Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Investasi Pertama
Pasar Distrik Barat Kota Ironforge adalah labirin kekacauan yang terorganisir.
Bagi mata orang awam, ini hanyalah kerumunan manusia yang bising. Tapi bagi mata tajam Yang Chen, ini adalah aliran data. Dia berdiri di pinggir jalan, membiarkan arus manusia mengalir di sekitarnya seperti air sungai yang membelah batu.
Hidungnya berkedut. Aroma adalah informasi.
Dari arah kiri, tercium bau manis gula bakar dan tepung goreng—kue-kue manis murahan. Sampah, batin Yang Chen. Gula hanya memberikan lonjakan energi sesaat lalu membuat tubuh crash. Tubuh Zhao Wei yang rusak ini tidak butuh gula; dia butuh blok bangunan dasar: protein, lemak, dan kolagen.
Dari arah kanan, tercium bau amis ikan sungai yang mulai busuk. Risiko keracunan tinggi. Sistem pencernaannya yang lemah belum siap untuk menantang bakteri.
Dia butuh sesuatu yang dimasak lama, panas, dan kaya nutrisi.
Tangannya meraba dada, merasakan berat kantong emas yang baru didapatnya. Sepuluh keping emas. Itu adalah modal besar. Tapi dia tidak bodoh. Jika dia mengeluarkan keping emas di pasar kumuh ini dengan penampilannya yang seperti pengemis, dia akan memancing perampok dalam lima menit.
Dia meraba saku sebelahnya. Satu keping perak dan lima keping tembaga—harta warisan dari mayat Kasim Liu.
"Perak ini yang harus kuhabiskan dulu," putusnya.
Mata Yang Chen memindai deretan kedai makanan di seberang jalan. Tatapannya melewati sebuah restoran mewah bertingkat dua dengan lampion merah. Terlalu mencolok. Dia tidak akan diizinkan masuk.
Tatapannya jatuh pada sebuah kedai terbuka di sudut jalan yang gelap, tertutup terpal kanvas yang sudah menghitam karena asap. Di depan kedai itu, sebuah kuali besi raksasa sedang mendidih di atas tungku api kayu yang besar. Uap putih tebal mengepul dari kuali itu, membawa aroma yang sangat spesifik.
Bau sumsum tulang sapi yang direbus selama lebih dari dua belas jam. Bau rempah pekak dan jahe tua.
"Itu dia," gumam Yang Chen.
Dia melangkah menyeberangi jalan. Kakinya yang pincang membuatnya berjalan lambat, dan dia beberapa kali disenggol oleh kuli panggul yang lewat.
"Minggir, Gembel!" bentak seorang kuli yang memikul karung beras.
Yang Chen tidak marah. Dia menyingkir sedikit, menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh. Ego Kaisar-nya masih ada, tapi pragmatismenya lebih kuat. Saat kau jadi naga, kau mengaum. Saat kau jadi cacing, kau menggali.
Dia sampai di depan kedai itu. Nama kedainya tertulis kasar di papan kayu gantung: "Kedai Tulang Besi".
Isinya penuh dengan para pekerja kasar, pandai besi, dan tentara bayaran kelas rendah. Mereka makan dengan suara berisik, menghantamkan gelas arak ke meja, dan tertawa dengan mulut penuh. Lantainya kotor oleh tulang-tulang yang dibuang sembarangan.
Yang Chen melangkah masuk.
Aura di dalam kedai itu panas dan lembap. Suara bising itu memekakkan telinga.
Seorang pelayan pria bertubuh pendek dengan handuk kotor di bahunya melihat Yang Chen. Wajah pelayan itu langsung berubah masam. Dia berjalan cepat menghadang Yang Chen.
"Woi, woi! Berhenti di situ!" Pelayan itu mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat. "Kami tidak punya sisa makanan hari ini. Pergi ke tong sampah di belakang kalau mau cari makan. Jangan ganggu pelanggan!"
Yang Chen berhenti. Dia menatap pelayan itu dengan matanya yang cekung namun tajam.
Dia tidak bicara. Perlahan, dia menyelipkan tangannya ke balik jubah kotornya.
Pelayan itu waspada, mengira bocah gembel ini mau mengeluarkan senjata tajam.
Tapi yang keluar adalah sekeping koin perak yang kusam.
Yang Chen menjepit koin itu di antara jari telunjuk dan tengahnya yang kurus. Dia mengangkatnya sedikit, membiarkan cahaya api tungku memantul di permukaan logam itu.
Mata pelayan itu membelalak. Satu keping perak. Bagi kedai kelas bawah seperti ini, itu setara dengan harga lima mangkuk sup daging paling mahal.
"Aku bukan pengemis," suara Yang Chen serak, nyaris tenggelam oleh kebisingan kedai. "Aku pelanggan."
Sikap pelayan itu berubah instan. Dari jijik menjadi tamak.
"Ah... Tuan Muda!" Dia menyeringai lebar, memamerkan gigi ompongnya. "Maafkan mata saya yang rabun. Silakan, silakan duduk. Ada meja kosong di pojok sana."
Dia menunjuk sebuah meja kecil yang reyot di sudut ruangan yang paling gelap dan berdebu. Tempat yang cocok untuk seseorang yang ingin menyembunyikan diri.
Yang Chen berjalan ke sana dan duduk. Kursi kayunya bergoyang, salah satu kakinya pendek.
"Mau pesan apa, Tuan?" tanya pelayan itu, matanya masih terpaku pada koin perak di jari Yang Chen.
"Satu mangkuk besar Sup Sumsum Sapi. Minta yang banyak lemaknya. Dan tiga piring nasi putih," pesan Yang Chen. "Dan segelas air hangat bersih."
"Siap! Itu totalnya 40 keping tembaga. Masih ada kembalian 60 tembaga dari keping perak ini."
"Simpan 10 tembaga untukmu. Bawakan kembalian 50 tembaga," kata Yang Chen.
"Baik! Baik sekali Tuan!" Pelayan itu menyambar koin perak itu dan berlari ke dapur.
Yang Chen menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin. Dia menutup mata sejenak, mengatur napas.
Sepuluh menit kemudian, makanan datang.
Sebuah mangkuk tanah liat besar diletakkan di depannya. Isinya cairan kuah kental berwarna cokelat pekat. Potongan-potongan daging sapi yang masih menempel pada tulang terlihat menyembul keluar. Minyak lemak menggenang di permukaannya, berkilauan. Uap panasnya membelai wajah Yang Chen.
Air liurnya membanjiri mulutnya seketika. Perutnya meraung, sebuah protes yang menyakitkan.
Tapi Yang Chen tidak langsung menyendoknya seperti orang kelaparan.
Dia mengambil sendok kayu. Dia meniup kuah itu pelan.
Sruput.
Dia menyesap satu sendok kecil kuah kaldu itu.
Cairan panas, asin, dan gurih itu masuk ke mulutnya. Lidahnya merasakan ledakan rasa—umami dari tulang sapi yang direbus lama.
Dia menahannya di mulut selama lima detik, membiarkan suhu kuah itu turun sedikit agar tidak mengejutkan lambungnya, sekaligus membiarkan enzim di air liurnya mulai bekerja.
Baru kemudian dia menelannya.
Hangat.
Sensasi hangat itu menelusuri kerongkongannya, turun ke dada, dan akhirnya mendarat di perutnya yang kosong.
Blarr.
Rasanya seperti ada matahari kecil yang menyala di dalam perutnya. Asam lambungnya menyambut makanan itu dengan sukacita.
"Bagus," batinnya. "Terima."