Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Teritorial Kamar Mandi
Pukul 06:15 pagi.
Suara alarm dari ponsel Kiandra memecah keheningan kamar dengan pekikan nyaring yang terasa seperti bor listrik menghunjam gendang telinga. Kiandra mengerang, sebuah suara parau yang lebih mirip rintihan makhluk purba yang enggan bangkit dari liang lahat.
Tangannya meraba-raba nakas dengan gerakan buta, hingga akhirnya berhasil membungkam benda berisik itu dengan satu tekanan kasar.
Ia tidak langsung bangun. Selama dua menit penuh, Kiandra hanya menatap langit-langit kamar yang masih diselimuti keremangan fajar Paris.
Tubuhnya terasa remuk. Lehernya kaku, berdenyut nyeri akibat posisi tidur yang berantakan—efek samping dari keputusannya untuk langsung tumbang tanpa mengganti baju kemarin sore.
"Sialan. Aku tidur pakai baju kampus," gumamnya dengan suara serak.
Ia duduk di tepi kasur, memijat tengkuknya yang terasa seperti disemen. Memorinya tentang kejadian kemarin—saus Hollandaise yang dibuang ke tempat sampah dan tatapan dingin Enzo di depan kelas—kembali berputar tanpa izin. Rasa sesak itu masih ada, mengendap di dasar ulu hatinya seperti ampas kopi yang pahit.
Kiandra menggelengkan kepala, mencoba mengusir sisa-sisa depresi akademisnya. Ia harus mandi. Ia harus membasuh semua jejak kegagalan kemarin dengan air panas sebelum menghadapi "Tuhan Dapur" itu lagi dalam dua jam ke depan.
Dengan gerakan cepat yang dipaksakan, Kiandra menyambar handuk putihnya dan tas kecil berisi perlengkapan mandi dari atas meja belajar. Ia membuka pintu kamar dengan sangat perlahan, mengintip ke arah lorong apartemen yang masih temaram. Sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari kamar nomor satu.
"Bagus. Si Singa pasti masih hibernasi," batinnya lega.
Ia berjalan mengendap-endap, nyaris tanpa suara di atas lantai kayu yang dingin, menuju kamar mandi komunal di ujung lorong. Begitu sampai, Kiandra memutar kenop pintu dan mendorongnya masuk tanpa curiga sedikit pun.
Bruk!
Kiandra langsung terhenti. Langkahnya tertahan oleh dinding uap panas yang tebal dan lembap, yang seketika menyergap wajahnya dan membuat pandangannya kabur. Ia terbatuk pelan, menghirup udara yang terasa berat dan sarat akan kelembapan.
Kamar mandi itu baru saja digunakan. Dan pelakunya jelas bukan hantu.
Aroma itu... Kiandra mengenalinya dengan sangat baik. Perpaduan antara kayu cendana yang maskulin, kesegaran bergamot yang tajam, dan sisa busa cukur yang aromanya begitu mengintimidasi indra penciumannya. Itu adalah aroma teritorial Enzo Romano.
Kiandra mengedipkan mata berkali-kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya di tengah kabut uap yang mulai menipis. Ia melangkah masuk, meletakkan perlengkapan mandinya di atas wastafel marmer yang masih terasa hangat. Cermin besar di depannya tertutup embun tebal, menyembunyikan pantulan wajah Kiandra.
Dengan telapak tangannya, Kiandra menghapus embun di cermin dengan satu sapuan lebar. Ia menatap pantulan dirinya sejenak—rambut berantakan, mata sedikit sembab, dan wajah yang tampak sangat lelah. Namun, perhatiannya segera teralihkan ke bawah.
Di atas rak kaca, di antara deretan botol elegan milik Enzo, matanya menangkap satu botol kaca gelap berbentuk kotak tanpa label merek. Botol itu tampak misterius, seolah menyimpan rahasia besar di dalamnya.
