"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Motor Mas Dika berhenti di depan sebuah toko perlengkapan bayi yang cukup besar. Cahaya lampu toko yang terang benderang menyambut kami, memberikan kesan ceria yang sangat kontras dengan suasana hatiku belakangan ini.
Begitu melangkah masuk, deretan baju-baju mungil berwarna pastel seolah menyihir mataku. Mas Dika langsung menggandeng tanganku menuju rak pakaian bayi perempuan. Ia mengambil sebuah baju terusan kecil berwarna merah muda dengan aksen pita di pundaknya.
"Lihat ini, Ra. Lucu banget kan? Nanti kalau si Cantik pakai ini pasti mirip banget sama kamu," ucap Mas Dika dengan binar mata yang begitu bahagia.
Aku menyentuh kain lembut itu dengan jemariku. Ada rasa haru yang mendesak di dada. "Iya, Mas. Bagus banget."
Kami mulai mengisi keranjang dengan beberapa set pakaian, bedong, dan perlengkapan mandi. Mas Dika seolah tidak melihat label harga; ia hanya ingin memberikan yang terbaik. Setelah urusan bayi selesai, kami berpindah ke bagian perlengkapan rumah tangga untuk mencari sprei dan bantal ibu hamil seperti yang ia janjikan.
"Coba kamu pilih sprei yang bahannya paling adem, Ra. Biar kamu nggak kegerahan kalau tidur malam," kata Mas Dika sembari meraba beberapa kain. Aku memilih warna abu-abu muda yang tenang, berharap warna itu bisa membawa kedamaian di kamar kami nanti.
Mas Dika juga mengambil sebuah bantal panjang berbentuk huruf U yang khusus untuk ibu hamil. "Ini biar punggung kamu nggak pegal lagi kalau tidur miring," tambahnya penuh perhatian.
Saat kami berdiri di depan kasir untuk membayar, aku menatap tumpukan barang belanjaan itu. Semua ini adalah bukti nyata bahwa kami sedang bersiap menyambut kehidupan baru. Di tengah rasa malu yang masih membekas, kehadiran barang-barang ini memberiku sedikit harapan bahwa di balik tembok dingin rumah mertua, aku masih bisa membangun dunia kecil yang hangat bersama Mas Dika.
Begitu kami melangkah keluar dari pintu otomatis toko, suara gemuruh petir menyambut kami. Langit yang tadinya hanya mendung kini tumpah, hujan turun dengan sangat deras seolah langit sedang ikut meluapkan emosi yang tertahan.
"Aduh, Ra, hujannya kencang sekali," ucap Mas Dika sembari menarikku kembali ke teras toko yang berkanopi luas agar tidak terkena percikan air.
Angin kencang membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Aku merapatkan jaket, melindungi perutku dari terpaan angin malam yang lembap. Mas Dika menatap jalanan yang kini mulai tergenang air dengan cemas. Ia melirik beberapa kantong belanjaan besar di tangannya, lalu menatapku yang mulai menggigil.
"Kamu kedinginan ya? Tunggu di sini sebentar, Mas cari plastik besar dulu di dalam buat nutupin belanjaan kita, biar sprei sama baju bayinya nggak basah," katanya penuh perhatian.
Aku hanya mengangguk pelan, memandangi rintik hujan yang jatuh menghantam aspal. Di tengah kedinginan ini, entah kenapa aku merasa takut. Bayangan harus kembali ke rumah mertua dalam kondisi basah kuyup dan larut malam membuat dadaku sesak. Aku takut Ibu Mertua akan kembali menyindir kami yang pulang terlambat hanya untuk berfoya-foya di mata beliau.
Tak lama, Mas Dika kembali dan mulai membungkus kantong-kantong belanjaan kami dengan plastik tambahan. Ia menatapku dengan sorot mata menyesal. "Maaf ya, Ra, niatnya mau bikin kamu senang, malah terjebak hujan begini. Sabar ya, Yang. Kalau agak reda sedikit, kita langsung jalan."
Ia merangkul bahuku, menarikku lebih dekat ke arahnya untuk memberikan kehangatan. Di bawah lampu teras toko yang terang, kami berdiri berdua menatap hujan, terisolasi dari dunia luar. Untuk sejenak, suara hujan yang bising menjadi pelindung kami dari kenyataan pahit yang menunggu di rumah sana.
"Mas... apa kita nggak sebaiknya telepon rumah dulu? Takutnya Ibu nyariin," bisikku ragu.
Mas Dika terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan sambil tetap memelukku. "Nggak usah, Ra. Kalau kita telepon sekarang, yang ada Mbak Diana malah makin banyak bicara. Kita nikmatin dulu waktu berdua ini. Anggap saja hujan ini kasih kita waktu lebih lama buat tenang."
Aku menyandarkan kepalaku di pundaknya, merasakan detak jantungnya yang tenang.
"Doain Mas terus ya, Sayang, biar rezeki Mas lancar terus, biar bisa bahagiain kamu terus," bisik Mas Dika tepat di telingaku, suaranya nyaris tenggelam oleh riuh hujan yang menghantam atap kanopi. Ia mengeratkan pelukannya, seolah ingin membagi seluruh kehangatan tubuhnya untukku dan janin yang ada di dalam sana. "Maaf ya kalau sedikit terjal jalannya. Mas tahu ini nggak mudah buat kamu."
Aku mendongak, menatap matanya yang memancarkan ketulusan luar biasa di bawah temaram lampu toko. Air mataku mendadak menggenang, bukan karena sedih, tapi karena merasa sangat dihargai di tengah kehancuran yang kualami. "Iya, Mas. Pasti. Aira selalu doain Mas setiap sujud Aira," jawabku lirih.
Mas Dika tersenyum, sebuah senyuman yang sanggup meruntuhkan segala ketakutanku akan wajah dingin Ibu Mertua nanti. "Sabar ya, Ra. Badai ini pasti lewat. Yang penting kita jangan lepas tangan."
Kami terdiam cukup lama, menikmati aroma tanah yang tersiram air hujan dan dinginnya angin yang berembus. Di tengah gemuruh langit, hatiku merasa sedikit lebih ringan. Kata-katanya tadi seolah menjadi bensin bagi semangatku yang hampir padam. Aku menyadari bahwa seberapa pun terjal jalan yang harus kami lalui, selama ada tangan Mas Dika yang menggenggamku, aku punya alasan untuk tetap berdiri tegak.
Hujan mulai sedikit mereda, menyisakan rintik-rintik kecil yang masih enggan pergi. Mas Dika melepaskan jaketnya, lalu menyampirkannya ke bahuku agar aku tidak terlalu kedinginan saat di jalan nanti.
"Yuk, kita pulang. Pelan-pelan saja jalannya," ajaknya sembari menuntunku menuju motor yang sudah basah kuyup.
Saat motor mulai melaju membelah sisa hujan, aku memeluk pinggangnya seerat mungkin. Di balik punggungnya, aku berjanji dalam hati akan menjadi istri yang kuat, apa pun badai yang menanti kami di balik gerbang rumah megah mertuaku nanti malam.