Kematian misterius yang ada di rumah ujung membuat siapa saja akan ketakutan, bahkan puncak nya para warga sama sekali tidak kenal dengan penghuni rumah tersebut.
satu keluarga di bantai dan mayat mereka membusuk di dalam rumah tersebut, warga menguburkan secara layak namun seram nya rumah itu membuat siapa saja yang lewat akan ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Menemukan Rais
Lutfi menatap tajam ketika dia sudah memasuki sebuah kamar yang tidak memiliki ranjang sama sekali, kemungkinan ini adalah ruang kerja yang sering di pakai Sayuti untuk mengurus berbagai macam pekerjaan dia, sebab di sana juga tersedia beberapa meja yang sangat bagus dan kursi yang sangat mewah sekali sehingga Lutfi mengira bahwa ini memang ruang kerja milik keluarga tersebut.
Namun pandangan Lutfi bukan mengarah kepada ruangan yang mewah ini tapi dia penasaran dengan lemari yang berbentuk rajawali itu, seperti ada sebuah sesuatu yang menarik perhatian dia sehingga membuat Lutfi sangat penasaran dan mendekati lemari itu untuk melihat apa memang ada sesuatu yang menarik dari dalam sana.
"Bismillah ya Allah." Lutfi berjalan mendekat dengan tangan.
Sebab ada rasa takut juga di dalam hati ini ketika akan mendekati lemari itu karena dia merasa memang energi yang sangat besar berasal dari sana, aku bila mendadak saja mendapat sebuah serangan dan dia tidak bisa menghadapi serangan itu seorang diri di dalam rumah ini.
Walau Lutfi memiliki sesuatu di dalam tubuh namun tetap saja dia belum bisa sepenuhnya untuk mengendalikan khodam itu, sehingga kadang kala dia masih kewalahan dan merasa ini semua harus mengendalikan diri dengan benar dan juga latihan yang cukup keras agar khodam itu bisa bekerja sama dengan baik bersama dia.
Kriiieetttt.
"Jangan, jangan sakiti aku!" Rais berteriak sambil menutup muka karena terlihat Dia sangat ketakutan sekali.
"Bang Rais ini aku." Lutfi juga kaget karena dia berhasil menemukan.
"Hah!" Rais mendongak karena dia mengenal suara Lutfi.
"Astaga Kenapa kamu bisa berlumuran dengan lumpur dan ada di dalam lemari ini?" Lutfi memperhatikan bentuk Rais yang penuh dengan lumpur.
"Ya Allah, Untung kau datang ke sini dan menolong aku sehingga dia tidak akan datang lagi untuk menyeret aku ke sana kemari." Rais terlihat sangat senang ketika mengenali Lutfi.
"Siapa yang sedang kau bicarakan itu memangnya?" Lutfi bertanya dengan nada bingung.
Rais ingin mengatakan sesuatu namun terlihat sekali bahwa dia sedang ketakutan dan tidak bisa untuk berbicara banyak, maka Lutfi tidak ingin mengambil resiko itu Dan Dia segera membawa Rais keluar dari dalam kamar dan mereka meninggalkan rumah tersebut agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan lagi pada mereka semua.
Jelas itu adalah pilihan yang terbaik saat ini daripada harus mencari masalah dengan penghuni rumah yang mereka sendiri juga tidak paham bentuknya bagaimana, Andi dan Davin juga sudah keluar dari kamar dan mereka agak kaget ketika melihat Rais yang berlumuran dengan lumpur setengah mengering itu sudah ada bersama dengan Lutfi.
"Ayo kita keluar sekarang dan jangan dengarkan mereka semua." Lutfi mendengar suara yang aneh.
"Astaga rumah ini berdengung seperti ada sesuatu." Andi berlari duluan untuk keluar dari jendela itu.
"Cepat, aku tidak mau kalau sampai tertangkap oleh mereka lagi." Rais juga sangat ketakutan.
"Tolong hati-hati dan jangan buru-buru seperti itu karena nanti malah akan celaka." Lutfi memberikan peringatan.
"Aku duluan." Davin juga menyusul Andi yang sudah keluar terlebih dahulu dari jendela itu.
"Itu suara menangis dan bernyanyi bercampur menjadi satu kan?" Rais menatap Lutfi yang masih terdiam mendengarkan suara tersebut.
