NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pengakuan (Hukum Kekekalan Perasaan)

​Warung Bakso Pak Kumis sore itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pasang mata yang melirik ke arah meja pojok, tempat "Pasangan Paling Viral di SMA Pelita Bangsa" sedang duduk berhadapan.

​Julian sudah melepas dasinya, kancing kemeja teratasnya dibuka (sebuah kemajuan besar dalam hal gaya busana santai). Di hadapannya, Alea sedang sibuk meracik bumbu di mangkuknya: tiga sendok sambal, dua putaran kecap, dan perasan jeruk nipis yang melimpah.

​"Kamu yakin lambung kamu kuat?" tanya Julian cemas melihat kuah bakso Alea yang berubah warna menjadi merah pekat seperti lava gunung berapi.

​"Tenang, Jul. Lambung gue udah ditempa besi," jawab Alea santai sambil menjilat sendok. "Lo sendiri? Pucet banget mukanya. Lo nggak suka baksonya?"

​Julian menatap mangkuknya yang masih utuh.

​Bukan, bukan karena bakso.

Julian pucat karena dia sedang mempersiapkan "presentasi" terpenting dalam hidupnya.

​Sejak tadi pagi, Julian sudah menghafal skrip di kepalanya. Dia sudah menyusun argumen, premis, dan kesimpulan. Tapi begitu duduk di depan Alea, menatap mata cokelat gadis itu yang berbinar-binar karena uap kuah panas, semua kata-kata yang disusunnya menguap.

​"Alea," panggil Julian. Suaranya terdengar lebih formal dari biasanya.

​Alea berhenti mengunyah pentol kecil. "Kenapa? Lo mau nagih utang bimbel?"

​"Bukan," Julian meletakkan sendoknya. Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Saya... ada hal penting yang mau saya diskusikan. Mengenai status kita."

​Alea tersedak sedikit. "Uhuk! Status? Maksud lo? Status WhatsApp?"

​"Bukan status aplikasi. Status hubungan interpersonal," koreksi Julian. Wajahnya mulai memerah, kontras dengan kulitnya yang putih.

​Alea meletakkan sendoknya. Dia menyadari Julian sedang serius. Sangat serius. Alea meneguk es tehnya untuk meredakan pedas di mulut dan debar di dada.

​"Oke," kata Alea, mencondongkan tubuh ke depan. "Gue dengerin. Jangan pake rumus integral ya, gue kenyang."

​Julian membetulkan letak kacamatanya—kebiasaan gugupnya yang tidak bisa hilang.

​"Begini," Julian memulai. "Dalam Fisika, ada Hukum Kekekalan Energi. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya."

​Alea memutar bola mata sambil tersenyum geli. "Tuh kan, Fisika lagi."

​"Dengerin dulu," Julian memohon. "Saya merasa... hukum itu berlaku buat perasaan saya ke kamu."

​Alea terdiam. Senyum gelinya perlahan berubah menjadi senyum malu-malu.

​"Maksudnya?" tanya Alea pelan.

​"Awalnya," lanjut Julian, menatap lurus ke mata Alea, "energi itu bentuknya kebencian. Atau lebih tepatnya, kejengkelan. Saya jengkel liat kamu yang berantakan, yang suka melanggar aturan, yang hidupnya kayak nggak punya arah."

​"Jujur banget ya," komentar Alea.

​"Tapi seiring berjalannya waktu, setelah kita belajar bareng, setelah kejadian di gudang, di ruang musik, di halte pas hujan... energi itu nggak hilang, Alea. Energi itu cuma berubah bentuk."

​Julian mengulurkan tangannya di atas meja, ragu-ragu sejenak, lalu memberanikan diri menyentuh punggung tangan Alea yang ada di samping mangkuk sambal.

​"Energi itu berubah jadi rasa penasaran. Terus berubah jadi rasa kagum. Terus jadi rasa ingin melindungi. Dan sekarang..."

​Julian menelan ludah. Jantungnya berdetak secepat tempo lagu speed metal.

​"...sekarang energi itu berubah jadi rasa sayang. Rasa cinta yang besar banget, yang kayaknya nggak bakal bisa dimusnahkan lagi."

​Suasana warung bakso mendadak hening di telinga Alea. Suara pengamen, suara denting sendok, suara motor lewat, semuanya hilang.

​Yang ada cuma suara Julian dan tatapan matanya yang tulus.

​"Lo... lo barusan bilang cinta?" bisik Alea, memastikan dia tidak halusinasi.

​"Iya," jawab Julian mantap. "Saya, Julian Pradana, jatuh cinta sama kamu, Aleandra Kamila. Secara sadar, tanpa paksaan, dan sudah teruji secara empiris."

​Alea tertawa. Tawa yang renyah dan bahagia, sampai matanya menyipit. Air mata haru menggenang di sudut matanya.

​"Teruji secara empiris apaan sih, bego," Alea mengusap matanya. "Lo tuh ya... nembak cewek aja masih kebawa gaya ketua OSIS."

