Cerita Mengenai Para Siswa SMA Jepang yang terpanggil ke dunia lain sebagai pahlawan, namun Zetsuya dikeluarkan karena dia dianggap memiliki role yang tidak berguna. Cerita ini mengikuti dua POV, yaitu Zetsuya dan Anggota Party Pahlawan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.K. Amrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Mengerikan
Malam menyelimuti taman mansion dengan ketenangan yang nyaris menipu. Angin berembus pelan, menyusup di antara pepohonan dan menggerakkan dedaunan yang berdesir lirih, seakan berbisik tentang rahasia yang tak boleh terdengar siapa pun. Cahaya bulan jatuh pucat di atas jalan setapak batu, memantulkan bayangan panjang dua sosok yang berdiri berdampingan.
Ryunosuke dan Kaede.
Dari luar, mereka tampak seperti dua orang yang menikmati malam dengan damai. Namun di balik ketenangan itu, emosi gelap berdenyut perlahan, amarah, ambisi, dan kekecewaan yang belum menemukan pelampiasan.
Ryunosuke menengadah, menatap hamparan bintang tanpa ekspresi. Rahangnya mengeras, suaranya keluar datar namun sarat tekanan.
“Aku benar-benar ingin membunuh Yui sekarang juga,” katanya. “Dia mengacaukan segalanya. Semua rencana yang kita susun.”
Kaede tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang lembut di permukaan, tetapi menyimpan ketajaman di baliknya. Tatapannya beralih pada Ryunosuke dengan penuh ketenangan yang hampir berbahaya.
“Jangan terburu-buru,” ucapnya pelan. “Kesabaran adalah bagian terpenting. Biarkan semuanya bergerak sesuai alurnya.”
Ryunosuke menoleh padanya. Amarah di matanya mereda, digantikan ketenangan yang lebih dingin. Ia melangkah mendekat setengah langkah.
“Kau benar,” katanya rendah. “Semua ini butuh ketelitian. Satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan segalanya.”
Kaede berputar menghadapnya sepenuhnya. Dengan gerakan percaya diri, ia meraih tangan Ryunosuke dan menggenggamnya lembut, seolah menenangkan denyut amarah yang masih tersisa.
“Kita melakukannya bersama,” bisiknya. “Tidak perlu khawatir. Yui… pada akhirnya akan menjadi bagian dari permainan ini.”
Jari-jari mereka saling mengunci. Ryunosuke tersenyum, bukan senyum hangat, melainkan senyum seseorang yang tak sabar menunggu hasil dari rencana besar.
“Aku ingin melihat bagaimana semuanya runtuh satu per satu,” ujarnya. “Terkadang aku merasa… sangat beruntung.”
Kaede mendongak, mata mereka bertemu di bawah cahaya bulan. Dunia terasa berhenti sesaat.
“Beruntung?” tanyanya, nada suaranya nyaris menggoda.
“Karena aku memilikimu di sisiku,” jawab Ryunosuke tanpa ragu. “Kau selalu tahu kapan harus bergerak dan kapan harus menunggu.”
Kaede tertawa kecil, lalu melangkah lebih dekat dan memeluknya. Pelukannya hangat, kontras dengan kata-kata yang ia ucapkan.
“Kita memang saling melengkapi,” katanya. “Dan suatu hari nanti, dunia akan berlutut di hadapan kita.”
Di bawah cahaya bulan, mereka berdiri seolah menjadi pusat dari taman itu. Segalanya di sekitar terasa kecil, tidak berarti. Ambisi dan keyakinan membuat mereka merasa tak tersentuh.
Namun, mereka tidak sendirian.
Di balik pepohonan, Takeshi berdiri terpaku. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan saat matanya menangkap pemandangan yang tak pernah ia bayangkan ingin ia lihat. Kaede bersandar manja di dada Ryunosuke. Lengan mereka saling melingkar, dan kemudian, ciuman itu terjadi, tenang dan penuh kepastian.
Takeshi mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga nyeri, tetapi rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang menghantam dadanya.
“Aku terlambat…” pikirnya pahit.
Ia telah mencintai Kaede sejak lama. Jauh sebelum dunia ini memanggil mereka. Ia menyukai caranya berpikir, ketenangannya, bahkan sisi dinginnya yang selalu tampak tak tersentuh. Ia selalu menunggu waktu yang tepat. Dan kini, waktu itu telah berlalu.
Ia menundukkan kepala, menatap tanah di bawah kakinya. Untuk pertama kalinya, Takeshi merasa benar-benar kalah, bukan oleh musuh, bukan oleh kekuatan, tetapi oleh kenyataan.
