NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan dan Kekhawatiran

Raka menyelesaikan semua pekerjaannya di Bandung dengan sangat cepat, lebih cepat dari yang direncanakan. Meeting yang seharusnya berlangsung seharian, ia percepat menjadi setengah hari saja. Presentasi yang seharusnya detail, ia perpendek. Diskusi dengan klien yang seharusnya santai sambil makan malam, ia tolak dengan alasan harus segera kembali ke Jakarta.

Atasannya sedikit heran, tapi tidak mempermasalahkan karena semua target sudah tercapai.

"Raka, kamu yakin nggak mau nginap dulu? Besok baru pulang?" tanya atasannya saat mereka selesai meeting.

"Tidak, Pak. Saya harus pulang hari ini juga. Ada urusan mendesak," jawab Raka sambil membereskan dokumen-dokumennya dengan cepat.

"Oke deh. Hati-hati di jalan ya."

"Terima kasih, Pak."

Raka langsung menuju parkiran, masuk ke mobilnya, dan menyalakan mesin. Ia melirik jam di dashboard, pukul dua siang. Kalau ia langsung berangkat sekarang, ia bisa sampai Jakarta sekitar jam lima sore.

Lebih cepat dari yang ia janjikan pada Nadira.

Raka tersenyum tipis membayangkan ekspresi Nadira saat melihat dia pulang lebih cepat. Meski Nadira sekarang murung dan jarang bicara, setidaknya Raka berharap kepulangannya bisa sedikit membuat Nadira senang.

Mobil melaju keluar dari area parkir hotel, menuju jalan tol Jakarta-Bandung dengan kecepatan stabil.

Tiga jam kemudian, Raka sampai di rumah Mamanya. Langit sudah mulai senja, warna oranye kemerahan menyinari gedung-gedung dan pepohonan.

Raka turun dari mobil dengan semangat, lalu berjalan cepat menuju pintu depan rumah.

Tapi saat ia mencoba membuka pintu, pintunya terkunci.

Raka mengerutkan dahi. Ia mengetuk pintu beberapa kali.

"Ma! Aku pulang! Buka pintunya!" panggilnya sambil mengetuk lebih keras.

Tidak ada jawaban.

Raka mencoba lagi, mengetuk lebih keras, memanggil lebih keras. Tapi tetap tidak ada yang membuka.

Ia mundur sedikit, menatap jendela-jendela rumah yang tertutup rapat. Tidak ada cahaya di dalam. Rumahnya gelap.

"Mama dan Nadira kemana?"

Raka meraih ponselnya dari saku, lalu menelepon Mamanya.

Nada tunggu berbunyi satu kali, dua kali, tiga kali... lama sekali sebelum akhirnya diangkat.

"Halo, Ma? Mama di mana? Aku udah sampai di rumah tapi pintunya dikunci," tanya Raka langsung.

Ada jeda di seberang, jeda yang terasa sangat lama.

"Ma? Mama dengar aku?" tanya Raka lagi, kali ini dengan nada sedikit khawatir.

"Raka..." Suara Mama Nita terdengar, suara yang pelan, bergetar, seperti sedang menahan sesuatu.

Raka langsung merasakan ada yang tidak beres.

"Ma, ada apa? Kenapa suara Mama kayak gitu? Mama di mana sekarang?" tanya Raka dengan nada yang mulai panik.

"Raka... Mama... Mama di rumah sakit," jawab Mama dengan suara yang sangat pelan.

Jantung Raka langsung berhenti sejenak.

"Rumah sakit? Kenapa? Mama sakit!" tanya Raka cepat, suaranya meninggi.

"Bukan Mama yang sakit, Nak..." Suara Mama semakin bergetar. "Nadira... Nadira yang di rumah sakit."

Dunia Raka seketika runtuh.

"APA!" teriaknya tanpa sadar. "NADIRA KENAPA? ADA APA DENGAN NADIRA?"

Mama Nita mulai terisak di seberang telepon. "Maafkan Mama, Nak... Maafkan Mama... Nadira... Nadira jatuh dari pohon kemarin. Kepalanya luka. Dia... dia belum sadar sampai sekarang..."

Raka merasakan seluruh tubuhnya membeku. Napasnya tertahan. Otaknya tidak bisa memproses informasi yang baru saja ia dengar.

"Mama bilang apa?" tanyanya dengan suara yang gemetar karena shock, karena tidak percaya.

