NovelToon NovelToon
Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Horror Thriller-Horror
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: DOSA DI MASA LALU

BAB 7: DOSA DI MASA LALU

Arga menatap kertas alamat di tangannya. Matanya membelalak. Tubuhnya mendadak kaku, lebih kaku daripada saat ia melihat wanita berbaju putih di jok belakang motornya.

Alamat: Jalan Melati No. 4, Rumah Tua Berpagar Hijau.

Penerima: Bapak Surya.

Catatan: Antar sebelum fajar menyentuh nisan.

"Ini... ini nggak mungkin," bisik Arga. Suaranya tercekat di tenggorokan.

Baskara yang masih berdiri di sampingnya melirik kertas itu. "Ada apa? Kau kenal alamatnya?"

"Ini rumah lama keluargaku," jawab Arga dengan napas memburu. "Dan Surya... itu nama ayahku. Tapi ayahku sudah meninggal lima tahun lalu dalam kecelakaan yang sama dengan Laras!"

Baskara terdiam. Ia menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan dan peringatan. "Sudah kubilang, Ar. Mereka tidak memilih alamat secara acak. Mereka mengirimmu ke sana karena ada 'hutang' yang belum lunas."

Tanpa membuang waktu, Arga menghidupkan motornya. Tas kurir di bahunya terasa sangat berat. Detak jantung dari dalam tas itu semakin cepat, seolah-olah paket itu sedang mengalami serangan panik. DUG-DUG-DUG-DUG!

Arga sampai di depan rumah tua itu. Pagar hijaunya sudah berkarat dan ditumbuhi tanaman merambat yang liar. Rumah ini seharusnya kosong sejak ibunya pindah ke kontrakan kecil setelah kematian ayah dan adiknya.

Namun, malam ini, lampu kuning di teras rumah itu menyala.

Arga melangkah masuk ke halaman. Bau tanah basah dan melati busuk menyengat hidungnya. Ia mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk itu.

Tok... Tok... Tok...

"Paket..." suara Arga bergetar.

Pintu terbuka perlahan dengan suara derit yang panjang. Di balik pintu, tidak ada siapa-siapa. Ruang tamu itu tampak persis seperti lima tahun lalu. Foto keluarga masih tergantung di dinding, namun wajah Arga dalam foto itu tampak menghitam, seolah terbakar dari dalam.

"Ayah?" panggil Arga lirih.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah dapur. Langkah itu berat, diseret, seperti seseorang yang kakinya patah namun dipaksa berjalan.

Seorang pria muncul dari kegelapan lorong dapur. Ia memakai kemeja batik yang sudah sobek-sobek dan berlumuran noda aspal kering. Wajahnya... separuh wajah pria itu hancur, rata dengan tanah, persis seperti kondisi jenazah ayahnya saat ditemukan di kolong truk lima tahun lalu.

Arga mundur hingga menabrak lemari kaca. "Ayah... ini nggak nyata..."

Sosok itu tidak bicara. Ia hanya menunjuk ke arah tas kurir Arga dengan jarinya yang bengkok.

Arga dengan gemetar membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah toples berisi cairan merah kental yang di dalamnya mengapung sebuah kunci emas.

"Buka... pintunya..." suara itu bukan berasal dari mulut sosok tersebut, melainkan bergema di dalam kepala Arga.

"Pintu apa, Yah?" tangis Arga pecah.

Sosok ayahnya menunjuk ke arah lantai di bawah meja makan. Arga mendekat dan menggeser karpet tua yang sudah berdebu. Di sana terdapat sebuah pintu kecil menuju ruang bawah tanah yang selama ini Arga tidak pernah tahu keberadaannya.

Arga memasukkan kunci emas itu ke lubangnya. Begitu pintu terbuka, bau busuk yang luar biasa menyambar wajahnya.

Di dalam ruang bawah tanah itu, Arga melihat sesuatu yang membuat dunianya jungkir balik. Ada tumpukan berkas-berkas kecelakaan lama, termasuk kecelakaan ayahnya sendiri. Dan di sana, terdapat sebuah surat perjanjian kuno yang ditandatangani oleh ayahnya dengan darah.

Ayahnya ternyata pernah menjadi Kurir Nyawa sebelum Arga.

Kontrak itu menunjukkan bahwa ayahnya menukarkan nyawanya sendiri agar Arga tetap hidup saat kecelakaan lima tahun lalu. Arga seharusnya mati hari itu, tapi ayahnya mengambil paket "Kematian Pengganti".

Sosok ayahnya mendekat. Ia mengambil toples cairan merah dari tangan Arga dan meminumnya hingga habis. Seketika, luka-luka di wajah ayahnya menutup, namun matanya tetap kosong.

"Tugasmu belum selesai, Arga," bisik suara di kepala Arga. "Kau tidak mengantar paket untuk menyelamatkan Ibu. Kau mengantar paket untuk membayar hutang nyawamu sendiri."

Tiba-tiba, jam dinding berdentang. 04.00.

Sosok ayahnya hancur menjadi debu di depan mata Arga. Rumah tua itu mendadak menjadi gelap dan sunyi. Arga terduduk di lantai yang dingin, menangis sejadi-jadinya.

Ia melihat telapak tangannya. Angka "3" telah berganti menjadi angka "4".

Di dalam debu bekas ayahnya, Arga menemukan sebuah foto baru. Foto itu memperlihatkan Arga sedang berdiri di depan cermin, namun bayangannya di cermin adalah sosok pria tua dari gudang ekspedisi.

Arga menyadari sebuah rahasia besar: Siapapun yang gagal atau menyelesaikan 30 paket, akhirnya akan menjadi bagian dari Layanan Pengiriman Sembilan itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!