Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Jejak yang Terhapus
Setelah kepergian Chae-young yang terburu-buru dari ruangannya, atmosfer di kantor CEO M-Nexus terasa membeku. Matteo berdiri mematung di depan jendela kaca, menatap pantulan dirinya sendiri. Ingatannya dipaksa mundur, membedah lapisan demi lapisan memori dari lima tahun yang lalu—malam di mana ia merasa dunianya runtuh karena kabar dari Manila, dan ia memutuskan untuk menenggelamkan diri dalam alkohol.
"Soo-hyun," suara Matteo memecah keheningan, berat dan penuh penekanan.
"Ya, Tuan?" Soo-hyun melangkah maju, sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran tuannya.
"Lima tahun lalu. Hotel Grand Hyatt Seoul. Tanggal 14 September," Matteo menyebutkan tanggal itu dengan presisi seorang mesin. "Aku ingat memesan The Macallan 1926 malam itu. Aku mabuk berat. Dan pagi harinya, aku terbangun di kamar 2007."
Matteo berbalik, matanya yang ice blue berkilat tajam.
"Aku ingin kau membuka kembali rekaman CCTV atau manifes tamu malam itu. Aku tahu data lima tahun lalu biasanya sudah diarsipkan atau dihapus, tapi kakek memiliki saham di sana. Gunakan pengaruhnya. Aku ingin tahu siapa wanita yang masuk ke kamar itu setelah aku."
Soo-hyun membungkuk dalam. "Saya akan segera mengurusnya, Tuan."
Sementara itu, di butik 'Forever-Young', Chae-young duduk dengan lemas di kursi kerjanya. Jemarinya gemetar saat mencoba menggambar sketsa. Pertemuan dengan Matteo tadi bukan sekadar urusan bisnis, itu adalah deklarasi perang terhadap rahasianya.
"Kenapa dia harus muncul sekarang?" gumam Chae-young sambil menatap foto si kembar di atas mejanya. "Kenapa setelah aku berhasil membangun hidupku dari nol, pria aneh itu datang dan mengacaukan segalanya?"
Chae-young teringat aroma sandalwood di ruangan Matteo tadi. Aroma itu, ia pernah menghirupnya dalam keadaan setengah sadar lima tahun lalu, di sela-sela tangisannya karena pengkhianatan kekasihnya. Ia ingat tangan yang besar dan hangat yang menyentuh pipinya di kegelapan.
"Tidak, Chae-young. Jangan biarkan emosimu menang," ia memperingatkan dirinya sendiri. "Dia adalah CEO M-Nexus. Jika dia tahu Chan-yeol dan Chae-rin adalah darah dagingnya, dia bisa mengambil mereka darimu dalam sekejap dengan kekuasaannya."
"Ah tidak-tidak, tapi itu belum pasti. Tapi wajahnya, matanya?" Chae-young benar-benar frustasi memikirkannya.
Tiga jam kemudian, di kantor M-Nexus. Soo-hyun kembali dengan sebuah tablet di tangannya. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.
"Tuan, ini sulit. Rekaman CCTV di koridor lantai 20 pada malam itu secara misterius rusak tepat di jam Anda masuk ke kamar. Seolah-olah ada yang sengaja menghapusnya atau terjadi gangguan teknis."
Matteo menggebrak meja jati itu dengan pelan namun bertenaga. "Rusak? Di hotel sekelas Grand Hyatt?"
"Benar Tuan, namun," sela Soo-hyun cepat, "saya berhasil mendapatkan data dari sistem kunci kartu digital. Kamar 2007 terbuka dua kali malam itu. Pertama kali saat Anda masuk pada pukul 23.15. Dan kedua kali pada pukul 23.45 dengan kartu cadangan yang dipinjam dari resepsionis oleh seorang tamu wanita yang mengklaim salah kamar karena mabuk."
Matteo menahan napas. "Namanya?"
"Tidak ada nama yang tercatat secara resmi karena wanita itu tidak menginap di sana. Namun, ada laporan insiden kecil di lobi pada pagi harinya. Seorang wanita muda terlihat berlari keluar dari lift dengan keadaan kacau, menabrak petugas kebersihan, dan menjatuhkan sesuatu."
Soo-hyun menunjukkan sebuah benda yang tersimpan di bagian Lost and Found hotel selama lima tahun dan baru saja diambil oleh Soo-hyun.
