“Sadarlah, Kamu itu kunikahi semata-mata karena aku ingin mendapatkan keturunan bukan karena cinta! Janganlah menganggap kamu itu wanita yang paling berharga di hidupku! Jadi mulai detik ini kamu bukan lagi istriku! Pulanglah ke kampung halamanmu!”
Ucapan itu bagaikan petir di siang bolong menghancurkan dunianya Citra.
“Ya Allah takdir apa yang telah Engkau tetapkan dan gariskan untukku? Disaat diriku kehilangan calon buah hatiku disaat itu pula suamiku yang doyan nikah begitu tega menceraikan diriku.”
Citra meratapi nasibnya yang begitu malang diceraikan oleh suaminya disaat baru saja kehilangan calon anak kembarnya.
Semakin diperparah ketika suaminya tanpa belas kasih tidak mau membantu membayar biaya pengobatannya selama di rawat di rumah sakit.
Akankah Citra mampu menghadapi ujian yang bertubi-tubi menghampiri kehidupannya yang begitu malang ataukah akan semakin terpuruk dalam jurang putus asa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Citra terkesiap mendengar ucapan seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar baby twins Jaylani dan Jianira.
Karena dia barusan melamun sehingga dibuat salah tingkah dan tersenyum canggung.
“Alhamdulillah baby Jay dan Jia sudah siap, Tuan Muda Ardhanza,” balasnya Citra kemudian mengecek perlengkapan baby Jaylani.
Citra hendak memanggil asisten pengasuh bayi yang sering membantunya tapi dicegah oleh Ardhanza.
“Kamu mau kemana?” Tanyanya dengan nada bicaranya yang dingin.
Citra spontan berhenti melangkah,” aku mau memangil Amelia, Tuan Muda. Agar Mbak Amelia menemaniku menjaga baby Jia.”
“Cukup kamu yang menemaniku membawa mereka nggak usah ada lagi orang lain yang ikut bersama!” putusnya Ardhanza.
Citra pun mengangguk patuh dan menggendong baby Jaylani dan Jianira digendong oleh papanya. Mereka berempat berjalan ke arah lift karena siang hari itu, mereka berencana akan ke acara amal yang Ardhanza berencana sejak dini mengenalkan kedua anak kembarnya kepada anak-anak panti asuhan yang berada di bawah yayasan mamanya nyonya besar Hilda.
Semua orang yang kebetulan melihat mereka berjalan beriringan tak bisa menahan diri untuk berkomentar dalam hati.
Pemandangan Ardhanza yang mendorong stroller bayi kembar, sementara Citra berjalan di sampingnya sambil sesekali menunduk memeriksa selimut si kecil, tampak begitu hangat dan selaras seolah mereka memang sebuah keluarga kecil yang utuh.
“Mereka kok kelihatan kayak pasangan suami istri yang mau liburan, ya,” celetuk salah satu ART sambil tersenyum kagum.
“Iya, serasi banget. Kalau Mbak Citra itu wanita kaya atau dari keluarga terpandang, aku yakin mereka sudah menikah,” sahut yang lain, mengangguk setuju.
“Cocoknya kebangetan,” timpal yang ketiga lirih. “Auranya itu lho adem banget bikin sejuk dipandang mata.”
Ucapan-ucapan kagum itu terdengar jelas di telinga Amelia. Tangannya mengepal kuat, kukunya nyaris menancap di telapak sendiri. Dadanya naik turun menahan amarah yang mendidih.
“Sialan! Brengsek! Seharusnya aku yang berjalan di samping Tuan Muda Ardhanza!” Geramnya.
Amelia memaki dalam hati tanpa ampun.
Bukan janda gatel itu! Aku yang pantas menikmati semua fasilitas mewah ini. Aku yang seharusnya jadi pengasuh utama, bukan Citra Aulia!
Segala umpatan berputar di kepalanya, panas dan berisik, tapi tak satupun berani keluar dari mulutnya.
