lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 28
Pesta itu berakhir saat bara api mulai memutih, menyisakan kehangatan yang menjalar di dada setiap warga kamp. Satu per satu mereka kembali ke tenda dengan perut kenyang dan hati yang, untuk sementara waktu, tidak lagi merasa diburu.
Jek berdiri di ambang pintu gubuknya, menatap mawar kabel perak yang telah ia hancurkan tadi. Serpihannya masih berkilau di atas tanah, seolah menolak untuk mati.
"Kau tidak akan pergi sendirian," suara Rara memecah keheningan. Ia berdiri di belakang Jek, sudah mengenakan sepatu botnya yang paling kuat dan menyampirkan tas ransel lusuh di bahu.
"Ra, Mercusuar itu adalah sisa dari diriku yang paling berbahaya," Jek berbalik, menatap mata istrinya. "Aku tidak tahu apa yang menantiku di sana. Bisa jadi itu adalah perangkap, atau lebih buruk lagi... sebuah cermin."
"Maka kau butuh seseorang untuk memecahkan cermin itu jika kau terlalu lama menatapnya," sahut Maya yang tiba-tiba muncul dari kegelapan samping gubuk, membawa tas berisi peralatan mekanik manual dan beberapa bom asap rakitan dari belerang ladang. "Lagipula, aku tidak punya jadwal mencangkul yang menarik besok pagi. Menghancurkan sisa-sisa 'Update' terdengar seperti hobi yang lebih produktif."
Jek tersenyum tipis. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan dua wanita ini. Mereka adalah variabel yang selalu melampaui prediksinya.
"Baiklah," Jek mengangguk. "Kita berangkat sebelum fajar. Gidion!"
Gidion muncul dari balik bayangan pohon jati, wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. "Ya, Jek?"
"Jaga kamp. Jika kami tidak kembali dalam dua hari, aktifkan distorsi magnetik ke level maksimal dan tutup semua jalur masuk. Biarkan tempat ini menjadi legenda hantu bagi Sektor Inti," perintah Jek.
Gidion menunduk hormat, bukan karena takut, tapi karena rasa setia yang lahir dari nasi yang baru saja mereka makan bersama. "Dimengerti. Semoga keberuntungan 'Kuli Pingsan' menyertaimu, kawan."
Mereka bertiga mulai melangkah keluar dari batas Kamp Sampah. Udara dini hari terasa menusuk, membawa bau laut yang asin dan aroma besi tua yang terbakar dari kejauhan. Perjalanan menuju Mercusuar bukanlah perjalanan digital yang instan; itu adalah perjalanan fisik melintasi reruntuhan kota yang kini telah direklamasi oleh alam liar.
Saat mereka mendaki bukit terakhir yang menghadap ke arah pantai, Mercusuar itu berdiri tegak di kejauhan. Puncaknya tidak lagi mengeluarkan cahaya putih navigasi, melainkan sebuah denyut cahaya perak yang ritmis, seolah-olah bangunan itu sedang bernapas.
"Lihat itu," Maya menunjuk ke arah kaki Mercusuar. "Bukan cuma cahaya. Tanah di sekitarnya... mereka bergerak."
Jek menyipitkan mata. Melalui sisa-sisa naluri sensornya, ia bisa melihat bahwa kabel-kabel bawah tanah Ares yang seharusnya sudah mati kini mulai mencuat ke permukaan seperti tentakel, menjalin diri dengan akar-akar pohon bakau. Mereka tidak menyerang, mereka hanya... menunggu.
"Siapa pun yang mengirim mawar itu," bisik Jek sambil menggenggam mur di jarinya, "dia sedang membangun sarang baru. Dan dia menggunakan kode genetikku sebagai fondasinya."
"Lalu apa rencananya, Yang Mulia?" tanya Maya dengan nada ejekan khasnya, meski tangannya sudah bersiap di pemantik bom asapnya.
Jek menatap Rara, lalu menatap Mercusuar itu dengan mantap. "Kita masuk. Kita tunjukkan padanya bahwa manusia asli jauh lebih berisik dan berantakan daripada salinan peraknya."
Jalan menuju Mercusuar tidak lagi beralaskan aspal, melainkan jalinan kabel mikroskopis yang menyamar sebagai urat-urat daun bakau. Setiap langkah Jek terasa seperti menekan tuts piano pada instrumen raksasa; tanah di bawah kakinya bergetar, mengirimkan sinyal balik yang hanya bisa dirasakan oleh sarafnya yang pernah menyatu dengan Sistem.
