NovelToon NovelToon
Tidak Melakukan Apapun, Aku Menjadi Kuat!

Tidak Melakukan Apapun, Aku Menjadi Kuat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ren cuma pegawai kantoran biasa.

Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.

Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:

"Tidak Melakukan Apapun."

Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.

Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Langkah Chen menghentak keras aspal basah. Sepatu botnya meninggalkan jejak merah yang perlahan memudar. Ren mengekor di belakang, langkahnya seringan bayangan.

Gang sempit itu berbau apek. Ada campuran urine kering, ozon, dan polimer murahan yang menguap dari dinding beton. Di atas mereka, kabel-kabel optik putus bergelantungan bagai usus mesin yang terburai.

Ren mengamati punggung lebar di depannya. Ketegangan membelit otot bahu kapten itu. Udara di sekitar Chen terasa padat, seolah amarahnya memuai dan menekan dinding sempit di kiri-kanan mereka.

Dua puluh menit berjalan membelah blok kumuh, langkah Chen mendadak mati. Ujung lorong tertutup total.

Sebuah ekskavator raksasa teronggok melintang, badannya separuh meleleh oleh panas ekstrem. Puing-puing beton menumpuk membentuk tebing artifisial.

"Sialan," desis Chen.

Tangannya meninju dinding di sebelahnya. Plester semen rontok. Serpihan kasarnya jatuh menimpa genangan oli berpelangi.

"Tak ada jejak lagi," rutuk kapten itu, suaranya nyaris tercekik.

Urat leher Chen menonjol. Darah memompa cepat ke kepalanya yang nyaris meledak karena frustrasi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, meninggalkan noda debu kelabu di pipi.

Ren menghentikan langkah. Wajahnya datar. Matanya justru tertuju pada sebuah mesin penjual otomatis yang ringsek di sudut jalan buntu itu.

Kaca pelindung mesin itu pecah berkeping-keping. Lampu neon di dalamnya berkedip sakaratul maut. Bunyi dengung statisnya konstan dan menyedihkan. Pemandangan itu seolah memantulkan sisa kewarasan Chen yang perlahan meredup.

Pemuda itu memiringkan kepala. Jarinya mengusap layar tablet sekilas. Nihil.

Database AFC (Awakened Force Control) sama butanya dengan mereka saat ini. Rekaman video pengawas tak meninggalkan jejak apapun.

Ren sudah mengerti esensi masalahnya. Target pembunuhan sekaligus penculikan ini bukanlah penjahat jalanan kelas teri. Ini entitas anomali mutlak. Seseorang yang sanggup membuat anjing pelacak veteran sekelas Chen kehilangan taringnya.

Dan catatan arsip tidak pernah bohong. Chen sudah mengejar hantu ini cukup lama hingga ia menjadi frustasi. Wajar saja, kemampuannya dibuat tak berguna.

Sangat menyebalkan melihatnya begini, batin Ren. Helaan napas tipis lolos dari belahan bibirnya.

Sebuah ide gila tiba-tiba merayap di rongga kepalanya.

Bagaimana kalau aku membantunya sedikit?

Kemampuannya bukan sekadar anomali pasif. Ia bisa memelintir benang realitas. Mengurai batas wajar. Juga ia sudah banyak bereksperimen sebelumnya.

Staminanya tadi berhasil aku manipulasi, pikir Ren. Jari telunjuknya mengetuk pelan sisi paha.

Jika ia bisa menipu Chen agar berhenti merasa lelah, seharusnya ia bisa mendongkrak reseptor Trace milik kapten itu. Mendorong persepsinya menembus batas absolut manusia.

Tapi keraguan itu masih ada. Sensasi dingin merayap di tengkuk Ren. Rasanya persis seperti pertama kali ia menggunakan kehendaknya untuk merombak hukum fisika. Ada rasa ngeri akan konsekuensi yang tak terukur dari setiap distorsi yang ia ciptakan.

Namun, bunyi neon yang berkedip sekarat di mesin rusak itu makin mencekam telinga. Ren muak dengan kebuntuan yang membosankan ini.

Ia memfokuskan pikirannya. Kehendaknya mulai ia mainkan dalam diam.

Ren tidak merapal mantra. Ia tidak mengangkat tangan atau membuat gestur dramatis. Ia hanya menggeser tuas imajiner di dalam kepalanya. memainkan ulang frekuensi gelombang ruang di sekitar mereka.