“Kayaknya ada yang lagi kesal, marah, dan cemburu berat,” cibir salah satu ART dengan senyum mengejek.
“Soalnya Mbak Citra sekarang jadi baby sitter kesayangan majikannya.”
Ucapan itu membuat wajah Amelia menegang. Ia mendengus kesal, lalu pergi dengan langkah kasar, meninggalkan gumaman marah yang tak jelas arahnya.
Tak jauh dari sana, Ariestya dan Nyonya Besar Hilda tanpa sengaja menyaksikan Ardhanza dan Citra masuk ke dalam bilik lift.
Pintu hampir menutup saat Nyonya Hilda tiba-tiba bersuara, nadanya lembut namun penuh keyakinan.
“Entah kenapa Mama melihat mereka itu serasi sekali,” ucapnya pelan. “Ideal dan sangat cocok. Mama sampai berharap dan berdoa, semoga suatu hari nanti mereka benar-benar menikah.”
Ariestya mengangguk setuju, matanya tak lepas dari pintu lift yang perlahan tertutup.
“Aris juga pengin begitu, Ma,” sahutnya jujur.
“Tapi sayangnya Abang Ardhanza sudah terlanjur bertunangan dengan Inara wanita ular berkepala tiga itu.”
Nyonya Hilda menghela napas pelan.
“Citra memang hanya pengasuh,” ujarnya lagi, “tapi dia lebih pantas berdiri di samping kakakmu. Mendampinginya. Bukan wanita itu.”
Tak ada lagi percakapan setelahnya. Keduanya hanya terdiam, memandangi pintu lift yang sudah tertutup rapat, seolah menyimpan harapan yang tak terucap.
Di area parkiran, Ardhanza tanpa sadar menunjukkan perhatian lebih. Ia lebih dulu menidurkan baby Jianira dengan hati-hati ke dalam box bayi di jok mobil, memastikan sabuk pengamannya terpasang sempurna. Setelah itu barulah ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Citra.
“Hati-hati,” ucapnya singkat, nyaris tanpa ekspresi.
Citra sempat melirik ke arahnya, heran. Sikap itu terasa janggal mengingat Ardhanza biasanya jutek, julid, dan nyinyir padanya.
Tumben Tuan Muda baik begini, batinnya. Semalam mimpi apa dia?
Namun Ardhanza buru-buru menarik kembali sikapnya, suaranya kembali ketus.
“Jangan salah paham. Aku melakukan ini supaya putraku aman bersamamu. Bukan karena kamu.”
Citra justru tersenyum tipis, lalu menimpali santai.
“Tenang, Tuan Muda. Saya nggak GR. Lagian kalau Tuan Muda baik dikit, langit juga nggak langsung runtuh, kan?”
Ucapan bar-bar itu membuat Ardhanza terdiam. Ia menoleh, bingung sekaligus heran melihat Citra yang kali ini begitu santai, sabar, dan tak terpancing meski disambut ketus.
Untuk pertama kalinya, Ardhanza merasa ia tak lagi sepenuhnya mengendalikan situasi. Dan itu, entah kenapa, membuat dadanya terasa asing.
Alih-alih tersinggung, Citra justru menegakkan bahunya dan menatap Ardhanza dengan senyum jahil.
“Tenang saja, Tuan Muda. Saya tahu kok posisi saya. Pengasuh ya pengasuh, bukan calon apa-apa,” ucapnya santai.
“Syukurlah kalau begitu,” balas Ardhanza cepat. “Aku tidak suka orang yang terlalu percaya diri tanpa alasan.”
Citra terkekeh kecil. “Wah, maaf ya. Saya lupa, di rumah ini yang boleh percaya diri cuma Tuan Muda.”
Ardhanza mendengus. “Jangan pintar-pintar melawan.”
“Saya bukan melawan,” sahut Citra cepat.
