NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Kaca di Jantung Jakarta

Suara roda kereta yang beradu dengan rel menciptakan ritme monoton yang menghipnotis, namun bagi Arlan, setiap dentuman itu terdengar seperti detak jam bom waktu yang siap meledak. Kereta Progo yang membawa mereka kembali ke ibu kota terasa merayap terlalu lambat. Di kursi seberang, Maya masih terlelap dengan dahi yang berkerut, seolah mimpinya pun masih dikejar oleh bayangan-bayangan di pemakaman Kota Gede.

Arlan meraba saku jaketnya. Kartu memori kecil itu terasa seperti bongkahan logam panas yang membakar kulitnya. Di dalam benda plastik berukuran kuku itu, tersimpan data digital dari film yang ia "bakar" di depan Tito. Sebuah asuransi nyawa, atau mungkin, surat kematian bagi siapa pun yang berani membukanya.

Jakarta menyambut mereka dengan hawa pengap yang akrab. Stasiun Pasar Senen riuh oleh teriakan kuli panggul dan bising knalpot, sebuah kontras yang tajam dengan kesunyian makam tua yang baru saja mereka tinggalkan. Arlan menarik topi jaketnya rendah-rendah, matanya bergerak gelisah memindai kerumunan. Di matanya, setiap orang asing yang menatap terlalu lama adalah ancaman; setiap lensa ponsel yang mengarah ke arahnya adalah mata mata-mata.

"Lan, kita ke kosan aku dulu?" tanya Maya pelan saat mereka berdiri di pinggir trotoar, menunggu ojek daring.

Arlan menggeleng cepat. "Jangan. Mereka pasti sudah tahu alamat kosan kamu. Kita ke tempat yang nggak pernah kita datangi sebelumnya. Hotel melati di daerah Jakarta Pusat, yang nggak butuh banyak data buat cek-in."

Maya mengangguk paham. Ketakutan telah mendewasakannya dalam semalam. Mereka bergerak dalam diam, berpindah-pindah kendaraan umum untuk memutus jejak, hingga akhirnya terdampar di sebuah kamar sempit dengan cat dinding mengelupas di kawasan kusam dekat perlintasan kereta api.

Begitu pintu terkunci, Arlan segera mengeluarkan laptop tuanya. Tangannya gemetar saat memasukkan kartu memori ke dalam card reader.

"Apa isinya, Lan?" Maya mendekat, duduk di pinggiran kasur yang berderit.

Layar laptop menyala, menampilkan deretan folder dengan nama acak. Arlan membuka salah satu file gambar hasil konversi sensor digital rahasianya. Gambar itu muncul perlahan, sehelai demi sehelai piksel. Itu adalah foto dokumen yang diambil kakeknya puluhan tahun lalu, namun dengan teknik restorasi digital otomatis yang ia sematkan dalam software kameranya, tulisan di dalamnya terbaca jelas.

Proyek Sinyal Langit: Konsorsium 7.

Di bawah judul itu, berderet nama-nama yang membuat napas Arlan tercekat. Ada nama menteri yang sering muncul di berita sebagai sosok filantropis, ada purnawirawan jenderal yang kini memimpin partai besar, dan yang paling mengejutkan—sebuah nama keluarga yang sangat dekat dengan pemilik media tempat Arlan magang.

"Ini bukan cuma soal harta kakek kamu, Lan," bisik Maya, wajahnya pucat pasi menatap layar. "Ini soal skema korupsi pembangunan infrastruktur komunikasi nasional yang sudah berjalan selama tiga generasi. Dan mereka menggunakan perusahaan kakek Tito sebagai kambing hitam untuk menutupi jejak aliran dananya."

Arlan terdiam. Ia teringat wajah hancur Tito. Sahabatnya itu telah menghabiskan hidupnya membenci orang yang salah. "Mereka membunuh kakek Tito dan menyuap orang-orang untuk memfitnahnya sebagai pengkhianat negara. Kakek gue mencoba mendokumentasikan ini semua, tapi dia tahu kalau dia buka suara saat itu, bukan cuma dia yang mati, tapi seluruh keluarga kami akan hilang tanpa jejak."

Tiba-tiba, ponsel Arlan bergetar hebat di atas meja kayu. Getarannya terasa seperti sengatan listrik. Nomor yang sama. Nomor tanpa identitas.

“Fokusmu tajam, Arlan. Tapi jangan lupa, kamera punya keterbatasan dinamis. Jika cahayanya terlalu terang, kau akan buta. Temui aku di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) depan Gedung Cakrawala pukul sepuluh malam. Sendiri. Jika tidak, Maya tidak akan pernah bisa pulang ke kosannya lagi.”

Arlan meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih. Amarah yang sedari tadi ia tahan meluap. "Mereka nggak bakal berhenti, May. Selama data ini ada di tangan gue, kita berdua adalah target berjalan."

"Jangan pergi, Lan. Itu jebakan," cegah Maya, jemarinya mencengkeram lengan Arlan.

"Gue harus. Kalau gue nggak beresin ini sekarang, kita bakal selamanya sembunyi kayak tikus di lubang ini. Gue punya sesuatu yang mereka mau, dan gue bakal pake itu buat beli kebebasan kita."

Malam itu, Jakarta diguyur hujan gerimis yang membuat aspal terlihat mengilat seperti kulit ular. Arlan berdiri di tengah JPO Gedung Cakrawala. Angin malam menusuk jaket denimnya yang tipis. Di bawahnya, lampu-lampu kendaraan membentuk garis-garis cahaya panjang—seperti teknik long exposure yang sering ia gunakan untuk memotret keindahan kota. Namun malam ini, tidak ada keindahan. Hanya ada kekosongan yang mencekam.

