NovelToon NovelToon
Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Slice of Life / Komedi / Time Travel
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: RS Star

Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Jam demi jam berlalu setelah atmosfer canggung akibat kesalahpahaman Elma perlahan mencair. Entah perasaanku saja atau memang begitu kenyataannya, tetapi dari rentetan obrolan tadi, aku akhirnya mengerti dari mana datangnya ketertarikan Elma terhadap manga, anime, maupun novel bergenre romantis komedi berasal. Memang cukup langka melihat seorang gadis menyukai genre ini, mengingat sering kali diselipkan adegan kurang senonoh di dalamnya yang biasa disebut fans service—konten yang sengaja dimasukkan demi memanjakan mata maupun imajinasi pembaca.

Usut punya usut, pengaruh kakak lak-laki Elma-lah yang ternyata sangat besar dalam membentuk selera Elma. Sejak kecil, Elma sudah familier dengan komik dan novel milik kakaknya yang tersusun rapi di rak buku di dalam kamarnya. Melihat koleksi itu, aku berani bertaruh kalau kakak laki-laki Elma adalah seorang wibu akut, sama sepertiku. Elma baru mulai membeli bukunya sendiri saat menginjak kelas satu SMA (Sekolah Menengah Atas) yang artinya itu baru saja terjadi beberapa bulan, mungkin malah hanya beberapa minggu belakangan. Dan hari bersejarah itu adalah hari di mana aku dan Elma tidak sengaja bertemu di toko buku.

Aku sempat merasa iri dengan kedekatan Elma dan kakaknya. Anggota keluarga dengan hobi yang sama... Sayangnya, aku dan Vanya tidak memiliki hubungan seharmonis itu. Wajar, kan, kalau aku iri? Namun, aku segera menepis pikiran negatif itu. Aku seharusnya sadar dan bersyukur bahwa saat ini, untuk pertama kalinya sepanjang hidup, aku bisa membicarakan hobi yang paling kucintai dengan orang lain.

...Momen berharga ini justru baru terjadi di masa SMA, meskipun aku harus melewati dua kehidupan terlebih dahulu untuk mencapainya...

Di hadapanku saat ini, Elma dengan cerewetnya terus membahas manga yang sempat menjadi alasan kenapa dia memilih untuk berhenti sekolah di kehidupanku yang pertama. Sebersit tanya sempat melintas di benakku, 'Apa mungkin hal seru seperti ini akan tetap terjadi kalau di kehidupan pertama aku juga menyelamatkan Elma?' Namun, perlu diingat kembali, saat itu aku merasa tidak punya alasan ataupun keberanian untuk berbicara dengannya. Jadi, aku hanya mengabaikannya yang duduk terdiam sendirian di dalam kelas, lalu memilih berlari kencang menuju ruang kelas berikutnya...

...Dan sejak detik itulah, aku kehilangan Elma di kehidupanku yang pertama...

"Bagus ya~" Elma tersenyum begitu manis.

Aku hanya bisa mengangguk setuju, padahal sejak tadi fokusku agak terpecah dan tidak terlalu menangkap detail ucapannya. Bukan... bukan karena aku terpesona oleh parasnya, atau karena aku bosan dengan pembahasannya. Aku hanya sedang mencerna rasa bahagia yang membuncah di dalam dadaku. Untuk pertama kalinya di dalam hidupku, aku merasa sebahagia ini hanya karena memiliki seorang teman.

Jujur saja, aku sempat melamun selama beberapa saat sembari memandangi wajah Elma yang tampak begitu lepas dan ceria saat membahas manga kegemaran kami. Aku pun sama bahagianya. Hanya saja, mentalitas sebagai seorang 'serigala penyendiri' selama tiga tahun berturut-turut telah melatihku untuk menekan emosi dengan sangat baik. Alhasil, aku tidak sampai lepas kendali atau menari kegirangan di tempat.

Meski aku tidak selalu menanggapi analisis panjang Elma tentang komik yang dibacanya, aku tahu kalau sesekali dia hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan tanpa perlu timbal balik yang rumit. Jadi, kubiarkan Elma menumpahkan seluruh semangatnya di depanku. Tugas serigala penyendiri sepertiku di sini cukup sederhana: menyetujui, mengangguk, ikut tertawa, dan sesekali melemparkan komentar pendek yang kebetulan melintas di kepala.

Dari obrolan panjang ini pula, misteri kenapa aku dan Maya tidak pernah berpapasan dengan Elma di kafe ini akhirnya terpecahkan—padahal kami rutin ke sini setiap hari Senin sepulang sekolah. Elma menjelaskan kalau hari Senin adalah jadwalnya libur kerja sambilan demi beristirahat atau sekadar berkumpul dengan lingkaran pertemanannya. Semua kerja keras itu dia lakukan demi mencari uang saku tambahan untuk berburu buku baru yang sedang diincarnya. Sungguh gadis yang mandiri dan pekerja keras.

