NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 - Orang Yang Sama

Hari itu dimulai seperti biasa, tetapi perasaan Airel Virellia tidak lagi berada di tempat yang sama. Cahaya pagi masuk melalui sela-sela jendela kelas, jatuh tipis di atas meja dan buku-buku yang tersusun rapi, sementara suara langkah kaki dan percakapan ringan memenuhi koridor seperti hari-hari sebelumnya. Dari luar, tidak ada yang berubah, semuanya berjalan sesuai pola yang sudah terlalu sering terulang, namun di dalam dirinya ada sesuatu yang masih tertinggal dari sore kemarin dan belum sempat ia rapikan.

Ia berjalan menuju kelas dengan langkah yang teratur, menyapa sekilas beberapa orang yang ia kenal tanpa benar-benar berhenti. Wajahnya tetap tenang, sikapnya tidak menunjukkan sesuatu yang mencolok, tetapi pikirannya terus kembali pada satu titik yang sama. Sosok itu, langkah yang menjauh, dan momen singkat yang hampir terjadi terus berulang di kepalanya dengan cara yang tidak bisa ia hentikan.

Airel duduk di kursinya, membuka buku dan menyiapkan alat tulis seperti biasa, berusaha menempatkan dirinya di rutinitas yang seharusnya ia jalani. Dosen mulai menjelaskan materi, suara yang biasanya cukup untuk menarik fokusnya kini terasa lebih jauh, seperti hanya menjadi latar yang bergerak tanpa benar-benar ia dengarkan. Tangannya tetap mencatat, menyalin beberapa poin penting, tetapi setiap beberapa detik pikirannya kembali melayang tanpa izin.

Ia melirik jam di pergelangan tangannya dengan gerakan kecil yang hampir tidak terlihat. Angka yang muncul bukan waktu yang biasa ia tunggu, tetapi tetap terasa penting hari ini dengan cara yang sulit ia jelaskan. Ada jeda di sana, seolah ia berharap sesuatu terjadi meski ia sendiri tidak tahu apa yang ia tunggu.

“Airel.”

Suara Kalista menariknya kembali, membuatnya sedikit tersadar dari pikirannya yang terlalu jauh.

Airel menoleh pelan, mencoba kembali ke situasi di sekitarnya meski tidak sepenuhnya berhasil. Kalista menatapnya dengan ekspresi yang tidak terlalu tajam, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang ia perhatikan sejak tadi. Airel tidak langsung menjawab, ia hanya menatap beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas pelan.

“Kamu dari tadi kelihatan beda,” kata Kalista, nada suaranya lebih pelan dari biasanya. “Kepikiran sesuatu?”

“Iya.”

Jawaban itu keluar singkat, tanpa tambahan penjelasan, namun cukup jujur untuk membuat Kalista tidak langsung mengalihkan pembicaraan.

“Yang kemarin?” lanjutnya, sedikit merendahkan suara seolah tidak ingin didengar orang lain.

Airel tidak langsung menjawab, tetapi diamnya sudah cukup memberi arah. Ia menatap meja sebentar sebelum akhirnya mengangguk kecil, meski gerakannya hampir tidak terlihat. Kalista bersandar sedikit di kursinya, menatap ke depan sambil memikirkan sesuatu.

“Kamu yakin itu dia?”

“Aku enggak tahu.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya ada banyak hal yang tidak bisa ia jelaskan. Airel sendiri tidak yakin apa yang ia lihat, yang ia tahu hanya perasaan yang muncul begitu saja tanpa alasan yang bisa diterima akal. Kalista tidak langsung menanggapi, ia hanya menarik napas pelan lalu kembali fokus ke depan, seolah memilih memberi ruang daripada memaksa jawaban.

Kelas berlanjut dengan ritme yang sama, tetapi waktu terasa bergerak lebih lambat dari biasanya. Airel beberapa kali kehilangan fokus, pikirannya kembali pada potongan yang sama tanpa benar-benar menemukan titik yang jelas. Setiap kali ia mencoba kembali ke pelajaran, bayangan itu muncul lagi, membuatnya harus memulai ulang konsentrasinya dari awal.

Siang berlalu tanpa banyak hal yang benar-benar ia ingat, semuanya terasa seperti bagian dari alur yang ia jalani tanpa benar-benar ia rasakan. Ketika jam menunjukkan waktu pulang, tubuhnya bergerak lebih cepat dari biasanya, seolah sudah tahu ke mana ia harus pergi tanpa perlu dipikirkan lagi.

Langkahnya menuju halte tidak lagi santai seperti hari-hari sebelumnya. Ada dorongan yang membuatnya ingin segera sampai, meski ia tidak tahu apa yang ia harapkan di sana. Nafasnya sedikit lebih cepat, bukan karena lelah, tetapi karena sesuatu yang terus menekan dari dalam.

