Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: BIMA DAN RITUAL "INSPEKSI VISUAL"
Pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit, dan lantai teratas penthouse mewah di kawasan SCBD itu masih benderang.
Bimantara sedang telentang di atas kasur king size berbalut seprai sutra abu-abu miliknya. Pria itu hanya mengenakan celana tidur satin hitam tanpa atasan, memamerkan deretan otot perutnya yang tercetak sempurna. Biasanya, pada jam-jam seperti ini, otak superkomputernya sudah memasuki fase istirahat setelah seharian memikirkan angka-angka saham. Namun malam ini, sistem operasinya mengalami gangguan massal.
Setiap kali Bima memejamkan mata, ruangan kamar tidur yang kedap suara itu seolah memutar kembali rekaman suara Anaya dengan efek surround sound 3D.
“Dia itu... sejenis manusia purba tanpa perasaan.”
“...mendengarkan kritik Bapak tentang sudut klip kertas yang miring satu derajat...”
“Murni. Demi. Uang.”
Sialan, umpat Bima ke langit-langit kamar.
Pria itu mendadak bangkit\, duduk di tepi kasur sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Gengsinya yang setinggi menara Burj Khalifa malam ini benar-benar terasa remuk. Selama lima tahun\, dia mengira dirinya adalah sosok bos idaman*—meski agak sedikit menuntut*. Tapi mendengar penuturan jujur Anaya di toko bunga tadi siang? Itu murni sebuah tamparan realita yang tidak ada di dalam buku panduan bisnis mana pun.
Gelisah karena matanya sama sekali tidak mau berkompromi dengan rasa kantuk, Bima meraih iPad Pro miliknya di atas nakas. Niat awalnya adalah memeriksa laporan pengiriman gandum impor untuk kuartal depan. Namun, entah kekuatan magis apa yang merasuki jemari panjangnya, aplikasi yang ia buka justru adalah server enkripsi internal perusahaan yang tersambung langsung ke kamera pengawas kantor.
Spesifiknya: CCTV Ruang Kerja CEO - Kamera 2 (Sudut Pandang Kubikel Sekretaris).
Bima bersandar pada kepala ranjang, melipat satu kakinya, lalu mulai berselancar mundur ke rekaman-rekaman satu tahun terakhir. Ritual yang awalnya ia beri nama keren "Audit Keamanan Internal" dalam hitungan detik berubah nama menjadi: Ritual Inspeksi Visual Anaya.
"Kita lihat seberapa tersiksanya kamu kerja sama saya," gumam Bima, membela diri pada kesunyian kamar.
Layar iPad itu memancarkan cahaya redup, menampilkan potongan-potongan video dalam resolusi ultra-HD. Bima menggeser jarinya ke rekaman bulan lalu, tepat saat pengerjaan proyek Initial Public Offering (IPO) sedang gila-gilanya.
Kamera memperlihatkan Anaya yang sedang duduk di balik meja kubikelnya pada pukul delapan malam. Di layar itu, Anaya tampak sangat fokus menatap monitor komputer. Kedua alisnya bertaut serius, dan sudut bibirnya sedikit berkedut.
Bima memperbesar (zoom-in) gambar tersebut tepat ke arah wajah Anaya. Detik itu juga, gerakan napas Bima agak tertahan. Di bawah pencahayaan lampu meja yang temaram, Anaya punya kebiasaan kecil yang tidak pernah Bima sadari di dunia nyata: wanita itu suka menggigit kecil bibir bawahnya sendiri setiap kali sedang memikirkan formula Excel yang rumit.
Bibir ranum sewarna merah ceri itu tampak sedikit tenggelam di balik giginya yang rapi, menciptakan sebuah visual polos namun sangat... menggoda bagi pria normal mana pun.
"Kebiasaan buruk," bisik Bima, namun matanya sama sekali tidak berkedip. Jantungnya mulai mengetuk rusuknya dengan ritme yang agak lebih cepat dari biasanya.
Dia menggeser rekaman lagi ke beberapa bulan lalu, mencari tanggal di mana Anaya sedang tidak memakai blazer formalnya karena cuaca Jakarta sedang panas-panasnya. Di dalam video, Anaya hanya mengenakan kemeja kerja berbahan sifon tipis warna putih gading.
