NovelToon NovelToon
THE FORGOTTEN PAST

THE FORGOTTEN PAST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Dark Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?

Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.

Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.

Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.

*
karya orisinal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Telinga Karina berdengung keras saat kalimat itu keluar dari mulut Jake. Rasanya seperti ledakan di kepalanya, membuat ia hampir kehilangan keseimbangan. Sontak, ia berdiri dengan gemetar, melangkah mendekati Jake. Matanya menatap tajam, penuh ketidakpercayaan dan kemarahan yang terselip di antara rasa bingung.

“Apa yang barusan kamu bilang?” desis Karina, suaranya bergetar. “Ranra ibuku? Jangan bercanda! Ibuku… ibuku sudah meninggal!”

Kalimat itu menimbulkan denyut di kepalanya. Ia menepis pikiran itu. Pasti salah dengar. Harus salah dengar. Ia ingat wajah ibunya, dan orang di bunuh Hugo tadi jelas bukan ibunya.

“Saya tidak mengada-ada, nona,” jawab Jake, suaranya tenang. Ia menoleh sejenak ke arah pintu utama, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Kemudian kembali menatap Karina. “Awalnya ini memang rahasia di antara para Demon Silence, tapi belakangan ini semua orang sudah tahu. Ranra… ibu anda, nona.”

Dunia Karina seakan runtuh dalam sekejap. Tubuhnya gemetar, sendi-sendinya melemah, dan beberapa langkah mundur membuatnya akhirnya jatuh terduduk di lantai. Napasnya tersengal, dadanya sesak, seolah ada beban tak terlihat yang menindih setiap tarikan nafas.

Ranra… ibunya?

Benarkah ini nyata?

Tiba-tiba, dada Karina terasa seperti dihimpit oleh ribuan batu berat, denyut di kepalanya bergemuruh seperti guntur. Kepala dan hatinya berteriak tanpa suara, keterkejutan dan ketidakpercayaan bercampur menjadi rasa sakit yang menusuk ke seluruh tubuhnya.

“Nona,” Jake berjongkok di depannya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. Ia mencoba menenangkan Karina dengan suara lembut. “Maafkan saya… saya tidak bermaksud membuat anda terkejut.”

Karina mengangkat satu tangan yang gemetar, memberi isyarat agar Jake tetap menjauh. Ia memejamkan mata, membiarkan kepingan-kepingan mimpi buruk yang selama ini menghantuinya merayap masuk ke pikirannya, satu demi satu.

Dalam mimpi itu, ia berlari tanpa arah di sepanjang jalan, sampai tiba-tiba seorang wanita jatuh tepat di hadapannya. Wajahnya samar, namun Karina menangkap bayangan kantong besar yang dipeluk erat oleh wanita itu. Setiap kali ia mencoba melihat wajah wanita itu lebih jelas, mimpi itu selalu berhenti, meninggalkan ketidakpastian yang membingungkan.

Jika mimpi itu memang bagian dari ingatan yang hilang, apakah wanita itu… Ranra?

“Kenapa…?” Karina menatap kosong ke langit-langit, keringat menetes di pelipisnya. “Kenapa aku bisa melupakannya? Kalau dia ibuku, kenapa aku tidak merasakan ikatan apapun saat berada di dekatnya?”

Belum sempat Jake menjawab, pintu utama terbuka dengan cepat. Damon masuk, membawa sebuah peti hitam di bahunya, langkahnya tegas dan hati-hati.

“Karin,” Damon berkata sambil meletakkan peti itu di dekat pintu, kemudian berlari mendekati Karina yang masih terduduk lemah di lantai.

“Maafkan saya, Tuan,” ujar Jake berulang kali, membungkuk pada Damon.

“Apa yang terjadi?” tanya Damon, matanya menatap tajam ke Jake, menuntut penjelasan yang masuk akal sekaligus membuat Jake merasa harus berhati-hati.

“Damon, benarkah… Ranra ibuku?” tanya Karina, suaranya bergetar, nyaris berupa bisikan putus asa.

Damon hanya menatapnya sebentar, kemudian membantu Karina berdiri dengan lembut. Ia memapahnya ke sofa, menahan tubuh Karina yang masih gemetar. Kebungkaman Damon membuat Karina tertawa serak, tapi sudut matanya basah. Air mata mengalir deras, dan ia menangis tanpa bisa ditahan.

“Kamu boleh pergi, Jake. Nanti malam kita bicara,” kata Damon dingin.

“B-baik, Tuan,” jawab Jake tergagap, membungkuk sekali lagi sebelum bergegas keluar. Dalam sekejap, dia sudah menghilang di balik pintu.

“Jawab, Damon,” pinta Karina, suaranya mulai meninggi. “JAWAB! RANRA… IBUKU… ATAU BUKAN?”

Damon tetap diam. Rahangnya mengeras, seperti sedang menahan amarah sekaligus kesedihan yang tak ingin ia diungkapkan.