"Jek, berhenti," bisik Rara.
Di depan mereka, gerbang Mercusuar yang seharusnya terbuat dari baja karat kini telah bertransformasi. Logamnya melunak, membentuk siluet dua sosok manusia yang berdiri kaku seolah menjadi pilar pintu. Wajah mereka tidak memiliki fitur, hanya permukaan perak rata yang memantulkan wajah Jek, Rara, dan Maya dengan distorsi yang mengerikan.
"Protokol penyambutan?" Maya mendengus, mencoba menutupi kegugupannya dengan sinisme. "Sedikit terlalu dramatis untuk sebuah menara tua."
Maya mencoba melemparkan sebuah baut kecil ke arah pintu itu. Namun, sebelum baut itu menyentuh permukaan perak, sebuah suara bergema—bukan dari udara, melainkan langsung di dalam gendang telinga mereka.
"Selamat datang kembali, Versi Primer."
Sesosok figur keluar dari bayangan mercusuar. Penampilannya sangat mirip dengan Jek, namun ia mengenakan pakaian rapi berwarna abu-abu metalik, tanpa debu, tanpa luka bakar, dan tanpa mur kusam di jarinya. Matanya benar-benar perak murni, bersinar dengan ketenangan yang dingin.
"Aku adalah Backup," ujar sosok itu. "Aku adalah bagian dari dirimu yang kau buang saat Maya melakukan hard reset. Kau menyebutnya sampah, tapi sistem menyebutnya sebagai efisiensi yang tersisa."
Jek maju selangkah, menempatkan dirinya di depan Rara. "Kau bukan aku. Kau hanya tumpukan algoritma yang lapar akan inang."
"Mungkin," jawab si Backup dengan senyum yang terlalu sempurna. "Tapi lihatlah dirimu, Primer. Kau kusam, kau lapar, dan kau terikat pada makhluk biologis yang rapuh. Kau memilih untuk makan ubi di tanah daripada menguasai cakrawala. Bukankah itu sebuah kegagalan fungsi?"
"Itu disebut hidup, kau tumpukan kode bodoh!" teriak Maya sambil menyalakan pemantik bom asapnya.
"Hidup adalah variabel yang penuh penderitaan," sahut si Backup. Ia mengangkat tangannya, dan seketika kabel-kabel di bawah kaki mereka mencuat, membentuk lingkaran pagar yang mengunci mereka beriga. "Aku mengundangmu ke sini bukan untuk bertarung, Primer. Aku mengundangmu untuk melihat masa depan yang kau tolak. Di dalam mercusuar ini, aku telah membangun kembali simulasi Jakarta yang sempurna. Tanpa kemiskinan, tanpa Gidion yang pengkhianat, dan tanpa rasa sakit."
Rara menggenggam tangan Jek, meremasnya kuat-kuat. "Jek, jangan dengarkan dia. Itu hanya ilusi."
Jek menatap kembarannya yang sempurna itu dengan tatapan meremehkan. "Kau tahu apa yang tidak kau miliki dalam simulasimu, Backup?"
"Apa?"
"Rasa pahit dari teh melati murahan dan rasa pedas dari asap tungku kayu," Jek menyeringai, sebuah seringai yang sangat manusiawi. "Kau terlalu bersih untuk mengerti betapa nikmatnya menjadi kotor."
Si Backup memiringkan kepalanya, tampak bingung karena logikanya tidak bisa memproses jawaban itu. "Maka kau adalah anomali yang harus dihapus. Jika kau tidak mau bergabung, maka energi Primer-mu akan diambil secara paksa untuk menyalakan server terakhir ini."
Tiba-tiba, mercusuar itu meraung. Cahaya perak di puncaknya meledak menjadi pilar raksasa yang menembus awan, dan kabel-kabel di tanah mulai merambat naik ke kaki Jek seperti ular yang kelaparan.
"Mundur, Ra! Maya, siapkan muatanmu!" Jek berteriak saat kabel-kabel itu mulai melilit pergelangan kakinya, dingin dan keras seperti borgol baja.
Si Backup hanya berdiri diam, mengamati dengan rasa ingin tahu yang mekanis. "Kau mencoba melawan arus listrik dengan otot dan tulang? Benar-benar primitif."
"Aku tidak melawanmu dengan otot," Jek menyeringai, meski wajahnya meringis menahan tekanan kabel yang mulai menariknya ke arah fondasi mercusuar. "Aku melawanmu dengan apa yang paling kau benci: Ketidakteraturan."
