Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 28.
Pagi datang tanpa sinar matahari, langit masih kelabu saat Milea berdiri di depan jendela hotel tempat dia menginap. Ia sengaja tidak membuka pesan, tidak memeriksa apa pun yang bisa menariknya kembali ke dalam kekacauan semalaman.
Ia tau, Rangga pasti panik mencari keberadaannya. Terlihat dari banyaknya telepon masuk yang tidak terangkat.
Sekarang, ia membutuhkan kesunyian untuk berpikir menghadapi kegilaan Ethan. Ia tahu, meski semalam sudah meminta Ethan melepaskan masa lalu mereka, pria itu tidak akan menyerah begitu saja. Selain itu, dia ingin memberi pelajaran pada Rangga. Seharusnya apa pun masalah yang datang, mereka menghadapinya bersama-sama.
Ponselnya akhirnya bergetar lagi, nama "Suami Posesif-ku" terpampang di layar.
Milea hanya meliriknya sekilas, lalu memutar layar ponsel menghadap meja. Ia tidak merasa bersalah. Justru ada sedikit marah yang tertahan, karena Rangga bertindak sendiri tanpa pernah jujur padanya soal rencana terhadap Ethan.
Ia segera mengganti pakaian, mengenakan kacamata hitam, lalu keluar untuk berjalan kaki sebentar. Bukan tanpa tujuan, ia hanya ingin memastikan satu hal.
Apakah dia benar-benar sendirian? Atau, Ethan masih mengikutinya?
Langkahnya sengaja tidak lurus. Ia berhenti di dua toko berbeda, menyeberang jalan tanpa alasan jelas, lalu duduk di bangku taman kecil. Dari balik kacamata hitam, ia mengamati pantulan sekitar.
Dan di sanalah pria itu, Ethan benar-benar menguntitnya. Lalu dia berpura-pura menelepon, berdiri beberapa meter dari Milea. Tatapannya sesekali melirik cepat, seolah tak ingin ketahuan.
Milea tersenyum tipis.
“Dia masih menjaga jarak aman,” bisiknya.
Ia berdiri, melangkah mendekat lebih dulu. Ethan terkejut, jelas tidak menyangka Milea yang menghampiri.
“Kau mengikutiku,” ucap Milea datar.
Ethan terdiam sesaat, tadinya ia ingin menyangkal tapi akhirnya dia tersenyum kecil. “Kau memang jeli.”
“Aku belajar dari kesalahan, termasuk kesalahan mempercayaimu.”
Ethan menghela napas.
Milea menatap Ethan lurus, tanpa ragu. Tatapannya jelas, sebuah peringatan. “Dengar, Ethan. Aku tidak akan melarang mu muncul di hadapanku. Tapi aku ingin kau pahami satu hal, kau tidak akan pernah kembali ke dalam hidupku. Sampai kapan pun...”
Ia menarik napas singkat. “Apa pun yang terjadi dalam rumah tanggaku, seburuk apa pun keadaannya dengan suamiku... aku tidak akan pernah kembali lagi padamu.”
Ada sesuatu yang bergerak di wajah Ethan, sebuah tantangan. “Dan kalau aku tidak mematuhimu?”
Milea mendekat satu langkah, suaranya tetap tenang. “Maka kau akan melihat sisi diriku yang tidak pernah kau kenal.”
Ia berbalik pergi, meninggalkan Ethan berdiri tanpa kata.
Sementara di rumah Rangga, pagi berubah menjadi medan sunyi.
Rangga belum tidur, pakaiannya masih sama sejak semalam. Ia masih duduk di sofa, menatap kosong. Hatinya terasa kosong, dipenuhi penyesalan. Ia sadar, seharusnya sejak awal ia jujur pada istrinya dan menghadapi Ethan bersama-sama.
Jenny keluar dari kamar dengan wajah pucat. “Kau belum tidur?”
“Tidak bisa,” jawab Rangga singkat.
“Kau sudah sarapan?” tanya Jenny lagi, lebih pelan.
Rangga menggeleng.
Jenny menghela napas, lalu duduk berseberangan. “Milea tidak akan kembali hanya karena kau menyiksa diri sendiri.”
Rangga menatap wanita itu dengan tajam. “Kau pikir aku tidak tahu?”
“Kalau kau tahu,” suara Jenny bergetar, “Kenapa kau biarkan dia pergi?”
Rangga terdiam, karena sandiwara itu seharusnya terkendali. Dan ia lupa, Milea kini bukan wanita rapuh yang bisa diperlakukan seenaknya seperti dulu. “Aku akui, aku salah perhitungan.”
Jenny menunduk lelah. “Dan aku bagian dari kesalahan itu.”
Keheningan kembali turun.
Arga keluar dari dapur sambil membawa dua gelas air putih. Ia meletakkannya di atas meja, tanpa sepatah kata pun. Wajahnya tetap tenang, tapi pikirannya tidak. Sejak semalam, Arga berada di persimpangan. Ia terus menimbang, haruskah ia melakukan sesuatu di belakang Rangga dan Jenny?
Pesan dari Milea semalam padanya kembali terngiang di kepalanya. Isi pesan itu—Milea sudah tahu, tentang sandiwara Rangga dan Jenny. Dan Milea meminta Arga memberi tahu setiap langkah yang akan diambil Rangga dan Jenny ke depannya dalam menghadapi Ethan.
Arga duduk perlahan di kursi, jemarinya mengelus bibir gelas tanpa benar-benar meminumnya. Ia kembali mengingat pesan singkat yang dikirim Milea semalam.