“Jawab! Tolong jawab!” Karina semakin panik. Ia menarik ujung kemeja Damon, pipinya basah oleh air mata yang terus mengalir. “Jawab… aku harus tahu!”

Akhirnya Damon menghela napas berat. “Ya… Ranra ibumu,” jawabnya tegas, sambil menyisir kasar rambutnya sendiri. Ia duduk di depan Karina, tangan terkepal, menatapnya dengan serius. “Tapi jangan paksa dirimu untuk mengingat masa lalu itu, Karin. Ada hal-hal yang terlalu menyakitkan untuk dipaksa kembali sekarang.”

“A–aku membiarkan ibuku mati. Aku membiarkan mereka membunuh ibuku…” Karina menunduk, napasnya tersengal-sengal. Air mata menetes deras, membasahi pipinya. Tangisnya berubah menjadi isak yang tak bisa ditahan lagi. Suara gemeretak di tenggorokannya terdengar di ruangan yang hening, menembus sunyi hari itu.

Damon tetap diam. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya duduk di dekat Karina. Perlahan, ia mengulurkan tangannya dan memeluk Karina.

Tubuh Karina menggigil saat ia menempel pada Damon, melepaskan semua rasa sakit, kebingungan, dan kehilangan yang selama ini terpendam. Tangisnya yang terselubung rasa bersalah dan luka batin itu kini mengalir bebas.

Damon memeluknya lebih erat, menahan Karina agar tidak jatuh, tetapi tetap membiarkannya menumpahkan semua emosi. Keheningan mereka dipenuhi hanya oleh isakan Karina dan detak jantung yang saling terasa.

Setelah beberapa menit nafas Karina mulai mereda sedikit demi sedikit. Perlahan, tangannya yang gemetar menggenggam lengan Damon, seolah mencari pegangan dan rasa aman. Damon tetap diam, menunggu hingga Karina merasa cukup tenang untuk mengangkat kepalanya.

“Kenapa aku bisa lupa?” Karina mengusap air matanya, suaranya masih sedikit bergetar. Ia menatap Damon, menuntut penjelasan lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya.

“Ingatan dan perasaanmu terhadap masa lalu disegel,” jawab Damon pelan. “Itu membuatmu tidak bisa mengenali ibumu sendiri, bahkan tidak bisa mengingat apapun.”

Ia melepaskan tangan Karina dan berdiri di ujung sofa. “Apa yang terjadi saat itu terlalu menyedihkan. Ranra tidak ingin kamu menanggung rasa sakit itu dengan mengingatnya.”

“Kenapa?” Karina bertanya, alisnya mengerut, nafasnya masih tersengal dari tangis yang baru reda.

“Demon Silence sedang menghadapi masa menuju kepunahan,” Damon menjelaskan. “Darah, hati, bahkan jantung manusia… tidak akan bisa menyelamatkan mereka dari kehancuran itu.”

Ia menarik nafas sejenak, menenangkan dirinya sebelum melanjutkan. “Hanya ingatanmu yang bisa menjadi kunci. Satu-satunya peramal Demon Silence yang tersisa percaya, kamu adalah satu-satunya yang tahu di mana letak kunci untuk mencegah kepunahan itu.”

Alis Karina bertaut. Otaknya bekerja cepat, mencoba menyusun potongan-potongan informasi yang baru saja diterimanya. “Jadi undangan ke rumah Hugo itu salah satu cara untuk mengembalikan ingatanku yang hilang?”

“Benar,” Damon mengangguk pelan. “Apa yang kamu saksikan di rumah itu adalah kejadian yang sudah pernah terjadi di masa lalu. Mereka melakukannya karena percaya, jika kamu menyaksikan kembali peristiwa itu, segel di ingatanmu akan terlepas, dan kamu akan mengingat semuanya.”

Karina menelan ludah, ketegangan di dadanya meningkat. “Bagaimana jika setelah ingatanku pulih… aku tetap tidak tahu dimana kunci itu?” Suaranya semakin pelan. “Apa yang akan mereka lakukan padaku jika mereka tidak bisa mendapatkan apa yang mereka cari?”

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Maya Sari
Sangat menarik,seru ceritanya,bikin penasarn.
Maya Sari
Ceritanya seru….apa ada kelanjutan nya kk?
Nda
apakah yg berdiri di seberang jln itu hugo
Nda
makin penasaran thor,jangan sampe karina ketahuan Hugo.
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
Nda
double up donk thor🤭,makin penasaran😩
Nda
duhh.. makin penasaran,apa jgn² benar Hugo itu vampir
Nda
novelmu keren thor
Nda
ditunggu double up-nya thor
Nda
duh,tunggu kelanjutanya thor makin penasaran,apakah itu fto karina🤭
lisa_lalisa
duhh, makin penasaran 😞
Nda
sebenarnya Hugo manusia vampir atau kanibal
di tunggu double up-nya thor
Kevin
Next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!