NovelToon NovelToon
Romantic Scent

Romantic Scent

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Gema dalam sunyi

Memori dari langkah menghabiskan waktu yang bergulir dalam jam pasir yang kian menipis. Tatapan mata Rona tak beralih pada sepasang kekasih lama yang memulai kembali perasaan yang telah lama hilang. Rona menatap sekilas kakak dan Nathan memasuki kediaman.

Pandangannya tanpa goyah seolah mengatakan aku sudah tidak berdaya. Aku sudah tidak apa-apa. Mungkin segalah hal bergulir sesuai putaran dari roda yang kadang porosnya diatas kadang juga dibawah.

Malam itu berlalu begitu saja, tidur yang seolah nyenyak sudah jarang sekali kudapat setiap malam. Kejadian tersebut sudah cukup lama namun resah dan gelisah sudah menghantui bagai bayangan perlahan mulai sirna.

Dengan baju hangat, stal berbulu, begitu pula dengan sepatu boot tebal. Kali ini gadis itu berhasil mengirimkan beberapa produksinya sebelum salju pertama turun. 

Gerobak membawa beberapa botol dalam krat box kayu tertata rapi. Ada sekitar 5 kereta angkut yang berhasil didistribusikan. Tatapan ceria itu seorang sirna, entah sejak kapan.

“Terima Kasih kerja kerasnya Paman. Tolong kabari saya jika anda telah tiba.” Rona menatap lelaki itu dan membawakan syal baru dari tasnya.

“Baiklah nona saya akan kabari, dan terimakasih hadiahnya nona.” Panam Bily memegang syal pemberian Rona dan langsung di kalungkan di lehernya. 

“Baiklah jangan sampai jatuh sakit, paman Bil adalah aset keluarga kami yang cukup berharga.” Rona melambaikan tangan.

“Hahaha, nona bisa saja. Jika saya tidak ada akan banyak pemuda tampan nan kuat menggantikan tugas pria tua ini.” Tawa itu keras seperti biasa, perjalanan kali ini paman Bil berjalan sendiri dengan beberapa karyawan.

“Aku serius paman.” Rona kembali seperti biasa menaruh kedua tangannya dipinggang nada kesal.

Lelaki itu tak menjawab dan pergi bersama rombongan kereta barang tersebut. hentakkan dari suara kaki kuda berlalu begitu saja, Rona hanya berjalan ke arah kandang kuda tempat kuda hitamnya. kuda itu sedang diberi makan oleh keponakan paman Bily yang bernama Ben.

“Halo nona, apakah paman sudah pergi?” Tanyanya lembut sambil memilah pilah jerami untuk makanan kuda hitam tersebut.

“Mereka baru saja pergi, maaf membuatmu bekerja sendirian.” Rona mengelus kuda hitam itu.

“Tidak apa nona, inikan memang pekerjaan saya.” Ben hanya menatap gadis cantik itu sudah berpakaian lengkap mungkin akan segera pergi berkuda.

“Saya akan membawanya, saya akan kembali sebelum malam.” Rona mengambil kuda itu dan menarik tali lehernya perlahan keluar.

Beb membantunya menarik pintu dan menutup kembali pintu kandang tersebut.

“Baiklah nona, semoga perjalanan anda menyenangkan.” Ben hanya menatap gadis itu yang sudah menunggangi kudanya berjalan menjauh.

“Sepertinya nona bertindak seperti biasanya namun tidak biasanya.” Gumam Ben sambil melipat kedua tangannya didada.

“Maksudmu seperti biasa dengan tidak biasa itu bagaimana?” Rose datang membawa sekeranjang kue dan berhasil mengagetkan Ben.

“Astaga kau datang dari mana mengagetkan saja.” Ucap Ben mengatur nafasnya.

“Aku bawa roti dan dimana susunya?” Tanya Rose dengan wajah ceria.

Kedua pelayan it menghabiskan piknik  mereka sebelum memasuki musim dingin akhir tahun, Pekerjaan yang menumpuk sebulan terakhir akhirnya bisa terselesaikan dengan cepat atas kerja keras nona kedua.

Tibalah mereka di sebuah ujung dari lapangan pacuan kuda pinggiran kediaman White. dibawah pohon besar mereka menggelarkan tikar dan menikmati waktu berteduh dibawah pohon rindang tersebut dan hamparan rumput yang tertata rapi menjulang ke depan. 

