NovelToon NovelToon
Suami Penjudi, Istri Terbeli

Suami Penjudi, Istri Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Effendik89

Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.



Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.

Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".

Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelamat Dari Semak-Semak

Suara gemericik air sungai yang tadinya terdengar merdu kini berubah menjadi latar belakang yang horor bagi Larasati. Jantungnya berdegup begitu kencang. Seolah-olah hendak melompat keluar dari dadanya.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan sisa tenaga yang hampir habis. Laras meraba-raba kain kembengnya yang sempat ditarik paksa oleh Permadi. Ia menariknya kuat-kuat.

Melilitkan kain itu ke tubuhnya dengan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah Permadi yang tergeletak pingsan di atas pasir basah.

Namun, ancaman belum berakhir. Dua anak buah Permadi yang bertubuh raksasa tidak lantas lari ketakutan. Setelah keterkejutan sesaat, karena melihat bos mereka tumbang oleh hantaman kayu. Amarah justru menguasai wajah mereka yang garang.

"Siapa di sana?! Keluar kau pengecut! Jangan main sembunyi!" teriak si preman berpipi parut sembari mengacungkan belatinya ke arah rimbunnya pohon kopi di tebing sungai.

Ia melangkah mendekati Laras kembali. Niatnya kini bukan hanya nafsu, tapi juga pelampiasan dendam, "Gara-gara kau, Bos kami terluka! Akan kubuat kau membayar lebih mahal!"

Laras menjerit kecil, menyeret tubuhnya mundur di atas bebatuan licin hingga telapak tangannya lecet, "Tolong! Jangan mendekat!"

Wuuusss—TAK!

Bukan lagi batang kayu yang melayang. Melainkan sebuah benda kecil yang melesat dengan kecepatan peluru. Sebuah batu sungai sebesar kelereng menghantam tepat di dahi si preman berpipi parut. Suara benturannya terdengar keras, disusul oleh teriakan kesakitan yang membelah keheningan hutan.

"Aakhhh! Kepalaku!" Preman itu terjerembap.

Tangannya menutupi dahinya yang seketika mengucurkan darah segar. Batu itu rupanya dilontarkan dengan kekuatan luar biasa dari sebuah katapel.

"Pergi dari sini! Bawa bos kalian atau batu berikutnya akan menghancurkan mata kalian!" sebuah suara bariton, berat dan penuh otoritas, bergema dari arah semak-semak.

Suara itu tidak terdengar seperti suara warga desa Sukamulya yang lembut. Ada nada dingin dan mengancam di sana.

Laras membeku, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak melihat siapa pun. Di desa Sukamulya, ada mitos tentang Singorejo, roh penjaga sungai yang konon sering menghukum orang-orang jahat.

Pikiran naif Laras seketika dipenuhi rasa takut yang baru. Apakah itu hantu? Apakah aku sedang diselamatkan oleh penunggu sungai ini? pikirnya sembari menggigil ketakutan.

Dua anak buah Permadi yang tersisa saling pandang. Mereka melihat bos mereka yang pingsan berdarah, dan teman mereka yang mengerang kesakitan dengan dahi robek. Ketakutan akan musuh yang tak terlihat jauh lebih mengerikan daripada menghadapi polisi sekalipun.

"Ayo pergi! Tempat ini terkutuk!" seru salah satu dari mereka.

Dengan terburu-buru, mereka memapah tubuh gempal Permadi yang tak sadarkan diri. Menyeretnya melewati semak belukar menuju jalan setapak tempat mobil mereka diparkir. Suara langkah kaki mereka yang panik perlahan menjauh. Menyisakan keheningan yang menyesakkan di tepi sungai.

Laras masih terduduk di atas pasir, memeluk lututnya sendiri. Isak tangisnya pecah menjadi raungan kecil yang memilukan. Ia merasa kotor, ia merasa terhina dan yang paling parah. Ia merasa sendirian di tempat yang seharusnya menjadi rumahnya.

Srekk... srekk...

Suara langkah kaki mendekat dari arah semak-semak di belakangnya. Laras tersentak, ia mencoba berdiri namun kakinya masih terasa seperti jelly, lemas akibat ketakutan, "Jangan, jangan ganggu saya, Mbah, Saya orang baik," rintihnya, mengira sang penunggu sungai sedang mendekat untuk menagih tumbal.

Namun, yang muncul bukanlah sosok gaib yang mengerikan. Dari balik dedaunan jati yang lebar, muncul seorang pemuda. Penampilannya sangat kontras dengan lingkungan hutan itu.

Ia mengenakan kemeja katun berwarna biru langit yang rapi dan celana kain gelap. Di pundaknya, tersampir sebuah tas ransel besar. Menandakan ia adalah seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh atau hendak bepergian.

Wajahnya tampan dengan garis wajah yang tegas. Namun memiliki sorot mata yang teduh. Ia tidak terlihat seperti penduduk desa. Namun juga tidak memiliki aura jahat seperti orang-orang kota yang tadi menyerang Laras.

"Tenang, Kak. Mereka sudah pergi jauh. Kakak sudah aman sekarang," ucap pemuda itu dengan suara yang tenang.

Berusaha tidak mengejutkan Laras. Ia tetap menjaga jarak sekitar dua meter. Sebuah bentuk kesantunan agar Laras tidak merasa terancam kembali.

Laras mendongak, matanya yang basah menatap pemuda itu dengan bingung, "Kamu... kamu siapa? Apa kamu yang tadi melempar batu?"

