Ariel tak menyangka pernikahannya dengan Luna, wanita yang sangat dicintainya, hanya seumur jagung.
Segalanya berubah kala Luna mengetahui bahwa adiknya dipersunting oleh pria kaya raya. Sejak saat itu ia menjelma menjadi sosok yang penuh tuntutan, abai pada kemampuan Ariel.
Rasa iri dengki dan tak mau tersaingi seolah membutakan hati Luna. Ariel lelah, cinta terkikis oleh materialisme. Rumah tangga yang diimpikan retak, tergerus ambisi Luna.
Mampukah Ariel bertahan ataukah perpisahan menjadi jalan terbaik bagi mereka?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;👇
"Setelah Kita Berpisah" karya Moms TZ bukan yang lain.
WARNING!!!
cerita ini buat yang mau-mau aja ya, gaes.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28#. Kamu salah alamat
Luna tersenyum licik dalam hati. "Sempurna. Sekarang aku punya dua kaki tangan untuk menghancurkan Ariel."
"Makasih ya, Win, Run. Aku nggak akan pernah melupakan kebaikan kalian," kata Luna, pura-pura terharu. "Tapi aku bener-bener nggak tahu harus mulai dari mana."
Runi berpikir sejenak. "Gimana kalau kita cari tahu soal clothing line Ariel itu? Kita cari informasi sebanyak-banyaknya, terus kita sebarkan ke media sosial. Biar semua orang tahu kalau dia itu pengusaha curang yang nggak bertanggung jawab sama keluarganya."
Wina mengangguk setuju. "Ide bagus, Run! Kita bikin kampanye di media sosial buat boikot clothing line Ariel. Biar dia bangkrut sekalian!"
Luna tersenyum lebar dalam hati. Rencananya berjalan dengan sangat baik.
"Aku serahkan semuanya sama kalian berdua, ya. Aku percaya sama kalian," kata Luna, memasang wajah penuh harap. "Aku cuma pengen Ariel merasakan apa yang aku rasakan sekarang."
Wina dan Runi mengangguk dengan semangat. Mereka siap membantu Luna untuk membalas dendam pada Ariel.
Selesai sudah, umpan termakan dan kedua temannya sudah siap dijadikan sebagai alat pembalasan dendamnya.
*
Sore hari Luna pulang kerja dengan langkah ringan dan hati yang lapang. Setelah berpamitan dengan teman-temannya iapun langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan area parkir perkantoran tersebut.
Mobil yang dikemudikan Luna melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota yang sore itu sedikit padat. Sambil mengemudi matanya memperhatikan sekelilingnya dan tiba-tiba ia menemukan obyek yang menarik perhatiannya.
"Itu seperti...? Ngapain dia di situ?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Luna segera menuju obyek tersebut dan menepikan mobilnya lalu berhenti di tepi jalan. Ia bergegas keluar dengan terburu-buru kemudian mendekat.
"Hai, bisa bicara sebentar?" sapa Luna pada sosok yang ia maksud.
Sosok yang tak lain adalah Dian itu tampak mengernyit lalu memperhatikan sekitarnya dan hanya ada dirinya saja di tempat itu. Tepatnya di pinggir jalan dekat bapak pedagang siomay, karena Dian memang sedang membeli jajanan tersebut.
"Kamu bicara sama saya?" tanya Dian seraya menunjuk ke dirinya sendiri.
"Ya iyalah, siapa lagi!" jawab Luna sengit. "Masa iya aku bicara sama bapak siomay? Nggak ada urusan!"
Luna lantas berjalan menuju tempat yang di rasa nyaman untuk ngobrol, sementara Dian menghela napasnya sembari menggelengkan kepala.
"Saya ke sana sebentar ya, Pak. Nanti saya ke sini lagi," kata Dian pada bapak pedagang siomay.
"Baik, Neng. Siap," jawab si bapak itu.
Dian menghampiri Luna yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia lalu duduk dibangku yang ada di trotoar dengan menumpukan sebelah kakinya pada kaki satunya.
"Ada apa ingin berbicara dengan saya?" tanya Dian dengan santai. Aura wajahnya tampak tenang seolah tidak takut sama sekali pada Luna yang menampakkan wajah jutek dan tidak ramah.
"Kamu kan, yang mempengaruhi Ariel supaya dia tidak memberikan harta gono-gini padaku?" tuduh Luna tanpa basa-basi.
Dian tersenyum simpul menanggapi tuduhan Luna. "Maaf, tapi sepertinya kamu salah alamat. Saya nggak punya urusan sama masalah rumah tangga kalian."
"Alah, nggak usah munafik! Aku tahu kamu pasti ada main sama Ariel!" sentak Luna, emosinya mulai terpancing.
Dian tertawa kecil. "Main? Maksud kamu, selingkuh? Maaf ya, saya bukan tipe perempuan yang suka merusak hubungan orang lain."
"Bohong! Aku lihat sendiri kalian live berdua mesra banget di akun jualan online!" sergah Luna, menunjuk-nunjuk wajah Dian.
Dian menghela napas. "Itu kan, kita lagi live bareng, jadi harus membangun chemistry untuk mempromosikan produk kita. Nggak ada yang lebih dari itu."
"Nggak mungkin! Pasti ada sesuatu di antara kalian!" Luna bersikeras dengan keyakinannya.
Dian berdiri dari duduknya, menatap Luna dengan tatapan dingin. "Denger ya, Luna. Saya sama Ariel itu rekan bisnis. Dan kita profesional. Kalaupun kamu nggak dapat harta gono-gini, itu bukan urusan saya. Mungkin emang Ariel nggak mau ngasih, atau mungkin memang kamu nggak berhak."
"Jaga ya, omongan kamu!" ancam Luna, mengepalkan tangannya.
