Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Thomas mendekat dengan sorot mata yang semakin gelap dan gila. Ia mencoba meraih tangan Melody, namun dengan cepat Melody menghempaskannya sekuat tenaga.
"Jangan pegang-pegang! Elo apa-apaan sih, hah?!" bentak Melody, nyalinya mulai terkumpul meskipun jantungnya berdegup kencang. "Sana minggir! Gue mau pulang sekarang. Mumpung gue masih baik dan mau maafin elo, jadi lepasin gue!"
Penolakan itu bukannya membuat Thomas sadar, malah memicu kemarahannya. Wajahnya yang semula tenang berubah menjadi beringas. Ia menarik paksa lengan Melody hingga gadis itu terseret.
"Woii, lepasin! Sakit, bego!" teriak Melody sambil memberontak.
Thomas tidak peduli. Dengan tenaga yang jauh lebih kuat, ia menarik Melody ke atas kasur dan membantingnya di sana. "Aku emang gila, Melody! Aku gila karena kamu!" raung Thomas.
"Stres nih anak! Fix, otaknya udah korslet!" umpat Melody. Ia mencoba merangkak kabur, tapi Thomas dengan cepat menarik baju seragam Melody.
Sreeekk!
Bunyi kain sobek terdengar nyaring. Baju seragam Melody robek di bagian bahu, memperlihatkan tanktop hitam yang ia kenakan di dalamnya. Seketika, rasa panik yang luar biasa menghantam Melody. Ini bukan lagi sekadar drama sekolah, ini ancaman nyata.
"Woii! Bicara baik-baik bisa nggak?! Jangan main pelecehan gini, brengsek!" teriak Melody, suaranya mulai gemetar.
Thomas langsung menindih tubuh Melody, mengunci kedua tangannya. Melody terus berontak, memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri sekuat tenaga untuk menghindari ciuman paksa Thomas yang mengincar leher dan wajahnya.
"Tolong! Siapa pun... TOLONG!" jerit Melody histeris.
Tepat saat Thomas semakin beringas dan tangan Melody mulai melemas karena kalah tenaga...
BRAKKKKKK!!!!!
Suara pintu kamar yang ditendang hingga hancur berkeping-keping bergema di seluruh ruangan. Thomas tersentak kaget dan refleks menghentikan aksinya, menoleh ke arah pintu.
Di ambang pintu, berdiri sosok Kaisar dengan aura yang sangat mengerikan. Napasnya memburu, matanya merah padam karena amarah yang sudah di ubun-ubun.
Waduh, santai bjirr! Tadi ada gangguan teknis dikit, ayo kita lanjutin kegelapan aura si Kaisar ini.
Kaisar masuk seperti malaikat pencabut nyawa. Begitu melihat kondisi Melody dengan baju yang sobek, akal sehatnya langsung menguap. Ia menerjang Thomas, menarik kerah bajunya, dan melayangkan pukulan mentah yang membuat hidung Thomas langsung berdarah.
Kaisar menghajar Thomas membabi buta. Bugh! Bugh! Krak! Suara tulang yang beradu dengan tinju Kaisar menggema di ruangan itu. Thomas bahkan tidak diberi kesempatan untuk membalas. Aura mafia dari keluarga Luca benar-benar keluar—dingin, gelap, dan tanpa ampun. Mata Kaisar menggelap, tidak ada lagi emosi manusia di sana, hanya ada insting untuk menghancurkan apa pun yang berani menyentuh miliknya.
Melody yang awalnya gemetar hebat mulai mengatur napasnya. Ia duduk di pinggir kasur, memegangi bajunya yang sobek. Ia melihat Kaisar yang terus menghajar Thomas yang sudah lemas di lantai.
"Gila, ini kalau dibiarin, si kacamata bisa lewat beneran. Kalau dia mati di sini, urusannya panjang. Kaisar mah aman banyak yang belain, lah gue? Bisa-bisa gue jadi tersangka atau saksi kunci yang hidupnya nggak tenang," batin Melody mulai berpikir realistis di tengah kepanikan.
"Kaisar, udah! Kai, stop!" teriak Melody, tapi Kaisar seolah menulikan telinganya. Pukulannya justru makin keras.