[Arga, aku tahu semuanya. Aku nggak marah karena sandiwara mereka berdua, aku hanya marah karena aku tidak di ikutsertakan. Tolong, beritahu aku kalau ada langkah baru dari suamiku.]
Arga menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Rangga yang masih menatap kosong, lalu ke Jenny yang duduk kaku dengan bahu turun, seolah kelelahan batin lebih berat dari lelah fisik.
Keheningan itu akhirnya ia pecah. “Rangga, kalau kau masih mau menyelamatkan pernikahanmu... sebaiknya berhenti bertindak seolah kamu satu-satunya orang yang bisa mengendalikan situasi.”
Rangga menoleh perlahan. Matanya memerah, karena kurang tidur dan terlalu banyak penyesalan.
“Aku hanya ingin melindunginya,” jawab Rangga lirih.
“Dengan membohonginya?” Arga mengangkat alis. “Itu bukan perlindungan, itu sebuah kontrol.“
Rangga menunduk, rahangnya mengeras. “Aku takut.”
“Dan karena takut itu, kamu mungkin saja akan kehilangan kepercayaan Milea.”
Kata kehilangan menggantung di udara, membuat dada Rangga terasa semakin sesak.
Jenny berdiri mendadak. “Kalian mau menyalahkan aku juga?” suaranya bergetar. “Aku sudah mempertaruhkan keluargaku, aku yang diancam Ethan. Aku juga harus berpura-pura menjadi pengkhianat!”
“Aku tahu.” Ucap Arga, nada suaranya lebih lembut dari yang ia kira. Jenny menatap pria itu dengan terkejut.
“Aku tahu kamu terjepit,” lanjut Arga. “Dan aku juga tahu kamu tidak jahat.”
Jenny menelan ludah, ternyata Arga benar-benar memahaminya.
Rangga mengusap wajahnya kasar. “Kalau begitu… apa langkah kita sekarang?”
Arga meneguk air putih perlahan. Wajahnya tetap tenang, tak menunjukkan apa pun. Ia membiarkan keheningan kembali turun, membiarkan Rangga dan Jenny tenggelam dalam rasa bersalah mereka sendiri.
Arga mengangkat bahu santai. “Ya... kita lanjut seperti rencana awal, ini sudah tanggung 'kan? Jenny tetap jadi umpan. Kamu tetap kelihatan ‘dingin’ ke Milea, lalu kita tunggu Ethan bikin kesalahan.”
Jenny menatap Arga ragu-ragu. “Itu aja?”
“Menurutmu kita punya pilihan lain, disaat sudah terjadi seperti ini?” Balas Arga.
Rangga mengangguk pelan. “Arga benar. Kalau kita ubah strategi sekarang, Ethan akan curiga.”
Jenny menunduk. “Aku cuma… takut Milea benar-benar membenciku.”
Arga menatap wanita itu sekilas. “Kalau kamu fokus ke satu orang saja sekarang, fokuslah ke Ethan. Sisanya… biar waktu yang bicara.”
Tak lama satu pesan Milea kembali masuk pada Arga.
Milea: [Ga, aku tidak mau mereka tahu aku terlibat, aku ingin Ethan percaya aku sendirian.]
Siang itu, Milea duduk di sudut kafe kecil dekat hotel. Tempat yang tenang, tidak mencolok. Ia sengaja memilih duduk membelakangi cermin besar agar bisa melihat pantulan tanpa terlihat mengamati.
Ponselnya bergetar, Arga membalas pesannya.
Arga: [Rangga akan tetap pakai rencana lama, Jenny masih jadi umpan.]
Milea membaca pesan itu perlahan, lalu mengetik balasan.
Milea: [Oke, terus laporkan padaku.]
Arga membaca pesan itu di dapur rumah Rangga, tangannya mengencang sebentar sebelum ponsel ia selipkan kembali ke saku.
Saat ia berbalik, Jenny sudah berdiri di ambang pintu dapur.
“Kamu sering main ponsel sekarang,” kata Jenny pelan.
Arga mengangkat alis. “Masalah?”
“Enggak,” Jenny menggeleng cepat. “Cuma… kamu kelihatan tegang.”
Arga tersenyum tipis. “Mungkin karena situasi.”
Jenny menatap pria itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu dari cara Arga bersikap, kini entah kenapa pria itu selalu ada di dekatnya. Membuatnya merasa… tidak sendirian. Tiba-tiba jantungnya berdegup tak wajar, dia segera berbalik pergi sebelum Arga menyadari wajahnya yang menghangat.
Sedangkan Ethan terus mengamati Milea, dan dia yakin satu hal... Milea benar-benar sendirian sekarang.
semangat berkarya ka💪💜
Makasih kak, ceritanya bagus banget... Sukses terus yah Kak, aku tunggu karya kak Re selanjutnya... 😇😇😇
Tapi oke lah, sekarang kalian udah nikah.. dan sah secara hukum dan agama.. ☺
aku senang bahagia melihat mereka berdua bahagia 😍
huaaaaaa dah tamat l, aslinya belum rela pisah dgn mereka, tapi ada pertemuan pasti ada perpisahan.
terimakasih thor ceritanya luar biasa, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
cengeng bgt deh aku, sedih seneng terharu nangis 🙈
lagian hati Nara dah buat Langit kok, dia dah mulai cemburu gitu, apalagi cintanya Langit dari dulu hanya untuk Nara 😁