NovelToon NovelToon
ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Ia ditemukan di tengah hujan, hampir mati, dan seharusnya hanya menjadi satu keputusan singkat dalam hidup seorang pria berkuasa.

Namun Wang Hao Yu tidak pernah benar-benar melepaskan Yun Qi.

Diadopsi secara diam-diam, dibesarkan dalam kemewahan yang dingin, Yun Qi tumbuh dengan satu keyakinan: pria itu hanyalah pelindungnya. Kakaknya. Penyelamatnya.
Sampai ia dewasa… dan tatapan itu berubah.

Kebebasan yang Yun Qi rasakan di dunia luar ternyata selalu berada dalam jangkauan pengawasan. Setiap langkahnya tercatat. Setiap pilihannya diamati. Dan ketika ia mulai jatuh cinta pada orang lain, sesuatu dalam diri Hao Yu perlahan retak.

Ini bukan kisah cinta yang bersih.
Ini tentang perlindungan yang terlalu dalam, perhatian yang berubah menjadi obsesi, dan perasaan terlarang yang tumbuh tanpa izin.

Karena bagi Hao Yu, Yun Qi bukan hanya masa lalu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Pagi di apartemen itu selalu datang dengan cara yang sama sunyi, bersih, dan terlalu teratur. Yun Qi terbangun sebelum alarmnya berbunyi. Bukan karena mimpi buruk, bukan pula karena suara bising, melainkan karena kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang. Ia duduk di ranjang, menatap jendela besar yang tirainya setengah terbuka. Cahaya matahari pagi masuk dengan lembut, menyapu lantai kayu dan sudut-sudut kamar yang masih terasa asing.

Sudah tiga hari ia tinggal di sini. Dan setiap pagi, perasaannya selalu sama tenang di permukaan, tapi gelisah di dalam. Ia turun dari ranjang, merapikan rambut dengan tangan, lalu berjalan ke kamar mandi. Air dingin membasuh wajahnya, membuatnya sedikit lebih sadar. Pantulan dirinya di cermin terlihat lebih… dewasa. Bukan karena penampilan, tapi karena situasi. Tinggal serumah dengan Wang Hao Yu bukan lagi kenangan masa kecil. Ini nyata. Ini sekarang.

Ketika Yun Qi keluar kamar, aroma kopi kembali menyambutnya. Ia berhenti sejenak di ujung koridor, menarik napas pelan.

Hao Yu sudah ada di dapur. Pria itu berdiri membelakangi Yun Qi, mengenakan kemeja gelap dan celana bahan. Tangannya sibuk menuang kopi, sementara jam tangannya berkilau terkena cahaya pagi. Semuanya terlihat rapi, terkendali seperti dirinya. “Pagi, Ge,” sapa Yun Qi pelan.

Hao Yu menoleh. Tatapannya jatuh ke wajah Yun Qi yang masih sedikit mengantuk, rambutnya diikat asal. Ada jeda sepersekian detik sebelum ia menjawab. “Pagi.” Satu kata. Nada datar. Namun matanya mengamati lebih lama dari yang seharusnya.

Yun Qi duduk di kursi yang sama seperti kemarin. Kursi itu seolah sudah menjadi tempatnya tidak ditetapkan, tapi terasa begitu. Hao Yu mendorong piring ke arahnya. “Kamu harus sarapan,” katanya.

“Itu terdengar seperti perintah,” balas Yun Qi spontan, lalu langsung menyesal. Hao Yu mengangkat alis sedikit. Bukan marah lebih seperti terkejut. “Kebiasaan,” jawabnya singkat. “Maaf.” Permintaan maaf itu keluar begitu saja, nyaris tak terdengar. Yun Qi terdiam. Ia menunduk, menatap roti di piringnya.

“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Saya… terbiasa juga.” Mereka makan dalam diam. Keheningan pagi itu tidak canggung, tapi juga tidak hangat. Seperti dua orang yang berjalan sejajar, belum tahu apakah harus saling mendekat atau tetap menjaga jarak aman.

Hao Yu berdiri lebih dulu, mengambil jasnya. “Sopir akan mengantarmu,” katanya. “Aku berangkat sekarang.”

Yun Qi mengangguk. “Ge… hati-hati.” Langkah Hao Yu terhenti sesaat. Ia menoleh, menatap Yun Qi dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Kamu juga.”

Pintu tertutup. Apartemen kembali sunyi. Yun Qi menghela napas panjang. Ia berdiri di tengah ruang makan, merasa kecil di ruangan yang terlalu besar. Rutinitas pagi itu berulang, rapi, tanpa emosi berlebih namun justru itulah yang membuatnya terasa berat.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Pagi yang sunyi. Sarapan singkat. Sopir yang menunggu. Hao Yu yang selalu berangkat lebih dulu, pulang larut, dan berbicara seperlunya. Namun Yun Qi mulai menyadari hal-hal kecil.

Setiap pagi, meja makan selalu ditata untuk dua orang, meski Hao Yu sering hanya minum kopi. Setiap malam, lampu ruang tamu selalu menyala sampai Yun Qi pulang, meski pria itu belum tentu ada di rumah. Dan setiap kali Yun Qi mengirim pesan bahwa ia sudah sampai kampus atau pulang lebih lambat, balasan Hao Yu selalu datang cepat terlalu cepat untuk seseorang yang katanya sibuk.

Sore itu, Yun Qi pulang lebih awal. Ia tidak langsung masuk kamar, melainkan duduk di sofa, membuka laptop untuk mengerjakan tugas. Namun konsentrasinya buyar ketika ia mendengar pintu terbuka. Hao Yu pulang lebih cepat dari biasanya. “Kamu sudah di rumah,” katanya.

