NovelToon NovelToon
Kenapa Harus Aku

Kenapa Harus Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vanillastrawberry

Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bekal makan siang.

" Arina cantik kan ?" Alvian sama sekali tidak menyadari kedatangan Lidya, karena itu ia sedikit terkejut mendengar ucapannya yang tiba-tiba.

Sesaat setelah Arina melangkah keluar, ia bergegas menuju jendela untuk melihat Arina yang tengah melangkah lebar-lebar menuju mobil nya, entah kenapa ia begitu kesal mendapat penolakan dari wanita itu, nalurinya berkata kalau Arina tidak akan bertemu dengan Salsabila.

Apa Arina akan menemui pria waktu itu? Alvian mendengus pelan membayangkan hal itu.

" namanya perempuan pasti cantik." ucapannya seraya berpaling ke arah Tania yang sedang merajuk, Anak itu mengerucutkan bibirnya karena ia melupakan permintaan nya tadi untuk mengambilkan kue brownies di atas nakas.

" tapi dia jauh lebih menarik dari Riska, kan? Dia terlihat lebih Alami."

Alami yang di maksud Lidya adalah seluruh tindak tanduk Arina, semua orang bisa merasakan ketulusan nya. Sejujurnya Alvian satu pendapat dengan Lidya, tapi ia gengsi untuk mengakui nya.

" memang sudah seharusnya, kan? Dia tidak akan bersikap seperti itu kalau dia tidak merasa bersalah. "

" aku seperti tidak mengenali mu Al " manik mata Alvian bertabrakan dengan tatapan Lidya. tersirat kekecewaan dalam sorot matanya.

" semua makhluk hidup pasti berubah, Li. Itu hal yang wajar." Alvian berinisiatif menyuapi Tania dengan kue brownies, dan anak itu meskipun tengah kesal padanya, ia sama sekali tidak menolak niat baik Alvian, anak yang baik.

" tapi tergantung kita mau berubah ke arah mana Al, lebih baik atau lebih buruk!"

Alvian terdiam, ucapan Lidya seakan menyenggol hati nuraninya, seketika semua perlakuan buruknya kepada Arina selama ini menari-nari dalam ingatan nya.

" apa yang menimpa Tania adalah sebuah kecelakaan, Al. Kalau kamu yang di posisi Ayah Arina, bagaimana perasaan mu? Arina juga tidak mudah Al, sekarang Ayahnya sakit, kalau pun sembuh pasti akan masuk penjara lagi, kamu tidak perlu lagi menghukumnya, selain buka salah Arina, itu juga sudah bukan ranah kamu"

Alvian bergeming, ia ingat bagaimana pikiran balas dendam itu muncul tiba-tiba begitu ia dan Arina kepergok massa dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Hal buruk itu melintas begitu saja, membuat nya menggebu-gebu ingin membuat Arina dan Ayahnya menderita dengan cara menjerat wanita itu dalam pernikahan tidak sehat.

Tapi semakin kesini, Alvian semakin ragu, sering kali ia berperang dengan hati nuraninya, antara menyiksa Arina atau tidak. Dan, ya! Ia tidak bisa, hati nuraninya menolak.

Setidaknya ia tidak akan pernah lagi menyakiti fisik wanita itu, Tapi ia juga tidak bisa mencegah kalau Riska yang melakukannya. Wanita itu jauh lebih memprihatinkan lagi karena hidupnya menjadi sebatang kara.

" kalau niat mu ingin menyiksa nya, lebih baik kamu urungkan Al, sebelum kamu menyesal di kemudian hari, kalau pernikahan ini tidak mendatangkan kebaikan, lebih baik kamu lepaskan Arina, biarkan dia bahagia Al. Tuhan sudah menghukum Ayah nya, kamu tidak perlu ikut campur."

Melepas kan Arina? ucapan Lidya sangat menggangu dirinya, meskipun tidak ada kesan baik dalam rumah tangga nya, tapi Alvian sudah terbiasa dengan kehadiran Arina, terbiasa melihat wanita itu setiap hari, terbiasa memakan masakannya.

" aku___, aku tidak bisa Li."

" kenapa? Kamu masih belum cukup dengan penderitaan nya? Kamu beneran ingin membunuh nya?"

