NovelToon NovelToon
CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Sistem / Cintapertama / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan dan kabar duka

***

Hujan turun sejak siang.

Sepulang dari sekolah, Elara tidak lagi keluar dari rumah. Ia memilih mengurung diri di dalam pondok kecilnya. Menjaga jarak dari rumah utama, dari para pelayan, dan terutama dari Marquis.

Elara tidak ingin ada gosip lagi. Elara tidak ingin terlihat berdekatan dengannya.

Tidak ingin lagi tiba-tiba didatangi.

Sore itu, Elara sedang mengerjakan tugas sekolah Namun tiba-tiba suara ketukan terdengar di pintu.

Tok.

Tok.

Elara tak langsung membuka, dia mengintip dari celah jendela sebelum berani membuka. Dua orang penjaga rumah utama berdiri di sana.

Dengan ragu, Elara membuka pintu.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

Salah satu penjaga berbicara sopan, “Nyonya Marianne memanggilmu. Kau diminta menghadap ke paviliun.”

Nama itu membuat tenggorokannya mengering.

Elara menelan ludah.

Selama tujuh tahun tinggal di Kaelmont, Marianne tidak pernah sekalipun memanggilnya secara langsung. Dan selama tujuh tahun pula, Paman Alden selalu berpesan:

Jangan pernah berurusan dengan Nyonya Marianne.

Namun sekarang, Elara tidak punya pilihan.

Dengan hati berdebar, Elara mengikuti para penjaga menuju rumah utama.

Di paviliun, Marianne sudah duduk dengan anggun. Secangkir teh hangat berada di hadapannya.

Meski usianya hampir lima puluh tahun, kecantikannya masih terpancar seperti wanita muda. Wajahnya tenang—namun sorot matanya dingin.

Elara berhenti di depan meja. Ia menunduk hormat. Marianne meletakkan cangkirnya perlahan.

“Kau tahu mengapa aku memanggilmu?” tanyanya datar.

“Aku tidak tahu, Nyonya.”

“Apa kau sudah mendengar gosip yang beredar?”

Elara mengangguk pelan.

“Lalu bagaimana kau berani menggoda seorang Marquis?”Nada suaranya tajam.

Elara terkejut.

“Aku sungguh tidak melakukan itu, Nyonya,” ucapnya cepat, masih menunduk.

“Kalau begitu,” balas Marianne dingin,

“bagaimana kau menjelaskan gaun itu? Kehadiranmu di mansion pribadinya? Dan Marquis yang datang ke pondokmu?”

Elara gugup.

“Tentang gaun itu, aku sungguh tidak tahu, Nyonya. Aku mengira itu dari Anda. Dan aku ke mansion itu karena menggantikan Paman Alden. Lalu—”

“Kau berani menyangkal?” potong Marianne keras.

Elara terdiam. Tangannya bergetar. Ia segera menutup mulutnya, menyesali kata-katanya.

Marianne menatapnya dengan penuh penghinaan.

“Harusnya kau sadar diri.”

“Kau hanya gadis miskin yatim piatu yang hidup dari belas kasihan.”

“Kau seharusnya bersyukur pada Alden. Tanpanya, kau bahkan tidak pantas berada di Kaelmont.”

Kata-kata itu menghantam Elara tanpa ampun.

Dadanya sesak.

Matanya mulai memanas.

Namun ia tetap diam.

Elara mengangkat wajahnya perlahan.

Matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak pernah berniat merepotkan siapa pun, Nyonya,” bisiknya. “Aku hanya ingin hidup tenang.”

“Tenang?” Marianne tersenyum tipis. Sinis.

“Keberadaanmu saja sudah menjadi masalah.”

“Mulai besok, kau tidak boleh lagi mendekati Marquis. Tidak boleh keluar pondok tanpa izin. Dan bersiaplah…”

“…jika suatu saat kau harus pergi dari Kaelmont.”

Pergi?

Elara menggigit bibir, menahan air mata.

“Iya, Nyonya,” jawabnya lirih.

Hujan masih turun saat Elara meninggalkan paviliun.

Langkahnya pelan. Kepalanya tertunduk.

Kata-kata Marianne terus terngiang di kepalanya.

Kau hanya gadis miskin yatim piatu.

Keberadaanmu saja sudah menjadi masalah.

Kau tidak pantas berada di Kaelmont.

Dadanya terasa sesak.

Air mata mulai jatuh.

Diam-diam.

Tanpa suara.

Elara membiarkan hujan dan air matanya bercampur di pipi.

Pandangan matanya kosong. Namun Elara tetap berjalan.

Hingga—

Kakinya tersandung batu kecil di tanah basah.

“A—!”

Tubuhnya oleng.

Hampir saja ia jatuh—Namun seseorang dengan cepat menarik lengannya.

“Elara!”

Tubuhnya tertahan.

Elara terkejut.

“Kau kenapa? Kau tidak apa-apa?” tanyanya cemas.

Begitu mendengar suara itu…

Pertahanan Elara runtuh.

Air matanya yang sejak tadi ia tahan, akhirnya pecah.

Elara menangis, tersedu-sedu. Bahkan bahu kecilnya bergetar.

Eryn menjadi panik.

“Elara, hei… lihat aku,” ucapnya lembut. “Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis begini?”

Tangis Elara semakin keras. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Kata-katanya sakit sekali, Eryn…” bisiknya di sela isak.

“Aku… aku capek…”

Eryn terdiam. Hatinya terasa diremas.

Tanpa banyak bicara, Eryn membuka payungnya lebih lebar, memayungi mereka berdua.

“Sudah, ayo pulang.” katanya pelan

Eryn menggenggam tangan Elara erat.

Seolah berkata: Kau tidak sendirian

Eryn mengantar Elara pulang.

Sepanjang jalan, Elara lebih banyak diam. Sesekali isaknya terdengar pelan.

Sesampainya di pondok, Eryn menuju dapur memasak air panas lalu menuang air panas ke dalam cangkir, memasukkan daun teh, lalu mengaduknya perlahan.

“Minum dulu,” ucapnya sambil mendekat.

Elara menerima cangkir itu dengan tangan gemetar.

“Terima kasih…”

Suaranya nyaris tak terdengar.

Eryn kemudian berjongkok di depan perapian, menambahkan beberapa kayu kering. Api kembali menyala hangat, memantulkan cahaya jingga ke dinding pondok.

“Biar tidak dingin,” katanya singkat.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan di pintu terdengar lagi.

Kali ini lebih keras. Elara dan Eryn saling berpandangan.

“Biar aku buka,” ucap Eryn pelan.

Eryn melangkah ke pintu dan membukanya perlahan.

Di depan mereka, berdiri seorang prajurit.

Baju besinya basah oleh hujan. Beberapa bagian masih ternodai darah yang belum sepenuhnya kering. Wajahnya tampak lelah, matanya redup.

Elara melangkah mendekat.

“Ada… apa?” tanyanya lirih.

Prajurit itu berdiri tegap, lalu menundukkan kepala sebentar.

Napasnya terdengar berat.

“Maafkan kami,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah.

“Tuan Alden… gugur di perbatasan. Serangan datang tiba-tiba. Kami tak sempat menyelamatkannya.”

Dunia Elara seketika berhenti.

Suara hujan menghilang.

Suara api di perapian memudar.

Suara napas Eryn pun seakan lenyap.

Semua terasa jauh.

“…Apa?” bisiknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!