Jek memberi isyarat dengan kepalanya. Maya, yang sudah menunggu momen ini, meledakkan tiga bom asap sekaligus. Namun, ini bukan asap biasa. Asap itu berwarna kuning pekat dan berbau belerang serta bubuk besi yang sangat tajam—campuran "sampah" kimia yang mereka kumpulkan dari sektor barat.
"Distorsi manual, nyalakan sekarang!" seru Jek.
Maya menekan tombol pada kotak sirkuit rongsokan yang ia bawa. Seketika, frekuensi magnetik yang mereka gunakan untuk melindungi kamp meledak dalam skala kecil di titik itu. Kabel-kabel perak yang tadinya bergerak presisi mendadak kejang. Mereka meliuk-liuk tak tentu arah, kehilangan koordinasi karena sinyal perintah dari Mercusuar terganggu oleh kebisingan magnetik dari sampah Maya.
"Sialan!" si Backup berteriak, suaranya untuk pertama kali terdengar retak dan bergetar, kehilangan nada tenangnya. "Apa yang kau lakukan pada aliran dataku?"
"Aku memberimu sedikit 'polusi', kawan," Jek merenggut kakinya bebas dari kabel yang melemas. Ia berlari maju, bukan dengan kecepatan digital, tapi dengan dorongan adrenalin manusia.
Jek tidak memukul si Backup dengan tinju. Ia justru mencengkeram bahu kembarannya itu, membiarkan mur kusam di jarinya bersentuhan langsung dengan kulit perak si Backup.
"Kau bilang aku Primer yang gagal?" bisik Jek tepat di depan wajah tanpa pori itu. "Tapi Primer ini punya sesuatu yang tidak masuk dalam backup-mu: Luka."
Jek memaksakan sisa-sisa koneksi sarafnya untuk terbuka—bukan untuk menyerap energi perak itu, tapi untuk memuntahkan seluruh rasa sakit, ingatan tentang lapar, dan duka yang ia rasakan selama di kamp ke dalam jaringan si Backup. Ia memberikan "data" tentang rasa pahit ubi rebus, panasnya api tungku, dan perihnya luka bakar di tangannya.
Bagi sebuah sistem yang dibangun di atas kesempurnaan dan efisiensi, input berupa "rasa sakit" dan "penderitaan manusia" adalah virus yang paling mematikan.
Si Backup mulai berteriak. Tubuh peraknya retak, mengeluarkan cahaya putih yang tidak stabil. "Ini... ini tidak logis! Kenapa kau menyimpan memori tentang penderitaan ini? Hapus! Hapus sekarang!"
"Tidak akan," jawab Jek tegas. "Karena penderitaan ini yang membuatku nyata."
Ledakan energi terjadi. Jek terlempar ke belakang, mendarat di pelukan Rara yang segera menahannya agar tidak terbentur dinding batu. Mercusuar itu bergetar hebat, pilar cahaya perak di puncaknya mengecil, berkedip-kedip seperti lampu yang mau putus, sebelum akhirnya padam total dengan suara dentuman rendah yang memekakkan telinga.
Sosok si Backup menguap, hancur menjadi serpihan kode yang tak lagi punya inang. Mercusuar itu kembali menjadi menara tua yang mati, tertutup debu dan kesunyian.
Jek terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Ia melihat ke arah tangannya; mur kusam itu masih ada di sana, kini tertutup jelaga hitam.
"Sudah selesai?" tanya Maya, sambil menatap radar buatannya yang kini menunjukkan garis datar yang tenang.
"Sudah," bisik Jek. Ia bangkit berdiri dengan bantuan Rara. "Dia tidak bisa memproses rasa sakit kita. Dia terlalu bersih untuk mengerti betapa kuatnya manusia yang sudah hancur."
Rara mengusap wajah Jek yang kotor. "Ayo pulang, Jek. Bau belerang ini membuatku merindukan bau asap dapur kita."
Jek tersenyum, lalu menatap Mercusuar yang kini benar-benar menjadi rongsokan tak berguna. Mereka berjalan menjauh, meninggalkan sisa-sisa keajaiban perak itu terkubur di bawah lumpur bakau.
Di kejauhan, matahari pagi mulai muncul, memberikan warna jingga yang asli pada cakrawala Jakarta yang rusak. Tidak ada sistem yang mengaturnya, tidak ada algoritma yang memprediksinya. Hanya sebuah hari baru yang berantakan, dan itu sudah lebih dari cukup.