“Iya,” jawab Yun Qi sambil berdiri. “Rapat Gege selesai cepat ya?”

“Ditunda,” jawab Hao Yu singkat. Ia melepas jas, menggantungnya dengan rapi. Gerakannya terlihat lelah, tapi wajahnya tetap tenang. Yun Qi ragu sejenak, lalu berkata, “Saya buatkan teh?”

Hao Yu mengangguk. Yun Qi ke dapur. Tangannya bergerak otomatis, menuang air panas, menyiapkan cangkir. Saat ia kembali, Hao Yu duduk di sofa, membuka ponsel. Namun matanya terangkat ketika Yun Qi meletakkan cangkir di meja. “Terima kasih.”

“Ge,” kata Yun Qi pelan, “boleh saya tanya sesuatu?” Hao Yu menatapnya. “Tanya saja.”

“Kenapa Gege ingin saya tinggal di sini?” tanyanya. Nada suaranya hati-hati, tapi jujur. “Saya bisa saja tetap di asrama.” Hao Yu tidak langsung menjawab. Ia menyesap teh, menatap ke luar jendela sejenak, seolah mencari jawaban di antara lampu-lampu kota. “Karena asrama tidak aman,” katanya akhirnya. Yun Qi mengernyit. “Tidak aman?”

“Lingkungan terbuka. Terlalu banyak orang. Terlalu banyak risiko.”

“Kampus saya baik-baik saja,” bantah Yun Qi pelan. “Saya juga bukan anak kecil lagi sekarang.” Tatapan Hao Yu kembali padanya. Kali ini lebih tajam. “Aku tahu,” katanya. “Justru itu masalahnya.” Yun Qi terdiam. Kata-kata itu menggantung di udara, tidak dijelaskan lebih lanjut.

“Aku bertanggung jawab padamu,” lanjut Hao Yu, nadanya lebih rendah. “Aku tidak ingin terjadi hal yang tidak bisa aku kendalikan.” Yun Qi menelan ludah. “Tapi hidup saya tidak bisa selalu dikendalikan, Ge.”

Hao Yu tersenyum tipis senyum yang tidak sampai ke mata. “Kita akan cari jalan tengah.” Jawaban itu tidak benar-benar menjawab, tapi cukup untuk menghentikan percakapan. Yun Qi mengangguk, meski hatinya belum sepenuhnya tenang.

Malam itu, Yun Qi terbangun karena haus. Ia keluar kamar dengan langkah pelan, berniat mengambil air. Lampu ruang tamu mati, hanya lampu kecil di dapur yang menyala. Hao Yu ada di sana. Pria itu berdiri di depan jendela, punggungnya menghadap Yun Qi. Ia mengenakan kemeja rumah, lengan digulung, dasinya sudah dilepas. Pemandangan itu terasa terlalu intim untuk dilihat diam-diam.

“Ge?” panggil Yun Qi ragu. Hao Yu menoleh. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, sorot matanya redup. “kenapa belum tidur?.”

“Saya haus,” jawab Yun Qi. “Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu.”

“Kamu tidak mengganggu,” kata Hao Yu cepat. Yun Qi mengambil air, lalu berdiri di dekat meja. Keheningan malam terasa lebih berat dari pagi. Ada jarak di antara mereka, tapi juga sesuatu yang menarik, pelan tapi pasti. “Qi,” kata Hao Yu tiba-tiba, “kamu tidak menyesal kan, pindah ke sini?”

Yun Qi terkejut. Ia menatap Hao Yu, mencoba membaca ekspresinya. “Tidak,” jawabnya jujur. “Hanya… aneh saja.”

“Kenapa?”

“Karena rasanya seperti kembali ke masa lalu,” katanya pelan. “Tapi dengan versi kita yang berbeda.” Hao Yu mengangguk perlahan. “Aku juga merasakannya.” Yun Qi menatap lantai. “Dulu, saya selalu menunggu Gege pulang. Sekarang… saya tidak tahu posisi saya ini apa.”

Pertanyaan itu tidak diucapkan langsung, tapi Hao Yu mendengarnya jelas. “Kamu tetap Yun Qi,” katanya. “Itu tidak berubah.”

“Tapi bagi Gege?” tanya Yun Qi, suaranya hampir bergetar. Hao Yu mendekat satu langkah. Tidak menyentuh, hanya mengurangi jarak. Yun Qi bisa mencium aroma sabun dan kopi dari tubuhnya. “Bagi ku,” kata Hao Yu pelan, “kamu lebih penting dari yang kamu pikirkan.”

Jantung Yun Qi berdegup lebih cepat. Ia mundur setengah langkah, bukan karena takut melainkan karena perasaan itu terlalu banyak. “Saya akan tidur,” katanya cepat. “Qi,” panggil Hao Yu.

Yun Qi berhenti, tapi tidak menoleh. “Jangan memikirkan hal-hal yang belum perlu,” kata Hao Yu. “Aku tidak akan menyakitimu.” Yun Qi mengangguk, lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Di balik pintu itu, ia menyandarkan punggung, menekan dadanya yang berdebar. Ada rasa aman, ya. Tapi juga ada ketegangan yang tidak bisa ia jelaskan. Di luar, Hao Yu berdiri lama di tempatnya. Tangannya mengepal pelan.

Rutinitas pagi yang sunyi. Malam-malam yang penuh jeda. Semua terlihat terkendali namun di balik itu, sesuatu mulai bergerak. Pelan, nyaris tak terlihat. Dan mereka berdua, dengan cara masing-masing, mulai menyadari satu hal yang sama: tinggal serumah bukan hanya soal jarak fisik yang dekat melainkan batas yang setiap hari semakin sulit dijaga.

1
@fjr_nfs
tinggalkan like dan Komen kalian ☺❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!