Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringkat D
Rutinitas kembali seperti roda yang tidak peduli pada perasaan manusia.
Pagi: lari, push-up, sit-up, plank, sprint pendek di tanah basah. Nafas Rick tetap mengalir seperti mesin, tapi Mercer selalu menemukan cara untuk membuatnya terasa kurang. Kalau Rick merasa “bagus”, Mercer menambah repetisi. Kalau Rick merasa “kuat”, Mercer menambah beban. Seolah Mercer ingin mengikis habis bagian diri Rick yang masih ingin dipuji.
Siang: senjata.
Dan Mercer menjadi lebih keras, lebih kejam, sejak Rick resmi masuk “lingkaran.”
Karena sekarang, ini bukan lagi latihan untuk bertahan. Ini latihan untuk hidup dengan konsekuensi nyata.
Mercer berdiri di belakang Rick saat Rick membidik.
“Kalau kamu meleset,” kata Mercer dingin, “di lapangan kamu dapat balasan ditembak.”
Rick menelan ludah, menahan gemetar yang bukan karena dingin.
Mercer tidak pernah menakut-nakuti untuk gaya. Mercer menakut-nakuti karena itu benar.
Sore: pisau.
Ayunan kecil. Gerakan cepat. Jarak nol.
Mercer memaksa Rick mengulang sampai pergelangan tangannya panas, sampai jari-jarinya kebas. Dan setiap kali Rick lengah sepersekian detik, Mercer mengetuk pisau latihan ke titik vital di tubuh Rick, leher, rusuk, perut, bukan untuk melukai, tapi untuk mengingatkan.
“Kalau ini asli,” Mercer akan berkata, datar. “Kamu sudah selesai.”
Malam: buku dan memori.
Buku-buku tebal yang bukan kedokteran. Peta jaringan, pola pengintaian, cara mengenali tailing, cara membaca ruangan. Mercer memaksa Rick mengulang catatan sampai kata-kata itu menempel di kepala seperti doa.
Di sela semua itu, Rick menerima uang.
Bukan jumlah fantastis, bukan gaya mafia. Hanya transfer yang “tidak banyak”begitu kata Violet. Tapi bagi Rick, yang dulu hidup dari mie instan dan sisa uang beasiswa, angka itu terasa seperti dunia baru.
Rick memandang angka di layar bank—lima bank berbeda, lima identitas berbeda—dan merasakan sensasi aneh: uang yang didapat bukan dari kerja keras, tapi dari “patuh.”
Itu membuatnya muak… tapi juga sadar: sistem ini sengaja membuatmu ketagihan.
Dan selama satu minggu, telepon satelit itu tetap diam.
Setiap hari jam 17:00, Rick menatap kotak kecil itu seolah menatap binatang tidur. Mercer tidak mengatakan apa-apa, tapi Rick tahu Mercer juga mendengar sunyinya, sunyi yang tidak menenangkan, melainkan menunggu.
Sementara itu, Maëlle semakin sehat.
Bukan bangun penuh, tapi tanda-tanda hidupnya kembali “keras kepala.” Warna kulitnya lebih baik. Napasnya lebih stabil. Kadang jarinya bergerak sedikit, seolah tubuhnya sedang mencoba mengingat cara kembali.
Empat tahun tidak sadar, dan Mercer merawatnya seperti seorang ayah yang tidak boleh jatuh—telaten, sabar, dan terlalu lihai untuk disebut hanya “dokter.”
Rick beberapa kali melihat Mercer duduk lama di samping ranjang Maëlle, memeriksa grafik, mengganti cairan, menyesuaikan alat. Mercer jarang menunjukkan emosi. Tapi cara ia merawat Maëlle… adalah bentuk emosi Mercer yang paling jujur.
Lalu, suatu sore, tepat jam 17:00, kotak kecil itu akhirnya hidup.
Telepon satelit bergetar dan mengeluarkan bunyi pendek—tidak nyaring, tapi cukup untuk membuat jantung Rick melonjak.
Rick menatap layar.
Nomor tidak dikenal. Tentu saja.
Ia menelan ludah dan mengangkatnya.
“Halo?” Rick berkata refleks.
Suara di ujung sana tenang, profesional, seolah mereka sedang memesan kopi.
“Halo, Paper.”
Rick membeku sepersekian detik.
Ia belum terbiasa dengan nama itu. Otaknya hampir berkata, salah sambung. Tapi pelajaran Mercer menamparnya dari dalam: jangan lambat.
Rick cepat memperbaiki nada. “Ya.”
“Datang besok jam 12 siang.”
Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan.
Telepon langsung putus.
Rick menatap layar yang mati, napasnya berat.
Rasanya… seperti mendapat hadiah ulang tahun.
Bukan karena senang, tapi karena akhirnya ada gerak. Akhirnya ada langkah. Akhirnya ada sesuatu selain menunggu dan latihan.
Mercer melihat wajah Rick dari ujung ruangan.
Mercer tidak bertanya “siapa” atau “apa.” Mercer hanya berkata:
“Besok kamu pergi.”
Rick mengangguk, jantung masih berdebar.