“Hahaha…” tawa kecil keluar dari bibirnya, hambar dan getir.
Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri, tetapi suara tawa Kaede di pelukan Ryunosuke terasa seperti pisau yang perlahan menggores jiwanya.
Dengan langkah berat, Takeshi berbalik dan pergi tanpa suara. Malam itu, ia tidak hanya kehilangan harapan, ia kehilangan kesempatan yang tak akan pernah kembali.
Setelah kepergian Takeshi, taman kembali tenggelam dalam keheningan. Angin masih berhembus pelan. Ryunosuke dan Kaede tetap berdiri bersama, hingga suara langkah kaki lain terdengar mendekat.
Kaito muncul dari arah jalan setapak, tangannya di saku, ekspresinya santai.
“Yo, kalian masih di sini?” katanya sambil tersenyum kecil. “Jujur aja, aku nggak nyangka. Si jenius dan si beauty ternyata sedekat ini. Kalian cocok.”
Kaede membalas dengan senyum tipis. Ryunosuke tetap tenang, bersandar santai seolah tidak ada apa-apa.
“Ada apa, Kaito?” tanya Ryunosuke. “Malam-malam begini jarang biasanya kau keluyuran.”
Kaito mengangkat bahu. “Cuma pengen ngobrol. Entah kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan semua kejadian akhir-akhir ini.” Matanya menyipit, mengamati mereka bergantian. “Haruto, Hanabi… semuanya terasa seperti ada tangan lain yang mengatur.”
Kaede memiringkan kepala, senyumnya tetap lembut, namun matanya dingin.
“Oh? Kau mulai curiga?” ujarnya. “Menarik.”
“Kupikir aku berhak tahu,” kata Kaito ringan, meski nada suaranya terdengar lebih waspada.
Ryunosuke menoleh ke Kaede. Mereka saling bertukar pandang, tanpa kata, tanpa keraguan. Kaede mengangguk tipis.
Dalam sekejap, Ryunosuke mengangkat tangannya. Lingkaran sihir gelap muncul di bawah kaki Kaito.
“Dark Bind: Silent Shackles.”
Kaito terkejut, namun terlambat. Bayangan hitam menjalar cepat, membelit tubuhnya dan menguncinya di tempat. Mulutnya terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Tubuhnya menegang, seolah dikendalikan oleh kekuatan yang tak terlihat.
Kaede melangkah mendekat, berjongkok di hadapannya.
“Kasihan,” katanya lembut. “Kau terlalu peka untuk dunia ini.”
Ryunosuke menatapnya dingin. “Aku menyukaimu, Kaito. Tapi kau bukan bagian dari rencana.”
Kaede menyentuh pipi Kaito perlahan.
“Tenang saja,” bisiknya. “Ini akan cepat… kalau kau menurut.”
Bayangan menutup pandangan Kaito sepenuhnya. Ketakutan terpancar jelas di matanya.
Kaede berdiri, pisau peraknya berkilau tertangkap cahaya bulan.
“Kau sudah tahu terlalu banyak, maafkan aku~ tapi aku akan menikmati ini~.”
Gerakannya cepat dan pasti. Kaito terhuyung, tubuhnya melemah di dalam belenggu sihir. Ia tak bisa berteriak, tak bisa melawan. Hanya napas tersengal yang tersisa.
“Sakit?” bisik Kaede, suaranya tetap manis. “Ini harga dari rasa penasaranmu itu~.”
Ryunosuke memperhatikan tanpa emosi.
“Cukup,” katanya akhirnya. “Kita tidak ingin keributan.”
Kaede mendesah pelan, lalu menyelesaikannya dengan satu gerakan tegas dan menusuk jantungnya Kaito. Tubuh Kaito runtuh ke tanah, tak lagi bergerak.
Keheningan kembali menguasai taman.
Ryunosuke melangkah maju, menatap tubuh itu sejenak, yang sekarang berlumuran darah dari dadanya, lalu mengalihkan pandangannya. Kaede bersandar di dadanya, pisaunya masih tergenggam erat.
“Kau luar biasa, Ryu~,” bisiknya.
Ryunosuke memeluknya, menatap langit malam.
“Tak ada yang bisa menghentikan kita,” katanya mantap. “Demi Anarkia.”
Di bawah bulan yang bersinar dingin, mereka berdiri sebagai dua sosok yang telah sepenuhnya meninggalkan jalan pahlawan, melangkah mantap menuju kehancuran.