Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sepanjang perjalanan pulang, dengan langkah berat karena harus menelan kekecewaan tidak bisa bertemu Zidan, Inara terus memikirkan setiap kata yang diucapkan Reno. Kalimat itu berulang-ulang terngiang di kepalanya, seolah menolak untuk pergi.
"Kamu sendiri tahu di dalam hatimu… apa yang sebenarnya terjadi."
Inara tersentak pelan, napasnya tercekat sesaat. "Aku tahu apa yang terjadi? Maksud dia apa?" gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
Langkahnya sempat melambat. "Kalau soal peduli dan sayang… apa dia tidak bisa melihat semua yang sudah aku lakukan selama ini?" lanjutnya, suaranya makin pelan, nyaris hilang ditelan pikirannya.
Ia menggeleng kecil, mencoba menepis perasaan yang mulai mengganggu. "Kenapa dia bicara seolah-olah aku tidak pernah benar-benar menyayangi Zidan?"
Dadanya terasa sesak. Setiap pertanyaan itu seperti memantul tanpa jawaban, justru menambah beban yang sudah ia bawa sejak keluar dari rumah sakit.
Kepalanya mulai berdenyut pelan, lalu semakin terasa, seolah tekanan yang sejak tadi ia tahan akhirnya mencari jalan keluar. Namun bukan hanya sakit fisik yang ia rasakan, melainkan juga kelelahan yang menumpuk, lelah karena terus berada di posisi yang sama, menjelaskan, tetapi tidak pernah benar-benar didengarkan.
Inara menghentikan langkahnya sejenak, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menutup mata sesaat, mencoba menenangkan diri, meski pikirannya masih penuh. Namun saat ia hendak melangkah kembali, sebuah teriakan anak kecil memecah lamunannya.
"Aku gak mau ikut pulang! Aku mau di sini saja!"
Suara itu lantang, penuh penolakan. Inara refleks menoleh ke arah sumber suara.
"Aku bilang kamu ikut aku sekarang juga!"
Suara orang dewasa menyusul, lebih keras, terdengar kesal dan memaksa.
Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, terlihat seorang anak kecil yang meronta, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman seorang lelaki. Tubuh kecil itu memberontak, matanya berkaca-kaca, tetapi tetap bersikeras menolak.
Tanpa berpikir panjang, Inara segera menghampiri. "Hai, apa yang kamu lakukan? Lepaskan anak itu!" tegurnya tegas.
Lelaki dengan setelan tuksedo hitam itu langsung menoleh. Tatapannya sempat mengeras, terkejut dengan kehadiran Inara yang tiba-tiba ikut campur.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, anak kecil itu sudah lebih dulu berlari dan memeluk Inara erat, seolah menemukan tempat berlindung.
"Baba, ke sini," perintah lelaki itu dengan nada tertahan.
"Enggak!" tolak anak itu keras. Tangannya langsung menggenggam tangan Inara, kecil tetapi kuat. "Tante, tolongin Baba…"
"Baba!" panggil lelaki itu lagi, kali ini lebih tegas.
Melihat itu, emosi Inara yang sejak tadi tertahan seakan menemukan pelampiasan. "Kalau anaknya tidak mau, jangan dipaksa!" ucapnya tajam. Tatapannya menyorot lelaki itu tanpa ragu. "Anda ini siapa? Jangan-jangan penculik anak, ya?"
Suasana seketika menegang. Lelaki itu terdiam sesaat, seolah tidak percaya dengan tuduhan yang baru saja dilontarkan. Rahangnya mengeras, tetapi ia masih menahan diri.
"Anda serius bilang saya penculik?" tanyanya rendah, nada suaranya terkontrol meski jelas tidak senang.
Inara tidak mundur sedikit pun. Tangannya justru semakin melindungi anak kecil yang kini bersembunyi di balik tubuhnya.
"Kalau bukan, kenapa anak ini sampai takut seperti itu?" balasnya cepat. "Anak kecil tidak mungkin bereaksi seperti ini tanpa alasan."
Anak itu semakin merapat, bahkan menggenggam baju Inara.
"Tante, aku gak mau ikut…," bisiknya pelan, suaranya bergetar.
Inara langsung mengusap kepala anak itu, mencoba menenangkannya. "Tidak apa-apa, kamu tenang dulu."
Lelaki itu menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang mulai terlihat di wajahnya. Ia melirik sekitar, beberapa orang mulai memperhatikan keributan kecil itu.
"Baba," panggilnya lagi, kali ini lebih rendah, lebih tertahan. "Kamu ke sini."
Anak itu menggeleng kuat.
Inara semakin yakin. Tatapannya pada lelaki itu makin tajam. "Saya bisa panggil petugas keamanan kalau Anda tetap memaksa."
Kalimat itu membuat lelaki itu akhirnya menghela napas kasar.
"Dia anak saya."