Itu adalah sebuah pin emas kecil berbentuk lili—sebuah aksesori yang biasanya diberikan kepada lulusan terbaik fakultas seni universitas tempat Chae-young menempuh S2-nya.
Matteo meraih pin itu, memutarnya di antara ibu jari dan telunjuknya. Matanya menyipit. Ingatannya tentang mata cokelat madu Chae-young dan rambut bronte waves-nya tiba-tiba menyatu dengan ingatannya malam itu.
"Dia tidak salah kamar, Soo-hyun," ucap Matteo dengan suara yang bergetar karena amarah dan sesuatu yang mirip dengan penyesalan. "Dia hancur malam itu, sama sepertiku. Dan aku... aku menjadikannya pelampiasan atas rasa iriku pada Mark."
Matteo bangkit berdiri, menyambar kunci mobilnya. "Cari tahu di mana dia tinggal. Bukan alamat kantor, tapi alamat apartemennya. Sekarang!"
"Tuan, Anda ada pertemuan dengan dewan direksi sepuluh menit lagi," Soo-hyun mencoba mengingatkan.
"Batalkan!" Ucap Matteo tanpa menoleh. "Ada sesuatu yang jauh lebih penting saat ini. Aku baru saja menyadari bahwa aku mungkin telah membiarkan hartaku yang paling berharga berkeliaran di jalanan selama lima tahun tanpa perlindunganku."
Matteo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah kemacetan Seoul. Pikirannya berkecamuk. Jika benar Chae-young adalah wanita itu, maka Chan-yeol dan Chae-rin.
"Brengsek kau, Matteo," umpatnya pada diri sendiri. "Kau mengira dengan selembar cek semua selesai? Kau bahkan tidak tahu kau telah meninggalkan sesuatu di rahim wanita sehebat dia."
Mobilnya berhenti tepat di depan sebuah gedung apartemen kelas menengah di daerah Mapo. Matteo turun, mengabaikan tatapan orang-orang yang mengenali wajahnya sebagai CEO M-Nexus. Ia melangkah menuju lobi, jantungnya berdegup kencang—sesuatu yang bahkan tidak terjadi saat ia pertama kali meluncurkan produk The Titan.
Di depan pintu unit 12-B, Matteo berhenti. Ia mengatur napasnya. Tangannya terangkat untuk memencet bel, namun ia ragu sejenak. Apa yang akan ia katakan?
"Halo, aku pria dari malam itu dan aku ingin melihat anak-anakku?"
Belum sempat ia memencet bel, pintu itu terbuka dari dalam.
Chae-young berdiri di sana, hendak membuang sampah kecil dengan pakaian rumahannya yang santai. Rambut bronte waves-nya terikat asal. Ia mematung melihat pria berjas mahal itu berdiri di depan pintunya.
"Tu-tuan Matteo?" suara Chae-young mencicit, penuh ketakutan.
"Nona Park," Matteo menatapnya dengan intensitas yang sanggup meluluhkan es di kutub utara. Suaranya terdengar serak. "Pin lili emas. Kamu menjatuhkannya di kamar 2007, lima tahun yang lalu."
Wajah Chae-young seketika memucat. Dunianya runtuh. Rahasia yang ia jaga dengan nyawanya, kini hancur hanya dengan satu kalimat dari pria di hadapannya.
"Mommy? Siapa yang datang?"
Suara Chan-yeol terdengar dari dalam, dan bocah laki-laki itu muncul di samping kaki ibunya, menatap Matteo dengan mata biru yang sama persis.
Matteo berlutut di depan Chan-yeol, matanya berkaca-kaca—sesuatu yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di Seoul. "Halo, jagoan," bisik Matteo parau. "Siapa namamu?"
"Park Chan-yeol," jawab bocah itu tenang, namun matanya menatap Matteo dengan penuh selidik. "Uncle? Uncle yang di galeri itu, kan?"
Matteo tersenyum getir, sebuah senyum tulus yang mematahkan seluruh keangkuhannya sebagai CEO M-Nexus. Ia menatap Chae-young yang kini sudah hampir terisak pelan di ambang pintu.
"Aku bukan Uncle, Chan-yeol-ah," ucap Matteo lembut, sambil menoleh ke arah Chae-young.