Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 : Taman bersama gadis kecil
Udara pagi terasa begitu jernih, namun suasana di kantor kepolisian justru menegang.
“Saya datang menyerahkan diri, atas pembunuhan anak kecil di gang beberapa hari lalu.”
Suara berat pria itu memecah keheningan ruangan. Semua kepala menoleh serentak. Seorang pria bertubuh besar berdiri di ambang pintu, tubuhnya kokoh, wajahnya dihiasi senyum tenang yang anehnya membuat bulu kuduk berdiri. Beberapa polisi menatap satu sama lain, ragu antara percaya atau tidak.
Alexander yang duduk di tengah meja penyelidikan perlahan menegakkan tubuhnya. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah pria itu tanpa bicara sedikit pun. Di hadapannya, papan tulis penuh dengan foto-foto anak-anak, garis merah penghubung antar kasus, dan catatan-catatan kecil yang belum sempat disimpulkan.
Kedatangan pria ini bukan hanya tak terduga, tapi juga mengacaukan ritme penyelidikan yang baru saja disusun.
Beberapa polisi segera bergerak, salah satu dari mereka mengambil borgol, sementara yang lain menuliskan keterangan cepat di buku catatan.
“Nama?” tanya salah satu dari mereka dengan nada tegas.
Suara logam terdengar ketika borgol dikunci di pergelangan tangannya. Ia tidak melawan, bahkan tersenyum saat dibawa masuk ke ruang interogasi. Sementara itu, Alexander tetap diam, hanya mengikuti dengan pandangan dingin yang sulit ditebak antara penasaran atau justru mencurigai sesuatu yang lebih besar dari pengakuan itu sendiri.
—
Beberapa kilometer dari sana, dunia luar berjalan seperti biasa, seolah tak peduli dengan kegelapan yang sedang diselidiki.
Matahari memancar hangat di langit kota, memantulkan cahaya ke jendela-jendela gedung tinggi. Angin pagi bergerak lembut, membawa aroma dedaunan basah dan sedikit wangi bunga dari taman kota.
Di sisi rumah sakit, Victoria melangkah pelan di trotoar yang dipenuhi bayangan pepohonan. Ia menggandeng tangan kecil seorang gadis berambut panjang yang berjalan di sampingnya. Wajah Victoria cerah, senyumnya hangat, tapi sorot matanya menyimpan kelelahan yang halus, seperti seseorang yang sudah lama tidak benar-benar beristirahat.
“Kamu mau sarapan apa? Ayo, kakak belikan,” ucap Victoria dengan nada lembut, berusaha mencairkan suasana.
Gadis kecil itu menunduk, suaranya lirih, hampir seperti bisikan. “Aku tidak lapar…” katanya pelan sambil menggenggam erat tangan Victoria.
Sudah empat hari sejak ibunya meninggalkan gadis itu di rumah sakit. Selama itu pula, ia menolak semua makanan, bahkan sekadar roti hangat dari katering rumah sakit pun tidak disentuhnya.
Victoria berhenti sejenak, menatap ke arah kantin rumah sakit yang mulai ramai oleh para staf dan perawat. “Kalau begitu, bagaimana kalau kau pilih saja sesuatu yang ringan? Ada sup ayam, roti, susu hangat…” suaranya bergetar sedikit, lebih karena rasa khawatir ketimbang keinginan memaksa.
Namun gadis itu hanya menggeleng, gerakannya lambat dan lembut. “Aku tidak mau,” ucapnya sambil menatap ke tanah.
Victoria terdiam sesaat, lalu menoleh ke taman kecil yang berada di seberang koridor kaca. “Baiklah, kalau begitu kita duduk di sana saja, ya?” ujarnya sambil menunjuk ke bangku di bawah pohon besar.
Gadis itu mengangguk pelan. Sekilas, bibirnya melengkung tipis, sebuah senyum kecil yang akhirnya muncul setelah berhari-hari.
Mereka berjalan bersama menuju taman. Angin bertiup pelan, meniup ujung rambut Victoria yang tergerai, sementara dedaunan jatuh perlahan ke tanah, menciptakan bunyi lembut saat menyentuh rerumputan. Bayangan pohon menaungi bangku yang mereka tuju, membuat suasana terasa damai dan menenangkan.
Setelah duduk, Victoria menatap gadis itu dengan pandangan lembut. “Kamu yakin tidak ingin makan sedikit pun?” tanyanya, suara lembutnya nyaris menyerupai bisikan ibu pada anaknya.
Gadis itu menggeleng lagi. “Aku sudah tidak nafsu makan, Kakak dokter… sudah beberapa hari.” Tangannya bergerak pelan, memainkan ujung jarinya sendiri di pangkuan.
“Sudah berapa hari, hm?” tanya Victoria, suaranya tetap tenang walau matanya menunjukkan kekhawatiran.
Gadis itu menoleh, lalu mengangkat dua jarinya perlahan.
“Dua hari?” tebak Victoria, mencoba tersenyum.
Namun gadis kecil itu kembali menggeleng, kali ini lebih pelan, seolah takut dengan jawabannya sendiri.
“Dua minggu…” ucapnya jujur.
Seketika dada Victoria terasa sesak. Dua minggu itu bukan hal yang bisa dianggap sepele. Dalam dunia medis, kehilangan nafsu makan selama itu sering kali menjadi tanda menurunnya fungsi tubuh, atau… tanda kehilangan semangat hidup. Tapi anehnya, gadis ini tampak sehat dari luar. Kulitnya masih segar, tubuhnya tidak lemas, hanya saja matanya kosong.
Tatapan itu membuat Victoria tak nyaman. Ada sesuatu di balik mata bening itu, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berusaha mengabaikannya, menepis pikiran buruk yang tiba-tiba muncul.
Ia menghela napas pelan, mencoba tersenyum lagi. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita di sini saja sebentar. Kakak jaga kamu sampai kamu mau makan, ya?”
Gadis itu tidak menjawab, hanya menatap jauh ke depan, ke arah taman yang mulai diterpa cahaya matahari pagi. Tatapannya hampa, tapi bibirnya perlahan melengkung, membentuk senyum tipis yang entah kenapa membuat udara sekitar terasa dingin.
Suara lembut itu membuat gadis kecil itu menoleh, matanya menatap Victoria dengan ragu. “Kakak… apa ibuku akan memarahiku kalau aku cerita padamu?”
Pertanyaan polos itu menggantung di udara, menimbulkan jeda panjang di antara mereka. Victoria tidak segera menjawab, sorot matanya memantul di wajah gadis itu, wajah yang tenang namun menyimpan gurat kelelahan yang tidak seharusnya dimiliki anak sekecil itu. Ia menelan ludah pelan, mencoba membaca ekspresi di balik mata sendu itu.