Aku merasa melangkah satu langkah lebih dekat untuk mengenal sosok yang dulu sempat kutakuti ini. Elma, si anak bandel di kelas... ternyata adalah orang yang hangat, lucu, sedikit lemot, dan ya... si blonde yang cantik luar dalam.

Hari ini, Elma sudah benar-benar membuka diri kepadaku. Dia menceritakan banyak hal tentang rahasia kecilnya. Apakah boleh aku menganggapnya sebagai teman pertama dari dua lini kehidupan yang kujalani?

...Rasanya aku tidak berlebihan jika menyimpulkannya begitu, bukan?...

"Oh, sudah jam sembilan lewat," ucapku memotong kalimatnya begitu melihat Elma jeda sejenak untuk minum. Sepertinya tenggorokannya sudah mulai kering setelah bermonolog panjang lebar.

"Eh? Iya, sebaiknya kita pulang. Kafenya juga sudah mau tutup," timpal Elma. Aku mengangguk setuju dan kami pun segera merapikan barang bawaan kami masing – masing.

Begitu melangkah keluar, hamparan langit malam langsung menyambut kami, menggantikan sisa-sisa cahaya matahari dengan pendar lampu jalanan yang temaram. Aku menghela napas, menyadari kalau hari ini aku sudah kelewat batas bermain setelah jam sekolah usai. Aku hanya bisa berharap ayah dan ibu tidak akan menginterogasiku habis-habisan, begitu pula dengan Vanya yang cerewet itu. Seumur hidup, aku belum pernah pulang terlambat seperti ini. Satu lagi hal yang bergeser di kehidupanku yang kedua.

"Hei." Celetukan Elma dari arah belakang menghentikan langkahku ketika kami baru saja menapaki halaman kafe.

Aku berbalik dan mendapati Elma sedang menyodorkan ponselnya ke arahku dengan senyuman yang terkesan kikuk sekaligus malu-malu. Aku sempat mematung, menatap wajahnya dengan dahi berkerut, bingung dengan maksud dari gestur tubuh dan sapaan singkatnya itu.

"Minta nomor WA kamu, dong~" pintanya dengan nada manja yang kentara. Aku terkesiap, lalu menatapnya heran.

"Memangnya apa untungnya kamu berteman denganku di WA?" tanyaku bingung.

Seketika itu juga Elma langsung panik. Kedua tangannya melambai heboh di udara, seolah memohon agar aku tidak berpikiran yang aneh-aneh tentangnya.

"Bu-bukan begitu!! Maksudku... kamu kan suka baca manga, anime, dan novel juga, kan? Aku tidak punya teman lain untuk mengobrolkan semua hal itu... Jadi... aku akan sangat senang kalau Raka mau berbagi nomor telepon. Biar sesekali kita bisa mendiskusikan anime, manga, atau novel keluaran terbaru ke depannya," jawab Elma defensif.

Dia menjeda kalimatnya, lalu melemparkan sepotong tatapan memelas yang sangat sulit untuk ditolak, bahkan oleh seseorang yang hatinya sekeras baja sekalipun.

"Apa boleh?" pinta Elma lagi, kali ini dengan intonasi suara yang terdengar begitu imut.

Pertahanan mental serigala penyendiri ini langsung berada di ujung tanduk. Sulit bagi pria normal untuk tidak salah paham jika dihadapkan pada sikap semanis ini. Aku berpikir... 'Apa Elma menyukaiku?' Ah, tidak, tidak!! Itu tidak mungkin terjadi, kan?!

Namun, Elma sendiri yang bilang kalau dia akan sangat senang jika bisa mengobrol denganku, meski hanya lewat ruang obrolan digital. Walau begitu, aku harus tetap rasional. Aku tidak boleh menjadi pria lemah yang langsung jatuh cinta secara membabi buta hanya karena sebaris kalimat manis dari seorang wanita meski itu keluar dari mulut si cewek cantik seperti Elma. Kukuatkan hatiku agar tidak bertindak bodoh. Secara mental, aku ini sudah setara dengan pria dewasa yang telah mencicipi asam garam kehidupan pasca-SMA dan paham betul bagaimana rasanya getaran yang disebut 'cinta'.

Aku doktrin kembali isi kepalaku: 'Jangan GR (Gede Rasa), Raka! Elma sudah menegaskan kalau dia hanya butuh teman mengobrol untuk membahas hobi karena dia kesepian. Jangan berpikir macam-macam, jangan salah sangka!' Ya, begitulah caraku menjaga harga diri agar tidak terlihat seperti orang aneh yang kegirangan di depan gadis secantik Elma.

