NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 – Zona Tanpa Nama

Perubahan berikutnya tidak terjadi di lapangan latihan.

Justru di tempat yang paling jarang diperhatikan jalur penghubung antara paviliun murid dalam dan area penyimpanan formasi lama. Jalur itu tidak pernah benar-benar sepi, namun juga tidak pernah menjadi pusat aktivitas. Sebuah zona abu-abu di dalam sekte.

Dan pagi itu, Ren Tao ditugaskan ke sana.

Perintahnya sederhana.

Pengawasan rutin.

Durasi tidak ditentukan.

Tidak ada alasan resmi. Tidak ada penjelasan tambahan.

Ren Tao membaca isi batu giok tugasnya dengan tenang, lalu menyimpannya tanpa ekspresi. Ia tidak bertanya. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan hanya memperjelas bahwa dirinya sadar sedang diuji.

Ia berangkat sendiri.

Zona itu dipenuhi struktur batu tua sisa fondasi formasi lama yang sudah tidak aktif sepenuhnya. Aliran qi di sini tidak stabil, terkadang menguat, terkadang menghilang sama sekali. Bagi kebanyakan murid, tempat ini tidak nyaman.

Bagi Ren Tao, tempat seperti ini justru penuh informasi.

Ia berjalan perlahan, mencatat perubahan tekanan qi di setiap langkah. Tidak ada ancaman langsung, tapi ketidakteraturan ini sendiri adalah bentuk tekanan lain memaksa kewaspadaan terus-menerus.

Beberapa jam berlalu tanpa kejadian.

Lalu ia merasakannya.

Bukan serangan. Bukan niat membunuh.

Sebuah kehadiran.

Ren Tao berhenti di dekat pilar batu yang retak. Ia tidak menoleh. Tidak mengubah posisi. Hanya menyesuaikan aliran qi-nya agar tetap netral.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Seorang murid dalam muncul dari balik bayangan struktur. Jubahnya rapi, ekspresinya datar. Ren Tao mengenalnya bukan dari Unit Ketujuh, bukan pula dari Unit Ketiga.

Unit Keenam.

“Wilayah ini jarang dijaga,” kata murid itu, nada suaranya netral. “Kau ditempatkan sendirian?”

Ren Tao menjawab tanpa menoleh. “Tugasku jelas.”

Murid itu tersenyum tipis. “Tugas bisa berubah.”

Ren Tao akhirnya menoleh. Tatapannya tenang, tidak defensif. “Kalau ada perubahan resmi, aku akan menerima.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Murid Unit Keenam itu mengamati Ren Tao dengan lebih saksama. Bukan mencari celah fisik melainkan respons mental. Ia tidak bergerak lebih dekat. Tidak pula mundur.

“Aku hanya ingin tahu,” katanya akhirnya, “apa kau selalu bertindak seperti ini?”

“Seperti apa?” tanya Ren Tao.

“Tidak memberi reaksi.”

Ren Tao menjawab datar. “Reaksi adalah sumber kesalahan.”

Murid itu tertawa kecil. “Kau benar-benar berbeda.”

Ia melangkah mundur satu langkah, lalu berhenti. “Saran saja. Tempat seperti ini sering dipakai untuk mengukur siapa yang layak dan siapa yang bisa ditekan.”

Ren Tao tidak menjawab.

Murid itu pergi tanpa insiden.

Zona kembali sunyi.

Ren Tao berdiri beberapa saat lebih lama, memastikan tidak ada perubahan qi yang tertinggal. Setelah yakin, ia melanjutkan patroli.

Sore hari, tugasnya selesai tanpa catatan pelanggaran.

Namun laporan tidak berhenti di situ.

Di paviliun pengawas, laporan dari berbagai arah mulai terkumpul. Bukan hanya dari zona penyimpanan melainkan dari lorong, ruang makan, bahkan jalur meditasi.

Satu kesamaan di semua laporan itu.

Ren Tao tidak bereaksi berlebihan.

Tidak terpancing.

Tidak melanggar.

Tidak memberi alasan.

Wei Kang membaca laporan-laporan itu satu per satu.

“Dia mulai mengunci dirinya,” gumamnya.

Tetua di sampingnya mengangguk pelan. “Itu reaksi alami bagi yang sadar dia sedang diawasi.”

“Atau,” lanjut Wei Kang, “reaksi seseorang yang justru ingin melihat sejauh mana tekanan akan meningkat.”

Ia menutup laporan terakhir.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “zona berikutnya tidak akan netral.”

Malam itu, Ren Tao duduk bersila di kamarnya. Ia tidak segera masuk ke meditasi dalam. Ia memikirkan pertemuan singkat hari ini kata-kata yang diucapkan, jeda yang disengaja, kehadiran yang terlalu tepat waktu untuk disebut kebetulan.

Mereka mulai menguji bukan kekuatannya.

Melainkan batas reaksinya.

Ren Tao membuka mata.

Jika mereka ingin melihat respons emosional, maka ia akan memberi ketenangan ekstrem.

Jika mereka ingin kesalahan kecil, maka ia akan mengurangi setiap variabel.

Permainan ini telah memasuki fase baru.

Dan kali ini, medan perangnya tidak memiliki nama.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!