NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:116.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMU DARI MASA LALU.

Maheer terduduk di kursi kebesaran yang dulu ditempati almarhum kakaknya. Pikirannya tidak tertuju pada tumpukan dokumen di atas meja, melainkan pada pemandangan di dapur pagi tadi. Ia masih terngiang ucapan Assel tentang filosofi masakan seorang ibu. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya setiap kali membayangkan perhatian kecil wanita itu.

"Apakah rasa rindu ini muncul hanya karena aku memakan masakannya?" gumam Maheer sambil menatap jendela besar yang menampilkan panorama kota. "Tapi harus kuakui, masakan Assel jauh lebih enak daripada koki mana pun di rumah Mama."

Tiba-tiba, perutnya berbunyi nyaring. Maheer melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia merasa ada yang aneh. Padahal tadi ia sudah sarapan nasi uduk dalam porsi cukup besar, namun rasa lapar itu menyerang lagi dengan cara yang tidak biasa. Seolah lidahnya menuntut rasa yang sama seperti tadi pagi.

Ia segera memanggil asisten setianya. "Hans, belikan aku makanan. Apa saja, yang paling enak di kota ini."

Hans segera melaksanakan perintah. Dua puluh menit kemudian, ia kembali dengan bungkusan dari restoran bintang lima termahal. Maheer segera membuka kotak makanan itu dan menyuap satu sendok penuh ke mulutnya. Namun, baru satu suapan, ia langsung menghentikan kunyahannya. Wajahnya berubah masam.

"Kenapa rasanya hambar begini? Apa mereka mengganti kokinya?" Maheer meletakkan sendoknya dengan kasar.

"Itu menu favorit Anda biasanya, Tuan," jawab Hans bingung.

Maheer mendorong kotak makanan itu menjauh. "Buang ini. Hubungi Assel, minta dia antarkan makan siang untukku sekarang juga. Katakan perutku sakit jika tidak makan masakannya."

Hans hanya bisa mengangguk pasrah dan segera menghubungi Assel. Di kediaman Arasyid, Assel yang sedang asyik melukis di taman belakang terkejut menerima telepon dari Hans. Ia mengernyitkan dahi saat mendengar permintaan Maheer yang tidak masuk akal.

"Jam sepuluh? Dia baru saja menghabiskan dua piring nasi uduk tadi pagi, Hans. Kenapa sekarang sudah lapar lagi?" tanya Assel heran.

"Tuan Maheer bersikeras, Nyonya. Beliau bilang tidak selera makan makanan lain," jawab Hans di seberang telepon.

Assel mendesah panjang. Meski menggerutu, ia tetap meletakkan kuasnya dan bergegas ke dapur. Ia memasak tumis daging simpel dan sup bening dengan cepat, lalu memasukkannya ke dalam rantang. Dengan ditemani Mang Diman, ia berangkat menuju kantor pusat Arasyid Group.

Langkah kaki Assel bergema di koridor kantor yang mewah. Ia menyadari beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh selidik. Bisik-bisik mulai terdengar dari meja-meja kubikel karyawan.

"Itu kan Nyonya Assel? Istrinya almarhum Pak Muzammil?" bisik seorang staf administrasi.

"Kenapa dia datang lagi? Apa dia mau merayu bos baru kita untuk mempertahankan hartanya?" sahut yang lain dengan nada sinis.

Assel hanya menatap lurus ke depan, tidak mempedulikan gunjingan mereka. Namun, satu kalimat dari seorang karyawan di dekat lift membuatnya sempat mengernyitkan dahi.

"Mana mungkin dia bisa merayu Pak Maheer. Di dalam sana sudah ada wanita cantik yang datang jauh-jauh dari luar negeri. Pasti itu kekasih bos baru kita," ucap karyawan itu penuh percaya diri.

Wanita cantik? Kekasih? Assel bergumam dalam hati. Kalau benar begitu, baguslah. Setidaknya dia akan berhenti menggangguku dan fokus pada hidupnya sendiri.

Assel sampai di depan ruangan Maheer. Tanpa ragu, ia mengetuk pintu dua kali. Setelah terdengar suara Maheer menyuruh masuk, ia membuka pintu. Namun, pemandangan di dalamnya membuat langkah Assel terhenti sejenak.

Seorang wanita bergaun merah elegan tampak sedang memegang erat tangan Maheer. Wanita itu terlihat sedang memohon dengan mata yang berkaca-kaca. Maheer yang melihat kedatangan Assel langsung tersentak dan dengan kasar menepis tangan wanita tersebut.

"Assel, kau sudah datang?" Maheer bermaksud bangkit untuk menghampiri istrinya.

"Diamlah di situ, Maheer," potong Assel dingin. Ia melangkah masuk dan meletakkan rantang di atas meja tamu, matanya beralih pada wanita cantik di depan Maheer.

Wanita itu, Lusi, menatap Assel dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Maheer, siapa wanita ini? Kenapa dia masuk tanpa permisi?"

Maheer berdeham, wajahnya tampak panik. "Dia adalah..."

"Aku kakak iparnya," potong Assel cepat sebelum Maheer sempat menyelesaikan kalimatnya.

Maheer terbelalak. "Assel, apa yang kau katakan?"