Pemuda itu tidak menjawab secara langsung. Ia hanya memasukkan sebuah gagang kayu kecil, sebuah katapel ke dalam saku celananya dengan gerakan cepat. Ia menatap luka di kaki Laras dengan tatapan prihatin.

"Maaf saya hanya bisa membantu dari jauh tadi. Saya tidak ingin mencari keributan. Tapi mereka sudah keterlaluan," ucapnya pelan.

Ia melirik arloji di pergelangan tangannya dengan raut wajah yang sedikit terburu-buru, "Kakak bisa jalan sendiri ke desa? Jaraknya sudah dekat dari sini."

Laras mengangguk pelan sembari mencoba berdiri. Ia membetulkan kain batiknya sekali lagi, memastikan dirinya tertutup rapat, "Terima kasih... terima kasih banyak. Siapa namamu? Biar orang tua saya bisa membalas kebaikanmu."

Pemuda itu menggeleng pelan sembari tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang entah mengapa membuat hati Laras yang sedang kalut menjadi sedikit lebih tenang.

"Tidak perlu, Kak. Anggap saja ini kebetulan. Saya harus segera pergi, bus menuju kota akan berangkat sebentar lagi dari jalan raya di atas sana."

"Tapi..."

"Hati-hati, Kak. Jangan pernah kembali ke sungai sendirian lagi. Dunia sekarang sedang tidak baik-baik saja," pesannya dengan nada yang dalam.

Tanpa menunggu balasan Laras. Pemuda itu berbalik arah dan berlari kecil menanjak ke arah bukit kopi. Menghilang di balik kabut tipis yang mulai turun.

Laras terpaku sejenak. Ia merasa seperti baru saja bermimpi. Dalam satu jam, ia mengalami horor yang hampir merenggut kehormatannya dan kemudian diselamatkan oleh seorang asing yang datang dan pergi seperti angin. Ia bahkan tidak sempat menanyakan nama pemuda gagah itu.

Dengan langkah gontai dan hati yang masih bergetar. Laras memungut kain jarit milik ibunya yang sempat terjatuh. Ia berjalan pulang menuju desa.

Setiap langkahnya terasa berat. Di kepalanya, bayangan wajah jahat Permadi dan wajah tenang pemuda misterius itu terus berputar-putar. Ia tidak tahu bahwa pemuda yang menyelamatkannya itu adalah cahaya yang suatu saat nanti akan ia temui kembali di tengah kegelapan pabrik yang menyesakkan. Jauh setelah semua penderitaannya dimulai.

Namun untuk saat ini, Laras hanya ingin sampai ke rumah. Memeluk ibunya dan melupakan bahwa hari ini pernah terjadi. Ia tidak sadar bahwa benih bencana telah ditanam dan Juragan Permadi bukanlah tipe orang yang akan membiarkan luka di kepalanya sembuh tanpa membalas dendam pada siapa pun yang berada di dekat Bagas termasuk Larasati.

1
Surti
ini baru seru👍
Bagus Effendik: terima kasih ya kak
total 1 replies
Surti
yang ini lebih menegangkan
Bagus Effendik: wkwkwkkwk seru dong kak🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
asyik sih jadi betah baca💪👍
Bagus Effendik: hehe harus dong🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
ngeri juga bab yang ini👍🤣
Bagus Effendik: hehe 🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
dasar permuda tua-tua mupeng🙏 wkwkkwk👍 mantap
Bagus Effendik: hehe ia tuh Permadi
total 1 replies
Anik Makfuroh
mantap nih penuh ketegangan dan air mata
Anik Makfuroh
siap baru lagi kayaknya seru nih penuh ketegangan👍
Bagus Effendik: benar kak👍
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
sangat suka 👍👍👍
Bagus Effendik: terima kasih ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
wow 👍 menegangkan😄🤭
Bagus Effendik: hehe awas baper
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
mantap nih baru
Bagus Effendik: asyiap🤭
total 1 replies
Larasz Ati
walah thor mantap bacaan khusus sebelum bobok ini🤭
Bagus Effendik: hehehe jangan baper tapi kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
menang banyak dong si bagas nih
Bagus Effendik: beneran menang banyak
total 1 replies
Larasz Ati
up terus thor👍👍👍
Bagus Effendik: siap kak
total 1 replies
Larasz Ati
keren si Rizki ini👍
Bagus Effendik: bener cowok sejati👍😄
total 1 replies
Larasz Ati
jadi bingung mau baca yang mana dulu dari novel-novelmu keren-keren sih👍 mantap
Bagus Effendik: baca satu satu kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
luh kok merinding bacanya kasihan laras lah namanya sama aku thor kamu terinspirasi aku ya hayo ngaku😄😄😄😄 👍
Bagus Effendik: awas baper kak hehe🤭
total 1 replies
Larasz Ati
kayaknya lebih seru lagi yang ini
Bagus Effendik: siap kak makasih
total 2 replies
Larasz Ati
wanjay baru lagi nih gerak cepat ya thor🤭
Bagus Effendik: hehe ia kak mumpung ada ide
total 1 replies
Setyo Nugroho
yah jadinya laras sama bagas dong
Bagus Effendik: hehehe kayaknya sih begitu🤭
total 1 replies
Setyo Nugroho
semakin merinding 🤭😄👍
Bagus Effendik: pegangan kak biar nggak jatuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!