"Maafkan Mama... Mama lalai... Mama harusnya lebih hati-hati jaga Nadira... Maafkan Mama..." isak Mama Nita di seberang sana.

Dan tiba-tiba kemarahan meledak di dalam dada Raka.

"KENAPA MAMA NGGAK BILANG DARI KEMARIN!" bentaknya dengan suara sangat keras, penuh emosi. "KENAPA MAMA BOHONG WAKTU AKU VIDEO CALL! KENAPA MAMA BILANG NADIRA BAIK-BAIK AJA!"

"Mama takut ganggu pekerjaanmu, Nak... Mama pikir..."

"MAMA PIKIR APA?" Raka memotong dengan nada yang sangat marah. "ITU ISTRI AKU, MA! ISTRI AKU! DAN MAMA BILANG MAMA NGGAK MAU GANGGU PEKERJAAN AKU? PEKERJAAN ITU BISA DITUNDA! TAPI KALAU NADIRA KENAPA-KENAPA, AKU NGGAK BISA MAAFIN DIRI SENDIRI!"

Mama Nita menangis lebih keras di seberang. "Maafkan Mama... Mama salah... Maafkan Mama, Raka..."

Raka menarik napas dengan keras, napas yang gemetar, penuh kemarahan dan kepanikan.

"Rumah sakit mana?" tanyanya dengan nada datar, nada yang dingin, berbeda dari bentakan tadi.

"RS Harapan Kita. Ruang perawatan lantai dua, nomor dua puluh tiga," jawab Mama dengan suara serak.

"Aku kesana sekarang."

Raka menutup telepon tanpa mengucapkan salam, langsung masuk ke mobilnya, menyalakan mesin dengan kasar, dan melaju dengan kecepatan tinggi keluar dari area rumah Mamanya.

Tangannya mencengkeram setir dengan sangat erat, buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Matanya merah... entah karena marah atau karena menahan tangis.

"Nadira jatuh dari pohon. Kepalanya luka. Belum sadar."

Kalimat-kalimat itu berputar di kepalanya berulang-ulang seperti lagu yang rusak.

"Kumohon, Tuhan... kumohon jangan ambil dia dariku..." bisiknya dengan suara serak sambil terus mengemudi dengan cepat.

Lima belas menit kemudian ia sampai di RS Harapan Kita. Ia memarkir mobilnya sembarangan di depan gedung, tidak peduli apakah itu tempat parkir atau bukan, lalu berlari masuk ke gedung rumah sakit.

"Lantai dua! Ruang dua puluh tiga!" teriaknya pada dirinya sendiri sambil berlari menuju lift.

Tapi lift sedang di lantai lima, terlalu lama menunggu.

Raka langsung berlari ke tangga darurat, naik dua anak tangga sekaligus, napasnya tersengal, tapi ia tidak peduli.

Sampai di lantai dua, ia berlari melewati lorong, matanya menyapu nomor-nomor ruangan dengan cepat.

19... 20... 21... 22... 23!

Raka berhenti di depan pintu ruangan nomor dua puluh tiga. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu, lalu membukanya dengan cepat.

Dan ia melihatnya.

Nadira terbaring di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat, kepalanya diperban, matanya tertutup.

Mama Nita duduk di kursi samping ranjang dengan wajah yang sangat lelah dan penuh penyesalan. Saat melihat Raka masuk, ia langsung berdiri dengan tatapan takut.

"Raka..."

Tapi Raka tidak menatapnya. Ia hanya menatap Nadira... menatap dengan tatapan yang penuh kepanikan dan ketakutan.

Ia melangkah cepat menuju ranjang, berdiri di samping Nadira, lalu meraih tangan wanita itu yang terbaring lemas.

"Dira..." bisiknya dengan suara serak. "Dira, aku di sini... Bangunlah..."

Tidak ada respons. Nadira tetap tidak bergerak.

Raka menoleh pada Mamanya dengan tatapan yang penuh kemarahan.

"Mama bilang dia belum sadar dari kemarin?" tanyanya dengan nada keras.

Mama Nita mengangguk lemah, air matanya kembali jatuh. "Iya, Nak... Sudah lebih dari satu hari... Dokter bilang dia mengalami gegar otak ringan... Tapi harusnya sudah sadar..."

"Mana dokternya?" bentak Raka.

"Dokter ada di..."

Raka tidak menunggu Mamanya menyelesaikan kalimat. Ia langsung keluar dari ruangan, berlari mencari dokter.

Ia menemukan seorang perawat di nurse station.