Alvian reflek menoleh pada Lidya, ancamannya itu hanya ia katakan pada Arina, tidak mungkin kalau Riska yang memberitahu Lidya, kan? Mereka tidak terlalu dekat sejak dulu.

" kak Al mau membunuh kak Arina, Lili?" Tania tampak pias, Al menatap tajam ke arah Lidya, bagaimana bisa wanita itu membahas hal sensitif seperti itu di depan Tania.

Lidya tersenyum lembut seraya mensejajarkan tingginya dengan Tania. " nope, kak Al orang baik, tidak mungkin tega menyakiti atau bahkan membunuh kak Arina, Tania percaya kan?"

Tania mengangguk meski wajahnya masih ragu, ia yakin kalau pendengaran nya tidak salah mengenai ucapan Lidya sebelumnya.

" Tan, kamu percaya kakak bisa melakukan hal bejat seperti itu? " kali ini Alvian yang mencoba memberi pengertian pada Tania. Tania kembali menggeleng, sejujurnya ia tidak percaya kalau kakaknya tega melakukan hal itu.

" kalau begitu percayai kata hati mu."

" kakak janji tidak akan menyakiti kak Arina?" Tanya anak itu mencoba memastikan, dan Alvian mengangguk sebagai jawaban.

" janji tidak akan membentak kak Arina seperti tadi?" Alvian meringis, rupanya ulahnya tadi sangat membekas dalam ingatan adik nya.

" janji!" Tania tersenyum lebar seraya mengangkat kelingkingnya. Dan Alvian dengan senang hati menautkan jari kelingking mereka. Ia lega pembahasan Tania soal bunuh membunuh tidak berlangsung lama.

" kalau kamu tidak bisa melepaskan Arina, secepatnya perbaiki pernikahan mu, lupakan poligami karena itu akan menyakiti hati Arina dan Riska secara bersamaan." ucap Lidya sebelum melangkah keluar dari kamar nya.

Alvian mengalihkan pandangannya pada kotak bekal yang di siapkan Arina tadi pagi, mencoba mengusir percakapan nya dengan Lidya waktu itu.

Setelah selesai menandatangani berkas terakhir, tangannya terulur menggapai kotak bekal itu, bibirnya mengulas senyum tipis mengingat betapa menariknya Arina saat di dapur tadi pagi.

Sejujurnya ia sengaja menjadikan Riska sebagai Alasan saat meminta bekal pada wanita itu tadi pagi, selain karena gengsi, ia tidak mau Arina besar kepala karena ia tergiur dengan masakan nya.

" Al ayo___" Tiba-tiba pintu terbuka. Seperti biasa, saat jam istirahat Riska selalu mendatangi ruangannya untuk mengajaknya makan siang bersama.

Tapi melihat Alvian sibuk mengunyah membuatnya terdiam, hatinya terluka melihat Alvian membawa bekal dari rumah, Andai yang memasak bukan Arina tentu ia tidak akan terluka seperti ini.

" ayo masuk, aku membawa bekal hari ini, cobain deh kamu pasti suka" Alvian beranjak menuju sofa agar Riska bisa bergabung dengannya.

Alvian begitu semangat memperlihatkan beberapa menu yang ia bawa, mengabaikan Riska yang mematung tanpa mempertanyakan sebab nya. Bahkan pria itu tidak menangkap sorot terluka yang memancar dari kedua manik matanya.

Dengan langkah pelan Riska mendekati Alvian, sebenarnya hati nya sudah terbakar ingin meraung lalu membuang makanan itu ketempat sampah. Tapi ia harus menahan diri, Alvian harus tetap melihatnya sebagai wanita lemah yang membutuhkan perlindungan nya.

Ia ingin Alvian menyadarinya sendiri betapa terluka nya dirinya tanpa harus mengeluarkan emosi nya.

" kamu membawa bekal? Ini bukan kebiasaan mu Al." Suara Riska bergetar, membuat pria itu menghentikan kunyahannya, seketika ia menyadari ada yang salah.

" Arina yang memasak kan? Pasti rasanya enak banget sampai kamu membawa bekal hari ini, sayang aku tidak sepandai Arina dalam urusan dapur." Riska berusaha menyentuh perasaan Alvian, memanipulasi nya agar pria itu merasa bersalah padanya tanpa ia harus mengungkapkan apa yang membuat nya terluka.

