Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-sama berkembang
Satu hal yang masih di sembunyikan Caramel, empat bulan yang lalu setelah Erlangga berhasil selamat dari serangan Yohan dan Kasir gadungan. Sebuah hologram keberhasilan misi muncul di hadapan Caramel, misi pertama Caramel telah berhasil di selesaikan.
Namun Caramel belum mau membuka hadiah itu dan menyimpannya sampai tiba waktu yang tepat. Arga juga menyetujui keputusan Caramel, karena mereka masih perlu fokus membantu Erlangga agar trauma nya membaik.
Kembali pada saat ini, Erlangga dan Yohan melakukan aktivitas sekolah seperti biasanya. Karena mereka berada di kelas yang berbeda, mereka jadi tidak bertemu tapi tetap saling mengawasi satu sama lain.
Itu karena Yohan memiliki tugas dari Arga agar selalu berada di sekitar Erlangga. Yohan mau tidak mau harus menuruti daripada celaka.
"Erlangga." Suara wanita terdengar di lorong kelas.
Erlangga menoleh, menatap wanita pucat yang terlihat kurus menatapnya dengan sayu. Dia Juwita, sudah beberapa hari terakhir kerap kali mengajak Erlangga bicara.
"Apa sih." Ketus Erlangga.
"Maaf, gue cuma pengen tanya soal Kevin." Ujarnya.
"Ya kalo lo kepo lo dateng aja ke penjara, ngapain tanya ke gue?." Erlangga tidak senang.
"Gue ngga pernah ke penjara dan kayaknya ngga bakal di bolehin ke sana sama ortu gue. Makanya gue tanya ke lo soal perkembangan Kevin, kalian kan temen deket." Ucap Juwita.
"Kalo Kevin suka sama lo bukan berarti semua manusia di dunia ini juga suka sama lo. Nggausah sok kenal sama gue, persetan mau gue temanan sama Kevin apa ngga, sama sekali ngga ada hubungannya sama lo." Erlangga muak dan berlalu pergi.
Juwita mematung, menatap kepergian Erlangga dengan sendu. Lorong kelas memang sedang sepi karena saat ini jam istirahat, semua siswa berada di kantin hanya Erlangga yang tidak pergi karena membawa bekal.
tap
tap
"Jangan nangis di jalan, suara lo kek hantu." Yohan melewati Juwita dengan santai.
"T-tunggu!!." Juwita menarik jaket Yohan.
"Hah? apa sih." Yohan tidak menyangka Juwita akan menahan nya juga.
"Lo temenan sama Erlangga baru-baru ini kan? jangan-jangan lo yang bikin Erlangga ngga deket lagi sama Kevin, lo kan yang hasut dia biar ngga suka sama gue? karena lo ngga suka Erlangga Deket sama Kevin?." Ucap Juwita, dia menuduh secara terang-terangan.
"Temen? gue? ogah banget." Yohan menolak mentah-mentah.
"T-tapi kalian selalu berangkat dan pulang bareng. Apa lagi kalau bukan temen deket?." Juwita bersikukuh.
"Gue numpang karena motor gue rusak, kenapa? lo ngga seneng?, ngga ada hubungannya antara gue sama pacar lo itu. Suka atau enggaknya Erlangga ya urusan dia lah." Yohan menarik jaketnya kasar, lalu pergi dengan cepat.
Juwita menggeram tidak senang, sebenarnya entah apa yang sedang di rencanakan oleh Juwita. Tidak tau apakah dia benar-benar khawatir, atau hanya ingin caper saat pacarnya sedang tidak ada. Wataknya masih abu-abu, karena itu Erlangga merasa sangat waspada dan menjaga jarak.
Saat pulang sekolah, Erlangga dan Yohan berjalan bersama menuju halte menunggu jemputan datang. Tangan kiri Erlangga yang di gips sangat mencolok perhatian, banyak yang berspekulasi jika Erlangga terlibat perkelahian serius kemarin.
"Gue sebenernya mau ke lapas remaja, lo balik duluan aja." Lirih Erlangga.
"Ngga bisa, gue tunggu lo di parkiran lapas aja." Tolak Yohan.
"Terserah, jangan nangis kalo jamuran nunggu di sana." Cuek Erlangga.
"Lo mau ketemu sama si Kevin-Kevin itu?." Tanya Yohan.
"Kenapa?." Erlangga menoleh.
"Ya nggapapa, penasaran aja karena nama itu terus di sebut sama cewe yang itu." Jujur Yohan.
"Lo penasaran sama anak yang udah ngacak-ngacak hidup lo?." Sindir Erlangga.
"Yang ngacak-ngacak hidup gue itu lo setan." Yohan berdecak kesal.
"Apaan tiba-tiba gue." Erlangga tidak terima.
"Ya kan karena lo dan bokap lo, Kevin jadi bisa kabur. Kalo dia ngga kabur hidup gue pasti ngga acak-acakan kaya gini." Gerutu Yohan.
"Kasian." Ledek Erlangga.
Tidak berselang lama jemputan datang, mereka pergi ke lapas penahanan remaja. Hanya Erlangga yang akan masuk ke dalam, Yohan akan menunggu di mobil bersama supir.
