"Jangan nona,kami takut tuan akan memarahi kami."ucap pria itu yang memohon pada Nonanya untuk tidak pergi.
"Sudahlah, biarkan aku pergi sekarang.Lebih baik kalian diam saja."jawab wanita itu dengan nada marah.
Wanita itu langsung pergi dengan membawa sepeda motor jadulnya menuju lokasi tempat tinggal sementara dirinya.
Dibalik semua itu ternyata dia sedang menutupi identitasnya dan mencoba berbaur dengan orang lain , apalagi dibalik dia melakukan itu ada maksud tertentu tentang misi yang sedang dia lakukan untuk mencari informasi penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 (RRM)
Nina masih saja menjawabnya dengan anggukkan kepala,"Selamat ya, aku kira kamu bohong." ucap Airin yang terlihat begitu bahagia.
"J-jadi kamu sama Andra."
"Iya Lin, akhirnya mereka menjadi pasangan juga." jawab Airin yang terlihat begitu bahagia.
"Memangnya kamu sudah tahu?" tanya Lina pada Airin.
"Sedari awal aku sudah tahu kalau Andra itu diam-diam menyukai teman kita Nina,tapi Nina masih menolaknya.Tapi sekarang berbeda, akhirnya teman kita menerima juga." jawab Airin dengan senyuman.
"Apa sebegitu kamu bahagia, sampai-sampai seperti itu?" tanya Nina yang diam-diam terlihat begitu kesal.
"Aku hanya merasa Andra orang baik tidak aneh-aneh,orang yang cocok denganmu." jawab Airin yang begitu semangat.
"Begitu menurut pemikiran mu." Nina diam-diam masih meragukannya.
"Jalani dulu,kalau kamu sudah yakin jalani terus hubungan kalian." ucap Lina yang langsung memberikan pengertian.
Nina hanya menganggukkan kepala, akhirnya Nina kembali masuk ke kamar miliknya.
Posisi Nina berdiri dibelakang pintu kamarnya sembari bersandar,"Akhirnya mereka tahu juga." ucap lirih Nina yang tak menyangka hubungan mereka sudah diketahui oleh teman-teman dari Nina.
Nina langsung rebahan di tempat tidurnya sembari mengecek ponsel miliknya,"Apa tugas yang aku berikan sudah kalian lakukan?"tanya Nina pada seseorang yang sedang ia hubungi.
"Sudah Nona."jawab Lukas yang diam-diam sudah melakukan beberapa rencana yang sedari awal diperintahkan oleh Nonanya.
"Kamu awasi betul-betul pergerakan mereka terutama Nyonya Bagaskara orang yang pertama targetkan kita. Kalian harus mencari celah apa saja agar kita bisa mendekati wanita itu."perintah Nina kepada Lukas.
"Baik Nona, Saya akan melakukan perintah Anda." jawab kulkas yang sudah siap dengan beberapa rencana yang sudah ia rencanakan untuk pekerjaan hari ini.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Marcel?"tanya Nina kepada Lukas kembali hanya untuk membicarakan dua orang penghianat yang sengaja membunuh keluarganya.
"Masalah itu sudah saya tangani Nona, saya sudah mengerahkan salah satu anak buah kita untuk memata-matai pergerakan Tuan Marcel."Nina pun membalas dengan senyuman sinis.
"Bagus, ternyata kamu lebih cepat untuk mengerjakan hal ini. Tapi ingat, kita harus berhati-hati jangan sampai dari salah satu mereka mencurigai kita atau lagi mereka akan diam-diam balik menyerang kita." pesan penting Nina sampaikan kepada Lukas.
"Baik Nona saya mengerti."jawab Lukas yang langsung mengakhiri panggilan dari Nonanya.
Nina sedikit menghela nafas pelan-pelan, sembari mengingat kejadian yang dulu pernah terjadi pada hidupnya."Mungkin saat ini aku diam untuk melihat mereka, tapi untuk selanjutnya kematian mereka yang harus membayar semua kesakitan dan rasa kehilangan yang aku rasakan selama ini." ucap lirik Nina yang begitu dendamnya kepada kedua orang itu yang mengakibatkan dirinya harus kehilangan Mama dan adiknya.
Pagi hari
Pagi-pagi sekali Nina sudah bangun dan langsung dihadapkan dengan pekerjaan di depan laptop. Hingga satu persatu dokumen yang sudah dikirim oleh Milano sudah ia cek.
"Sepertinya semuanya sudah selesai, saatnya aku siap-siap untuk berangkat." gumam Nina yang saat itu bersiap untuk berangkat bekerja di tempat kerjanya.