"Jangan Bang Rais pedulikan lagi suara itu karena kita juga tidak ada urusan dalam rumah ini." Lutfi menggeleng dan cepat memberi kode kepada Rais untuk keluar.
"Hei Ayo cepat keluar dari dalam rumah itu." Davin mengulurkan tangan agar Rais segera memanjat jendela.
"Ya Allah apa sebenarnya yang terjadi pada penghuni rumah ini sehingga terasa begitu menyeramkan sekali." batin Davin.
Sungguh mereka semua sama sekali tidak menyangka kalau rumah itu memiliki energi horor yang sangat terasa sekali, ini memang kalau orang sendirian lewat sini dan di malam hari maka tidak akan pernah ada yang berani, terlebih lagi sekarang mereka mendengar suara gema yang tidak biasa itu sehingga rasa takut semakin menggebu di dalam hati.
"Abang!" Melva berteriak senang ketika melihat Rais keluar dari dalam rumah itu.
"Ha itu bang Rais sudah ketemu ternyata!" Salsa juga terlihat senang dan segera mendekati rumah Sayuti.
"Ya Allah ternyata mereka malah menemukan bang Rais di dalam rumah itu, Kenapa bisa dia ada di dalam sana?" Intan juga terlihat heran.
"Ini rumah memang pasti akan menyimpan sejuta misteri karena telah menjadi saksi bisu atas kematian penghuni asli." ujar Salsa dengan nada lirih.
"Mana sebelah rumah ini adalah jalan untuk menuju akses sawah ya, sudah pasti akan banyak orang lewat jalan ini." ujar Intan sambil memperhatikan dengan seksama.
"Lutfi suruh mengurus setan yang ada di sini." Salsa menatap Intan.
"Ah Dia saja belum bisa sepenuhnya menguasai itu jadi mana mungkin bisa mau mengurus setan segala." tolak Intan karena dia mengetahui bagaimana kekuatan sang suami.
"Tapi kalau mau minta tolong sama Mbak Purnama juga agak bingung ya karena dia belum menampakkan wujud secara nyata." Salsa berkata bingung.
Intan mengangguk paham karena memang arwah yang menunggu rumah milik keluarga Sayuti ini belum menampakkan diri secara nyata dan mereka belum mendapat gangguan secara pasti, tapi Rais sendiri sudah hilang ketika ada di sawah dan sekarang justru di temukan di dalam rumah milik keluarga tersebut.
"Abang, Ya Allah Untung saja Abang selamat." Melva sangat lega karena sang suami dalam keadaan baik-baik saja.
"Ayo kita pulang karena abang tidak berani untuk terlalu lama tinggal di sini." Rais mengajak Melva untuk pulang.
"Ya lebih baik kita segera pulang ke rumah masing-masing saat ini." Lutfi juga segera menggandeng tangan sang istri.
Tak ketinggalan Davin yang juga segera membawa Salsa pergi dari tempat tersebut karena mereka tidak memiliki nyali untuk terlalu lama diam di sini, juga berjalan cepat menuju pulang ke rumah untuk menenangkan diri walau saat ini adalah siang hari namun tetap saja rasa takut itu tidak bisa hilang dari dalam diri mereka.
"Gila, aroma dalam kamar itu masih saja tercium di hidung aku." Andi mengusap hidung yang terasa menyengat.
"Jadi sebenarnya Kenapa mereka bisa meninggal seperti itu dan siapa yang sudah melakukan pembunuhan keji itu?" gumam Andi sendirian.
Ya mereka memang sama sekali tidak mengetahui siapa yang sudah melakukan perbuatan keji itu kepada keluarga Sayuti, entah keluarga Sayuti memang melakukan kesalahan besar atau tidak tapi yang jelas mereka memang sudah meninggal dunia dengan cara yang begitu kejam sehingga sekarang warga desa yang ada di sini harus ketakutan setiap saat bila melewati rumah ujung itu.
selamat sore, jangan lupa like dan komen kalian ya.
dari kota aja lagaknya kaya dewa saja, orang yang dewa iblis aja gak sesombong kamu.
dan
hanya Purnama yang bisa ngadepin Angelina
Arya sama Nolan juga boleh lah kasih pelajaran ke mereka...
di balik kalem nya ada congor nya jg yg kalau ngomong setajam sileeeet
eeee ..... ternyata mlh Pesugihan nya yg di ambil 🤣🤣🤣