Saat masuk ke dalam, Erlangga mendapatkan tatapan tidak menyenangkan dari beberapa sipir dan polisi yang bertugas. Sepertinya karena Erlangga datang untuk menjenguk Kevin, kejadian sebelumnya membuat nama Kevin di benci oleh aparat di sana.
Erlangga sudah duduk di ruangan pertemuan, di hadapannya sudah ada Kevin yang tampangnya terlihat sangat berbeda. Meskipun terhalang kaca, Erlangga bisa melihat dengan jelas bekas luka dan tatapan mata lelah dari Kevin.
"Sorry gue baru jenguk, kayaknya lo lagi kenapa-kenapa ya?." Ujar Erlangga memulai obrolan.
"Kayaknya lo juga sama, ada musuh yang ngincer lo di sana? apa masih tentang RUDE?." Ujar Kevin.
"Ngga, gue patah tulang karena keserakahan gue." Erlangga menunduk malu.
"Maksud lo?." Heran Kevin.
"Kemarin setelah denger masalah yang lo alamin, gue ngrasa iri dan ngga seneng karena lo berkembang pesat selama empat bulan. Sedangkan gue masih gini-gini aja, gue iri dan mulai serakah. Bokap dan Nyokap gue langsung hajar gue dengan niat membunuh, gue bener-bener di hajar habis-habisan biar gue ngerasain apa yang lo rasain di dalam sana. Setelah sadar gue malu banget, gue ngrasa jadi pecundang memalukan yang bahkan ngga punya muka buat ketemu lo. Tapi, gue tetep pengen minta maaf. Sorry karena gue sempet serakah dan iri sama lo, padahal lo di sana sedang berjuang mati-matian biar tetap hidup." Ucap Erlangga, dia masih menunduk merasa malu.
Kevin yang mendengar itu terdiam, dia tidak menyangka Erlangga akan sampai minta maaf. Padahal dulu Kevin juga sering iri dengki dan tidak senang dengan apa yang di miliki oleh Erlangga, tapi dia tidak pernah sekali pun minta maaf.
"Gue juga minta maaf." Ucap Kevin.
"Hah?." Erlangga mendongak kaget.
"Sebenarnya dulu gue juga iri dengki dan ngga suka liat lo punya keluarga yang hangat. Gue iri banget, gue selalu ngrasa kenapa lo bisa ngerasain itu semua. Sekarang gue ngrasa tertampar banget karena lo minta maaf, harusnya gue duluan yang minta maaf." Kevin tersenyum, Erlangga terdiam mendengar itu.
"Hahahahah." Erlangga tertawa canggung, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Gue bakal keluar dari sini 5 bulan lagi, gue berterimakasih banget berkat bantuan keluarga lo sekarang Ibu gue aman. Ibu gue udah terlepas dari bajingan itu, dan gue juga bentar lagi bakal keluar dari neraka ini. Sekarang lo pasti lagi di kejar-kejar RUDE kan? bertahan sampe gue keluar dari sini___
"Stop mikir kalo setelah keluar dari penjara lo mau balas dendam langsung ke mereka." Potong Erlangga.
"Terus? lo mau nunggu gitu?." Kevin kesal.
"Mereka itu organisasi besar yang punya backingan ngga main-main. Emangnya lo yakin bisa lawan mereka? mikir." Erlangga penuh logika.
"Terus lo punya rencana?." Tanya Kevin.
"Sebenernya gue sempet dapet serangan dari mereka sekitar empat bulan lalu.........
Erlangga menceritakan kisah pertemuan nya dengan Yohan. Alasan saat ini Yohan sudah berada di pihaknya, lalu apa saja yang dia lakukan selama empat bulan terakhir. Tidak lupa soal Juwita yang mulai membuat Erlangga risih, Erlangga bicara dengan terus terang jika dia tidak suka pada Juwita.
"Juwita." Gumam Kevin, dia bahkan baru ingat nama itu.
"Intinya lo fokus aja bertahan hidup, seperti niat awal lo yang pengen ngasah kemampuan karate. Lo harus jadi lebih kuat setelah keluar dari sini, karena gue juga ngga akan diem aja. Selama lo di penjara biar mereka jadi urusan gue, lagian di sini juga pasti ada antek-antek mereka yang pengen bunuh lo diem-diem." Bisik Erlangga menatap penuh arti.
"Haha gue bahkan gabisa tidur nyenyak, karena kalo gue lengah kepala gue pasti hilang." Bisik Kevin, menatap Erlangga dengan datar.
"Gue bakal dateng lagi lain waktu, setidaknya gue lega karena lo masih hidup. Di pertemuan selanjutnya, lo harus keliatan jauh lebih baik dari hari ini." Erlangga berdiri, waktu pertemuan sudah habis.
"Bacot." Kevin tersenyum.
Erlangga keluar dari lapas dengan senyum yang lebih ringan. Dia merasa jauh lebih baik karena sudah meminta maaf, dia menatap langit cerah dan bertekad akan segera menghancurkan organisasi kriminal yang bernama RUDE.