Tamara, seorang gadis muda berusia 19 tahun rela menjadi pelayan demi membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
Namun saat sedang menjalankan misi, hal yang tak terduga terjadi. Tamara terlibat cinta segitiga dengan suami majikannya.
Akankah misi Tamara untuk balas dendam berhasil? ikutin terus kisahnya ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melampaui batas
Suasana di ruang tamu kediaman mewah itu terasa mencekam. Ibu Giyandra berjalan mondar-mandir dengan langkah kaki yang beradu keras dengan lantai marmer. Wajahnya pucat pasi, dipenuhi guratan kecemasan yang mendalam. Jantungnya berdegup kencang setiap kali teringat tatapan dingin Dion dan tumpukan bukti yang pria itu klaim telah ia miliki.
"Bu, bisa duduk diam tidak? Kepalaku pusing melihat Ibu mondar-mandir terus sejak tadi!" seru Giyandra yang tampak santai meringkuk di atas sofa. Ia sibuk mengunyah camilan di tangannya, seolah badai yang baru saja menghantam mereka di apartemen Dion hanyalah angin lalu.
"Kau ini! Bagaimana bisa kau setenang ini di saat posisi kita di ujung tanduk?!" Ibu Giyandra mendekat dengan kilatan amarah, lalu tanpa peringatan menjewer telinga sang putri dengan sangat kuat.
"Aww! Sakit, Bu! Lepaskan!" Giyandra memekik, hampir tersedak camilannya.
"Harusnya dulu Ibu pastikan seluruh keluarga Wiratama itu benar-benar lenyap sampai ke akar-akarnya!" desis Ibu Giyandra dengan suara rendah yang mengerikan. "Ibu tidak menyangka bocah ingusan bernama Tamara itu bisa kembali dan merangkak naik untuk balas dendam. Padahal Ibu sudah membuangnya ke panti asuhan kumuh yang sangat jauh dan membayar orang untuk menyiksanya setiap hari! Bagaimana mungkin mahluk itu masih bisa bertahan hidup?!"
Giyandra mengusap telinganya yang memerah, lalu mencibir. "Ibu terlalu panik. Kasus kematian Tuan dan Nyonya Wiratama sudah resmi ditutup bertahun-tahun lalu sebagai kecelakaan murni. Tidak ada bukti, tidak ada saksi. Lagipula, Tamara itu hanya gadis desa yang tumbuh di panti asuhan. Wanita tidak berpendidikan seperti dia bisa apa? Dia hanya modal tampang untuk menggoda Dion."
"Tamara mungkin sampah, tapi sekarang ada Dion Anderson di belakangnya! Pria itu punya kuasa untuk menggali kuburan kita kembali!"
"Tenang saja, Bu," ucap Giyandra penuh keyakinan, matanya menyipit licik. "Dion tidak akan berani bertindak gegabah selama kontrak pernikahan kami masih berjalan. Dia sangat gila hormat dan menjaga nama baik keluarganya. Kita masih punya waktu untuk memikirkan cara melenyapkan pelayan rendahan itu selamanya."
Ibu Giyandra mulai mengatur napasnya. Ia duduk di samping sang putri, mencoba menyesap teh yang sudah mulai dingin. "Ya, kau benar. Kita bisa membereskannya dengan cara yang sama seperti kita membereskan orang tuanya dulu. Kecelakaan yang rapi dan tanpa jejak."
Namun, ketenangan semu itu hancur dalam sekejap.
Ping! Ping! Ping!
Ponsel Giyandra bergetar bertubi-tubi. Ia membukanya, dan seketika wajahnya berubah drastis. Matanya membelalak, napasnya memburu, dan sebuah teriakan histeris pecah memenuhi ruangan.
"TIDAK MUNGKIN! DASAR JALANG!"
"Ada apa, Giyandra?!" Ibu Giyandra tersentak hingga hampir menjatuhkan cangkir tehnya.
"Bu! Lihat ini! Pelayan rendahan itu benar-benar sudah melampaui batas!" Giyandra menunjukkan layar ponselnya dengan tangan gemetar hebat. Di sana terpampang foto-foto panas dan mesra Dion yang sedang memeluk Tamara di atas ranjang. "Dion bahkan tidak pernah mengizinkan aku menyentuh ranjangnya! Tapi wanita busuk ini... dia berani tidur di sana dan memamerkannya padaku!"
Giyandra melempar ponselnya ke lantai hingga retak. Kemarahan yang meluap-luap membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Namun tiba-tiba, wajahnya berubah pucat, ia memegangi perutnya dengan kedua tangan.
"Akhhh... Bu... perutku... perutku sakit lagi!" pekik Giyandra kesakitan. Stres yang memuncak membuat kontraksi di perutnya kembali menyerang, membuat Giyandra meringkuk di sofa dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.
Bersambung...