Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Sang Nona
"Kau berpikir apa sehingga sekacau itu?" tanya Lisa penasaran. Sebab selama ini hidup yang mereka jalani tanpa menaruh perasaan apa pun. Mereka hanyalah sebuah cangkang kosong, bahkan bisa dikatakan mereka hanyalah robot yang taat.
"Aku memikirkan Nona Shopia," sahut Bima dengan nada yang menahan sesuatu.
"Kau tahukan keadaan seperti apa. Lagipula tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting seperti itu," nasihat Lisa tanpa penekanan berlebih.
"Ya aku tahu itu, tapi rasanya aku tak bisa. Mungkin karena Nona Shopia adalah anak kandung Tuan. Kau pasti merasakannya juga," ungkap Bima.
Sontak saja Lisa tersentak, sebab di lubuk hatinya yang terdalam dia juga merasakan hal yang sama. Namun, terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Aku melihat semua pelayan itu meninggalkan villa membawa barang-barang yang sangat banyak. Apakah kau tidak curiga sesuatu?" tutur Bima memandangi wajah Lisa yang mulai berkerut karena kekhawatiran.
"Kenapa kau tidak mendatangi tempat itu kalau kau tahu?" desaknya. Kini makin terlihat jelas bahwa Lisa sebenarnya sangat khawatir pada Shopia.
"Iya, aku maunya sih begitu, hanya saja aku tidak ingin membangkang perintah Tuan," ujar Bima jujur.
Lisa yang mendengar itu tak mau basa-basi lagi. Dia langsung berjalan menuju villa tersebut, meskipun awalnya dirinya sendirilah yang mengatakan bahwa tidak boleh punya perasaan terhadap apa pun, sebab mereka harus menghilangkan perasaan yang tak berarti seperti itu.
Bima hanya bisa mengekori langkah Lisa yang cepat dan terburu-buru. Hingga akhirnya mereka sampai di villa tempat tinggal Shopia. Tempat itu terlihat gelap sebab malam mulai menyelimuti. Lisa berdiri tanpa ekspresi di depan gedung itu, namun ada perasaan emosi dan khawatir yang menyelimuti hatinya saat ini.
"Bima, cari saklar nya," pinta Lisa pada Bima yang berada di sebelahnya.
Bima menganggukkan kepala. Lisa memang lebih tua dua tahun darinya dan lebih dulu dibawa serta oleh Tuan Lucas, sehingga Bima cukup menghormati wanita itu. Tidak berselang lama, Bima menghidupkan saklar dan cahaya mulai menerangi tempat itu.
Bima kembali ke sebelah Lisa dan melihat sekeliling, "Lisa, hanya beberapa lampu yang bisa dinyalakan, yang lain sudah rusak."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Yang terpenting kita bisa melihat jalan," sahut Lisa lalu melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi ke arah Bima.
"Nona!" panggil Lisa dan Bima serentak ketika memasuki ruangan itu.
"Bima, kau ke arah barat dan aku ke timur. Kalau sudah ketemu, kita saling memanggil," perintah Lisa sebab sedari tadi sang Nona tidak menyahuti panggilan mereka.
Bima menganggukkan kepala mengikuti titah Lisa dan mulai berjalan ke arah barat, sedangkan Lisa berjalan ke arah sebaliknya.
"Nona! Nona Shopia!" teriak Lisa berharap Shopia menyahut.
Tidak berselang lama, dia melihat sosok seseorang di balik gelapnya ruangan itu. Hanya sedikit cahaya bulan yang menerobos masuk lewat jendela yang bertirai itu. Lisa mencoba menyalakan lampu lewat saklar yang berada di dinding ruangan itu.
Mata Lisa langsung terbelalak melihat tubuh mungil Shopia sedang meringkuk di atas ranjang yang lusuh. Tanpa bantal dan sehelai selimut pun, nampak sangat menyedihkan layaknya seorang anak jalanan yang tak terurus.
Lisa mengeluarkan sebagian tubuhnya dari ruangan itu demi memanggil Bima yang berada di sisi barat villa.
"Bima, ke sini!" teriak Lisa berharap Bima mendengar dari kejauhan.
Selepas beberapa kali memanggil, Bima datang dengan berlari cepat menghampirinya. Setengah terengah-engah dia kemudian berkata, "Ada apa Lisa?"