Kiandra mengulurkan tangan dengan ragu. Ujung jarinya menyentuh permukaan kaca botol yang masih dingin, kontras dengan suhu ruangan yang panas. Rasa penasaran yang absurd tiba-tiba menguasai logikanya.
"Jadi ini wangi yang bikin aku seperti terhipnotis setiap kali dia lewat?" bisiknya dalam hati.
Ia membuka tutup botol itu perlahan. Klik pelan yang terdengar nyaring di kesunyian pagi. Kiandra mendekatkan botol itu ke depan hidungnya, lalu menarik napas panjang sambil memejamkan mata.
Aroma itu meledak di saraf sensoriknya. Wangi kayu yang dalam, rempah yang hangat, dan sedikit sentuhan kulit yang sensual. Aroma ini adalah Enzo—provokatif, dominan, dan sangat maskulin. Kiandra merasa seolah-olah pria itu sedang berdiri tepat di belakangnya, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Menikmati aromaku pagi-pagi, Mademoiselle?"
"Astaga Naga!"
Kiandra terlonjak kaget hingga jantungnya seolah melompat keluar dari rongga dada. Botol kaca di tangannya nyaris terlepas dan meluncur ke dalam wastafel jika ia tidak segera mencengkeramnya dengan kekuatan penuh.
Ia memutar tubuh dengan kecepatan kilat, menyembunyikan botol itu di belakang punggungnya seolah-olah ia baru saja tertangkap basah mencuri berlian.
Enzo Romano berdiri bersandar di ambang pintu kamar mandi yang terbuka. Ia melipat tangan di depan dadanya yang bidang, menatap Kiandra dengan kilatan hazel yang jahil dan penuh kemenangan.
Pria itu hanya mengenakan celana bahan hitam yang membungkus pinggulnya dengan sempurna. Kemeja putihnya yang kaku belum dikancingkan sama sekali, membiarkan otot perutnya yang terdefinisi keras dan garis V-line yang seksi terekspos jelas di bawah lampu kamar mandi yang terang.
Rambut cokelat gelapnya masih sedikit lembap, berantakan dengan gaya messy-chic yang terlihat keren sekaligus menyebalkan.
Kiandra menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa seperti tersumbat kerikil. Ia berusaha keras untuk menjaga matanya tetap terkunci pada wajah Enzo, berjuang mati-matian agar tidak melirik ke arah otot perut pria itu yang begitu menggoda.
"Aku... aku cuma mau menggesernya! Menghalangi tempat sabunku!" Kiandra membela diri dengan suara yang sedikit terlalu tinggi, tanda bahwa ia sedang panik luar biasa.
Enzo terkekeh rendah. Suara tawanya yang bariton bergetar di udara lembap, menciptakan resonansi yang aneh di perut bawah Kiandra. Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang sempit, memperkecil jarak di antara mereka hingga Kiandra terpaksa mundur selangkah dan punggungnya menabrak pinggiran wastafel marmer.
"Tidak perlu bohong, Piccola. Kalau kamu suka, kamu boleh menyemprotkannya di bantalmu agar kamu bisa memimpikanku sepanjang malam," bisik Enzo.
Ia berhenti tepat di depan Kiandra. Aroma tubuh alaminya yang panas dan lembap menyatu dengan uap air, menciptakan serangan sensorik yang membuat pertahanan mental Kiandra runtuh seketika. Enzo mencondongkan wajahnya, menatap mata cokelat gelap Kiandra dengan intensitas yang membuat lutut Kiandra lemas.
"Minggir. Aku mau mandi, kelasku mulai jam delapan!" Kiandra mencoba mendorong dada Enzo, namun tangannya justru menyentuh kulit hangat dan otot keras pria itu. Ia segera menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api.
Wajah Kiandra memerah padam, panasnya menjalar hingga ke telinga. Dengan gerakan kasar, ia mengembalikan botol itu ke rak kaca tanpa berani menatap Enzo lagi.