Angin kali ini sepoi sepoi, Matahari kala itu cukup terik, terlihat dari kejauhan kuda-kuda liar melintasi bukit. Rose yang merasa takjub berdiri menatap kawanan kuda tersebut.Dibarengi dengan Ben yang ikut berdiri di sebelahnya setelah menata kue dan susu diatas matras piknik mereka.

“Sepertinya nona kita akan mendapatkan kuda baru.” Ben menunjuk salah satu kuda yang masih ada tali di bagian kepalanya.

“Yang mana?” Tanya Rose masih tidak dapat melihat kuda incaran nonanya tersebut.

“Lihatlah itu? itu kuda yang berhasil nona tangkap dan kembali kabur ke alam liar.” Ben menunjuk dengan seksama.

“Itu lihat jariku baik-baik!” Tunjuknya.

“Aku aku melihatnya. Tapi aku sempat mengira bahwa nona kita sudah tidak memerlukan kuda tersebut karena kuda hitam pemberian Tuan Dean.” Rose duduk diatas matras tersebut diikuti oleh Ben.

“Nona mungkin sudah melupakan tuan Dean yang mampir sesaat dan pergi begitu saja kembali ke rumahnya.” Ben merebahkan tubuhnya dan menatap ke arah langit.

“Entahlah tapi menurutku ada sesuatu yang tidak dapat kita prediksi disini. Kelihatannya nona dan tuan saling menyukai.” Rose hanya menatap kuda kuda itu semakin menjauh.

Desa tersebut memiliki perbukitan yang menjulang indah, hamparan rumput hingga pepohonan menghiasi setiap sudut desa disana. Desa disini kerap sekali dijuluki dengan desa penuh kenangan. Banyak sekali orang kota dan wilayah lainnya datang bukan hanya berkunjung menikmati alamnya bahkan menyewa villa atau pondok disini untuk berlibur dan menenangkan pikiran. Bisa terbilang kehidupan desa disini slow living. 

Tak terasa lama hentakkan kaki kuda itu berhenti pada tempat yang selama ini menjadi tempat favorit Rona. Ya bukit ilalang, tempat Rona mengistirahatkan pikirannya setelah sebulan yang lalu ia tertidur di sana di pangkuan lelaki itu. Lelaki yang sudah satu bulan tidak ia dengar kabarnya hingga saat ini.

Rona terduduk merebahkan dirinya diatas matras dan mulai memejamkan matanya seperti biasa. Ketenangan dan keheningan menyelimutinya, kicauan burung, arah angin yang sudah mulai berdesir kekanan dan kekiri menjadi selimutnya di alam terbuka. Matahari mulai meninggi dan suara hentakkan kaki kuda, ya suara dari rombongan kuda melintasi bukit.

Rona hanya menikmati waktu tidur siangnya, kenyamanannya seakan membawanya bermimpi akan lelaki itu. Aroma tubuhnya tak lagi tercium. Aroma tubuh lelaki itu seakan memiliki warna tersendiri, sulit untuk diartikan apalagi dikatakan bagaimana aroma itu selalu menghantuinya sebagai rindu yang tak berkesudahan.

“Apakah aku akan bertemu kembali dan melewati dua musim ini dengan tenang. Ataukah aku malah jadi menunggunya entahlah. Mengharapkan pertemuan tak disengaja untuk kedua kalinya pasti akan sulit jiwa semesta tidak merestui.” Rona hanya terhanyut dalam tidu dan pikirnya.

Suara kuda itu mendekat, langkah kaki pasti mendekati gadis yang sedang tertidur tersebut.  Bena sekali kuda mustang yang diinginkan Rona sekarang ada dihadapannya mendudukkan tubuhnya dan ikut tertidur disamping Rona sebagai penghangatnya di musim yang sudah terlalu dingin tersebut.

Rona terbangun memeluk perut kuda tersebut dan kaget membuat kuda itu terkejut dan terbangun berlari menjauh. Tatapan Rona kearah kuda yang semakin menjauh tersebut.

“Apa ini?” Aku berpelukkan dengan kuda tersebut. Pantas saja terasa hangat.” Rona menatap ke arah langit dengan senyuman semekar mawar.

Ternyata ada gema di balik kesunyian, yang didalamnya ada kasih dan ada kepedihan. Kuda yang telah lama aku inginkan mendatangiku dengan sendirinya. Kuharap dia menjadi milikku namun tetap bisa bebas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!