"Boleh," jawabku setenang mungkin sembari merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.

"Asyiiik~" seru Elma girang. Apakah dia benar-benar sebahagia itu hanya karena mendapatkan nomor ponselku?

Melihat senyum lebar dan rona merah samar yang terbit di pipi Elma saat nomor WA kami resmi terhubung, benteng pertahananku rasanya mau runtuh lagi. Luapan kebahagiaan di dadaku seperti bom waktu yang siap meledak. Sekali lagi, aku memperingatkan diriku sendiri: 'Jangan lakukan hal memalukan, Raka! Jangan norak cuma karena masalah sepele begini. Kalau kamu salah bertingkah, Elma bisa ilfeel dan malah menjauhimu nanti.'

...Hah~ pada akhirnya aku malah sibuk berdebat dengan isi kepalaku sendiri...

"Kalau begitu, sampai jumpa di sek... olah..." Kalimat Elma mendadak terputus di tengah jalan. Tangannya yang semula melambai ceria perlahan turun, digantikan oleh senyuman yang berangsur-angsur pudar.

...Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan kata?...

Awalnya aku sempat panik, tetapi sedetik kemudian aku teringat bagaimana realitas lingkar pertemanan Elma di sekolah. Mungkin itu yang menahan kalimatnya.

"Rasanya kalau di sekolah agak sulit, ya? Aku kan masih dicap sebagai penguntitmu dan gosip miring itu masih sangat panas dibicarakan di sekolah," timpalku, mencoba mencairkan suasana. Elma tertawa garing sembari mengedarkan pandangannya gelisah.

"Ah, ahaha... Tapi... seharusnya tidak seburuk itu, kan? Iya, kan?" tanya Elma, mencoba meyakinkanku—atau mungkin menenangkan dirinya sendiri yang menganggap kejadian siang tadi tidak berdampak sangat buruk padaku.

"Aku yakin kamu tahu kalau dampaknya buruk sekali. Dari caramu ragu berbicara tadi saja sudah membuktikannya," balasku jujur.

Seketika itu juga, binar di mata Elma meredup, menyisakan raut wajah yang tampak begitu sedih. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, memancarkan penyesalan yang teramat sangat atas insiden siang tadi. Sebenarnya, aku sudah menekankan berkali-kali sejak kami mengobrol di kafe bahwa aku akan baik-baik saja dan tidak terlalu memedulikan rumor tersebut. Namun, melihat reaksinya sekarang... rasa sedih itu tampaknya bukan sekadar penyesalan biasa.

...Mencoba menjadi pria yang peka, aku berharap tebakanku kali ini tidak meleset...

"Hah... kalau ada apa-apa, kamu boleh menghubungiku lewat WA kapan saja," celetukku memecah keheningan yang sempat mencekam, sembari menggoyang-goyangkan ponsel di tanganku. Elma tampak tersentak, dia kembali mendongak dan menatapku dengan mata bulatnya yang terkejut.

"Lalu... lain kali kita bisa datang ke sini lagi untuk mengobrol. Bagaimana?" usulku kemudian, sambil menunjuk ke arah kafe di belakang kami.

Elma masih terdiam dengan ekspresi terperangah. Namun perlahan, sudut bibirnya mulai terangkat membentuk kurva manis, dan binar matanya kembali hidup. Di bawah temaram lampu jalan malam ini, aku bisa melihat dengan jelas rona merah merambat di kedua pipinya.

"I-iya.. kamu benar... Baiklah..." ucapnya terbata, menyembunyikan rasa salah tingkahnya. Elma kemudian menunjuk ke arah jalan di belakangnya sembari sedikit menganggukkan kepala.

"Aku pulang lewat arah sini. Sampai nanti, Raka." Ucapnya.

Dan itulah kalimat penutup dari pertemuan tak terduga kami hari ini. Aku mengangguk pelan, menyadari arah rumah kami memang berlawanan.

"Iya, sampai nanti," jawabku seraya membalikkan badan untuk melangkah pulang.

Namun, begitu langkahku sampai di persimpangan jalan, kilasan memori buruk mendadak menghantam kepalaku—momen mengerikan saat tubuhku dihantam truk demi menyelamatkan Maya. Sensasi rasa sakit akibat benturan keras itu seolah mendadak nyata kembali, mengalir di sekujur tubuh layaknya trauma biologis yang melekat pada setiap persimpangan jalan. Aku sampai bergidik ngeri dibuatnya.