Seorang pria muncul dari kegelapan di ujung jembatan. Bukan Bara. Pria ini mengenakan setelan jas rapi, payung hitam melindunginya dari gerimis. Wajahnya tampak ramah, tipe wajah yang biasa kamu temui di papan iklan asuransi, namun matanya sedingin es di kutub utara.

"Arlan Rayyan. Fotografer muda berbakat," suara pria itu halus, hampir seperti musik latar di lobi hotel mewah. "Saya adalah utusan dari 'Konsorsium'. Kami sangat menghargai warisan kakekmu. Tapi kau tahu, sejarah terkadang lebih baik disimpan di museum yang tertutup rapat, bukan diunggah ke internet."

Arlan mengangkat kamera analognya yang rusak. "Gue punya semua datanya. Setiap nama, setiap tanda tangan, setiap bukti transfer. Kalau dalam satu jam gue nggak ngasih kabar ke temen gue, semua data ini bakal terkirim otomatis ke sepuluh redaksi berita internasional."

Pria itu tertawa kecil, suara tawanya kering. "Ancaman klasik. Tapi kau lupa satu hal, Arlan. Di dunia ini, kebenaran bukan soal siapa yang memilikinya, tapi soal siapa yang mengendalikannya. Kami mengendalikan satelit, kami mengendalikan penyedia layanan internet, kami mengendalikan apa yang orang lihat di layar ponsel mereka. Kau pikir satu email dari seorang mahasiswa bisa meruntuhkan kami?"

Pria itu melangkah maju. "Serahkan kartunya, dan kau bisa kembali memotret model-model cantik di studio. Kami akan menjamin pendidikanmu, kariermu, bahkan pengobatan ayahmu di desa. Jangan jadi pahlawan di kota yang sudah menjual jiwanya."

Arlan menatap pria itu dengan fokus yang tak tergoyahkan. Ia teringat pesan Bara: Kebenaran akan selalu menemukan frekuensinya sendiri.

"Kakek gue bilang, lensa itu jujur. Dia nggak bisa bohong soal apa yang dia tangkap," Arlan mengeluarkan kartu memori dari sakunya, menjepitnya di antara telunjuk dan jari tengah. "Mungkin kalian bisa beli media, tapi kalian nggak bisa beli nurani orang yang melihat foto kakek Tito dieksekusi demi melindungi orang-orang kayak kalian."

Saat pria berjas itu memberi kode kepada dua orang berbadan tegap yang tiba-tiba muncul dari balik pilar, sebuah cahaya menyilaukan menghantam mata mereka.

BLITZ!

Bukan dari kamera Arlan. Dari arah gedung di seberang jalan, puluhan lampu kilat kamera wartawan menyala serentak. Arlan tidak mengirim email ke redaksi berita; ia telah mengundang mereka ke sini dengan sebuah umpan: konferensi pers rahasia soal skandal terbesar abad ini.

Di saat yang sama, layar raksasa (LED Billboard) di samping Gedung Cakrawala yang biasanya menampilkan iklan produk kecantikan, tiba-tiba berubah. Gambar yang muncul adalah dokumen Proyek Sinyal Langit dengan nama-nama anggota Konsorsium terpampang jelas di sana.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak pria berjas itu, wajah ramahnya kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan.

"Gue nggak mengirim data itu lewat internet, Pak," Arlan tersenyum tipis, meski jantungnya berdegup kencang. "Gue pake frekuensi radio amatir yang gue pelajari dari catatan kakek gue. Sinyal yang nggak bisa kalian blokir dengan sistem modern kalian. Dan sekarang, seluruh Jakarta sedang melihat siapa kalian."

Bara tiba-tiba muncul dari kegelapan di belakang Arlan, memegang pemancar kecil di tangannya. "Kerja bagus, Arlan. Kau baru saja memicu shutter dunia."

Pria berjas itu mencoba melarikan diri, namun kerumunan wartawan yang sudah menunggu di bawah jembatan segera mengepungnya. Sirene polisi terdengar mendekat. Fokus yang tadinya terpecah kini menyatu dalam satu titik: keadilan.

Namun, di tengah keriuhan itu, ponsel Arlan bergetar lagi. Sebuah pesan masuk, singkat dan membuat bulu kuduknya berdiri:

"Satu pion jatuh, tapi permainan baru dimulai. Kau baru saja menghancurkan tameng kami, Arlan. Sekarang, kau harus berhadapan langsung dengan pedangnya. Selamat datang di babak eliminasi."

Arlan menatap kerumunan di bawah, lalu menatap langit Jakarta yang mendung. Kemenangan ini terasa hambar. Ia tahu, apa yang ia lakukan malam ini barulah pembukaan dari sebuah perang yang jauh lebih besar.

Ia melihat ke arah kamera analognya yang rusak. Di cerminnya yang retak, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Wajah yang bukan lagi milik seorang mahasiswa fotografer mading, melainkan wajah seorang pemburu yang kini menjadi buruan.

"Lan!" Maya berlari menaiki tangga JPO, langsung menghambur ke pelukannya. "Berhasil?"

Arlan memeluk Maya erat, namun matanya tetap waspada menatap kegelapan di ujung jalan. "Untuk sekarang, iya. Tapi mulai besok, kita nggak boleh lagi berdiri di bawah lampu yang terlalu terang, May."

Fokusnya kini tajam kembali. Bukan pada masa lalu, bukan pada dendam, tapi pada satu tujuan: bertahan hidup di tengah labirin kaca Jakarta yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!