Saat itu, dalam rekaman, Bima sedang memanggil Anaya melalui intercom. Anaya yang kaget langsung berdiri terburu-buru hingga beberapa lembar dokumen di mejanya merosot ke lantai karpet.
Bima menahan napas saat melihat adegan berikutnya di layar iPad.
Anaya membungkuk untuk membereskan kertas-kertas itu. Akibat gerakan tersebut, kerah kemeja sifonnya yang agak longgar sedikit turun, memamerkan lekuk leher jenjangnya yang seputih porselen dan tulang selangkanya yang seksi. Namun, bukan itu yang membuat mata Bima mendadak membelalak di tengah malam sepi ini.
Karena gerakan membungkuk yang tiba-tiba, tali pakaian dalam alias tali bra berwarna hitam milik Anaya tampak melorot dari pundak halusnya, menyembul sedikit dari balik kerah kemeja tipisnya.
Anaya yang sadar akan kecelakaan mode kecil itu langsung menegakkan tubuh, menoleh panik ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada staf lain yang melihat, lalu dengan gerakan cepat—dan sedikit erotis di mata Bima—menyelipkan jemari tangannya ke balik kain kemeja untuk membetulkan dan menaikkan kembali tali bra hitam tersebut ke tempat semula.
Kain sifon tipis itu mengetat sesaat, mencetak siluet aset dadanya yang ternyata... luar biasa indah dan mematikan.
Deg.
Bima menyentak kepalanya mundur, hampir saja menjatuhkan iPad mahal itu ke atas kasur. Darah di dalam tubuh pria narsis itu mendadak berdesir hebat, melesat naik seperti roket bensin, membuat seluruh permukaan kulit dada dan telinganya memanas seketika.
"Sial, sial, sial!" Bima mengumpat keras, suaranya parau.
Pikiran kotor yang sangat tidak berakhlak mendadak memenuhi kepala geniusnya. Bayangan lekuk tubuh Anaya di belakang jok mobil Porsche tadi siang berkolaborasi apik dengan rekaman tali bra hitam di layar iPad malam ini. Efeknya luar biasa destruktif bagi pertahanan iman seorang pria lajang berusia tiga puluh tahun yang sudah terlalu lama berpuasa dari urusan asmara.
Bima melirik ke arah bawah tubuhnya sendiri, ke balik celana tidur satin hitamnya yang kini mendadak terasa... sangat sesak dan tidak nyaman akibat gejolak insting purba yang baru saja dihantam stimulus visual tingkat tinggi.
Dengan gerakan panik, Bima mematikan iPad-nya, melempar benda itu ke sembarang arah di atas kasur, lalu buru-buru melompat turun. Langkah kakinya terasa sangat terburu-buru saat berjalan menuju kamar mandi utama yang berdinding marmer hitam.
Pria itu memutar keran shower maksimal, langsung menghadapkan tubuh polos bagian atasnya ke bawah pancuran air tanpa menunggu suaranya berubah hangat.
Sreeek.
Air dingin bersuhu belasan derajat itu langsung menghantam kepala dan dada bidang Bima, mengalir melewati sela-sela otot perutnya yang menegang. Bima menumpukan kedua telapak tangannya pada dinding marmer kamar mandi, menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari membiarkan air dingin itu meredam gejolak panas di dalam perutnya.
Dia mengembuskan napas panjang yang terdengar frustrasi di antara gemercik air.
"Kamu benar-benar sialan, Anaya," gumam Bima, suaranya bergetar menahan dingin sekaligus menahan gairah yang semakin hari semakin terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Selama lima tahun ini, dia mengira dia adalah sang pengendali penuh di perusahaan dan di hidup sekretarisnya. Namun malam ini, di bawah guyuran air dingin, Bima sadar satu hal yang sangat menakutkan bagi egonya: dialah yang sekarang sedang bertekuk lutut, terperangkap sepenuhnya dalam sihir tak kasat mata milik seorang wanita yang hobi memanggang croissant.
Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu
*
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...