Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi tengah malam sang singa
Kehamilan Aira yang baru memasuki usia dua bulan ternyata membawa perubahan drastis dalam dinamika ndalem. Ghibran, yang biasanya mengelola ratusan santri dan urusan yayasan dengan tangan besi, kini bertekuk lutut di hadapan keinginan-keinginan kecil istrinya yang sering kali muncul di waktu yang tidak masuk akal.
Malam itu, jarum jam sudah menunjuk ke angka satu dini hari. Suasana pesantren sangat sunyi, hanya terdengar suara serangga malam dan langkah kaki penjaga keamanan di kejauhan. Di dalam kamar, Ghibran baru saja memejamkan mata setelah menyelesaikan beberapa naskah editor, namun sebuah tarikan lembut di lengan kausnya membuatnya kembali terjaga.
"Kak... Kak Ghibran," bisik Aira pelan.
Ghibran langsung menegakkan duduknya, insting siaganya aktif seketika. "Kenapa, Sayang? Mual lagi? Atau perutmu sakit?"
Aira menggeleng, ia tampak sedikit ragu namun matanya berbinar penuh harap. "Aku... aku tiba-tiba ingin makan buah duku. Tapi duku yang dipetik langsung dari pohonnya, dan harus yang ada di area perkebunan jati dekat makam tua di ujung pesantren."
Ghibran terdiam. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna permintaan itu. "Duku? Di makam tua? Malam-malam begini, Aira?"
"Iya. Tiba-tiba aku bisa merasakan rasanya yang manis dan sedikit asam di lidahku. Kalau tidak makan itu, sepertinya aku tidak bisa tidur," jawab Aira dengan wajah memelas yang menjadi kelemahan terbesar Ghibran.
Ghibran menghela napas panjang, namun ia tidak bisa menolak. Ia segera bangkit, mengenakan jaket tebal dan mengambil senter besar. Sebelum keluar, ia meraih ponselnya dan mendial sebuah nomor.
Panggilan Darurat untuk Sahabat
Di paviliun belakang, Azka sedang bermimpi indah tentang hari pernikahannya dengan Zivanna, sampai suara dering ponsel yang nyaring menghancurkan mimpinya.
"Halo... siapa yang mau mati jam segini?" gumam Azka dengan suara serak tanpa melihat layar.
"Azka, bangun. Aku butuh bantuanmu," suara bariton Ghibran terdengar sangat mendesak.
Azka seketika terjaga. "Ghib? Ada apa? Apa Aira pendarahan? Atau ada serangan lagi?"
"Bukan. Aira ingin duku dari kebun dekat makam tua. Aku butuh kamu yang membawa tangga dan memegang senter. Aku tidak mau mengambil risiko memanjat sendirian dalam gelap."
Hening sejenak di seberang telepon. Kemudian, ledakan tawa Azka pecah hingga hampir membangunkan Rayyan di kamar sebelah. "Kau bercanda?! 'Singa Salsabila' meneleponku jam satu malam hanya untuk mencuri duku di makam tua? Hahahaha! Ini berita terbaik tahun ini!"
"Cepat ke depan gerbang ndalem dalam lima menit, atau aku akan memastikan izin libur nikahmu kubatalkan," ancam Ghibran dingin.
"Oke, oke! Aku datang, Bos! Siapkan keranjangnya!"
Drama di Bawah Pohon Duku
Sepuluh menit kemudian, dua pria dewasa yang biasanya dihormati di seluruh pesantren itu berjalan mengendap-endap di antara jajaran pohon jati yang menjulang tinggi. Azka memanggul tangga lipat sambil terus menahan tawa, sementara Ghibran berjalan di depan dengan wajah yang sangat datar namun waspada.
"Ghib, kau tahu tidak? Kalau santri melihat kita sekarang, mereka akan mengira kita sedang mencari pesugihan atau menanam tumbal," bisik Azka saat mereka sampai di bawah pohon duku besar yang terlihat angker di dekat area pemakaman lama.
"Diamlah, Azka. Cepat tegakkan tangganya," perintah Ghibran.
Ghibran mulai memanjat dengan hati-hati. Ia menyinari dahan-dahan pohon, mencari gerombolan buah duku yang sudah matang. Di bawah, Azka memegang tangga sambil terus menggoda sahabatnya.
"Ayo, Ghib! Demi calon keponakanku! Kalau kau jatuh, aku akan bilang pada Aira kalau kau kalah duel melawan penunggu makam," ledek Azka.
"Kau berisik sekali!" Ghibran berhasil memetik dua tangkai besar duku yang tampak ranum. Namun, tiba-tiba seekor burung hantu terbang rendah di atas kepala mereka, membuat Azka kaget dan hampir melepaskan tangganya.
"Woy! Apa itu tadi?!" seru Azka setengah berteriak.
"Sstt! Kau ingin membangunkan seluruh pesantren?!" desis Ghibran sambil turun dengan cekatan.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, mereka kembali ke ndalem dengan langkah terburu-buru. Sesampainya di depan pintu kamar, Ghibran menyerahkan senter pada Azka.
"Terima kasih, Ka. Kau boleh kembali tidur," ujar Ghibran singkat.
"Enak saja! Aku mau satu tangkai! Aku juga butuh upah setelah sport jantung di makam tadi," protes Azka. Ghibran akhirnya memberikan satu tangkai kecil duku pada Azka sebelum masuk ke kamar.
Kepuasan sang Istri
Di dalam kamar, Aira menyambut Ghibran dengan senyum yang sangat lebar. Begitu Ghibran memberikan duku tersebut, Aira langsung mengupasnya dan memakannya dengan lahap.
"Manis sekali, Kak... persis seperti yang aku bayangkan," ujar Aira dengan wajah yang sangat puas.
Ghibran duduk di tepi ranjang, memerhatikan istrinya dengan tatapan yang sangat dalam. Rasa kantuk dan lelahnya hilang seketika saat melihat binar kebahagiaan itu. Ia mengusap sisa getah duku di tangan Aira dengan tisu.
"Hanya karena buah ini, aku harus membawa Azka ke makam tua malam-malam, Sayang," gumam Ghibran sambil tersenyum tipis.
Aira terkekeh, ia menyuapkan satu butir duku ke mulut Ghibran. "Terima kasih, Pahlawanku. Besok-besok kalau aku ngidam yang lebih aneh, Kakak tidak akan menyerah, kan?"
Ghibran mengunyah duku itu, lalu menarik Aira ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh kasih. "Apapun, Salsabila. Selama itu membuatmu dan anak kita bahagia, aku akan melakukannya. Bahkan jika aku harus memanjat pohon kelapa tertinggi sekalipun."
Malam itu, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, kepanikan dan kelelahan berganti menjadi kehangatan yang tak terlukiskan. Bagi Ghibran, menjadi "Singa Salsabila" mungkin memberinya otoritas, tetapi menjadi suami dan calon ayah memberinya arti hidup yang sesungguhnya
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