Bianca berjalan seorang diri menyusuri taman yang mulai sepi pengunjung. Taman yang biasanya ramai lalu lalang orang-orang berolahraga lari ataupun jalan santai. Suasana dingin mulai menusuk kedalam jiwanya, Ia menengadahkan wajahnya ke langit yang terdapat beberapa bintang. Sesekali ia mengasihani dirinya sendiri, "Pekerjaan bagus,pendidikan bagus semua berjalan sesuai keinginan,tapi entah kenapa rasanya semua hampa.." gumamnya. "Bugh bugh bugh.." Terdengar suara pukulan tak jauh dari tempatnya berdiri,ia segera berlari sembunyi di salah satu pohon besar. "Aku ga salah denger kan,kaya ada yang sedang dihajar.." bathinnya dengan perasaan was-was. Hampir 10 menit ia duduk bersandar dibawah pohon tersebut,merasa aman dengan keadaan ia berjalan keluar sedikit berlari. "Tolonggg aakuuu.." Ucap seseorang dibalik semak-semak tak jauh dari tempat ia bersembunyi. "Astaagaaa.." "Kenapa ini..apa yang terjadii.." ucap bianca meraih tangan seseorang pemuda yang berjalan gontai menghampirinya. Pria tersebut langsung jatuh kepelukan bianca, Darah yang menetes dari sudut bibirnya menetes mengenai sisi bahu bianca.
Bab 8
"Tunggu-tunggu kalian siapa.."
Ucap bianca sedikit berteriak ketika kedua bahunya sudah di genggam dua orang yang membuatnya ketakutan.
Bianca yang tengah berjalan buru-buru menuju mobilnya dikejutkan dengan dua sosok pria berbadan tegap menghalangi langkahnya.
Bianca bergeser ke kanan,diikuti.
Bergeser ke kiri tetap diikuti.
Merasa ada yang aneh akhirnya ia memilih untuk mundur lalu berlari.
"Mereka siapa..astaga.."
Ucap bianca sembari meraih ponsel dari tas kecilnya.
"Ah mana si ponsel.."
"Ga mungkin kan ketinggalan di coffee shop tadi.."
Setelah berlari cukup lama akhirnya ia berada tepat di depan mobilnya,
Ia segera menyalakan mesin lalu berputar arah menghindari tempatnya ia bertemua beberapa pria tersebut.
Ia kini benar menyadari bahwa ponselnya memang tertinggal,
Sebenarnya ia ingin berhenti sebentar di lobby mengambil layanan parkir vallet,
Tapi ia mengurungkan niatnya.
Bianca yakin sekali bahwa orang-orang tersebut masih mencarinya.
5 menit berjalan tiba-tiba mesin mobilnya berhenti,untung saja ia masih sempat mengambil posisi kiri bahu jalan.
"Kenapa lagi inii..iihh.." ucapnya sembari memukul setir mobilnya.
Merasa sangat sial,ponsel tertinggal mesin mobil mati.
Bianca berdiri mengacungkan jempolnya ke beberapa mobil yang melewatinya.
"Ahh akhirnya ada mobil berhenti.."
ucapny setelah ada mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan mobilnya.
Dua orang bertubuh kekar yang tadi mengejarnya muncul kembali.
"Loh loh mereka lagi.." ucap bianca hendak lari kedalam mobilnya kembali.
Belum sampai ia menyentuh pintu,dua tangan pria tersebut sudah meraih tangan bianca dengan kasar.
"Tunggu-tunggu kalian siapa.."
"Tenanglah,ikut dengan kami.."
"Tuan kami menunggu anda di dalam mobil.." terdengar suara yang cukup datar namun sedikit menyeramkan.
"Engga..aku tidak mau.."
"Aku tidak mengenal kalian,dan apalagi tuan kalian.."
"Siapa dia.."
"Masuklah segera,kamu tidak ada waktu lagi.."
"Salah satu dari kita akan mengurus mobil anda.." ucap salah satu pria itu dengan sedikit paksaan menarik bianca.
"Jonathan.."
"Untuk apa lagi ini hah.." amarah bianca memuncak,ia mendorong dada jonathan dengan sedikit pukulan.
"Aku sudah beberapa kali memintamu untuk memaafkan dan menerimaku.."
"Tapi kali ini kamu membuatku untuk bertindak lebih bianca.." ucap jonathan dengan tatapan tajam kedepan.
"Jalankan mobilnya.." perintah jo.
Benar saja,salah satu dari mereka ditinggal untuk mengurus mobil bianca yang sengaja dibuat mogok,
Sedangkan satunya menjadi sopir.
Bianca tidak habis fikir dengan apa yang terjadi semenjak bertemu dengan jonathan,
Ia merasa dunia sedang mengujinya,
Ia merasa seperti terjebak didalam mimpi buruk yang tidak kunjung usai.
Bianca menghentakkan kedua tangannya kebawah lalu melipat didadanya,
Matanya tajam memandang keluar jendela.
"Aku harus cari cara bagaimana bisa keluar dari sini.." bathin bianca.
Mobil kini berhenti didepan sebuah butik mewah,
Butik dimana para petinggi dan konglomerat menyewa atau membuat baju sesuai request customer.
"Untuk apa kita kesini?.." ucap bianca sembari melangkahkan kaki turun dari mobil.
"Untuk membuatmu lebih terlihat cantik.."
"Masuklah,kamu bebas memilih.."
"Tidak..aku tidak mau.." ucap bianca yang tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk yang sudah dibukakan oleh penjaga butik tersebut.
"Masuklah jangan membuatku untuk memaksamu.." ucap jonathan meraih panggul bianca dan sedikit mendorongnya agar tetap berjalan.
"Hallo selamat sore tuan.."
"Wahh siapa ini.."
"Apakah ini yang kau bicarakan tempo hari?.." sapa seorang pemilik butik yang sepertinya sudah akrab dengan jonathan.
"Ah bukan..pasti itu perempuan lain.." potong bianca.
"Benarkah.."
"Tumben sekali kamu bergonta-ganti pasangan tuan.."
"Sudah grace..dialah yang kubicarakan.."
"Carikan pakaian pengantin yang terbaik yang kamu punya.."
Grace memandang tubuh bianca dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
"Inimah semua pakaian yang dia pakai cocok.."