Lisa tidak berbicara, namun menunjuk ke arah Shopia yang sedang meringkuk dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Selepas itu dia berlari mendekati ranjang, diikuti oleh Bima yang mengerutkan keningnya dalam.
"Bima, tubuh Nona terasa sangat panas," lirih Lisa sembari memegangi kening Shopia.
Wanita itu memeluk tubuh mungil itu dengan erat sembari terus meraba kening Shopia, lalu menatap ke arah Bima seolah meminta petunjuk apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Mereka bingung sebab Tuan mereka pasti tidak akan mengizinkan Shopia berada di kediaman utama.
"Aku juga bingung. Pasti Tuan tidak akan menerima Nona," desah Bima menatap ke arah Shopia dan menyentuh keningnya pula untuk memastikan.
"Tapi, apa salahnya mencoba? Aku akan mendatangi Tuan. Tunggu di sini dulu, aku akan menemui beliau," lanjut Bima sambil membelokkan kakinya ke arah pintu.
Dengan tergesa-gesa pria itu meninggalkan villa menuju rumah utama yang cukup jauh dari tempat itu. Namun, tekadnya sudah kuat untuk meminta izin pada tuannya, setidaknya hanya untuk tempat tinggal yang layak sementara waktu, bahkan obat yang bisa membuat Nona kecil itu bisa sembuh.
Bima akhirnya sampai di depan ruang kerja tuannya. Pria itu menarik napas kasar sebelum mengetuk pintu itu.
Tok... Tok...
"Tuan!" panggil Bima dari luar pintu.
"Siapa?" sahut Lucas di baliknya.
"Aku Bima, Tuan!" jawab Bima terdengar lirih.
"Kau Bima? Masuklah," sahut Lucas.
Bima dengan perlahan membuka pintu, dan menatap tuannya yang masih fokus pada pekerjaan yang begitu menumpuk. Terlihat Lucas membaca berkas-berkasnya, kemudian beralih pada layar PC yang masih menyala di hadapannya.
"Ada apa Bima?" tanya Lucas sambil tetap menatap layar PC, tangannya sibuk menggerakkan mouse di mejanya.
Bima menggosok tangannya karena ragu untuk mengatakannya atau tidak, "Begini Tuan, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda."
"Ya katakan saja, tidak perlu basa-basi," balas Lucas masih tidak menoleh ke arah Bima.
"Itu... Nona Shopia..." cicit Bima, takut kalau-kalau Lucas akan marah.
Lucas langsung menghentikan aktivitasnya setelah mendengar nama itu disebut. Kini Lucas menatap tajam pada Bima.
"Kenapa lagi dengan anak itu?! Aku sudah mengatakan, aku tidak ingin mendengar apapun lagi tentangnya! Sudah cukup tadi aku menolongnya!"
Perkataan Lucas yang selayaknya keputusan mutlak itu membuat nyali Bima sedikit menciut. Namun, ketika pria di hadapannya mengatakan 'kenapa lagi dengan anak itu', justru membuat Bima sedikit berani untuk menjawab.
"Tuan, Nona demam tinggi..."
Perkataan Bima terpotong dengan nada tegas dari Lucas yang cepat menyambar, "Di tempat itu masih ada pelayan yang ku gaji tiap bulan, apakah tidak ada yang bisa mengurusinya?"
"Para pelayan itu sudah pergi meninggalkan Nona sendirian! Anda harus melihat tempat itu sekali saja sebelum Anda menyesal, saya mohon!" celetuk Bima sembari memohon—sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan.
Lucas nampak tertegun mendengar permohonan yang setengah memelas dari mulut Bima. Bima yang sebelumnya tidak pernah melakukan hal seperti itu bahkan pada Lucas sekalipun, seolah-olah Shopia sudah menghipnotis bawahan setianya itu.
"Jika begitu, aku akan melihatnya. Aku ingin tahu bagaimana anak licik itu dapat mengubah bawahan ku menjadi seperti ini," cela Lucas sembari berdiri dari kursi kerja menuju pintu keluar ruangan itu. Dia ingin melihat sendiri anaknya yang sudah mengubah isi pikiran Bima, sang bodyguard yang tidak pernah seberani ini padanya.