Secara perlahan. Sangat halus. Ia merajut benang-benang anomali tak kasatmata, mengarahkannya langsung ke pusat saraf Chen yang masih membelakanginya. Ia berusaha membuatnya sealami mungkin. Menyamarkannya sebagai adrenalin murni.

Keheningan mengambil alih. Hanya ada sisa frustrasi yang menguar pekat dari tubuh sang kapten.

Satu menit berlalu. Chen masih menunduk. Napasnya berat dan putus asa.

Dua menit. Bahu Chen mulai melorot. Sikap tubuhnya memancarkan kekalahan total. Tangannya yang terkepal perlahan merenggang, bersiap menyerah pada kenyataan bahwa buruannya kembali lolos ke dalam bayangan kota.

Tepat di detik ketiga menit berikutnya, kehendak Ren terhubung sempurna.

Chen tersentak keras.

Pria itu terhuyung mundur satu langkah. Sepatu botnya menggesek aspal dengan bunyi melengking tajam. Kepalanya mendongak tiba-tiba, menatap lurus ke arah puing-puing ekskavator yang meleleh.

"Ini ..." Suara Chen bergetar parah. Bukan karena amarah. Itu adalah getaran syok absolut.

Mata Chen membelalak ngeri. Pupilnya yang memancarkan cahaya kini lebih terang lagi, merespons rentetan data visual yang membanjiri otaknya. Ia melihat jejak. Sesuatu yang sebelumnya tak tersentuh oleh realitas penglihatannya.

Akhirnya dia melihat sesuatu, batin Ren. Ia membiarkan bahunya sedikit relaks, menyembunyikan senyum simpul di balik raut apatisnya.

Tiba-tiba, Chen memutar lehernya. Patah-patah.

Tatapan kapten itu mengunci wajah Ren. Itu bukan raut kesenangan atas petunjuk baru. Bukan pula kelegaan.

Itu adalah kilat kecurigaan yang pekat. Ketidakpercayaan yang tajam bagai belati. Seolah Chen baru saja melihat sisi lain dari realitas, dan otaknya berusaha menghubungkan lonjakan kekuatan tidak masuk akal itu dengan keberadaan pemuda tenang di depannya.

Ren membalas tatapan itu tanpa berkedip. Menjaga wajahnya tetap kosong dari rasa bersalah.

Rahang Chen mengeras hebat. Ia menelan ludah, menekan paksa badai deduksi di kepalanya demi satu tujuan utama.

"Ikuti aku," parau Chen. Suaranya sedingin es kering, sarat akan penekanan mematikan. "Kita akan mengungkap pelakunya. Hari ini juga."

Ren hanya mengangguk pelan. Langkahnya kembali berayun, mengikuti kapten yang baru saja bangkit dari keputusasaan.

1
Filan
benda yang bakal memutar balikan keadaankah?
Ironside: Enggak sih, konteksnya sesuai judul cerita ini.
total 1 replies
Filan
kayaknya sekarang Ren bakal dapat kekuatan
Filan
satu Bab nya pendek juga ya.
Ironside: Legenda Penapak Langit
total 3 replies
Filan
ahli artefak dia...
Ironside: Iya, dia admin pemerintah/AFC soalnya. Jadi tahu banyak soal artifak, atau ... hal lain juga /Doge/
total 1 replies
Filan
untung ditepuknya ga kenceng ya 😅
Ironside: Kalau kencang, bisa remuk. xixixi 😆
total 1 replies
Filan
kalau langit-langit itu dalam bahasa Indonesia plafon.
Liu Bang Xie Lit (Hiastus)
sudah 28 chapter dan tidak ada insect, kecewa...
hiat: berakkkkk aja dia mah
total 6 replies
Became of Patung Berhala
Tikus Besar/Proud/
Ironside: Collosal Rat /Curse/
total 1 replies
Became of Patung Berhala
cepet banget abis kak/Curse/
Ironside: Memang pendek-pendek chapternya Kak /Curse/
total 1 replies
Became of Patung Berhala
keren banget kak semangat!😍
Aoooo
Insectnya mana kak/Curse/
Ironside: Tidak ada insect Kak /Curse/
total 1 replies
fernan Do
semangat thor
hiat
PoV 3 omnicient?
Ironside: /Scowl/, Hentikan /Curse/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!