Enzo tidak bergeser satu inci pun. Sebaliknya, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua helai dasi sutra—satu berwarna biru dongker yang elegan dan satu lagi merah marun yang berani. Ia menyerahkan kedua dasi itu tepat di depan wajah Kiandra.
"Pilihkan untukku. Yang mana yang cocok dengan botol yang baru saja kamu endus?"
Kiandra menganga kecil, menatap Enzo dengan tatapan tidak percaya. "Kamu gila? Aku bukan penata busanamu! Pilih saja sendiri!"
Enzo tersenyum miring, sebuah senyum yang terlihat sangat berbahaya sekaligus menantang. Ia melangkah maju satu inci lagi hingga ujung kaki mereka bersentuhan.
"Pilihkan, Piccola. Atau aku akan berdiri di sini, menghalangi jalanmu, sampai kamu selesai mandi. Dan percayalah, aku punya banyak waktu pagi ini."
Kiandra menggeram tertahan. Bayangan harus mandi sementara pria ini berdiri di ambang pintu menatapnya adalah mimpi buruk yang sangat nyata. Dengan gerakan emosional, ia merampas dasi biru dongker itu dari tangan Enzo.
"Ini! Warnanya sama dinginnya dengan mulutmu saat di kampus kemarin!" ketus Kiandra.
Enzo tertawa pelan, suara baritonnya terasa begitu dekat. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menyodorkan kerah kemejanya yang masih terbuka ke arah Kiandra.
"Pasangkan sekalian. Tanganku sedang malas bekerja hari ini."
Kiandra membeku. Jantungnya berdegup brutal, menghantam tulang rusuknya dengan kekuatan yang menakutkan. Ia menatap kerah kemeja Enzo, lalu menatap mata hazel pria itu yang sedang menunggunya dengan kilatan jahil.
"Kamu benar-benar..." Kiandra tidak melanjutkan kalimatnya.
Dengan jemari yang gemetar hebat, ia mengangkat tangan dan mengalungkan dasi sutra itu ke leher Enzo. Ia harus berjinjit sedikit karena perbedaan tinggi mereka yang mencolok. Kiandra menahan napas saat buku jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit leher Enzo yang hangat dan halus.
Kontak fisik itu terasa begitu intim, begitu salah, namun entah kenapa membuat aliran darah Kiandra berdesir kencang. Enzo tetap diam, menunduk menatap Kiandra dengan tatapan yang tenang, napasnya yang teratur menerpa puncak kepala gadis itu.
Kiandra menarik simpul dasi dengan cepat, merapikannya di bawah kerah kemeja Enzo dengan gerakan yang sedikit kasar untuk menutupi kegugupannya. Begitu selesai, ia menarik tangannya mundur secepat kilat dan membuang muka ke arah dinding ubin yang putih.
"Sudah! Sekarang keluar!"
Enzo menegakkan tubuhnya, mengusap simpul dasi buatan Kiandra dengan ujung jarinya sambil tersenyum puas. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang sudah bersih, lalu melirik Kiandra melalui cermin itu.
"Pelayanan yang bagus, roommate. Jangan terlambat, aku benci mahasiswa lelet. Ingat, jam pertama hari ini adalah kelasku. Dan aku tidak akan memberikan toleransi meski kamu sudah memasangkan dasiku dengan sangat rapi."
Enzo berbalik santai, melangkah keluar dari kamar mandi tanpa beban sedikit pun, meninggalkan aroma maskulinnya yang menghipnotis dan ketegangan yang masih menggantung pekat di udara.
Begitu pintu tertutup, Kiandra langsung merosot bersandar di balik pintu. Ia mencengkeram dadanya yang berdetak tak karuan, mencoba mengatur napasnya yang berantakan. Matanya menatap kosong ke arah lantai, sementara otaknya benar-benar korslet.
Dualitas pria itu—antara monster di kampus dan penggoda di apartemen—benar-benar menghancurkan kewarasan Kiandra sebelum hari bahkan benar-benar dimulai.