Sinopsis
Rania, seorang gadis desa yang lembut, harus menanggung getirnya hidup ketika Karmin, suami dari tantenya, berulang kali mencoba merenggut kehormatannya. Belum selesai dari satu penderitaan, nasib kembali mempermainkannya. Karmin yang tenggelam dalam utang menjadikan Rania sebagai pelunasan, menyerahkannya kepada Albert, pemilik sebuah klub malam terkenal karena kelamnya.
Di tempat itu, Rania dipaksa menerima kenyataan pahit, ia dijadikan “barang dagangan” untuk memuaskan para pelanggan Albert. Diberi obat hingga tak sadarkan diri, Dania terbangun hanya untuk menemukan bahwa kesuciannya telah hilang di tangan seorang pria asing.
Dalam keputusasaan dan air mata yang terus mengalir, Rania memohon kepada pria itu, satu-satunya orang yang mungkin memberinya harapan, agar mau membawanya pergi dari neraka yang disebut klub malam tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 31
Malam itu, suasana di kediaman Demitri terasa lebih berat dari biasanya. Setelah makan malam yang tenang, Tania meminta Airon menemaninya ke kamar. Wajah sang ibu terlihat sangat serius, tangannya yang masih terasa dingin menggenggam erat jemari putra sulungnya.
"Airon, ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan sama kamu," ucap Tania liris.
Airon menatap wajah ibunya dengan penuh perhatian. "Apa yang ingin Mama sampaikan pada Airon?"
"Mama ingin kamu segera menikah, Ron."
Deg! Jantung Airon seakan berhenti berdetak. Ia tersentak, rasa sesak seketika menghimpit dadanya. "Ma, Airon su...."
"Mama mohon sama kamu. Mama sudah punya calon yang sangat cocok untukmu. Dia wanita yang baik, lembut, dan dari keluarga terpandang. Mama yakin kamu akan suka," potong Tania cepat, tak memberikan celah bagi Airon untuk membela diri.
Airon mencoba menarik napas dalam, berusaha memberanikan diri untuk mengaku. "Ma, sebenarnya Airon sudah..."
"Mama mohon, turuti keinginan Mama kali ini saja. Siapa tahu ini adalah permintaan terakhir Mama, Ron. Kamu mau ya, Mama kenalkan dengan dia?" Air mata mulai menggenang di sudut mata Tania.
Untuk pertama kalinya, sang ratu di keluarga itu memohon dengan sangat. Airon terpaku. Ia berada di persimpangan jalan yang mustahil; antara kesetiaan pada Rania, istri sah yang sangat dicintainya, atau bakti pada ibunya yang tengah sakit.
"Akan Airon pikirkan, Ma," ucap Airon akhirnya dengan suara parau. Ia segera keluar dari kamar ibunya dengan pikiran yang berkecamuk hebat.
Di balkon, Airish sudah menunggunya. "Mama memintamu menikah, kan? Turuti saja, Ron. Mama sudah sangat mendambakan menantu pilihan itu," ujar Airish santai.
"Kamu sudah tahu soal ini?" Airon menatap kembarannya tajam.
"Tentu saja. Pikirkanlah, Ron. Menikah itu tidak sesulit yang kamu bayangkan," pungkas Airish sembari menepuk bahu kakaknya.
Tanpa mereka sadari, di balik pilar dekat balkon, Rania berdiri mematung. Air matanya luruh dalam diam. Pendengarannya serasa berdenging mendengar kenyataan bahwa ibu mertuanya menginginkan wanita lain untuk Airon. Bagaimana jika Airon setuju? Bagaimana jika aku akhirnya diceraikan? Semua kemungkinan buruk itu menghantam batin Rania hingga ia merasa sulit untuk bernapas.
Di belahan kota yang lain, sebuah drama besar sedang terjadi di sebuah kafe mewah. Airish duduk dengan tenang di depan Harry, namun matanya memancarkan kedinginan yang membekukan.
"Mulai sekarang, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi. Kita berakhir, Harry," ucap Airish tegas tanpa basa-basi.
Harry terperanjat. "Apa maksudmu, Airish? Apa salahku?"
Airish tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunjukkan sebuah video yang dikirimkan oleh seseorang ke ponselnya. Di layar itu, terlihat Harry sedang melakukan perbuatan asusila dengan wanita lain di sebuah hotel. Wajah Harry seketika pucat pasi.
"Ini fitnah! Ini pasti editan, Airish! Percayalah padaku!" rintih Harry mencoba memelas, meraih tangan Airish dengan wajah memelas.
"Lepaskan! Atau aku berteriak!" gertak Airish. Ia bangkit dengan elegan, meninggalkan Harry yang kini hanya bisa mengumpat sial karena kehilangan 'ikan besar' yang selama ini ia incar hartanya.
Di sudut kafe yang lain, Ergan tersenyum puas di balik cangkir kopinya. Rencananya berhasil total. Uang yang ia bayarkan pada wanita klub itu membuahkan hasil yang manis. Ia telah menyelamatkan Airish dari predator busuk seperti Harry.
Saat Airish berjalan menuju mobilnya di area parkir, ia melihat Ergan berdiri di sana. Ergan mengetuk kaca jendela mobil Airish dengan sopan.
"Boleh tumpang sampai ke kantor? Taksi sangat sulit di area ini, dan saya ada rapat penting," dusta Ergan dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.
Airish menatap Ergan sejenak, lalu menghela napas. "Naiklah."
Senyum tipis tersungging di bibir Ergan. Ia masuk ke dalam mobil, menghirup aroma parfum Airish yang begitu ia rindukan. Meski hanya perjalanan singkat, bagi Ergan, ini adalah kemenangan kecil untuk kembali mendekati wanita yang tak pernah bisa ia hapus dari hatinya.
masa tangan kanan ga punya rencana 🤦🤦