pegangan tangan.
“Halo Tante Dara,” suara Senja pelan tapi jelas.
“Aku Senja. Aku nggak kenal Tante waktu Tante hidup. Tapi Mama sering cerita. Katanya Tante yang bikin Mama berani nulis lagi.”
“Aku mau bilang makasih. Karena gara-gara Tante, aku punya Mama yang sekarang nggak suka kabur lagi.”
“Semoga di sana Tante makan kue coklat tiap hari ya. Ini bikinan aku. Jangan dimarahin kalau gosong sedikit.”
Ruangan ketawa.
Alya nangis. Lagi.
Revan pelan-pelan ngusap punggungnya.
Siang itu, setelah acara selesai, mereka bertiga duduk di meja 7.
Meja yang dulu jadi tempat Alya kabur.
Sekarang jadi tempat dia pulang.
Senja ketiduran di pangkuan Alya, pegang boneka kelinci kecil.
Di luar hujan gerimis. Sama kayak malam 7 tahun lalu.
Revan buka buku kosong di meja itu.
Ada ratusan surat. Dari pembaca, dari keluarga Dara, dari karyawan kafe, dari Alya sendiri.
Dia buka halaman terakhir. Kosong.
Terus nyodorin pulpen ke Alya.
“Tulis,” katanya pelan.
“Tulis apa?”
“Tulis kenapa kamu milih tinggal.”
Alya diem.
Terus nulis.
_Dara,
Kalau kamu tanya kenapa aku tinggal, jawabannya sederhana.
Karena aku punya alasan buat pulang.
Aku punya suami yang nungguin aku dengan susu panas yang udah dingin.
Aku punya anak yang nggak peduli aku capek, asal aku ada.
Aku punya pembaca yang bilang aku nyelametin hidup mereka, padahal aku yang diselametin duluan.
Tinggal itu nggak gampang.
Tapi ternyata… lebih sakit kalau kabur.
Makasih ya, Ra.
Karena kamu, aku belajar tinggal.
– Al_
Dia tutup buku itu.
Revan baca pelan-pelan.
Terus kecup kening Alya.
“Kita udah jauh ya,” kata Revan.
Alya senyum. “Iya. Dari dua orang yang nggak tau mau ngapain, jadi keluarga yang ribut soal jadwal shift.”
Revan ketawa. “Ribut itu tanda hidup, Al.”
Senja kebangun sebentar.
“Mama Papa, kita pulang yuk. Aku laper.”
Alya dan Revan saling lihat.
Terus berdiri bareng.
Mereka jalan keluar, lewat meja-meja yang penuh orang.
Ada mahasiswa lagi ngerjain tugas, ada pasangan tua minum kopi, ada ibu-ibu arisan ketawa kenceng.
Semua karena satu tempat yang dulu cuma ide gila dua orang.
Di pintu keluar, ada papan kecil tulisan tangan Alya:
_“Selamat datang di Senja.
Di sini kamu boleh capek.
Boleh berantakan.
Boleh tinggal.
Karena pulang itu nggak harus sempurna.”_
Malamnya, mereka pulang ke rumah kecil di Sagan.
Rumah yang dulu cuma kontrakan, sekarang udah jadi milik mereka.
Ada taman kecil di belakang, tempat Senja nanam tomat yang nggak pernah jadi.
Setelah Senja tidur, Alya dan Revan duduk di teras.
Bawa teh hangat, selimut, dan laptop Alya.
“Besok aku mulai nulis lagi,” kata Alya pelan.
Revan ngangguk. “Tentang apa?”
“Tentang kita. Tapi bukan kisah cinta doang. Tentang hidup setelah ‘selamanya’. Tentang capek, tentang gagal, tentang bangun lagi.”
Revan senyum.
“Judulnya apa?”
Alya mikir.
“_Meja 7 yang Nggak Pernah Kosong_.”
Revan ketawa.
“Cheesy banget.”
Alya mukul pelan lengannya.
“Tapi bener kan? Meja itu nggak pernah kosong. Karena ada kamu, ada aku, ada Senja, ada Dara, ada semua orang yang pernah duduk di sana.”
Mereka diem.
Denger suara jangkrik, suara hujan kecil, suara napas Senja dari dalam kamar.
Tiba-tiba Revan nanya,
“Al… kalau waktu itu kamu beneran kabur, kamu bakal balik nggak?”
Alya mikir lama.
“Aku nggak tau. Mungkin iya. Mungkin nggak.
Tapi yang aku tau, aku senang aku nggak perlu ngetes itu.”
Revan ngangguk.
“Aku juga senang. Karena aku nggak kuat nunggu terlalu lama.”
Mereka ketawa kecil.
Terus diem lagi.
Alya sandarin kepala ke bahu Revan.
“Van… makasih ya.”
“Buat apa?”
“Buat milih tinggal sama aku. Pas aku paling berantakan.”
Revan kecup kepalanya.
“Gue juga makasih. Karena kamu ngajarin gue, tinggal itu pilihan. Bukan penjara.”
Jam 12 malam, Alya buka file baru di laptop.
Nggak ada judul.
Nggak ada outline.
Cuma ada satu kalimat pertama:
_“Cerita ini dimulai di meja 7, di malam hujan, ketika seorang perempuan hampir kabur dari hidupnya sendiri.”_
Dia ngetik satu paragraf.
Terus berhenti.
Nutup laptop.
“Besok aja,” bisiknya.
Revan yang udah setengah tidur gumam, “Besok. Besok kita punya banyak waktu.”
Karena waktu mereka nggak terbatas lagi.
Mereka udah milih tinggal.
5 tahun setelah itu, _Meja 7 yang Nggak Pernah Kosong_ terbit.
Jadi bestseller.
Tapi yang bikin Alya paling bangga bukan itu.
Yang bikin dia bangga adalah,
di peluncuran bukunya, Senja naik panggung umur 12 tahun.
Baca puisi buat Mama dan Papa.
“Papa bilang, cinta itu milih tinggal.
Mama bilang, tinggal itu berani pulang.
Aku bilang, aku senang aku lahir dari dua orang yang nggak nyerah.”
Alya nangis di barisan depan.
Revan peluk dia dari belakang.
Di pojok ruangan, ada satu kursi kosong.
Di atasnya ada bunga kering dan foto Dara.
Nggak sedih.
Cuma ngingetin, kalau semua yang ada sekarang, dimulai dari kehilangan yang diajarin cara ditinggalin dengan baik.
Sekarang, tahun 2036.
Kafe Senja udah ada 9 cabang.
Tapi meja 7 di Sagan tetap sama.
Nggak pernah dipake.
Nggak pernah kosong.
Karena di situlah semua dimulai.
Di situlah Alya berhenti kabur.
Di situlah Revan belajar nunggu.
Di situlah Senja belajar bilang, “Aku pulang.”
Dan di situlah Alya nulis kalimat terakhir dari buku hidupnya:
_“Aku nggak tau apa yang terjadi besok.
Tapi aku tau satu hal:
Aku akan tetap di sini.
Di meja 7.
Bersama orang-orang yang milih tinggal.”_
*TAMAT*
*Epilog Singkat*
1 tahun setelah buku terakhir terbit, Alya nerima surat dari pembaca di Jepang.
Isinya satu kalimat:
_“Karena buku kamu, aku nggak jadi lompat dari jembatan itu malam ini.”_
Alya nggak bales panjang.
Dia cuma bales:
_“Makasih udah milih tinggal. Aku nunggu kamu di meja 7.”_