Melody akhirnya memberanikan diri turun dari kasur. Ia mendekat, mengabaikan rasa takutnya, dan langsung memegang lengan kokoh Kaisar yang sudah bersiap melayangkan pukulan terakhir yang mungkin bisa mematikan.
"Kaisar, cukup! Dia udah nggak berdaya!" ucap Melody lantang.
Tangan Kaisar berhenti di udara, hanya beberapa senti dari wajah Thomas yang sudah babak belur. Tubuh Kaisar menegang, napasnya memburu kasar. Ia menoleh perlahan ke arah Melody dengan wajah yang masih merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Tatapannya yang tajam sempat membuat Melody ciut, tapi Melody tetap tidak melepas pegangannya.
"Lepas, Melody. Dia harus mati," desis Kaisar dengan suara serak yang mengerikan.
"Nggak worth it, Kai! Jangan kotori tangan lo buat sampah kayak dia. Gue nggak apa-apa, gue butuh lo sekarang, bukan mayat dia!" balas Melody sambil menatap mata Kaisar, mencoba menarik kembali kesadaran cowok itu dari kegelapan.
Mendengar kalimat "gue butuh lo", genggaman tangan Kaisar pada kerah baju Thomas perlahan mengendur. Ia menghempaskan tubuh Thomas ke lantai seperti membuang sampah tak berguna. Kaisar berbalik, langsung melepas jaket kulit hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Melody untuk menutupi bajunya yang robek.
"Kita pulang," ucap Kaisar singkat, suaranya masih bergetar karena emosi, tapi tangannya kini menarik Melody masuk ke dalam pelukannya dengan sangat posesif.
Melody diam membatu di dalam dekapan hangat Kaisar. Kepalanya bersandar tepat di dada bidang cowok itu, hingga ia bisa mendengar detak jantung Kaisar yang masih berpacu cepat karena emosi.
"Lah, kok ini adegannya jadi kayak di drakor-drakor sih? Ini kulkas berjalan kenapa tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan yang selalu muncul tiap gue mau tamat?" batin Melody sambil berkedip-kedip polos. Meskipun bingung, ia tidak menolak pelukan itu—rasanya terlalu nyaman dan aman untuk dilepaskan sekarang.
Namun, dasar Melody, jiwa narsis dan ketakutannya akan urusan hukum lebih kuat daripada suasana romantis. Ia sedikit merenggangkan pelukan dan menunjuk Thomas yang sudah terkapar tidak berdaya di lantai dengan ujung dagunya.
"Udah, ayok pulang! Itu... dia dibiarin gitu aja?" tanya Melody panik. "Jangan sampai jadi mayat ya, Kai! Nanti gue yang jadi tersangka utama. Amit-amit ya Lord, masa depan princess masih panjang, gue belum jadi penulis novel terkenal atau dapet jodoh yang nggak psikopat!"
Kaisar melirik Thomas dengan tatapan menghina seolah sedang melihat kotoran di sepatunya. Ia lalu menatap Melody, tatapannya sedikit melunak meskipun rahangnya masih mengeras.
"Anak buah gue yang bakal urus. Dia nggak akan mati, tapi dia bakal nyesel karena masih hidup," jawab Kaisar dingin.
Kaisar kembali menarik Melody agar merapat padanya, tangannya merangkul bahu Melody yang terbungkus jaket besarnya dengan sangat posesif. Ia menuntun Melody keluar dari bangunan tua itu tanpa membiarkan Melody menoleh lagi ke belakang.
"Jalan yang bener. Jangan pikirin sampah itu lagi," ucap Kaisar ketus tapi tetap menjaga langkahnya agar Melody tidak tersandung.
Melody hanya bisa pasrah sambil memegangi ujung jaket Kaisar. "Ya sudahlah, yang penting gue slamet. Lagian pake jaket Kaisar gini berasa jadi cewek paling berkuasa se-seantero sekolah," pikirnya sambil mulai cengar-cengir sendiri, melupakan fakta kalau sepuluh menit yang lalu dia hampir dijadiin koleksi pribadi sama si kacamata.