Saat ia tiba, halte itu masih sama seperti biasanya, bangku di ujung kosong dan jalan di depannya belum terlalu ramai. Airel berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk, mencoba menenangkan dirinya meski pikirannya tidak benar-benar mengikuti.

Tangannya bergerak melihat jam.

17.39.

Ia datang lebih awal, dan kali ini ia benar-benar menyadarinya. Waktu terasa lebih lambat, setiap detik berjalan dengan jelas, membuatnya semakin sadar pada apa yang sedang ia lakukan.

Airel menatap lurus ke depan tanpa banyak bergerak, matanya mengikuti setiap orang yang lewat dengan perhatian yang lebih dari biasanya. Setiap sosok yang muncul di kejauhan membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, meski ia tahu tidak semuanya akan menjadi yang ia cari.

Angin sore berembus pelan, menyentuh rambutnya yang sedikit berantakan, tetapi ia tidak mengalihkan perhatian. Fokusnya hanya satu, jalan yang terbentang di depannya, tempat di mana kemarin sesuatu hampir terjadi.

Waktu terus berjalan, perlahan mendekati titik yang ia kenal.

17.44.

Napasnya sedikit tertahan, tubuhnya menegang tanpa ia sadari. Dan di saat itulah, ia melihatnya lagi.

Sosok itu muncul di seberang jalan dengan langkah yang tenang, tidak terburu-buru, tetapi jelas memiliki arah. Kali ini tidak ada kendaraan yang menghalangi pandangan, tidak ada keramaian yang cukup untuk menyamarkan keberadaannya.

Airel langsung berdiri tanpa sadar, matanya terkunci pada sosok itu seolah takut kehilangan lagi. Jarak di antara mereka perlahan berkurang, setiap langkah pria itu terasa lebih jelas dari sebelumnya.

Ia bisa melihat lebih banyak sekarang, bukan hanya siluet atau bayangan, melainkan bentuk yang nyata. Wajah itu tidak sepenuhnya asing, tetapi juga tidak cukup jelas untuk langsung ia kenali dengan pasti. Namun perasaan yang muncul jauh lebih kuat dari apa pun yang bisa ia lihat.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang bereaksi, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Jantungnya berdetak lebih cepat, napasnya sedikit tertahan, dan pikirannya seperti berhenti sejenak.

Pria itu semakin dekat, cukup dekat untuk membuat semua terasa nyata. Namun ia tidak langsung melihat ke arah Airel, tatapannya tetap lurus ke depan seolah tidak menyadari keberadaan seseorang yang memperhatikannya dengan intens.

Airel ingin melangkah, ingin memastikan sesuatu yang selama ini hanya ia rasakan. Namun tubuhnya tidak bergerak, seolah ada batas yang tidak terlihat menahannya di tempat.

Saat pria itu mengangkat wajahnya sedikit, arah pandangannya hampir bertemu dengan Airel. Hanya selisih kecil, jarak yang seharusnya bisa dilewati dengan satu gerakan sederhana.

Namun momen itu tidak terjadi.

Seseorang melintas di antara mereka, cukup untuk memecah garis pandang yang hampir terhubung. Ketika pandangan terbuka kembali, arah tatapan pria itu sudah berubah, dan langkahnya tidak berhenti.

Ia berjalan melewati halte itu begitu saja.

Tanpa ragu.

Tanpa menoleh.

Airel tetap berdiri di tempatnya, matanya mengikuti punggung pria itu yang perlahan menjauh. Jantungnya masih berdetak keras, pikirannya penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia susun dengan rapi.

Ia melangkah satu langkah ke depan, tetapi berhenti lagi sebelum benar-benar bergerak lebih jauh. Ada dorongan untuk memanggil, untuk mengejar, tetapi sesuatu menahannya.

Ia hanya bisa melihat.

Sampai sosok itu benar-benar menghilang di antara orang-orang yang berlalu.

Ketika tidak ada lagi yang bisa dilihat, sesuatu di dalam dirinya terasa kosong dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar kehilangan, tetapi seperti bagian dari dirinya sendiri yang baru saja lewat tanpa sempat ia raih.

Airel menunduk perlahan, tangannya masih menggenggam tas dengan erat. Napasnya belum sepenuhnya kembali normal, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

Namun di antara semua itu, satu perasaan tetap bertahan.

Ia mengenalnya.

Bukan dari apa yang ia lihat, tetapi dari sesuatu yang lebih dalam dari itu. Sesuatu yang tidak bisa ia ingat dengan jelas, tetapi juga tidak bisa ia abaikan.

Airel mengangkat wajahnya lagi, menatap jalan yang kini kembali seperti biasa. Orang-orang berjalan, kendaraan lewat, dan tidak ada tanda bahwa sesuatu baru saja terjadi.

Namun ia tahu.

Ada sesuatu yang berubah.

Dan kali ini, ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya tetap sama.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!