Dan seperti biasa, Alvian selalu tanggap dengan apa yang ia maksud, hatinya bersorak begitu Alvian menariknya dalam pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut serta menciumi puncak kepalanya berkali-kali. " hei, kamu tidak perlu berkecil hati sayang, kamu tidak bisa dibandingkan dengan Arina, seperti apapun kamu, aku tidak akan pernah berpaling darimu."

" tapi aku takut Al, semuanya bisa berawal dari hal-hal sederhana seperti ini, Arina bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa ku lakukan untuk mu, aku takut lama kelamaan kamu akan nyaman hingga jatuh cinta padanya." Riska mengusap air mata buaya nya.

Dan jujur Alvian merasa tersetil dengan ucapan Riska, Lidya benar, belum poligami saja ia sudah beberapa kali mendapati Riska menangis karena cemburu.

" itu tidak akan pernah terjadi, cinta ku pada mu sangat tulus tanpa syarat, bahkan jika kamu tidak bisa melakukan apapun selain melayani ku di tempat tidur, aku tetap akan selalu mencintaimu."

Riska menyeringai seketika, namun ia segera merubah ekspresi seperti semula sebelum ia mengangkat kepalanya. " kamu janji?"

Alvian mengangguk seraya mengecup bibir penuh wanita itu. " aku janji."

" kamu janji untuk selalu mencintai ku? Kamu janji untuk selalu terbuka pada ku seperti sebelumnya? Kamu janji pada akhirnya kamu akan menjadikan ku satu-satunya?"

Alvian menggigit lembut ujung hidung Riska karena gemas. " Aku janji, babe!"

" kalau begitu aku tidak mau kamu memakan makanan ini Al, aku memang egois tapi itu membuat ku terluka."

Alvian mengangguk, ia mengurai pelukannya lalu menutup kotak bekal itu, " Ayo kita makan di luar."

Riska sumringah seketika, rencananya berhasil. Sifat Alvian yang begitu baik sangat membantu nya untuk menguasai dan mengendalikan pria itu.

Ia mengikuti Alvian yang membawanya keluar tanpa melepaskan genggaman tangannya yang terasa begitu mesra, sedang tangan kirinya membawa kotak bekal itu bersama mereka.

" emm makanan itu? " tanya nya ketika mereka sudah berada di luar ruangan. Alvian tidak menjawabnya, melainkan memanggil salah satu staff yang kebetulan lewat di depan mereka.

" ini untuk mu." Arina mencebik, ia pikir Alvian akan membuangnya ke tempat sampah, tapi malah di berikan pada orang lain, kayaknya sayang banget masakan Arina terbuang. Tapi nggak apa-apa, setidaknya Alvian tidak memakan makanan itu.

1
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "menurutku bakal sulit sih, dan walaupun mau pasti akan ada sesuatu nantinya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Frown/ "aku juga mikirnya gitu, lihat aja nanti"
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
lama" kecium juga tuh 🤭🤭🤭🤭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
ga usah cari arina
kan udah ada riska
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
bawa aja takut dibilang mau bunuh alvian lagi
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
iih alvian maksa maksa
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
wkwkwkwk riska. panik🤣🤣🤣🤣
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
wkwkwkkw kepanasan🤭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
nyesel ga tuh kau🤣🤣
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
lagi kena martil otaknya 🤣🤣🤣🤣🤣
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
ngakak fabio dibuat tak bisa berkata" smaa omongan adeknyaa🤣🤣🤣
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
iya semua gara" ulet bulu riska
keserakahan dia buat semua orang sengsara
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
iya pentingin tania dlu jangan ganggu arina ketemu fabio🤭🤭🤭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
wkwkwkw kasian dicuekin🤣🤣🤣🤣🤣
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
semua bukan salahmu
itu musibah dan musibah ga ada yang tau arina
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
akhirnya ga sia" arina dketin Tania terus
dengan usahanya
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
riska senjata makan tuan🤭🤭🤭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
wkwkkw keluar sifat asli nya
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
dia ke kantor arina cuma buat minta libur🙄
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι³
wkwkkw nikahin ajaa tuh nenek sihir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!