"Suster! Dokter yang menangani pasien di ruang dua puluh tiga mana?" tanya Raka dengan nada mendesak.

"Dokter Andi? Sebentar, Pak. Saya panggilkan."

Beberapa menit kemudian, seorang dokter muda datang, pria berusia sekitar tiga puluh tahunan dengan jas putih dan stetoskop di leher.

"Bapak keluarga pasien Nadira?" tanya dokter.

"Ya! Saya suaminya! Kenapa istri saya belum sadar? Sudah lebih dari satu hari, kan?" tanya Raka dengan nada panik.

Dokter menarik napas dalam, lalu menjawab dengan nada tenang.

"Pasien mengalami gegar otak ringan akibat benturan di kepala. Kami sudah lakukan CT Scan dan tidak ada perdarahan internal. Kondisinya stabil. Tapi setiap orang punya waktu pemulihan yang berbeda. Ada yang sadar dalam beberapa jam, ada yang beberapa hari. Kami terus memantau kondisinya. Bapak tidak perlu terlalu khawatir."

"Tidak perlu khawatir?!" Raka hampir berteriak. "Istri saya sudah tidak sadar lebih dari satu hari dan saya tidak perlu khawatir!"

"Pak, saya mengerti kekhawatiran Bapak. Tapi secara medis, kondisi istri Bapak baik. Kami optimis dia akan segera sadar," jawab dokter dengan sabar.

Raka menarik napas dengan keras, mencoba menenangkan dirinya.

"Terima kasih, Dok," ucapnya akhirnya dengan suara yang lebih pelan.

Dokter mengangguk, lalu kembali ke ruangannya.

Raka berjalan kembali ke ruang perawatan dengan langkah gontai, semua kemarahannya tadi berubah menjadi kekhawatiran yang sangat mendalam.

Ia membuka pintu ruangan dan tiba-tiba berhenti.

Nadira sedang membuka matanya perlahan, seperti baru terbangun dari tidur panjang.

Raka membeku di tempat.

"Dira...?" bisiknya dengan suara gemetar.

Nadira menoleh perlahan ke arah suara itu, matanya yang sayu menatap Raka dengan tatapan yang... berbeda. Bukan tatapan bingung seperti biasanya. Tapi tatapan yang lebih fokus, lebih sadar.

Lalu bibirnya bergerak, membentuk kata-kata dengan suara yang lemah tapi jelas.

"Kamu kenapa... Raka?"

Waktu seolah berhenti.

Raka membeku total, matanya membelalak, napasnya tertahan, tubuhnya kaku seperti patung.

"Raka."

Nadira memanggilnya Raka.

Bukan "Om".

Bukan "Om Raka".

Tapi... Raka.

1
Elin
jujur menurutku cerita ini cerita yg paling sedih dari awal sampe akhir sampe aku ikut nangis saking menghayati ceritanya,dari segi cerita bagus tapi endingnya aku gak puas...di awal cerita aku kasian sama Dira karna cintanya sendirian,hargadirinya di injak2,di anggap LC gratisan,semua pengorbanannya sia2....,tp tapi di akhir cerita aku juga kasian sama Raka karna dia tau salah dan mau berubah,dia berjuang buat dapatin maaf dari dira,dia dah kerja keras buat dapat uang lebih selama Dira di rawat sampe dia sendiri gak lupa sama kesehatannya sendiri,dia bertahan di samping Dira meski dia diperlakukan orang asing,dia berusaha jalin komunikasi meski pada akhirnya didiamkan,dan menurutku 3thn cukup buat Raka di beri kesempatan kedua...tapi terserah Thor ajalah.
JiDHan Bolu Bakar
gitu doang...pasti ada lanjutannya, beberapa tahun kemudian....😄
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
mbuh
biarkan Raka menangis darah dlu. itu tak sbrpa skitnya KRNA pengkhianatan dan khlngan anak
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
mbuh
la njuttttt
kalea rizuky
ujungnya balikan halah
Anonymous
Raka goblok
Denni Siahaan
bangun Nadira kasih kesempatan
Dew666
💥💥💥💥💥
Denni Siahaan
gak guna penyesalan mu Raka
Denni Siahaan
dasar Raka egois mau enaknya aja
Denni Siahaan
tingal kan Nadira jangan tolol
Soraya
yang nabrak Nadira kok gak ada kabarin
Soraya
mampir thor
Bunda SB: terima kasih kakak 🫰
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!