​"Jadi?" tanya Julian was-was. "Hipotesis saya diterima atau ditolak?"

​Alea membalikkan telapak tangannya, menggenggam tangan Julian erat.

​"Diterima, Pak Guru," jawab Alea lembut. "Gue juga... energinya sama. Dari benci jadi cinta. Kayak judul FTV."

​Julian menghembuskan napas lega yang luar biasa, seolah baru saja menyelesaikan ujian skripsi dan dinyatakan lulus cumlaude. Bahunya merosot rileks. Senyum lebar terukir di wajahnya.

​"Terima kasih," ucap Julian.

​"Makasih buat apa?"

​"Buat nerima cowok kaku yang ngebosenin ini."

​"Lo nggak ngebosenin, Jul," Alea menggeleng. "Lo itu unik. Lo cowok paling ribet, paling perfeksionis, tapi juga paling peduli yang pernah gue kenal. Dan..." Alea melirik gitar Julian yang ada di tas di sebelah kursi. "...lo gitaris paling seksi kalau udah di panggung."

​Wajah Julian merah padam sampai ke telinga. "Alea, ini tempat umum."

​"Biarin!" Alea tertawa lagi. "Biar dunia tau kalau pacar gue itu Phantom!"

​"Ssst! Jangan keras-keras!" Julian panik, celingukan. "Identitas Phantom masih rahasia di luar sekolah."

​"Iya, iya, My Secret Rockstar."

​Mereka kembali makan bakso dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Bakso yang tadinya terasa biasa saja bagi Julian, kini rasanya seperti makanan bintang lima.

​"Eh, Jul," kata Alea di sela makan.

​"Ya?"

​"Sekarang kan kita udah resmi pacaran nih. Berarti ada perubahan aturan dong?"

​Julian mengangkat alis. "Aturan apa?"

​"Aturan belajar," Alea nyengir nakal. "Gue minta diskon PR Matematika. Maksimal 5 soal aja per pertemuan. Sisanya kita pake buat pacaran."

​Julian meletakkan sendoknya, mengelap mulutnya dengan tisu. Wajahnya kembali serius (tapi matanya jenaka).

​"Permohonan ditolak," kata Julian tegas.

​"Yah! Kok gitu?!"

​"Justru karena kamu pacar saya, standar saya buat kamu makin tinggi," jelas Julian. "Saya mau pacar saya pinter. Saya mau pacar saya lulus UN dengan nilai bagus dan masuk kuliah jurusan Seni Musik di universitas negeri. Jadi..."

​Julian mengeluarkan pulpen dari saku kemejanya, menulis sesuatu di tisu bekas.

​Target Pacaran:

Nilai UN Rata-rata 8,5.

Lolos SBMPTN.

Album Band The Rebels Rilis.

​Dia menyodorkan tisu itu ke Alea.

​"Itu target kita. Kalau kamu males, jatah nonton bioskop dibatalkan."

​Alea melongo menatap tisu itu. "Gila. Punya pacar pinter emang nyiksa."

​Tapi kemudian Alea mengambil pulpen itu, dan menambahkan satu poin di bawahnya.

​4. Julian harus bahagia dan main musik tiap hari.

​Alea menyodorkan balik tisu itu.

​"Gimana? Deal?"

​Julian membaca tambahan poin itu. Hatinya menghangat.

​"Deal," jawab Julian lembut.

​Di warung bakso pinggir jalan itu, di atas selembar tisu kucel bernoda sambal, sebuah kontrak cinta yang unik telah disepakati.

​Bukan kontrak yang mengikat dengan rantai, tapi kontrak yang saling mendorong untuk tumbuh. Julian dengan logikanya, Alea dengan semangatnya.

​Mereka berdua tahu, perjalanan ke depan tidak akan mulus. Ayah Julian masih akan menuntut prestasi, orang tua Alea masih akan membanding-bandingkan. Tapi sekarang, mereka tidak menghadapinya sendirian.

​Mereka punya satu sama lain.

Dan mereka punya rumus yang tak terkalahkan:

Cinta + Musik + Saling Percaya \= Resonansi Sempurna.

​"Udah, abisin baksonya. Nanti dingin," kata Julian.

​"Suapin dong," rengek Alea manja, mumpung sudah jadi pacar.

​Julian melihat sekeliling. Malu. Tapi kemudian dia melihat mata Alea yang menatapnya penuh harap.

​Dengan tangan sedikit gemetar dan telinga merah, Julian menusuk sebuah bakso kecil, lalu menyuapkannya ke mulut Alea.

​"Aaa..."

​Alea melahapnya dengan gembira. "Enak banget! Bakso rasa cinta!"

​Julian tertawa, menutup wajahnya dengan tangan karena malu. Tapi di balik tangannya, dia adalah laki-laki paling bahagia di Jakarta Selatan sore itu.

...****************...

Bersambung. ....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!