Beberapa menit kemudian
Nina sudah rapi dengan baju kerjanya menuju lokasi tempat kerjanya. saat posisi Nina sudah keluar dari area kost, Nina tidak sengaja melihat Andra dan kedua temannya yang juga bersiap keluar di hari itu juga.
Nina sengaja berangkat lebih awal hanya untuk menghindari Andra, dirinya mengakui dirinya sendiri masih malu dengan status hubungan mereka sudah diketahui oleh beberapa teman Nina sendiri.
"Wah, ketinggalan kamu."ucap Yogi yang tidak sengaja melihat Nina sudah keluar dengan menaiki sepeda motor miliknya.
"Pacarmu sudah berangkat."ucap Yogi sembari menuju ke arah sepeda motor Nina yang sudah berangkat.
Andra hanya terdiam melihat Nina sudah lebih dulu keluar dari tempat kostnya.
"Mungkin saja dia buru-buru berangkat karena pekerjaan." jawab Andra yang berpikir positif tentang Nina.
Kembali ke posisi Nina, dia sudah sampai di tempat kerjanya. seperti biasanya, dia menyelesaikan pekerjaan yang biasanya yang dia lakukan bersama-sama teman kerja lainnya.
Selama ia bekerja,ia fokus mengamati situasi di tempat kerjanya,hingga sampai ada seseorang yang datang menghampiri Nina.
"Nina." sapa teman kerjanya.
"Ada apa?" tanya Nina yang langsung menjawab.
"Itu didepan ada pria mencarimu."
"Pria ?" tanya balik Nina yang terlihat bingung.
"Iya pria,badannya kekar dan memakai kacamata hitam.Seram banget." Seketika Nina mulai curiga siapa pria itu.
"Seram bagaimana?"tanya balik Nina.
"Kamu lihat sendiri." Nina langsung datang menghampiri pria itu,benar saja pria itu berbadan kekar dengan setelan jas hitam.
"Nona Angel." Seketika ekspresi Nina berubah setelah namanya dipanggil.
"Siapa kamu?" tanya Nina dengan tatapan dingin.
"Anda ditunggu tuan didalam mobil." Nina melirik kearah depan,yang dimana ada mobil mewah yang berhenti didepan tempat kerjanya.
Nina pun meresponnya dengan senyuman sinis,"Apa lagi yang Papa lakukan." ucap lirih Nina yang tahu betul jika mobil di depan itu mobil milik Papanya,tidak lain tuan Danzel.
"Baiklah aku akan kesana." Nina langsung berjalan menuju arah mobil itu.
Setelah masuk benar apa tebakan dia,orang didalam yang sedang menunggu dirinya ternyata Papanya sendiri.
"Ada apa lagi Papa mencariku?" tanya Nina yang langsung bertanya tanpa basa-basi pada Papanya yang tiba-tiba saja datang mencari dirinya.
Tuan Danzel melirik kearah putrinya,"Ada sesuatu yang ingin Papa tanyakan padamu,Angel." tatapan tuan Danzel terlihat serius bahkan seperti ada sesuatu yang penting yang ingin di sampaikan oleh beliau.
"Apa benar kamu menyuruh seseorang untuk mengawasi tuan Marcel?" pertanyaan itu langsung dibalas dengan anggukkan kepala.
"Itu memang benar,karena dia penyebab dari kematian Mama dan adikku." jawab Nina dengan tegas.
Tuan Danzel terdiam melihat ekspresi emosi dari putrinya,"Memang Papa akui merekalah dalangnya." tuan Danzel menghela nafas pelan-pelan.
Seketika Nina terkejut telah mendengar perkataan dari Papanya,"Jadi selama ini Papa sudah tahu,jika pelaku pembunuhan itu adalah mereka?"tanya Nina yang masih tak percaya jika selama ini Papanya membunyikan semua itu darinya.
"Papa sudah mengetahuinya sadari awal, bahkan Papa sudah melakukan sesuatu di belakang mereka. Apa kamu tidak sadar, apa yang Papa lakukan dengan bisnis mereka."seketika Nina tersadar dan mulai menebak Apa yang sedang direncanakan oleh Papanya.
"Jadi selama ini Papa diam-diam..."seketika pembicaraan Nina langsung dipotong oleh Tuan Danzel.
"Itulah yang Papa lakukan pada mereka, walaupun mereka hampir saja mengetahui rencana Papa ini.Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi, kehancuran akan datang pada mereka." ucap tuan Danzel yang diam-diam melakukan rencana itu.