“Saya cuma membela diri. Itu pun kalau Tuan Muda nggak nyinyir duluan sih.”
“Nyinyir?” Ardhanza mengangkat alis. “Aku bicara apa adanya loh.”
“Versi Tuan Muda,” Citra menimpali tanpa mau dikalah dan membalas dengan cepat, “Versi orang lain mah itu jutek namanya.”
Ardhanza menatapnya sejenak, lalu berkata ketus, “Kalau tidak sanggup, kamu bisa mundur.”
Citra menepuk dadanya secara dramatis.
“Waduh, mundur? Sayang sekali, Tuan Muda. Saya ini pengasuh tangguh, diibilang jutek saja masih bertahan apalagi cuman kata-kata kayak gitu.”
“Bandel.”
“Terima kasih. Saya anggap itu pujian yah dari majikan.”
Ardhanza mendecak, jelas kesal, tapi entah kenapa sudut bibirnya hampir saja bergerak naik membentuk senyuman sebelum ia cepat-cepat memalingkan wajah.
“Cepat masuk,” katanya kaku.
Citra terkekeh kecil sambil membuka pintu mobil.
“Iya, Bos Besar. Jangan galak-galak nanti cepat tua.” cibirnya seraya tersenyum.
“Apa katamu?” Ardhanza spontan menoleh.
Citra sudah lebih dulu duduk manis, memasang sabuk pengaman.
“Tidak apa-apa, Tuan Muda. Saya cuma bilang semoga harinya menyenangkan.” ucapnya sambil nyengir lebar.
Mobil pun melaju, diiringi suasana yang aneh, ribut, saling sindir, tapi entah kenapa terasa ringan dan lucu, seperti kucing dan tikus yang tak pernah berhenti bertengkar, namun juga tak bisa benar-benar berjauhan.
Tanpa sengaja, pandangan Azrielvano tertarik ke arah carport rumah megah itu dari atas balkon kamarnya.
Langkahnya terhenti. Tubuhnya membeku saat matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal yaitu Citra pengasuh keponakannya yang membuatnya jatuh cinta kepada pandangan pertama dan Citra adalah wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta sedalam ini dan pada waktu singkat.
Dari kejauhan, Azrielvano melihat bagaimana Citra berdiri di samping Ardhanza, tertawa kecil, lalu berbalas kata dengan wajah yang tampak ringan dan bahagia.
Gestur-gestur sederhana itu terasa menyakitkan baginya. Terlalu hangat. Terlalu dekat.
Dadanya terasa sesak, padahal beberapa menit yang lalu, Citra menolak cokelat yang ia berikan.
“Katanya tadi tidak enak menerima pemberianku, katanya dia hanya pengasuh, Lalu apa yang kulihat sekarang?” Ucapnya yang tak terima ditolak.
Azrielvano mengepalkan tangannya di pagar balkon. Rahangnya mengeras menahan rasa perih yang menjalar perlahan ke dada.
Ada kecewa yang menggumpal, ada sedih yang tak sempat diucapkan, dan ada cemburu yang tak mampu ia bantah meski ia tahu Citra bukan miliknya.
“Jadi begini rasanya,” batinnya lirih.
Azrielvano memegang erat besi-besi pembatas balkon kamarnya.
“Melihat orang yang kita sayangi tersenyum tapi bukan karena kita.”
Ia memalingkan wajah, menelan napas panjang yang terasa pahit. Hatinya berdoa dalam diam, nyaris bergetar.
“Ya Allah… kalau memang dia bukan untukku, kuatkan aku. Tapi kalau masih ada sedikit saja tempat di hatinya, jangan biarkan aku terluka sendirian seperti ini.”
Angin sore berembus pelan di balkon itu, membawa pergi sisa harapannya yang perlahan luruh jatuh satu per satu, seperti cokelat yang tadi ditolak Citra, tak pernah sempat disentuh apalagi dimiliki.