Di tengah lamunan kelam itu, instingku menangkap firasat bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari kejauhan. Aku pun refleks menengok ke belakang.

Di sana, di dekat pagar kafe yang mulai meredupkan lampunya, Elma masih berdiri bergeming sembari menatap punggungku.

...Dalam hati aku membatin, 'Jangan bilang dia terus-menerus melihatiku sejak tadi?'...

Panik dan salah tingkah, aku buru-buru memalingkan wajah kembali ke depan dan mempercepat langkah. Jujur saja, dipandangi dengan ekspresi seintens itu membuat wajahku mendadak terasa panas. Sebenarnya... apa arti dari tatapan Elma tadi.

1
Chizuru
cekatan sama pesimis beda tipis gak sih 🤣🤣🤣🤣🤣
SS Star
tuh kan Raka!!! /Sob//Sob/ hasil dari suicide mission lo buat nyelametin orang malah bikin lo berakhir jadi public enemy dibenci satu sekolah, iih kzl!! /Sob//Sob//Sob/ elma juga napa diem bae, gak sadar apa ya kalau dia baru aja bikin raka dapet villain role sewilayah sekolah? gw sekarang literally jadi paham banget gimana perasaan maya, instinct buat nampol raka tuh emang sekuat itu rasanya /Sob//Sob//Brokenheart/
SS Star
iih lowkey kzl bet sama raka!!! /Sob//Sob/ kek gak ada cara buat save elma yang lebih gentle apa ya? /Sob//Sob/ meskipun gw kagum sih dia masih care dan mau bantu elma biar kejadian drop out itu gak keulang, tapi ya mikir dikit kek. minimal cari cara yang lebih cool dan berestetika gito loh/Sob//Sob/ rakaaa!!!
Cece
tragis bgt 🤣.. udahlah reinkarnasi Krn Maya...masih di bully habis2an SMA mayaaa....🤣🤣
You Know me So well
sadizz coeg 🤣🤣
i'm your
ampun dah, kesian bet sama raka/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Fatieh
tutup MBG, biarkan Maya dan Elma yang memasak 🔥🔥🔥
Raudhatul
elma gak enakan orangnya🤣🤣🤣
Chizuru
mayaa badash🤭🤭🤣
BiNtAnG kEjOrA
lanjutkan Maya...jangan berhenti😄😄😄😄
H5 (halima) :v
Maya sadiiiissss 🤣🤣🤣
i'm your
wkwkwk kesian amat
You Know me So well
ya ya ya bangga aja udah gpp 🗿🗿
Silvia: ayo Qt beri tepukan...😄
total 2 replies
SS Star
sari apaan sih, fix kesel banget sama nih orang /Panic//Panic//Panic/ keliatan banget kalah saing sama elma sampai harus playing dirty buat jatuhin dia /Panic//Panic/ tapi jujurly gw penasaran banget sih sama next move yang bakal raka lakuin buat mutar roda kenangan dia, lagian maya udah meremehkan raka banget ya, tapi aku kalau jadi maya sama aja sih responnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ which is emang bener sih raka tuh keliatan useless banget dan gak guna sama sekali jadi manusia /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
SS Star
udah baca sejauh ini dan gw dapet konklusi: Raka emang takdirnya buat ditampol massal /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ Elma, Maya, sekarang Sari, semuanya punya insting yang sama buat ngeplak si raka/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tapi jujurly alurnya makin seru pas masuk ke misteri hilangnya memory kehidupan pertama dia, fix ini sih topik yang bakal seru banget buat diexplore ke depannya, semngat Thorku /Determined//Determined//Determined/
SS Star
eh ko tumben ch ini agak deep, tapi seru sih jadinya gak bercanda mulu /Facepalm//Facepalm/ agak mempertanyakan kok raka bisa lupa sama Elma padahal teman sekelas, padahal diawal dia kyk dapet flashback sama kehidupan pertamanya gitu kan /Shy//Shy//Shy//Shy/ tapi ttp ya, point minusnya itu elma gak nampol raka ditempat /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ padahal aku menantikan itu loo thor, sepanjang ch ini raka pure bikin emosi jiwa /Facepalm//Facepalm/
pie gemilang
jangan berharap banyak Raka...sepertinya kamu akan mendengar kalimat itu setiap saat!🤣💪
Kerak Telor
🤣🤣🤣terjebak situasi apa lagi Raka ini?😄😄
Cece: kaga ada yg bener cara Raka ketemu cewek 🤣
total 1 replies
Kenzie
elma suka raka?? hmm.. maya terus gimana thor??
4rafah: Maya SMA Elma berantemin aja.🤣🤣🤣
total 2 replies
pie gemilang
go ahead maya🤣🤣🤣💪💪💪...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!