Lusi seketika mengubah ekspresinya menjadi ramah. Ia mengulurkan tangan dengan senyum kemenangan. "Oh, perkenalkan, saya Lusi Amalia. Kekasih Maheer sejak kami masih di luar negeri. Senang berkenalan dengan Kakak Ipar. Anda pasti istrinya Kak Muzammil, ya?"

"Benar sekali," jawab Assel tenang sambil menjabat singkat tangan Lusi. "Kalau begitu, sepertinya aku mengganggu waktu kalian. Aku pamit pulang."

Assel berbalik dengan cepat. Maheer yang melihat gelagat itu langsung berlari mengejar dan menahan lengan Assel tepat di depan pintu yang terbuka.

"Apa maksudmu bicara begitu, Assel? Apa kau benar-benar lupa status kita sekarang?" suara Maheer terdengar rendah namun penuh penekanan.

Assel menatap Maheer dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. "Sudahlah, Maheer. Aku rasa ini jauh lebih baik. Kembalilah ke hidupmu yang dulu, ke duniamu yang mewah bersama kekasihmu. Jangan mengikat dirimu dengan hal yang tidak berguna seperti pernikahan ini."

"Assel! Dengar penjelasanku dulu!" Maheer sedikit berteriak, mengabaikan fakta bahwa beberapa karyawan di luar ruangan mulai memperhatikan mereka.

Assel menepis tangan Maheer dengan kuat. "Hentikan, Maheer. Aku tidak butuh penjelasan apa pun. Itu hakmu. Kau pria yang hebat, kau pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik, bukan seorang janda sepertiku."

"Jangan bicara sembarangan!" Maheer mencoba meraih tangan Assel kembali.

"Cukup!" bentak Assel, membuat suasana koridor seketika hening mencekam. "Segeralah urus surat perceraian kita. Aku akan menunggu dokumennya di rumah."

Tanpa menunggu balasan, Assel melangkah pergi dengan sangat cepat menuju lift. Maheer berdiri mematung di ambang pintu ruangannya, dadanya terasa sesak seolah baru saja dihantam benda tumpul.

Maheer menoleh ke dalam, melihat Lusi yang tersenyum penuh harap. "Berengsek! Ini semua karena wanita tak tahu malu itu!" gumam Maheer terlihat begitu marah, lalu ia kembali menatap punggung Assel yang mulai menghilang. Kesalahpahaman ini baru saja menciptakan jurang yang lebih dalam dari sebelumnya, dan Maheer tahu, memenangkan kembali hati Assel setelah ini akan jauh lebih sulit daripada menghadapi seribu musuh bisnis di luar sana.

1
Pujiastuti
siap² kamu Jesika menerima kemarahan dari Maheer, karena sudah menganggu ketenangan rumah tangga Maheer dan Assel
YuWie
elehh..kau pria keji..makanya jgn sok2an tho sel assel.. gak bisa bela diri aja masih sok2an buk..kejwbak kan
YuWie
memang assel bisa apa.. karate..gayane bgt. Malah kamu dijadikan sandera lha wis, jadi kelemahan maher lah.
azzura faradiva
maher³....hyper banget kamu🫣klo ga dpt yg di mau gampang tantrum
Lia siti marlia
akhirnya mahher buka puasa juga tanpa adanya gangguan 🤭🤭🤭
YuWie
Luar biasa
YuWie
welehh..telat her maher. cinta tapi gak percaya pada karakter dan sifat assel waktu sma..ya mmg bkn jodohmu. bencimu salah alamat bro
Radya Arynda
💣💣💣💣💣💣💣💣💣💣perang di mulai🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lia siti marlia
apa maher akan menjawab dia istriku jesika ...atau assel dulu yang langsung menjawab bahwa maherr suaminya 🤭🤭🤭di tunggu up selanjutnya thorrr🤣🤣🤣 gak kebanyang tatapan assel ke maher pasti horor banget🤣🤣🤣
Amy
dia istriku Jes...paham kan?? ayoo ngomong bgtu maheer, kalau tidak, singa betinamu akan mengamuk
Eliermswati
smga terkabulkan doa nya ibu, dan untuk linda dan wili samawa y😂😂😍😍smngt thor up nya
Radya Arynda
semangaaaat,,,semogah oliver juga jadi sama sofia
Radya Arynda
💪💪💪💪semangaaat oliveeer,,,,,tunjukan kamu bisa
Radya Arynda
semangaaat oliver,,,jangan menyerah,jangan mlempem...gas pol
Radya Arynda
oliver,,hayoooo ber juang,,,,hayooo sofia sambut uluran tanggan oliver,,,semangaaat💪💪💪💪💪💪
Radya Arynda
semangaaat
Radya Arynda
gooool,,,,selamat will 👏👏👏
Raisha
kirain jalurnya lewat Pantura,lewat pinggir laut di sepanjang kota Tuban ternyata lewat Yogya, mampir beli bakpia dulu tho itu🤣🤣🤣🤣
Raisha
di paragraf ini ada typo ya Thor? William kan anaknya elena & Thomas,kenapa dia jawab pertanyaan Thomas dg panggil uncle ke Thomas,harusnya kan papa🤔🤔
Lia siti marlia
aku uadah mampir thoorr lanjut upnya 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!