Jam 12 siang besoknya, Rick kembali ke Mercer Café.
Ia duduk di tempat biasa. Minum dipesan. Wajah dibuat tenang.
Pintu belakang terbuka.
Wanita cantik itu keluar, hari ini senyumnya lebih “resmi”, seperti orang yang akhirnya menganggap Rick bagian dari sistem.
Ia duduk di depan Rick, menatapnya lebih lama dari pada sebelumnya.
“Kali ini,” kata wanita itu, “kamu boleh tahu namaku.”
Rick menahan diri agar tidak bereaksi berlebihan.
“Violet,” katanya.
Rick mengangguk. Dalam kepalanya, ia langsung menyimpulkan: itu bukan nama asli. Itu code name. Karena semua di tempat ini memakai nama yang bisa dibuang.
Rick memilih nada netral. “Violet.”
Violet tersenyum tipis, lalu mendorong sebuah map baru ke arah Rick.
“Semoga sukses, Paper.”
Rick menerima map itu dengan tangan yang stabil, tangan yang sudah ditempa empat tahun.
“Terima kasih,” jawab Rick, lalu menambahkan pelan, “Violet.”
Violet berdiri, pergi seperti biasa, meninggalkan Rick dengan map yang terasa lebih berat daripada kertas.
Rick keluar, naik taksi, lalu baru membuka map di dalam mobil.
Di dalamnya: foto seorang pria tua berwajah kurus. Mata cekung, pipi tajam. Wajah yang tidak menonjol—wajah orang yang bisa hilang di kerumunan.
Lokasi: Brussel, Belgia.
Ada alamat. Ada jadwal singkat. Ada catatan.
Dan kali ini, ada satu hal baru yang membuat Rick menegakkan badan:
Peringkat: D
Batas waktu: 7 hari
Rick mengerutkan kening.
Peringkat.
Istilah itu tidak ada di map pertama. Atau mungkin ada, tapi sengaja tidak ditunjukkan. Atau mungkin… Rick baru sekarang dianggap cukup “di dalam” untuk diberi informasi hierarki.
Rick menatap huruf D itu lama.
D terdengar rendah.
Tapi di dunia ini, “rendah” bukan berarti aman. Kadang justru berarti pekerjaan yang kotor, yang tidak penting bagi publik, tapi penting bagi jaringan.
Di rumah, Mercer menunggu Rick seolah sudah tahu semuanya bahkan sebelum Rick bicara. Mercer hanya meminta map itu sebentar, membaca cepat, lalu mengembalikannya.
Mercer kemudian mengeluarkan sebuah kunci dan meletakkannya di meja.
“Kunci apartemen di Brussel,” kata Mercer.
Rick menatap kunci itu. “Kamu sudah menyiapkan?”
Mercer mengangkat bahu. “Tempat itu sudah ada.”
“Kenapa?”
Mercer tidak langsung menjawab, lalu menambahkan dengan nada yang seolah membahas hal biasa:
“Sewanya terus diperpanjang. Karena ada beberapa barang milik Maëlle di sana.”
Rick membeku. “Maëlle… tinggal di Brussel?”
Mercer menatap Rick seperti menatap murid yang baru mengerti satu prinsip dasar.
“Seorang assassin punya banyak tempat singgah,” kata Mercer. “Untuk sembunyi. Untuk perencanaan. Untuk mengganti identitas. Untuk menghilang.”
Mercer mengetuk kunci itu sekali di meja.
“Itulah sebabnya kamu punya banyak KTP.”
Rick menggenggam kunci itu pelan. Logamnya dingin, seperti pintu menuju dunia Maëlle yang selama ini tidak pernah ia masuki.
“Peringkat D…” Rick bergumam. “Apa artinya?”
Mercer menatap Rick, lalu menjawab singkat:
“D itu tahap awal. Tapi bukan berarti ringan. Itu berarti kamu sedang diuji apakah kamu bisa menyelesaikan sesuatu tanpa merusak ruangan.”
Rick menelan ludah. “Tanpa merusak ruangan?”
“Tanpa keributan,” kata Mercer. “Tanpa jejak. Tanpa polisi. Tanpa membuat Fox tahu kamu bergerak.”
Nama Fox membuat ruangan terasa lebih sempit.
Rick mengangguk pelan.
Ia melihat lagi foto pria tua itu.
Lalu menatap kunci apartemen.
Tujuh hari.
Peringkat D.
Brussel.
Dan sebuah kehidupan baru yang makin jauh dari Fred Tucker.
Rick menarik napas panjang.
“Berangkat kapan?” tanya Rick.
Mercer menjawab tanpa emosi: “Malam ini.”
Rick menatapnya. “Malam ini?”
Mercer mengangguk. “Semakin kamu menunda, semakin banyak orang yang bergerak di depanmu.”
Rick menggenggam kunci itu lebih kuat.
Dalam kepalanya, ia mendengar bunyi telepon satelit,bunyi pendek jam lima,seolah menegaskan bahwa hidupnya sekarang memang tidak lagi miliknya.
Ia adalah Paper.
Dan Paper punya tenggat.