Dian mendekat ke arah Luna, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Kenapa? Mau pukul saya? Silakan saja kalau berani. Tapi ingat ya, saya nggak akan tinggal diam!"
Luna terdiam, sedikit gentar dengan tatapan Dian yang dingin dan tajam. Ia merasa, Dian bukanlah perempuan lemah yang bisa diintimidasi dengan mudah.
"Aku mau kamu menjauhi Ariel!" kata Luna, suaranya sedikit mereda.
Dian tersenyum sinis. "Menjauhi Ariel? Kenapa saya harus jauhi dia? Ariel itu teman saya sekaligus rekan bisnis. Jadi, kenapa saya harus nurut sama kamu yang cuma mantan istrinya?"
Luna terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Dian. Ia merasa kalah telak dalam percakapan ini.
"Aah, iya. Satu lagi saya kasih tahu sama kamu," lanjut Dian dengan nada dingin.
"Kamu adalah wanita paling bodoh di dunia. Punya suami yang baik dan sangat mencintaimu, tapi malah kamu sia-siakan. Apalagi jaman sekarang sangat susah mendapatkan pria yang rela melakukan apa saja demi wanita yang dicintainya."
"Rupanya cinta Ariel yang berlebihan itu membuatmu besar kepala dan lupa diri, sehingga kamu dengan mudahnya..." Dian menjeda kalimatnya, menatap Luna dari atas hingga bawah dengan tatapan meremehkan. "...melepaskan kebahagiaan kalian hanya demi mengejar validasi dan gengsi semata. Sekarang rasakan akibatnya. Jangan salahkan siapa-siapa, karena ini semua salahmu sendiri."
Dian kemudian berbalik dan berjalan kembali ke arah bapak pedagang siomay. Ia mengambil pesanannya dan membayarnya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Luna hanya bisa mematung dengan wajah merah padam. Ia mencerna setiap kata yang Dian ucapkan. Ada kebenaran yang menyengat dalam ucapan itu, tetapi ia dengan kesombongannya mengabaikan semua itu.
Luna mengepalkan tangannya erat-erat. Ia merasa semakin dendam pada Dian dan Ariel dan berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan menyerah sampai dirinya berhasil menghancurkan mereka berdua.
*
Dian sampai di ruko D'Style beberapa menit kemudian. Raut wajahnya masih bete sehingga begitu turun dari motornya ia langsung masuk begitu saja tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ia lalu memberikan jajanan yang dibelinya tadi pada karyawannya. "Nit, bagi sama yang lain, ya."
"Weh, makasih, Mbak Dian." Nita langsung meraih bungkusan plastik kresek hitam dari Dian.
"Kok, cemberut saja, Bu? Ada apa, nih?" sapa Ariel yang sepulang kantor langsung datang ke tempat tersebut dan mendapati wajah Dian yang datar.
"Eh, Riel? Kapan kamu datang?" tanya Dian dengan ekspresi kaget. "Wuihh, penampilan baru, nih?" Dian mengamati penampilan Ariel dari atas ke bawah.
"Sepuluh menit yang lalu," jawab Ariel tersenyum sambil mengusap rambut cepaknya. "Baru kemarin potong. Gimana, keren, nggak?"
"Lumayan, lah," jawab Dian sambil terkekeh.
"Kok, cuma lumayan sih, Di?" protes Ariel. "Sebenarnya kamu itu mau bilang aku tampan kan, tapi kamu malu."
Dian tersenyum. "Iya deh, iya. Sudah ah, malah jadi bahas rambut. Tadi kamu nanya kenapa aku cemberut? Tadi itu, Luna nyamperin aku di jalan."
Ariel langsung mengernyitkan keningnya. "Serius? Dia ngapain kamu?"
Dian menghela napas. "Dia nuduh aku yang mempengaruhi kamu supaya nggak ngasih harta gono-gini."
Ariel menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya Tuhan, masih saja dia selalu menjadikan orang lain sebagai alasan untuk menutupi kesalahannya."
"Tapi ya, sudahlah. Lebih baik kita fokus kerja daripada mikirin hal yang nggak penting," kata Dian lantas duduk di kursi kerjanya.
"Kamu benar. Mari kita buktikan bahwa kita bisa sukses dan terlepas dari belenggu masa lalu." Ariel mengepalkan tangannya ke atas mengekspresikan semangat dalam dirinya.
Dian tersenyum melihat tingkah Ariel, kemudian keduanya mulai fokus pada pekerjaan mereka, berusaha melupakan masalah yang baru saja terjadi. Namun, dalam hati mereka berdua, tetap ada kekhawatiran tentang apa yang akan dilakukan Luna selanjutnya.
akhirnya... plong.
selamat, bestie. yuk gas karya baru.
semoga mengikut jejak Daren
Luna definisi wanita tidak tahu cara bersyukur. Di beri suami baik dan bertanggung jawab, bahkan finansial mereka bisa di bilang stabil. Namun, rumah tangga yang sebenarnya adem ayem harus berantakan, karena tuntutan yang nggak pernah ada habisnya.
Walau bab nya sedikit, tapi cukup puas karena pada akhirnya yang jahat tetap mendapat hukumannya.
Semangat selalu untuk Ibu. Semoga cerita satunya bisa panjang. Semangat dan sukses selalu💪❤❤❤🥰
.apa dengan begitu luna tobat gk ya
Padahal Ariel nya masih jadi duda😭😁
tapi Ariel dan Dian emang cuma partner kerja kan yah ... makasih Moms kita fokus ke Darrel dan anak kembarnya
aku pikir akan ada cerita Ariel dan Dian menemukan pasangan hidup atau malah mereka berdua jadi pasangan
harusnya Luna tau klu Ariel dan Dian tdk ada hubungan selain partner kerja.