Dalam perjalanan, Ardhanza berusaha fokus menyetir. Namun tanpa sengaja, lewat pantulan kaca spion, pandangannya menangkap gerakan Citra di jok belakang.
Perempuan itu tengah menyusui baby Jianira dengan hati-hati, menunduk lembut, berusaha menutup sebisanya dengan kain gendongan.
Tetap saja momen itu membuat Ardhanza tertegun sepersekian detik.
Ada sesuatu yang terlihat, bukan karena disengaja, bukan pula karena Citra lalai melainkan karena situasi yang begitu dekat dan alami. Seketika dadanya terasa panas, pikirannya buyar.
Setir mobil sedikit bergeser sebelum cepat-cepat ia luruskan kembali.
“Astagfirullah… ampunilah aku Ya Allah ya Robbi,” cicitnya.
Ia menelan ludah, memalingkan wajah, lalu berdehem pelan seolah itu bisa mengusir kegugupan yang tiba-tiba menyerangnya.
Fokus, Ardhanza. Itu pengasuh anakmu. Ibu yang sedang menyusui. Jangan kurang ajar pada pikiran sendiri.
Namun jantungnya terlanjur berdetak lebih cepat. Ada rasa bersalah, ada rasa kikuk, dan ada kegelisahan yang sulit dijelaskan. Tangannya mencengkeram setir lebih erat, rahangnya mengeras menahan diri.
Citra sendiri sama sekali tak menyadari apa pun. Wajahnya tenang, penuh kasih, sepenuhnya tercurah pada bayi kecil yang berada dalam dekapannya.
Dan justru ketenangan itulah yang membuat Ardhanza semakin kehilangan fokusnya, bukan karena apa yang terlihat,
melainkan karena apa yang tiba-tiba ia rasakan dan belum siap ia akui.
Citra sama sekali tak menyadari apa yang terjadi. Fokusnya hanya pada baby Jianira yang mulai tenang dalam dekapannya. Ia bahkan tak menoleh, tak tahu bahwa Ardhanza sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Tanpa sadar, kata-kata itu justru meluncur dari bibir Ardhanza cukup terucap lirih, refleks, nyaris seperti gumaman.
“Kamu itu cantik bukan hanya wajahmu tapi bentuk tubuhmu aduhai,” ucapnya spontan, lalu terhenti.
Napasnya tercekat begitu menyadari apa yang baru saja ia katakan.
Citra terdiam, alisnya berkerut, ia menoleh dengan tatapan heran.
“Apa, Tuan Muda?” tanyanya Citra dengan keningnya saling bertautan.
Ardhanza langsung tersadar. Wajahnya mengeras, rahangnya menegang. Ia berdehem cepat, menarik kembali kata-katanya dengan nada dingin seolah barusan tak pernah terjadi apa-apa.
“Maksudku kamu terlihat rapi, selalu tampak cekatan dan tulus. Pegang anaknya hati-hati,” ujarnya kaku, memalingkan wajah kembali fokus ke jalan yang dilaluinya.
Citra mengangguk pelan, meski hatinya masih bertanya-tanya.
“Iya, Tuan Muda.”
Di balik kemudi, Ardhanza menggertakkan gigi-giginya pelan-pelan.
“Astaghfirullah… apa yang barusan aku ucapkan? Kenapa aku bisa berucap seperti itu sih!?” Keluhnya kepada dirinya sendiri.
“Dia itu hanya pengasuh perempuan sederhana dari desa. Ibu yang sedang menyusui kedua anakku. Bukan untuk dipikirkan sejauh itu.” Gumam Ardhanza yang mengerang kesal dengan sikapnya yang aneh.
Namun semakin ia mencoba menepis, semakin pikirannya tak tenang. Setir kembali ia genggam erat, menahan diri, karena yang berbahaya bukan apa yang sempat terlihat, melainkan apa yang mulai terasa tanpa izin.