Jawaban itu singkat, tetapi cukup untuk membuat Inara terdiam sejenak.
"Lalu kenapa dia sampai seperti ini?" tanya Inara, nadanya masih penuh curiga, meski tidak setajam sebelumnya.
Lelaki itu menatap anak itu cukup lama, lalu kembali menatap Inara. Kali ini ekspresinya berubah, bukan lagi marah, melainkan lelah yang mendominasi.
"Karena dia keras kepala," jawabnya datar. "Dan karena dia tahu kalau dia menangis, pasti ada orang yang akan membelanya."
Ucapan itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa, justru membuat sesuatu di dalam diri Inara ikut terusik.
Anak kecil di belakangnya kembali bersuara pelan, "Aku gak nakal…"
Tanpa sadar, genggaman Inara pada tangan kecil itu semakin erat.
"Jadi Anda ini—"
Belum sempat Inara menyelesaikan kalimatnya, lelaki bernama Altaf Darmawan itu langsung menunjukkan kartu identitas milik Baba.
"Perlu saya kasih aktanya juga?"
Baru saat itu Inara menarik sudut bibirnya, sedikit canggung karena salah paham. Namun di dalam hati, ia tetap merasa tidak sepenuhnya salah. Bagaimanapun, sebagai seorang ayah, tidak seharusnya membuat anaknya sampai seperti ini, apalagi jika dilihat, Baba masih sekitar empat tahun.
"Tapi Anda juga tidak seharusnya memaksa anak sampai seperti ini," ucap Inara dengan nada tegas.
"Jangan terlalu ikut campur," jawab Altaf dingin. Ia langsung beralih pada anaknya. "Baba, Ayah tidak punya banyak waktu untuk meladeni dramamu ini. Sekarang pulang dan bermain di rumah."
"Gak mau! Ayah pergi terus, Baba gak punya temen."
"Baba, di rumah ada banyak orang. Kamu bisa ajak salah satu dari mereka bermain. Jangan seperti ini," sahut Altaf dengan nada tegas.
"Baba mau Ayah!"
"Baba!"
Nada suara Altaf yang meninggi membuat Inara langsung bereaksi. Amarah yang tadi hampir tertahan karena sudah salah paham kini muncul lagi di wajahnya.
"Anda ini seharusnya bicara baik-baik sama anak kecil. Tidak perlu pakai nada tinggi seperti itu," tegurnya tajam.
Altaf menoleh, tatapannya dingin. "Kamu ini wanita, tidak perlu ikut campur."
"Saya akan tetap ikut campur kalau Anda memperlakukan anak seperti ini," balas Inara tanpa mundur. "Apa Anda tidak lihat? Anak Anda ketakutan."
Ucapan itu membuat Altaf sejenak terdiam. Pandangannya perlahan beralih ke Baba yang kini memeluk pinggang Inara erat, seolah benar-benar menjadikannya tempat berlindung.
Rahang Altaf mengeras, tapi kali ini ia mencoba menahan diri.
"Baba," panggilnya lebih rendah, berusaha menenangkan nada suaranya. "Ayah janji, setelah urusan perusahaan selesai, Ayah akan pulang dan bermain denganmu. Sekarang pulang dulu, ya."
Namun Baba tetap menggeleng kuat, pelukannya pada Inara justru semakin erat.
Melihat itu, sikap Inara perlahan melunak. Ia menunduk, lalu berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan anak kecil itu. Tangannya dengan lembut mengusap punggung Baba, mencoba menenangkan.
"Nama kamu Baba, ya?" tanyanya pelan.
Baba mengangguk.
"Baba anak pintar," lanjut Inara dengan suara lembut. "Tadi Baba dengar sendiri, kan? Ayah sudah janji mau pulang dan main sama Baba. Jadi sekarang ikut Ayah dulu, ya."
"Gak mau," tolak Baba cepat, bibirnya mengerucut.
Inara tersenyum tipis, tetap sabar. "Baba tahu tidak, dunia luar itu banyak orang jahat. Kalau Baba jalan sendiri terus ketemu orang jahat, nanti Baba bisa dibawa pergi. Baba tidak bisa ketemu Ayah lagi… tidak bisa ketemu Ibu juga."
Kalimat terakhir itu tanpa sadar membuat suasana berubah. Wajah Altaf langsung menegang. Tatapannya mengeras, ada sesuatu yang tersentuh di hatinya dari kata “ibu” yang baru saja terucap.
Ia hampir saja menyela, bahkan amarah sempat naik ke ujung tenggorokannya. Namun sebelum itu keluar, suara kecil Baba lebih dulu terdengar.
"Baba gak punya ibu…" Baba menatap Inara dengan mata polos yang sedikit berkaca-kaca, lalu menggenggam tangannya lebih erat.
"Tante baik hati… mau jadi ibu Baba?"